Bab 2 - Hampir saja ketahuan

1803 Words
Darren tetap berdiri dekat dengan Alena. Bayangan tubuhnya menghalangi cahaya lampu meja yang redup, bersinar temaram. Senyum tipis itu masih terpasang di wajah Darren, samar namun cukup untuk membuat napas Alena terasa tercekat. Jemarinya terangkat perlahan. Ibu jari Darren menyentuh lembut bibir bawah Alena, ringan seolah hanya sebuah isyarat, tetapi sentuhan itu cukup membuat tubuh Alena menegang seketika. “Sudah berapa lama kamu sama Keandre?” Pria itu bertanya dengan suara rendah, hampir seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Tubuh Alena sedikit meremang, karena suara bariton itu. Alena menahan napas, jantungnya berdegup tidak beraturan. “Dua tahun, Om.” Darren mengangguk pelan, matanya tidak pernah lepas dari wajah gadis itu. “Dua tahun…” ia mengulang, nadanya datar tapi mengandung sesuatu yang tidak bisa ditebak, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. “Tidak bosan?” Pertanyaan itu menggantung di udara, membuat Alena diam sesaat. Pandangannya turun, lalu kembali terangkat, menatap Darren lebih lama daripada yang seharusnya. Tatapan itu goyah, tapi bukan tatapan biasa, ia seperti mulai tergoda oleh semua pesona yang Darren berikan. “Keandre akhir-akhir ini sibuk,” ungkapnya, mengingat kembali kebersamaan mereka yang kurang beberapa minggu terakhir. “Latihan basket, kumpul sama teman-temannya… kadang saya merasa kurang waktu sama dia. Alasannya selalu itu, sibuk terus.” Darren menurunkan tangannya, tapi tubuhnya tetap condong ke depan, jarak di antara mereka nyaris tak ada. Senyumnya samar, ada seringai tipis yang tak begitu kelihatan. “Kurang waktu… atau kurang perhatian?” Alena tidak langsung menjawab. Bibirnya sempat terbuka, lalu tertutup lagi. Napasnya berat, tatapannya tetap tertahan di wajah Darren bisa dibilang agak lama dan terlalu berani. “Mungkin aja keduanya, Om.” Mata Darren berkilat, seolah membaca sesuatu di balik kata-kata itu. Ia menegakkan tubuh, nadanya tetap rendah. “Anak muda memang sering sibuk dengan dunianya sendiri. Kadang lupa, orang di sampingnya butuh perhatian lebih, apalagi kamu pacarnya.” Alena kembali menggigit bibir bawahnya sebelum menatap Darren lagi. Kali ini ia tidak berpaling. Ada sesuatu yang berkilat di matanya, entah rasa penasaran atau justru ketakutan yang perlahan merayap, dan Alena sendiri tidak benar-benar mengerti yang mana. “Om jangan ngomong gitu, Keandre juga kan anak Om. Mungkin emang dia lagi sibuk banget,” katanya lirih. Seringai Darren semakin terlihat, tapi malah menambah pesona yang pria itu miliki. “Saya hanya bicara jujur. Dan kamu tahu itu.” Keheningan menggantung di ruangan itu. Hanya suara hujan deras di luar yang terdengar, seakan membuat ketegangan di antara mereka semakin terasa. Sejak tadi Alena terus berpikir, jawaban apa lagi yang bisa ia berikan pada pria di hadapannya. Setiap kali tatapan mereka bertemu, kata-kata yang sudah ia susun rapi di dalam kepala mendadak buyar, lenyap begitu saja. Alena mengangkat dagunya sedikit, berusaha tampak lebih berani. “Terus, Om gimana? Saya dengar sudah menduda?” Sebelah alis pria itu terangkat, bagaimana bisa gadis ini tahu statusnya. Tapi di dalam benak Darren, ia juga bersyukur karena nanti ia tak perlu repot-repot menjelaskan latar belakang dirinya. Ia menjawab dengan percaya diri, "Sudah lima tahun saya menduda, kenapa?" “Lima tahun… nggak lama, tapi juga nggak bisa dibilang sebentar.” Alena berani melanjutkan, suaranya lebih mantap dari sebelumnya. “Kesepian, ya?” Darren terkekeh pelan, suaranya rendah hampir menyerupai bisikan. Ia maju setapak, mempersempit jarak di antara mereka. “Sama seperti kamu.” Napas Alena mulai terasa tidak teratur akibat gerakan mendadak Darren. Jemarinya spontan meremas ujung bajunya untuk menenangkan diri. “Om terlalu percaya diri.” Darren menumpukan satu tangannya di atas meja, membuat ruang di antara mereka kian menyempit. “Bukan percaya diri. Saya bisa membaca tatapan orang. Termasuk tatapanmu yang kelihatannya mulai tertarik dengan status