Di sebuah kamar megah di lantai atas rumah Bryan, musik pesta dari bawah terdengar samar. Lampu redup menciptakan suasana yang hangat bercampur dingin AC yang menusuk kulit.
Laura duduk di atas ranjang, tubuhnya sedikit condong ke arah Bryan yang kini duduk di depannya. Perlahan Bryan mulai mendekat dan menempelkan bibirnya ke bibir Laura.
Laura tidak menolak. Bahkan, ia membalas ciuman itu dengan perlahan, membiarkan perasaan hangat itu menguasai dirinya. Namun, ketika ciuman itu semakin dalam dan tangan Bryan mulai menurunkan tali gaun Laura, ia tersentak.
“Jangan, Bryan,” ucapnya lirih, bibir mereka masih bersentuhan.
Bryan tidak mengindahkan. Sentuhannya semakin berani, menyusuri tubuh Laura dari luar gaun. Refleks Laura menahan tangannya. Namun Bryan justru semakin mendesak, menyelipkan tangannya ke dalam gaun.
Tubuh Laura menegang. Seketika ia mendorong Bryan keras hingga pria itu mundur beberapa langkah.
“Gue bilang jangan!” seru Laura lantang, napasnya memburu.
“g****k! Lo aneh, Laura! Mau ciuman tapi nggak mau lebih? Ngapain dong kalau gitu?!” protesnya, suara penuh amarah bercampur frustasi.
“Bryan, gue udah bilang dari awal. Nggak ada making love. Kita cuma have fun doang,” balas Laura tegas. Ia berdiri, merapikan gaunnya yang sedikit berantakan, lalu berjalan menuju pintu.
Namun Bryan menahan lengannya. “Nggak bisa seenaknya gitu dong! Lo yang mulai godain gue, bikin gue naik, terus lo juga yang nolak?!” suaranya meninggi, mata memerah penuh emosi dan alkohol.
“Lo mabok! Kita ngomong lagi pas lo udah sadar,” kata Laura tajam, mencoba menepis tangannya.
Tapi sebelum ia sempat keluar, Bryan menariknya keras dan mendorong tubuhnya ke tembok.
“Bryan! Apaan sih lo?!” Laura berteriak panik, menatap Bryan dengan tatapan marah dan takut sekaligus.
Tanpa peringatan, Bryan kembali mencium Laura dengan paksa. Tangannya meraih tali gaun Laura, mencoba melepaskannya. Laura meronta, menahan setiap gerak Bryan. Suasana kamar seketika berubah mencekam.
Dengan sekuat tenaga, Laura mendorong tubuh Bryan. Tubuh pria itu terhempas ke sisi ranjang, namun tali gaun Laura terseret hingga robek sebagian. Laura terdiam sesaat, terengah-engah, tubuhnya gemetar karena terkejut dan marah.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Bryan, meninggalkan bekas merah menyala. Bryan menoleh dengan rahang mengeras, tapi Laura lebih cepat melangkah pergi.
“b******k lo!” umpat Laura, matanya berkaca-kaca.
Ia keluar dari kamar dengan langkah cepat. Musik pesta langsung menyambutnya.
Mina yang berdiri di dekat sofa sontak menghampiri saat melihat keadaan Laura yang berantakan, gaunnya robek, rambut acak-acakan, mata memerah.
“Laura… astaga, lo kenapa?!”
“Gue pulang,” jawab Laura ketus dan meraih tasnya lalu bergegas menuju keluar.
Seketika suasana pesta menjadi tegang saat Bryan keluar dan manggil Laura dengan penuh amarah.
“Laura! Gue gak terima penolakkan lo!” teriaknya tak perduli dengan semua teman yang ada di pesta itu.
Laura sudah kehilangan mood untuk berdebat. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah cepat meninggalkan rumah Bryan. Di depan gerbang, ia berdiri sambil mencoba menghentikan taksi yang lewat. Namun jalanan malam itu sepi tak satu pun taksi lewat.
Tiba-tiba Bryan muncul dari belakang dan meraih tangannya keras-keras.
“Please, lo nggak bisa main pergi gitu aja!” serunya, napasnya masih bau alkohol.
“Sakit! Lepasin!” teriak Laura, berusaha melepaskan diri.
Keduanya terlibat tarik-menarik. Laura meronta semakin kuat hingga akhirnya pegangan Bryan terlepas, membuat tubuh Laura terhempas ke tengah jalan.
Tepat saat itu, sebuah mobil melaju kencang. Klakson dibunyikan keras. Ban berdecit saat mobil itu berhenti hanya beberapa centimeter dari Laura.
Laura tertegun, jantungnya berdegup kencang.
Pintu mobil terbuka. Seorang pria turun tergesa-gesa, Raihan menatap terkejut sekaligus panik.
