Kode

1067 Words
Tak terasa sudah hari terakhir training. Ini hari ke tujuh, berarti besok mereka sudah mulai aktif bekerja. Hari ini acara penutupan, di mana tidak banyak materi yang dibagikan. Hanya post test yang harus dikerjakan, untuk me-review seberapa paham para peserta dalam menerima materi. "Baiklah. Kita tiba di sesi terakhir dimana kami akan memberikan job desk bapak ibu semua." Salah seorang dari anggota panitia memulai pembicaraan. Selama training berlangsung, dia hanya tampil sesaat pada waktu pembukaan hari pertama, serta penutup di hari terakhir acara. Selebihnya, materi diisi oleh berbagai divisi lain. Tentunya ada Reza yang sesekali masuk ke ruangan dan memantau situasi. Lelaki itu benar-benar mengawasi selama acara berlangsung. Dia ingin memastikan sendiri, bahwa segala sesuatunya berjalan dengan lancar. Jumlah peserta yang tidak banyak, tentu saja memudahkan panitia untuk mengurus segala sesuatunya. Apalagi Hani dan teman-temannya cukup tertib selama mengikuti kegiatan. "Selamat bergabung semua. Semoga kalian betah berada di perusahaan kami." Sambutan Reza begitu hangat, ketika masing-masing peserta mulai diberikan posisi dan lokasi penempatan kerja. Ada beberapa karyawan yang ditugaskan di cabang lain. Sedangkan yang lainnya berada di kantor pusat. Saat melihat sosok Reza dari kejauhan, Ttngan Hani gemetaran membayangkan bagaimana jika mereka kembali bersentuhan. Selama training berlangsung, dia lebih fokus pada layar presentasi di depan mereka, bukan pada sosok tampan yang berdiri di depan. Apalagi materi yang diberikan cukup berat dan sulit dipahami. Mungkin karena faktor usia, sehingga Hani memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencern. Padahal penjelasan yang disampaikan oleh pemateri sudah cukup rinci. Wanita itu berulang kali bertanya untuk memastikan, apakah benar yang dia maksud atau bukan. Hani sendiri mendapatkan posisi sebagai staf administrasi sesuai dengan pekerjaan yang dilamarnya. Tugasnya adalah mengerjakan laporan dan sesekali diminta mengantarkan dokumen ke beberapa divisi terkait. "Kami pamit ya, Mbak." Mereka saling berpelukan dengan tidak ada rasa canggung sama sekali. Satu minggu ini sudah begitu dekat, sehingga rasanya biasa saja. Hani menganggap rekan kerjanya sudah seperti adiknya sendiri. "Iya. Sampai ketemu lagi di lain waktu," ucap Hani. Tangan mereka saling berjabat. Ada rasa haru setelah semuanya selesai. "Kayaknya, Mbak Hani bakalan jadi karyawan kesayangan," kata salah seorang yang lain dengan tatapan menggoda. Hani mendelik mendengar itu, lalu berkata, "Apaan coba? Belum juga mulai kerja." Sementara itu, beberapa yang lain mengulum senyum sembari berbisik. "Iya, bener. Kesayangan pak bos." "Jangan ngawur kalian!" sanggah Hani tak terima. "Habisnya, mata Pak Reza ngelirik ke arah Mbak Hani terus. Ya, gak?" Hani terkejut ketika melihat yang lain mengiyakan ucapan itu. Sejujurnya dia tidak memperhatikan sama sekali. Namun, jika memang benar selama training Reza memperhatikan, betapa malunya dia. Pipinya bersemu merah saat membayangkan itu. "Cieee, Mbak Hani malu-malu kucing," ledek mereka. Hani melotot mendengarnya sehingga gelak tawa kembali bergema di ruangan itu. "Kasih ciuman perpisahan dong, Mbak. Aku kan di cabang lain ...." Kali ini Hani tergelak. Ada-ada saja kelakuan mereka ini. Memang lucu dan konyol, tetapi rasanya dia tidak mau berpisah. Tiba-tiba saja .... "Ehem!" Semua orang tersentak dan serentak menoleh saat terdengar suara batuk yang cukup keras. Melihat siapa orangnya, mereka tersadar sadar dan berhenti tertawa. "Hani, boleh saya bicara sebentar," pinta Reza tanpa sungkan. Hani mengangguk. Peserta yang lain langsung berpamitan ketika mendengar ucapan Reza tadi. "Semoga sukses." Hani menyemangati. "Sampai ketemu di lain kesempatan ya, Mbak. Kami bakalan kangen." Mereka keluar dan melambaikan tangan. Hani kembali duduk di kursinya. Tak nyaman jika harus berbicara sambil berdiri. Apalagi, yang akan dibicarakan ini kelihatannya sesuatu yang penting. Reza berjalan mendekat. Aroma harum tubuhnya tercium jelas meski jarak mereka cukup jauh. Suasana tiba-tiba menjadi hening. Sejenak mereka bertatapan, kemudian Reza mengambil tempat duduk di sebelah wanita itu. "Saya duduk di sini, ya?" "Eh, iya. Silahkan, Pak." Hani gelagapan. "Panggil nama aja, Reza. Gak usah pakai pak. Training, kan, udah selesai," jawabnya santai. Hani mengangguk kemudian menunduk. Rasanya dia tidak sanggup menatap wajah tampan di depannya. "Mbak tau posisinya apa di perusahaan ini?" tanya Reza dengan wajah serius. "Administrasi, kan?" jawabnya. "Benar. Tapi beberapa dokumen harus diantar ke ruangan saya. Itu juga salah satu job desk-nya." Hani menatap wajah Reza dan menelusuri satu per satu bagiannya. Dari rambut yang hitam, hidung mancung, dan bibir seksi yang menggoda. Terakhir mata hitam pekat setajam elang milik lelaki itu. Merasa diperhatikan secara intens, Reza berhenti berbicara. Dia balas menatap wajah cantik di hadapannya. Siapa sangka wanita ini sudah memiliki suami dan anak. Lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing sambil saling menatap. Mata mereka bertautan. Lalu, Hani memalingkan wajah karena malu. Melihat rona di wajah Hani, entah mengapa Reza menjadi gemas dan ingin sekali mencubit pipi wanita itu. Dia juga ingin menarik kacamata dan melihat seperti apa wajah aslinya. Bermata empat saja dia cantik, apalagi dilepas, gumam Reza. "Jadi saya ke ruangan Bapak juga?"tanya Hani heran. "Benar." Selama hidupnya, Reza sudah terbiasa bertemu dengan banyak wanita cantik, seksi dan menggoda. Bahkan mantan tunangannya sendiri sangatlah cantik. Namun, sosok yang malu-malu seperti wanita di hadapannya ini benar-benar berbeda. Dengan status istri orang, sungguh menggoda imannya. "Tapi, kan, bapak punya sekretaris, ya." Hani tidak percaya dengan apa barusan lelaki itu katakan. Mengantar dokumen? Sungguh rasanya tidak bisa di nalar. "Benar. Tapi kamu juga ikut membantu." Reza melipat kedua tangannya di d**a, lalu menegakkan tubuh dan bersandar di kursi. Gesture tubuhnya menunjukkan bahwa dialah yang berkuasa disini. "Tapi--" "Sssttt ... jangan banyak tanya." Reza menyentuh bibir Hani dengan jarinya. Hani mematung dan bertanya dalam hati mengapa Reza begitu lancang. Tangannya menepis sentuhan itu. Sekalipun statusnya atasan, baginya sikap lelaki itu tidak sopan. "Besok pagi jam delapan masuk seperti biasa, ya." Setelah mengatakan itu Reza berdiri dan berjalan dengan santai menuju keluar ruangan, bahkan tidak menoleh lagi saat menutup pintu. Hani masih mematung tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Sekilas dia tersenyum sembari mengusap bibir yang disentuh tadi. Lalu, wanita itu mengambil tas dan segera bergegas keluar. Hanya dia sendiri yang tersisa di ruangan ini. Sambil menunggu ojek online yang akan menjemputnya, Hani duduk di lobi sambil bermain ponsel. [Mas, besok aku udah masuk kerja] Begitu pesan yang Hani kirimkan kepada suaminya. Tidak ada balasan. Sepertinya Ardi sedang sibuk. "Belum pulang, Mbak?" tanya salah seorang karyawan di situ. "Masih nunggu jemputan," jawabnya sopan. Sekarang Hani harus pintar membawa diri, dengan bersikap ramah dengan siapa saja. Mana tahu, dia dapat teman baru yang baik. "Kita duluan." Satu per satu mereka pergi. Hani sendiri masih sabar menunggu. Inilah resikonya karena dia tidak bisa membawa kendaraan apapun, sehingga harus tergantung kepada orang lain. Begitu jemputan tiba, dia segera mengambil tas dan bergegas pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD