Bab 1 - Awal Godaan
Alena tidak pernah menyangka, hujan di sore itu akan mengantarkannya pada situasi yang jauh lebih mengancam daripada sekadar tubuhnya yang basah kuyup.
Payung kecilnya patah diterjang angin, jas hujan tertinggal di rumah, sementara Keandre yang notabenenya pacarnya, belum juga kembali dari latihan basket di kampus. Dengan rambut basah menempel di pipi dan baju yang melekat di tubuhnya, ia pun memberanikan diri menekan bel rumah sang pacar.
Pintu terbuka.
Dan, sesuai dugaan bukan Keandre.
Seorang lelaki berdiri di ambang pintu, kemeja putihnya tergulung rapi di lengan, postur tubuhnya tegap dengan aura yang langsung terasa menguasai ruang di sekitarnya. Darren, ayah Keandre. Tatapannya tenang, bahkan cenderung dingin, namun justru membuat jantung Alena berdegup tak karuan.
"Sendirian?" Suara Darren berat dan dalam, bagai nada bass yang menggema hingga ke lerung hati.
Alena menggenggam erat tali tas selempangnya. "Iya, Om. Keandre masih di kampus. Boleh kan saya tunggu di sini?"
Darren bergeser, membuka jalan. "Masuklah. Kamu basah kuyup, nanti bisa masuk angin."
Alena melangkah dengan ragu. Wangi kopi dan aroma kayu yang lembap segera menyambutnya. Suasana rumah itu senyap, hanya derai hujan di luar yang terdengar memantul pada kaca-kaca besar di ruang tamu. Ia duduk di sofa, tubuhnya kaku, berusaha menenangkan irama jantungnya yang berdetak cepat.
Darren menuangkan kopi hitam ke dalam cangkir. Setiap gerakannya tenang dan terukur, membuat Alena merasa diawasi lebih dari yang seharusnya. "Kamu sering ke sini?" tanyanya sambil menyodorkan cangkir yang hangat.
"Kadang. Kalau Keandre ngajak belajar bareng, Om," jawab Alena dengan suara hampir berbisik.
Darren menatapnya sejenak. "Dan sekarang, kamu di sini sendirian... di rumah saya. Mungkin sebentar lagi Keandre pulang, tunggu saja."
Ucapannya terdengar biasa. Namun Alena menangkap sesuatu di balik kata-kata itu, sebuah perhatian yang terasa tak wajar. Ia cepat-cepat menunduk, meneguk kopinya, meski tenggorokannya terasa kering.
"Kalau kedinginan, ambil saja jaket Keandre di kamarnya," kata Darren.
Alena mengangguk, lalu berdiri dan bergegas menuju kamar Keandre. Saat melewati pria itu, bahunya tak sengaja menyentuh lengan Darren. Hanya sentuhan singkat, namun sudah cukup membuat sekujur tubuhnya terasa aneh.
Darren hanya menoleh sebentar. "Hati-hati, Alena. Hal-hal kecil bisa memicu kesalahpahaman."
Kalimat itu terus bergema di pikirannya saat ia membuka lemari pakaian Keandre. Tangannya gemetar ketika meraih jaket hitam itu, lalu ia buru-buru mengenakannya. Hangat, tetapi bukan kehangatan itu yang ia rasakan. Justru hatinya semakin bergejolak oleh bayangan tatapan Darren yang seakan masih melekat di kulitnya.
Ketukan lembut di pintu membuatnya tersentak kaget.
"Alena."
Suara itu membuat dadanya semakin sesak, oleh sebuah kegelisahan yang ia sendiri tak tahu asalnya. Pintu terbuka, Darren berdiri di sana. Kali ini tanpa kemeja luar, hanya kaus abu-abu tipis yang merekat pada tubuhnya. Bahunya sedikit basah, mungkin baru saja memeriksa halaman depan.
"Jaket itu kebesaran," ucapnya datar, pandangannya menyisir tubuh Alena dari atas ke bawah.
