“Kenapa, sayang?” akhirnya Keandre mengangkat telepon itu. Suaranya terdengar terburu-buru, dan baru saja ia selesai bicara, tangis Sonya langsung pecah. Napasnya tersengal seperti habis berlari. “Sayang… aku… aku dapat…” suaranya patah, kata-katanya saling bertabrakan karena panik. “Kenapa? Tarik napas dulu,” ucap Keandre lebih pelan, berusaha menenangkan. “Tenang dulu, ya. Kamu kenapa nangis begitu?” Sonya mencoba menarik napas, tapi suaranya tetap bergetar. “Aku diteror,” katanya akhirnya, tangisnya kembali pecah dan semakin keras. Ia menutup mulutnya dengan tangan, mencoba mengatur dirinya agar tak terlalu panik, namun rasa takut membuat tubuhnya gemetar. Keandre langsung berdiri dari tempatnya, terdengar jelas dari pantulan suara di telepon. “Diteror siapa?” tanyanya cepat. Ada na

