“Saya lama ya?” tanya Darren sambil menoleh sekilas ke arah Alena ketika mobil hitam itu keluar dari area parkiran kampus. Suaranya tenang, dalam, seperti biasa. Alena menatap jalan di depan, lalu tersenyum tipis. “Enggak kok, Om. Cepet malah.” Darren mengangguk pelan, satu tangannya memutar kemudi, sementara tangan lainnya santai di tuas transmisi. “Tapi wajah kamu kelihatan kesal gitu. Anak saya buat kamu marah lagi, ya?” Alena mendengus pelan, menahan rasa kesal yang menggelitik tenggorokannya. “Bohong lagi,” jawabnya singkat. “Kayaknya lagi jalan sama selingkuhannya.” Darren meliriknya, senyum samar muncul di sudut bibirnya. “Kalau gitu balas saja, jangan diam.” “Balas?” Alena menoleh, menatap pria itu dengan alis terangkat. “Aneh, Om. Itu kan anak Om sendiri.” Darren tertawa pel

