Jatuh Cinta

1156 Words
Selama bekerja di kantor ini, hari-hari dijalani Hani dengan senang hati. Tentu saja, ada hari dimana dia harus mengantar dokumen yang harus ditanda-tangani lelaki itu. Sekretaris Reza malah menjadi sahabatnya. Mereka saling bertukar cerita dan menjadi akrab. Setiap makan siang pergi bersama di kantin khusus karyawan. "Pak Reza itu loh, Mbak. Dia dijodohkan sama dokter cantik aja gak mau. Gak ngerti deh seleranya kayak apa." Agnes mulai bercerita. Si cantik ini memang suka bergosip. Orang yang sering jadi bahan perbincangan yaitu atasannya sendiri. Apapun kelakuan Reza sehari-hari, ada saja ceritanya. Reza membuat banyak orang penasaran, terutama para wanita di kantor. Hani sendiri memilih cuek dan tidak suka mencampuri urusan orang lain. Jika ada yang membicarakan Reza, dia cukup tahu saja. "Mungkin seneng sama bule'. Katanya lama sekolah di luar negeri." Hani menjawab asal. Dia masih fokus pada makanan. Enak sekali menu hari ini. Nasi rawon dengan banyak taoge dan telur asin. "Iya, tapi kan dia udah tuwir. Masa mau empat puluh tahun belum nikah juga. Agnes kadang-kadang memang sulit mengerem kata-kata. "Hus! Jaga mulut kamu. Mana tau dia udah punya pacar diem-diem. Orang kayak mereka itu jaga privasi. Gak suka ngumbar sama orang lain kehidupan pribadinya. Sekalipun dekat, semua kan gak harus di ceritain, Nes." Hani mencoba menyikapinya dengan bijak. Sebenarnya dia malah tak mau membahas tentang ini lagi. "Coba dia ramah dikit. Aku aja yang jadi sekretarisnya bertahun-tahun, jarang ngobrol tuh." "Mungkin cuma bicara seperlunya aja. Dia kan sibuk. Mana sempat mau gosip kayak kita." Hani mengaduk nasi dan kuahnya. Rasanya masih kurang, dia ingin makan satu porsi lagi. "Eh, Pak Reza datang, Mbak. Tumben ke kantin. Biasanya makan siang di restoran," bisik Agnes. Dia menyenggol bahu Hani. Hani melihat ke arah pintu masuk. Reza terlihat tenang dan santai saat memilih menu makanan. Padahal suasana cafetaria semakin berisik. Para karyawan wanita sibuk membicarakan Reza. Bahkan Hani melihat waitress yang mengantar makanan, sempat berhenti saat lelaki itu lewat. Reza melirik Hani sekilas, lalu mengulum senyum. "Eh, dia senyum sama kita." Agnes bersorak kegirangan. Dengan percaya diri, dia membalas senyuman Reza. "Sama kamu kali. Kamu kan cantik." Hani tetap cuek. Wanita itu masih belum move-on dari semangkok rawon yang super enak ini. Rasanya dia ingin meminta resep, agar biar bisa dimasak untuk keluarga. "Ah, gak mungkin. Pasti sama Mbak Hani. Aku lihat Pak Reza seneng banget kalau mbak datang ngantar dokumen. Dia senyum-senyum gak jelas." "Oh ya?" Mendengar itu entah mengapa hati Hani jadi berbunga-bunga. "Mbak sih imut banget. Aku gak kalau Mbak nyangka udah nikah terus punya anak." Hani hanya tersenyum menanggapinya. "Apa jangan-jangan Pak Reza seleranya yang kecil-kecil kayak Mbak Hani kali, ya. Gemesin gitu." Hani tergelak, lalu menutup mulut menahan malu. Rasanya tak pantas jika perempuan tertawa seperti itu. Apalagi ini di tempat umum, tentu saja tidak sopan. Tanpa disadari, ternyata Reza berhenti makan dan melihat Hani tertawa. Di saat yang sama, wanita itu menoleh ke arahnya. Mata mereka bertatapan entah untuk yang ke sekian kali. Hani menunduk. Sekilas terlihat Reza menahan senyum sambil melanjutkan makan. "Tuh, kan. Dia ngeliat ke sini. Senyum-senyum lagi." Agnes mulai menggoda sahabatnya. Senang sekali dia melihat Hani yang menjadi salah tingkah karena perbuatannya. "Udah, ah. Aku udah selesai makannya. Duluan, ya." Hani berjalan menuju keluar. Dia menganggukkan kepala ke arah Reza sebagai tanda pamit. Lelaki itu membalasnya dengan senyuman. *** "Hani bisa antarkan dokumen ini ke ruangan Pak Reza," kata Ibu Maya, atasannya di departemen ini. "Ada lagi, Bu?" Hani bertanya karena heran. Hari ini dia sudah tiga kali bolak balik mengantarkan berbagai macam berkas sejak pagi. Belum lagi yang harus diantar ke divisi lain. Kenapa coba dia ditempatkan di posisi ini? "Iya. Ini besok akan ada rapat dengan klien penting diluar kota. Semua harus selesai hari ini." "Baik, Bu." Hani melangkah menuju ruangan Reza, bingung mau bicara apalagi jika bertemu. Malah kadang-kadang wanita itu mengantar saja tanpa bicara. Setelah selesai dia langsung keluar ruangan. "Bapak ada?" Hani bertanya. Agnes terlihat sibuk, entah sedang mengerjakan apa. Hani melihat rambut yang tadinya terurai, kini digelung ke atas. Itu berarti pekerjaan Agnes sedang banyak. "Masuk aja, Mbak." Hani mengangguk tanpa melihat. Matanya fokus menatap layar di depan. Wanita itu mengetuk pintu sebelum masuk. "Ya, masuk." Suara berat menyahut dari dalam. Sungguh terdengar sangat maskulin bagi telinga wanita. "Permisi, Pak." Hani masuk dengan sopan. Dia harus formal karena Reza adalah atasan walaupun secara tidak langsung "Eh, Mbak Hani. Ada lagi?" Reza tersenyum senang saat wanita itu datang dan mengetuk pintu ruangannya. "Iya, Pak. Kata Bu Maya ini penting karena besok Bapak akan meeting dengan klien luar kota." Hani meletakkan berkas itu di meja. "Duduk." "Tapi, saya cuma sebentar, Pak. Ada beberapa laporan yang harus saya selesaikan," tolaknya halus. "Duduk aja dulu. Kamu gak pengen ngobrol sama aku sebentar aja?" Suara berat Reza kali ini terdengar melunak. Hani menjadi heran ketika Reza menyebut dirinya dengan "aku". Biasanya dia mengucapkan kata "saya". "Iya, Pak." Hani duduk di sofa seberang meja. Dia tidak berani duduk berhadapan dengan Reza. Selain grogi, harum parfum lelaki itu benar-benar menggoda. Melihat Hani yang menunggu, Reza mengambil gagang telepon dan men-dial beberapa angka. "Halo, Bu Maya. Tolong laporan yang mau dikerjakan Hani dialihkan ke yang lain dulu." "Memangnya kenapa, Pak?" tanya Maya di seberang sana. "Ada beberapa hal yang mau saya diskusikan. Jadi sampai jam pulang kantor, Hani berada di ruangan saya." Telepon terputus. Reza segera menanda-tangani berkas dan dokumen di mejanya. Hani tercengang mendengar apa barusan dia dengan. Diskusi? Apa yang Reza mau bicarakan? Bukannya dia hanya staf administasi biasa. Hani tak mau membantah. Wanita itu memilih diam, dan menunggu Reza selesai menelepon. "Halo Agnes. Pukul empat nanti kamu boleh pulang. Gak ada lembur atau pekerjaan tambahan. Besok saya mau keluar kota." Setelah menutup panggilan, Reza berjalan mendekati sofa dan duduk di sebelah Hani. Dengan santainya lelaki itu meletakkan tangan di belakang sandaran. Jika Hani merapat sedikit, seolah-olah akan berpelukan dengannya. "Capeknya," ucap Reza sembari melonggarkan dasi. "Kalau cape' Bapak pulang aja. Kan bisa istirahat di rumah." "Aku masih kangen sama kamu." Reza mendekatkan wajahnya menatap wajah cantik itu. Hani terkejut sambil menutup mulut. "Kenapa?" Suara Reza melembut, tetapi tubuhnya bergerak mendekat. Kini Hani terpojok di ujung sofa. "Bapak ada yang mau didiskusikan dengan saya?" tanya Hani dengan wajah ketakutan. "Diskusi apa? Cuma mau ngobrol biasa ajalah," ucap Reza santai. "Mau ngobrol apa, Pak?" Hani menunduk, malu ditatap seperti itu. "Kalau ngomong jangan nunduk gitu. Liat matanya, dong." Reza mengangkat dagu Hani. Hani menepis tangan Reza. Baginya, sikap lelaki itu sudah lancang. Namun, lengannya malah dipegang balik. Reza menatap Hani tajam. Dia ingin sekali menyentuh wajah ini. Namun, niatnya urung. Reza malah bergerak melepas gelungan rambut Hani. Lalu, dia mengusapnya pelan. "Jangan, Pak." Hani menolak. Tidak pantas seorang pimpinan memperlakukan staff-nya seperti itu. "Kenapa?" "Saya istri orang." Reza tersadar. "Cuma ngobrol biasa boleh, kan?" "Tapi jangan pegang-pegang." Hani tersenyum. Dia takut Reza tersinggung, karena dia menolak dengan cara halus. "Oke." Suara Reza terdengar lirih. Namun, raut wajahnya tampak kecewa. Perasaannya kali campur aduk. Apakah dia sudah jatuh cinta?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD