Bab 5

1164 Words
Waktu berlalu. Seminggu sudah sejak hari ketika Robby membuang semua pakaian terbuka milik Laura. Sejak saat itu, lemari Laura hanya berisi pakaian longgar dan gamis sederhana yang dipilihkan oleh Cyntia. Awalnya Laura menolak, tapi setiap kali ia melawan, Robby selalu mengingatkannya pada keputusan mereka. Hari-hari Laura terasa aneh. Dari gadis yang biasanya hidup bebas di klub malam, kini ia harus menutup hampir seluruh tubuhnya. Setiap kali bercermin, ia seperti melihat orang asing. Pagi itu, suasana rumah lebih tenang dari biasanya. Ruang tamu telah disulap menjadi tempat pengajian kecil. Beberapa sajadah digelar, mushaf Al-Qur’an tersusun rapi di meja kecil. Raihan duduk di sana dengan pakaian putih bersihnya. Laura turun dari kamarnya dengan langkah malas. Gamis biru muda membungkus tubuhnya, rambutnya yang biasanya tergerai kini tertutup kain yang menutup sebagian rambutnya. Wajahnya cemberut, tapi matanya sekilas melirik ke arah Raihan yang sedang menunggu. “Laura, ayo duduk sini,” ajak Cyntia lembut. Laura mendengus pelan namun menurut. Ia duduk bersila di samping Cyntia, sedikit menjauh dari Raihan. Pandangannya kosong ke arah lantai, jemarinya sibuk memainkan ujung kerudung. “Baik,” suara Raihan tenang memecah keheningan. “Kita mulai pelan-pelan saja. Hari ini kita baca surat Al-Fatihah, dan nanti saya jelaskan artinya.” Raihan mulai membaca perlahan, suaranya lembut tapi jelas. Cyntia mengikuti dengan penuh khidmat, sementara Laura diam. Ia tidak membaca, tidak pula menatap mushaf di depannya. Namun, entah mengapa, suara itu masuk pelan-pelan ke telinganya. Ada sesuatu yang terasa berbeda tenang tapi juga asing. Setelah pembacaan selesai, Raihan memberi penjelasan singkat. Laura masih hanya diam mendengar, matanya sesekali menatap jam dinding seolah tak sabar menunggu sesi berakhir. Tapi tanpa ia sadari, setiap kata yang terucap pelan-pelan menancap di pikirannya. “Kalau ada yang ingin bertanya… silakan,” ucap Raihan di akhir sesi. Tiba-tiba Laura berdiri cepat dan menuju kamarnya tanpa berkata apa-apa. Robby menghela napas panjang, sementara Raihan hanya menatap punggung Laura sekilas, mencoba memahami betapa sulitnya proses ini bagi gadis itu. *** Esok hari mereka bertiga Robby, Cyntia, dan Laura berangkat bersama menuju kantor urusan agama ditemani Raihan sebagai saksi dan pembimbing. Langit cerah, angin pagi terasa sejuk, tapi jantung Laura berdegup cepat. Bukan karena bahagia, tapi karena masih campur aduk antara pasrah, bingung, dan sedikit penasaran. Robby menggenggam tangan istrinya erat saat mereka duduk di ruangan sederhana yang harum oleh wewangian kayu cendana. Seorang penghulu berwajah teduh tersenyum ramah, menatap mereka satu per satu. “Sudah siap?” tanyanya lembut. Robby mengangguk mantap. “InsyaAllah, kami sudah siap.” Penghulu itu memulai dengan penjelasan singkat tentang makna syahadat dan konsekuensinya. Laura mendengarkan sambil menunduk. Di dalam hatinya, ia masih berusaha memahami apa yang sebentar lagi akan ia ucapkan. Raihan duduk di sampingnya, tak bicara sepatah kata pun, tapi sorot matanya penuh ketenangan. “Baik,” ucap penghulu itu akhirnya. “Ikuti ucapan saya… Ashhadu an laa ilaaha illallah, wa ashhadu anna Muhammadan rasulullah.” Suara Robby lantang mengucapkan syahadat itu. Cyntia menyusul dengan suara bergetar namun mantap. Lalu giliran Laura. Tangannya gemetar. Suaranya sempat tercekat. Tapi perlahan ia ulangi kata-kata itu dengan lirih terdengar gugup, namun tulus di tengah kebingungannya. Begitu selesai, ruangan itu hening sejenak. Lalu Raihan tersenyum hangat. “Alhamdulillah… mulai hari ini kalian saudara kami seiman.” Cyntia menangis haru, Robby meremas lembut tangannya. Laura hanya diam, matanya berkaca-kaca tanpa ia sadari. Saat keluar dari kantor itu, Cyntia memeluk Laura erat. “Mulai sekarang… kita jalan bareng ya, Nak. Jangan pernah ngerasa sendirian.” Laura hanya mengangguk pelan. Matanya sempat bertemu dengan Raihan yang berdiri tak jauh. Pandangan pria itu penuh pengertian, tanpa paksaan sedikit pun *** Sebulan berlalu sejak hari Laura dan keluarganya resmi memeluk Islam. Hidup Laura perlahan berubah. Ia sudah mulai terbiasa dengan pakaian yang lebih tertutup, bahkan sesekali mengikuti pengajian kecil di rumah mereka. Namun hari ini berbeda. Hari ini, ia akan menikah. Laura berdiri di depan cermin kamarnya. Gamis putih sederhana membungkus tubuhnya, riasan tipis menghiasi wajahnya. Rambutnya tersimpan rapi di balik kerudung putih polos. Meski cantik, matanya memantulkan kebingungan dan kegelisahan. Pintu kamar diketuk perlahan sebelum terbuka. Cyntia masuk dengan senyum hangat, meski matanya sedikit berair karena haru. “Sudah siap, Nak?” tanya Cyntia lembut. Laura tetap menatap cerminnya. “Ma… apa benar ini yang harus aku lakukan? Jadi Islam aja nggak cukup? Kenapa aku juga harus nikah secepat ini?” suaranya lirih. Cyntia melangkah mendekat, berdiri di samping Laura dan ikut menatap bayangan mereka di cermin. “Nak… Ustadz Raihan adalah laki-laki baik. Dia nggak pernah mempermasalahkan masa lalu kamu. Semua kenakalan kamu, semua luka yang pernah kamu buat sendiri… dia tetap mau menerimamu apa adanya. Kalau ada lelaki yang pantas membimbingmu sekarang, itu dia.” Laura menghela napas panjang, matanya menunduk. “Aku takut, Ma… takut nggak bisa jadi istri yang baik. Aku nggak ngerti apa-apa soal agama ini.” “Justru karena itu kamu butuh seseorang yang bisa membimbingmu. Raihan nggak cuma baik, dia sabar. Dan dia tulus. Mama yakin ini jalan yang terbaik.” Cyntia mengelus lengan putrinya pelan. “Ayo, Nak… penghulu sudah menunggu.” Dengan langkah pelan, Laura akhirnya mengikuti ibunya keluar kamar. Di ruang tamu yang telah dihias sederhana namun indah, beberapa kerabat dekat sudah berkumpul. Raihan duduk di sisi kanan, mengenakan baju koko putih dan peci, tampak tenang tapi matanya sesekali menunduk dalam. Jihan duduk di pangkuan neneknya, sesekali melambai polos melihat Laura berjalan. Laura duduk di samping Raihan, masih menunduk. Suara penghulu yang tenang memulai acara akad nikah. “Bapak Robby telah menyerahkan hak perwaliannya kepada saya,” ucap penghulu. “Maka saya yang akan menjadi wali nikah dalam akad ini.” Robby menatap putrinya dari kejauhan, mata berkaca-kaca. Cyntia berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya erat. Penghulu membaca ijab kabul, dan Raihan menjawab dengan lantang dan mantap. “Saya terima nikahnya Laura binti Robby dengan mas kawin seperangkat alat salat dan hafalan surat Ar-Rahman, dibayar tunai.” “Alhamdulillah… sah,” ucap para saksi serempak. Laura mengangkat wajahnya perlahan. Hatinya masih berdebar, ada keraguan yang masih menjalar dalam hatinya. Tapi Laura hanya bisa memendam semuanya sendiri. Perlahan Laura menoleh dan Raihan membuka kain yang menutupi wajah Laura, lalu tangannya terulur dan perlahan Laura menerimanya dan mencium punggung tangan Raihan. Dengan Raihan yang mengecup kening Laura dengan sebelumnya Raihan mengucapkan bismillah. Tepuk tangan menjadi tanda berakhirnya acara akad hari itu dengan Laura yang menangis dalam diam. Laura mengangkat wajahnya perlahan. Hatinya berdebar kencang, campuran antara gugup, ragu, dan pasrah yang sulit ia jelaskan. Sejak pagi, ia hanya mengikuti alur tanpa benar-benar memahami apa yang akan terjadi setelah ini. Dengan perlahan, Raihan mengangkat kain tipis yang menutupi wajah Laura. Gerakannya lembut, seolah takut membuatnya kaget. Tatapan mereka akhirnya bertemu untuk pertama kalinya sebagai suami-istri. Ada senyum kecil di wajah Raihan, tenang namun penuh arti. Tangannya terulur, menawarkan genggaman. Laura ragu sejenak, tapi akhirnya menyambut tangan itu dan menunduk mencium punggungnya. Sebuah tradisi sederhana, namun membuat dadanya terasa sesak. “Bismillah,” bisik Raihan sebelum mengecup kening Laura. Sentuhan singkat itu membuat air mata Laura luruh tanpa ia sadari. Hari itu, tanpa ia duga, hidupnya berubah selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD