Darren menggeser pandangannya dari wajah Alena ke kursi belakang yang lebih luas, lalu kembali lagi ke mata gadis itu yang masih berkaca lembut. Ia tahu posisi mereka sekarangâduduk di kursi depan dengan konsol tengah yang memisahkanâmembuat pelukan mereka terasa terbatas, seperti ada penghalang tak kasat mata yang ingin ia singkirkan malam ini. âMau pindah ke kursi belakang aja?â bisiknya rendah, suaranya seperti belaian. âBiar kamu lebih leluasa peluk saya, atau saya yang peluk kamu sepuasnya.â Alena menatapnya sebentar, pipinya memanas meski cahaya taman hanya menyentuh separuh wajahnya. Ia mengangguk pelan, hampir malu-malu, lalu sedikit menjauhkan tubuhnya dari d**a Darren agar pria itu bisa bergerak. Darren langsung bertindak sebelum Alena sempat membuka pintu sendiri. âJangan k