Alena cepat-cepat menarik resleting jaket hingga ke pangkal leher. "Nggak apa-apa, Om. Yang penting hangat."
Darren masuk. Pintu ditutup. Terdengar bunyi kunci yang berputar. Suara 'klik' itu terdengar begitu keras dan jelas.
"Om..." suara Alena gemetar. "Kenapa dikunci?"
"Agar tenang. Hujan di luar sangat deras, rumah ini sunyi. Takkan ada yang mengganggu juga, kenapa seperti ketakutan begitu?" Ia menarik sebuah kursi, lalu duduk berhadapan dengannya. Tatapannya menembus, membuat udara di ruangan itu terasa mendadak sempit.
Alena berusaha mengalihkan dengan sebuah pertanyaan. "Nggak kok, omong-omong Om sering memperhatikan saya saat ke sini?"
"Sering." Darren menyandarkan sikunya di lutut, tubuhnya condong ke depan. "Saya juga sering menaruh perhatian pada kamu. Diam-diam."
Alena tercekat. "Kenapa... Om ngelakuin itu, bukannya itu salah, ya?"
Darren menatapnya dalam-dalam, lalu tersenyum tipis. "Karena kamu berbeda, saya tertarik pada sesuatu yang terlihat berbeda dari yang lain."
Kata-kata itu membuat perutnya bergejolak, entah karena rasa takut atau sesuatu yang lebih mengganggu. Ia menunduk, namun Darren berdiri, melangkah perlahan mendekat.
"Kamu tahu, ada hal-hal yang seharusnya tak pernah terjadi," ucapnya perlahan. "Tapi justru itulah yang paling sulit untuk dihindari."
Alena menggenggam erat ujung jaketnya. "Apa maksud Om?"
Darren tak menjawab. Ia hanya menatapnya lama, lalu tertawa kecil, datar. "Ah... mungkin kamu terlalu muda untuk memahami kata-kata saya, nanti kamu akan mengerti sendiri seiring berjalannya waktu."
Tiba-tiba ponsel Alena bergetar. Ada notifikasi dari Keandre. Ia buru-buru mengambilnya.
Keandre [love]
Sayang, aku kejebak hujan. Motor nggak bisa jalan, jas hujan juga nggak bawa.
Tunggu di rumah ya. Ngobrol aja sama Papa dulu, biar nggak bosan.
Alena menggigit bibirnya. Perasaannya campur aduk dengan rasa lega, tetapi juga kecemasan yang dalam. Ini berarti… ia akan lebih lama lagi berdua dengan Darren. Sejujurnya, ia sudah tidak nyaman berada di sini hanya berdua dengan ayah pacarnya itu, namun apa lagi yang bisa dilakukannya, tidak ada.
Pria itu melirik layar ponselnya sekilas, lalu sebuah senyum tipis menguar di sudut bibirnya. "Jadi, dia menitipkan kamu pada saya."
Alena hampir kehilangan kata-kata. "Iya, Om. Keandre nya kejebak hujan, tapi sebentar lagi pulang kok…"
Namun Darren tidak terlihat puas oleh jawaban yang Alena berikan. Tatapannya tetap tajam, seakan ingin membaca sudut suara hati terdalam gadis itu. "Apa yang kamu suka dari Keandre?"
Pertanyaan itu seperti pukulan tiba-tiba, jelas Alena tersentak kaget. Bingung maksudnya apa. "Suka? Maksud Om?"
"Dari sekian banyak lelaki seusiamu, kenapa memilih anak saya? Karena dia populer? Jago basket? Atau…" Pertanyaannya mulai lebih personal, "Atau hanya sekadar nyaman?"
Alena menarik napas pelan, berusaha menjawab dengan jujur dari dalam hatinya tentang sosok kekasihnya itu. "Saya suka dia karena dia orang yang baik. Apa adanya. Hanya itu, Om."
Darren mendekat selangkah lagi. "Baik, apa adanya. Tapi dia masih seperti anak kecil. Belum benar-benar mengerti bagaimana menghadapi kerasnya hidup, bukan begitu?"
Alena ingin menyangkal, namun ucapan itu justru membuat hatinya ragu. Ada sesuatu dalam nada suara Darren yang terdengar penuh kepastian, dibarengi dengan kewibawaan yang begitu alami, sesuatu yang tak dimiliki Keandre, meski mereka adalah ayah dan anak.
Ketika Darren sedikit menunduk, jarak di antara mereka pun mendadak sempit. Jari-jarinya terangkat, menyentuh dagu Alena dengan lembut namun penuh ketegasan. "Alena..." suaranya berbisik rendah. "Kenapa kamu kelihatan gugup seperti itu?"
Alena menelan ludahnya, matanya berusaha menghindar. "Saya... nggak apa-apa, Om. Cuma mengigil aja karena dingin."
Namun Darren menahan dagunya erat, memaksanya untuk kembali menatapnya. "Kamu berbohong, saya tahu itu. Kenapa? Tertarik dengan saya?"
Alena ingin pergi dan berteriak. Namun bibirnya justru berbisik lemah, seolah keluar begitu saja tanpa kendali. “Saya nggak bisa menghindar, benar kata Om. Kenapa bisa begini? Tolong jangan ngomong gitu, ini salah."
Keheningan menyergap, hanya deru hujan di luar yang masih menggema. Namun di hadapannya, Darren terus menatapnya dalam-dalam. Sebuah senyum tipis hadir di bibirnya. "Karena kamu penasaran."
Dan sebelum Alena sempat menyadari apa yang terjadi, bibir pria itu sudah menyentuh bibirnya. Alena membeku. Lalu, tubuhnya justru merespons, awalnya hanya gemetar, tapi kemudian ia menerimanya tanpa komplain.
Dalam ciuman singkat itu, ia merasakan sesuatu yang membuatnya kacau sekaligus terjerat. Rasa bersalah mengimpit dadanya, namun ada sisi lain dalam dirinya yang enggan mengakui satu hal—ia terhanyut. Oleh pesona dari lelaki ini.
Ketika Darren menarik bibirnya, Alena tetap berdiri kaku, napasnya masih tersengal-sengal. Pria itu masih menatapnya dengan senyum samar yang sulit ditebak. "Sekarang kamu tahu… perbedaan antara lelaki muda dan lelaki dewasa."
Alena mundur selangkah, tapi punggungnya sudah menyentuh tepi ranjang. "Om…" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.
Darren tidak bergerak. Ia tetap berdiri di sana, dengan sengaja mempertahankan jarak yang masih begitu dekat, membuat Alena sepenuhnya sadar, ia baru saja masuk ke dalam sebuah rahasia yang tidak akan mudah ia tinggalkan.
Hening. Hanya derai hujan yang menggema di luar, menutupi setiap celah untuk kabur. Lalu Darren sedikit membungkuk ke depan, suaranya hampir seperti bisikan, namun terasa membebani ruangan. "Kalau saya ingin melangkah lebih jauh… kamu akan menolak, atau membiarkan?"
Alena tercekat. Tangannya mengepal kaku di sisi tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, sementara bibirnya gemetar. Tentu ia ingin menjawab, tapi tak kuasa mengeluarkan suara.
Darren tersenyum tipis, seolah memahami bahwa diamnya adalah jawaban yang paling jujur. Ia kembali berdiri tegak, namun pandangannya masih mengikat Alena di tempat. "Jangan buru-buru, Alena. Saya akan memberikan waktu lebih banyak."
Pintu kamar masih tertutup rapat. Kuncinya masih berada di sisi Darren. Dan Alena pun sadar, ia tidak hanya terjebak oleh hujan di luar, tetapi juga oleh badai yang baru saja dimulai di dalam rumah ini.