saya, atau mungkin pada diri saya?” Alena ingin membantah, tetapi suaranya seperti tersangkut di tenggorokan. Tatapannya justru terpaku pada mata pria itu lebih lama dari yang seharusnya. Sebelum ia sempat melangkah mundur, Darren sudah bergerak lebih dulu. Tangannya mencengkeram lembut tengkuk Alena dan menariknya mendekat. Bibir pria itu menekan bibirnya dengan keras, penuh d******i dan tuntutan yang tak memberi ruang untuk bersiap. Alena kesulitan menghirup udara disekitarnya. Mata Alena membulat, tubuhnya menegang seketika. Tangannya mendorong d**a Darren, namun hanya sesaat sebelum tenaganya melemah. “Om—!” serunya, terpotong ketika ciuman itu kembali menekan lebih dalam. Beberapa detik kemudian Darren menarik diri, menjauh sedikit darinya. Napasnya terdengar berat. Senyum tipis masih terukir di wajahnya, tetapi kini jelas disertai seringai yang lebih tajam. “Kamu kaget?” Alena terengah, wajahnya terasa panas hingga ke telinga. “Kenapa Om lakuin itu? Aku ini pacarnya anak Om. Kalau Keandre tahu, dia bisa marah,” protesnya dengan suara yang sedikit meninggi. Darren mengusap rahang Alena dengan ujung jarinya secara perlahan, sentuhan yang membuat tengkuknya meremang. “Karena saya sudah tidak bisa menahannya lagi. Keandre tidak ada di sini, jadi dia tidak akan marah.” Alena menelan ludahnya susah payah. “Om…” “Saya sudah lama menyukai kamu,” bisik Darren dengan tatapan tajam yang sulit dihindari. “Sejak pertama kali kamu sering datang ke rumah ini. Cara kamu tersenyum, cara kamu menatap, kamu membuat saya lupa bahwa seharusnya saya hanya menjadi Ayah dari pacarmu.” Alena terpaku di tempatnya. Darahnya terasa berdesir cepat, membuat ujung jarinya dingin. “Om nggak seharusnya bilang begitu.” “Tapi kamu tahu,” Darren menyunggingkan senyum tipis yang miring, “ada bagian dari dirimu yang mendengar ucapan saya barusan dan tidak benar-benar menolak.” Alena melangkah mundur satu langkah, tetapi punggungnya justru membentur tepi ranjang. Kepalanya terasa penuh. Darren seolah tahu bahwa ia memang tidak langsung menolak pengakuan tadi. Namun di sisi lain, Alena sadar betul semua ini keliru. Darren kembali mendekat, tubuhnya condong sedikit ke depan. Suaranya rendah dan tenang, tetapi ada tekanan yang jelas di dalamnya. “Bagaimana kalau saya menawarkan sesuatu, Alena? Kamu tetap menjadi pacar anak saya, dan saya menjadi kekasih rahasiamu.” Mata Alena membesar. “Om gila? Saya nggak mau. Kita ciuman saja saya sudah merasa bersalah. Lebih baik saya pulang, biar kehujanan sekalian saya udah nggak peduli.” Alena berusaha menyelinap untuk berlari menjauh dari hadapan pria itu, tetapi Darren sigap menahan tubuhnya. “Ternyata tidak mudah dirayu,” gumamnya pelan. “Om!” desis Alena dengan nada panik. Darren menundukkan wajahnya hingga jarak mereka tinggal sejengkal. Suaranya terdengar tenang namun menekan. “Singkirkan saya sendiri kalau memang bisa.” Alena kembali mendorong dadanya, tetapi tubuh pria itu tetap kokoh dan tidak bergeser sedikit pun. Ia justru berdiri semakin dekat. Alena sempat mengira Darren akan kembali menciumnya, namun pria itu tidak melakukannya. Ia hanya diam di sana, berdiri menghadang, memastikan Alena tidak bisa pergi. Saat itu terdengar bunyi pintu depan berderit, disusul langkah kaki yang masuk dengan tergesa. Alena dan Darren langsung menoleh ke arah sumber suara. Beberapa detik kemudian terdengar seruan dari ruang depan. Keandre sudah pulang. “Aku pulang, Pa!” suara Keandre terdengar jelas dari luar kamar. Wajah Alena seketika memucat. “Keandre…” Namun Darren tidak memberinya waktu untuk bereaksi. Ia kembali menekan bibirnya pada bibir Alena dengan cepat dan kuat, tangannya membekap mulut gadis itu agar tidak mengeluarkan suara. “Diam…” bisik Darren dingin di telinga gadis itu. “Kalau dia tahu, semuanya akan makin rumit.” Tubuh Alena bergetar halus. Suara langkah Keandre terdengar semakin mendekat lalu berhenti di kamar mandi lorong. Bunyi flush menggema singkat. Darren dan Alena sama-sama mengembuskan napas lega. Darren akhirnya melepaskan pegangannya, meski wajahnya masih sangat dekat. “Kamu harus tutup mulut. Jangan bicarakan apa pun tentang kejadian tadi kepada Keandre, paham?” Alena mengangguk cepat, wajahnya masih tampak pucat. Darren merapikan bajunya dan keluar kamar dengan langkah tenang, seolah tidak ada yang terjadi sesaat sebelumnya antara dia dan pacar anaknya. Beberapa menit kemudian, Keandre keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah, senyumannya lebar seperti biasanya. Ia masuk ke kamar dan melihat Alena duduk kaku di ujung kasur. “Kamu masih nunggu ternyata,” ucapnya sambil duduk di samping Alena. “Maaf telat. Papa kayaknya lagi kerja, ya? Makanya aku buru-buru pulang. Aku nerobos hujan aja tadi, abisnya kalau nunggu tambah lama.” Alena memaksa tersenyum. “Nggak apa-apa kok. Aku sempat ngobrol sebentar sama Papa kamu.” “Oh ya?” Keandre tampak heran. “Papa keluar dari ruang kerjanya? Jarang banget dia kayak gitu. Tapi seenggaknya kamu nggak kesepian banget pas nunggu aku pulang tadi.” “Iya, cuma sebentar.” Keandre tersenyum lega mendengar penjelasan Alena. Ia menyerahkan pakaian kering padanya setelah melihat Alena masih memakai baju basah yang hanya ditutupi jaket, khawatir gadis itu akan masuk angin. “Pakai ini. Aku nggak mau kamu masuk angin.” Alena menerimanya dengan tangan sedikit gemetar, lalu segera masuk ke kamar mandi. Di depan cermin, ia menatap wajahnya sendiri. Matanya gelisah, pipinya panas, dan bibirnya masih terasa hangat oleh ciuman Darren barusan. Ia menarik napas panjang, berusaha menahan dan menyimpan semua yang baru saja terjadi jauh di dalam dirinya. Ketika ia keluar, Keandre sudah berbaring santai di kasur sambil menepuk sisi kosong di sampingnya. “Sini, baring sama aku.” Alena perlahan mendekat dan beringsut masuk ke pelukan Keandre. Kehangatan tubuhnya langsung membungkus Alena. Ia berusaha menenangkan diri, mencoba mengusir sisa sentuhan Darren yang masih terasa di setiap inci kulitnya. “Enakan gini, apalagi hujan,” gumam Keandre sambil menepuk punggung Alena untuk menenangkan. Alena hanya mengangguk, memeluknya lebih erat. Degup jantung Keandre terasa stabil, tapi pikirannya jelas masih berputar pada Darren yang memang berhasil membuat Alena bingung dengan perasaannya sendiri. “Kamu kedinginan?” tanya Keandre sambil menunduk, matanya menatap wajah Alena. “Enggak,” jawabnya cepat, menekankan kata-katanya sambil menyandarkan kepala ke d**a Keandre. Keandre menatapnya curiga, mengernyitkan dahi. “Masa? Ada apa, hm?” ia menambahkan sambil menggeser sedikit tangan di pinggang Alena. “Cuma capek,” bisik Alena sambil menundukkan kepala, ucapannya masih tidak terlalu banyak, menjawab pertanyaan Keandre sekenanya. Keandre tidak menekan. Ia mencondongkan tubuh, mengecup kening Alena dengan lembut, lalu menarik selimut untuk menutup tubuh mereka berdua. “Tidur aja, kamu kedinginan sama kecapekan nih pasti,” katanya sambil menepuk punggungnya perlahan. Alena menutup mata, pura-pura mengantuk, tapi pikirannya tetap gelisah. Bayangan senyum Darren terus menghantui, tipis dan misterius, menyimpan ancaman yang tak terlihat untuknya. Kata-katanya bergaung di dalam kepala Alena, “Saya sudah lama menyukai kamu.” Di pelukan Keandre, Alena justru merasa terpisah dari kekasihnya. Keandre sudah tertidur, napasnya stabil dan tenang. Alena perlahan membuka mata, menatap langit-langit kamar yang redup, berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya sudah berakhir. Namun saat pandangannya tanpa sengaja tertuju ke pintu kamar yang sedikit terbuka, jantungnya seketika berdebar kencang. Di balik celah tipis itu, samar tertutupi bayangan lorong, Darren berdiri diam. Darren tetap diam, hanya bersandar ringan pada kusen, matanya terpaku pada Alena. Senyum tipis itu muncul lagi, lebih menggoda keyakinan Alena untuk tetap di sisi Keandre, seakan memberi janji bahwa ini baru permulaan. Sebelum Alena sempat bereaksi, Darren sudah melangkah pergi, meninggalkan hanya bayangan yang memudar dan degup panik yang tak bisa ia kendalikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD