Mobil berhenti tepat di depan rumah Laura. Tanpa berkata apa-apa, Laura membuka pintu dan turun, membanting pintu cukup keras hingga membuat Raihan menghela napas panjang.
“Keras kepala banget sih… malah maksa nganterin ke rumah,” gumam Laura kesal. Baru saat itu ia sadar kalau masih memakai selimut yang diberikan Raihan. Dengan cepat ia berbalik dan melihat Raihan ikut turun dari mobil. Laura melempar selimut itu ke arahnya tanpa ucapan terima kasih, lalu melangkah masuk ke rumah begitu saja.
Tepat di saat itu, Robby keluar dan menyaksikan semuanya.
“Laura! Kenapa kamu bisa kasar begitu sama Ustadz Raihan?!” bentaknya lantang.
Laura hanya menatap sinis tanpa sepatah kata, lalu masuk ke dalam rumah.
Cyntia yang berdiri di belakang Robby hanya bisa menarik napas panjang. Ia tahu Robby sudah terlalu lama memendam marah melihat sikap Laura yang semakin tak terkendali.
“Assalamualaikum, Pak Robby,” sapa Raihan tenang, membuat Robby sedikit menurunkan nada suaranya dan memaksakan senyum.
“Waalaikumsalam, Ustadz. Masuk dulu sebentar,” ucap Robby.
“Tidak usah repot, Pak. Kebetulan saya bertemu Laura di jalan, jadi saya antarkan ke sini,” balas Raihan dengan suara lembut dan senyum ramah.
“Syukurlah Laura ketemu Ustadz. Saya… sudah nggak tahu harus gimana lagi. Dia makin susah diatur,” keluh Robby, nada suaranya melemah.
“Pelan-pelan saja, Pak. Jangan terlalu dipaksa,” jawab Raihan menenangkan. “Kalau begitu, saya pamit dulu. Jihan sendirian di rumah.”
“Baik. Hati-hati di jalan, Ustadz.”
“Terima kasih. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Begitu Raihan pergi, suasana rumah kembali tegang. Cyntia mengikuti langkah Laura ke kamar. Saat pintu kamar terbuka, Cyntia terkejut melihat penampilan anaknya dengan rambut berantakan, riasan luntur, dan gaunnya robek hingga memperlihatkan pakaian dalam.
“Laura… dari mana saja kamu? Kenapa bisa pulang sama Ustadz Raihan?” tanya Cyntia cemas.
“Aku cuma lagi party… nggak sengaja aja ketemu dia,” jawab Laura cuek sambil mengambil kaos besar dari kursi.
“Tapi kenapa kamu bersikap kasar? Laura… bagaimanapun juga Ustadz Raihan calon suami kamu.”
“Ma, Laura kan udah bilang nggak mau nikah sama dia! Hidup aku nggak bisa kalian atur seenaknya!”
“Kamu bilang apa?!” bentak Robby, suaranya menggema di kamar. Langkahnya maju, membuat Laura spontan mundur selangkah.
“Papa nggak mau tahu! Mulai malam ini, nggak ada lagi yang namanya keluyuran, nggak ada lagi pesta, nggak ada lagi mabuk-mabukkan!”
Laura menatap tajam ke arah ayahnya, napasnya memburu. “Papa nggak punya hak buat ngatur hidup aku!”
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Laura, membuat gadis itu terhuyung. Cyntia menjerit kecil, mencoba menahan Robby, tapi Robby sudah kehilangan kesabarannya.
“Kamu pikir Papa nggak capek?! Tiap malam khawatirin kamu nggak pulang, dengar kabar kamu pesta sama cowok yang nggak jelas?! Papa sama Mama banting tulang buat kamu, tapi kamu balasnya kayak gini?!” suara Robby pecah, matanya merah menahan amarah dan kecewa.
Laura memegangi pipinya yang perih, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku nggak pernah minta dilahirkan ke dunia ini, apalagi disuruh nikah sama orang yang bahkan aku nggak kenal!” suaranya bergetar tapi penuh perlawanan.
“Justru karena kamu nggak kenal, kamu harus belajar mengenalnya!” Robby menunjuk Laura tajam. “Ustadz Raihan laki-laki baik. Dia bisa bimbing kamu. Papa nggak mau lihat kamu hancur, Laura!”
“Papa… jangan paksa aku!”
Cyntia mendekat, memeluk Laura dari samping dengan suara yang lebih.
“Sayang, Mama tahu kamu belum siap. Tapi lihatlah diri kamu sekarang… apa ini hidup yang kamu mau? Kita semua lagi berusaha berubah, Nak. Mama nggak mau kamu tertinggal.”
“Kenapa sih semua orang tiba-tiba jadi sok suci?” Laura menepis pelukan Cyntia, air matanya akhirnya jatuh.
“Karena kita sadar selama ini salah!” Cyntia ikut menangis. “Mama nggak mau kamu ulangi kesalahan Mama. Tolong, Laura… jangan bikin Papa makin kecewa.”
Laura memejamkan mata, merasa terpojok. Napasnya berat, kepalanya tertunduk. Hening melanda kamar beberapa detik sebelum suara Robby kembali terdengar.
“Pernikahan kamu sama Ustadz Raihan nggak bisa ditunda lagi. Bulan depan semuanya harus siap.”
Laura mendongak, matanya melebar tak percaya. “Bulan depan?! Papa gila?!”
“Papa serius.”
“Papa… aku—”
“Kalau kamu masih mau tinggal di rumah ini, kalau kamu masih mau dianggap anak Papa, kamu harus nurut. Titik.”
Laura terdiam. Perlawanan di matanya perlahan meredup, berganti kepasrahan bercampur benci. Air mata jatuh makin deras, tapi tak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya.
Cyntia meraih tangan Laura perlahan, kali ini Laura tidak menepis. “Mama janji… kamu nggak akan jalanin ini sendirian. Mama sama Papa bakal ada buat kamu.”
Laura terdiam. Dalam hati ia menjerit ini bukan hidup yang ia mau.
***
Esok paginya, Laura terbangun oleh suara ribut di kamarnya. Dengan mata masih setengah tertutup, ia mengerjap, mencoba fokus. Suara pintu lemari dibanting-banting dan pakaian berjatuhan ke lantai membuatnya benar-benar sadar.
Begitu matanya terbuka penuh, ia terkejut melihat Robby sedang mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari dari gaun pesta, crop top, celana pendek semuanya dilempar begitu saja ke lantai.
“Pa! Kenapa baju aku dikeluarin?!” seru Laura panik, buru-buru turun dari ranjang dan meraih beberapa pakaian kesayangannya.
Robby menoleh cepat, wajahnya tegas tanpa ampun.
“Mulai hari ini, nggak ada lagi pakaian terbuka di rumah ini. Nggak ada lagi celana pendek, nggak ada baju ketat, nggak ada gaun mini!”
“Apa?!” Laura memekik tak percaya. “Papa! itu baju aku semua! Aku beli pake uang aku sendiri!”
Robby menunjuk Laura tajam.
“Kita mulai perbaiki dari penampilanmu dulu. Kalau mau berubah, kamu harus mulai dari luar!”
Laura mengacak rambutnya frustasi. “Berubah? Pa, aku nggak mau berubah! Ini diri aku! Kalo Papa mau jadi alim silakan, tapi jangan tarik aku ikut-ikutan!”
“LAURA!” bentak Robby, suaranya memenuhi kamar. “Papa nggak mau anak Papa terus-terusan jadi bahan omongan orang! Kamu calon istri orang, kamu bakal bawa nama keluarga!”
“Calon istri orang? Aku bahkan nggak mau nikah sama dia!” Laura membalas bentakan ayahnya.
Cyntia masuk tergesa dari pintu, mencoba menengahi. “Udah… udah, jangan teriak-teriak pagi-pagi gini. Laura, dengar Mama dulu, ya?”
Tapi Laura menggeleng keras, air matanya mulai menggenang. “Mama juga sama aja! Kalian nggak pernah dengerin aku!”
Robby menghela napas berat, lalu mulai memasukkan baju-baju terbuka itu ke dalam kantong besar.
“Semua ini Papa buang. Nggak ada lagi pakaian macam ini di rumah. Mulai sekarang, kamu belajar pakai pakaian yang lebih tertutup. Kalau kamu mau keluar, Papa yang tentuin pakaianmu.”
Laura berlari menarik kantong itu, mencoba merebut pakaiannya. “Nggak mau! Itu baju aku! Balikin, Pa!”
Tapi Robby menahan kuat, matanya merah menahan emosi. “Cukup, Laura! Kamu nggak ngerti apa-apa! Papa cuma mau kamu nggak hancur makin jauh!”
Suasana kamar kacau, baju-baju berserakan di lantai, suara tangis Laura bercampur napas berat Robby. Cyntia akhirnya memeluk Laura dari belakang, mencoba menenangkannya.
“Nak… Mama tahu kamu marah. Tapi percayalah… ini buat kebaikan kamu. Tolong, jangan bikin Papa makin sakit hati.”
Laura terdiam beberapa detik, tubuhnya lemas. Air mata terus jatuh tanpa ia sadari. Ia tidak lagi punya tenaga untuk melawan.