Awalnya ia tidak mengenali siapa yang nyaris tertabrak. Namun saat melihat Bryan kembali menarik paksa lengan Laura, darahnya langsung berdesir. Raihan cepat menghampiri dan mencengkeram pergelangan Bryan kuat-kuat.
“Apa yang kau lakukan?!” suara Raihan dingin, matanya tajam menatap Bryan.
“Apaan sih lo?! Lepasin tangan gue!” sentak Bryan kesakitan, berusaha melepaskan diri.
“Ustadz Raihan?” suara Laura bergetar terkejut.
Raihan langsung melepas Bryan dan beralih ke Laura. “Kamu nggak apa-apa? Ada luka?” tanyanya cemas, matanya menyapu tubuh Laura memastikan ia baik-baik saja.
Bryan tertawa miring. “Wah, gila… siapa nih? Cowok lo? Jadi ini selera lo sekarang?” Tatapannya sinis, penuh ejekan.
“Dia siapa?” tanya Raihan datar, menahan amarahnya.
“Lo siapa? Datang-datang ikut campur urusan orang!” bentak Bryan balik.
Raihan menghela napas panjang, mencoba mengendalikan diri. Namun Laura cepat memotong sebelum situasi makin panas.
“Sudah! Jangan ditanggapi. Kita pulang aja,” ucap Laura cepat sambil berjalan ke arah mobil Raihan.
Belum sempat Laura membuka pintu, Bryan kembali menarik lengannya kasar.
“Mau ke mana lo?! Urusan kita belum selesai!”
Sekali lagi Raihan meraih tangan Bryan dan mencengkeramnya kuat, kali ini dengan sorot mata tajam.
“Jangan kasar sama wanita,” ucap Raihan tegas.
Bryan menatapnya menantang, rahangnya mengeras. Namun Laura sudah lebih dulu membuka pintu mobil dan berteriak dari dalam,
“Jangan dihiraukan! Ayo pulang!”
Raihan melepas Bryan, memberikan tatapan dingin terakhir sebelum masuk ke mobil. Tanpa sepatah kata pun, mobil itu melaju pergi meninggalkan Bryan yang berdiri mematung di pinggir jalan, wajahnya penuh amarah dan gengsi yang tercabik.
**
Sepanjang perjalanan, suasana mobil terasa hening. Hanya suara mesin yang terdengar samar. Laura duduk bersandar di kursi penumpang, menunduk, merasa malu dengan pakaiannya yang terlalu terbuka. Sesekali ia merapikan gaun bawahnya yang hampir tak menutupi pahanya.
Raihan yang menyadari itu diam sejenak, lalu meraih selimut tipis dari jok belakang dan meletakkannya di samping Laura.
“Kalau dingin… pakai ini aja,” ucapnya pelan, tetap menatap jalan.
Laura tanpa kata langsung menyambar selimut itu dan menutup tubuhnya. Hening kembali memenuhi mobil hingga beberapa menit, sampai akhirnya Raihan membuka suara.
“Kenapa kamu keluar dari rumah itu?” tanyanya tenang, tanpa menoleh.
“Bukan urusan lo,” jawab Laura ketus, tatapannya tetap lurus ke depan.
Raihan menarik napas pendek. “Saya tahu saya nggak berhak ikut campur. Tapi kita udah saling kenal, Laura. Saya cuma nggak mau ada salah paham di antara kita. Kalau cara kamu buat nolak saya memang seperti ini… saya nggak akan maksa. Saya akan menjauh.”
“Dari awal gue emang nolak! Kenapa sih lo ikut campur banget sama hidup gue?!” Laura menoleh cepat, tatapannya penuh amarah bercampur frustrasi.
Raihan tak langsung membalas. Hidungnya samar menangkap aroma alkohol dari tubuh Laura. Ia menatap jalan sebentar, lalu berkata pelan.
“Kamu nggak bisa terus-terusan begini. Meski nggak sama saya sekalipun… kalau kamu tetap bergaul sama orang-orang itu, hidup kamu pelan-pelan bakal hancur. Kamu nggak kasihan sama orang tua kamu?”
Laura terdiam sejenak, matanya berkedip cepat menahan emosi. Raihan melanjutkan, suaranya tetap tenang.
“Mereka udah berusaha keras nemuin jalan yang benar. Mereka pengen kamu ikut juga… bukan malah makin jauh. Jangan bikin mereka terus khawatir liat kamu pulang malam, mabuk, dan ngelakuin hal-hal kayak gini.”
Laura mendengus pelan, kepalanya menoleh ke luar jendela.
“Ikut campur banget sih lo… Kalau gue nikah sama lo, apa yang lo janjiin ke gue? Emang lo bisa bikin gue tiba-tiba jadi cewek alim yang nutup tubuhnya pakai kain panjang?”
Raihan menghela napas, matanya tak lepas dari jalanan malam. “Laura… maksud saya bukan begitu,” ucapnya lirih.
“Ah, sudahlah,” potong Laura cepat. “Turunin gue di depan situ aja!”