Sementara itu, aroma aneh di ruangan itu masih tercium. Samar, namun cukup mengganggu.
Alya menahan napas lagi, takut kalau membuka mulut terlalu lama, ia bukan hanya mual lagi, tapi benar-benar akan muntah di sana.
“Dan ini,” Tuan Surya menunjuk salah satu bagian di kontrak.
Alya memaksa matanya fokus, mengikuti sesuai yang ditunjuk Tuan Surya.
“Kamu harus mampu menjaga rahasia. Apa pun yang kamu lihat di rumah ini, tidak boleh sampai keluar.”
Jantung Alya berdetak lebih cepat. Ia langsung teringat adegan m***m Tuan Surya dan wanita tadi.
Ia tidak perlu diingatkan dua kali.
“Iya, Tuan…” angguknya cepat.
“Termasuk hal-hal yang… tidak biasa.”
Tuan Surya memberikan penekanan pada dua kata terakhir.
Alya kembali mengangguk cepat.
“Saya mengerti, Tuan,” ucap Alya tenang, walaupun jejak persetubuhan di atas meja di depannya membuat perutnya kembali bergejolak.
Ia menelan ludah, menahan diri. Takut Tuan Surya menyadari apa yang dia rasakan dan malah menganggapnya kurang ajar lalu membatalkan kontrak.
Tapi pria itu sepertinya tidak peduli.
“Kalau kamu melanggar,” lanjutnya santai, “ada konsekuensinya.”
Ya, konsekuensi, dan pasti tidak ringan.
Alya menggenggam ujung blus lebih kuat, bertanya takut-takut, “A-apa… konsekuensinya, Tuan…?”
Senyum tipis muncul di wajah pria itu.
“Kamu baca saja kontraknya lebih lanjut. Saya sudah menulisnya dengan jelas di situ.” Jawabnya ringan sambil menunjuk kontrak di tangan Alya.
Namun justru membuat d@da Alya terasa lebih sesak.
“Selama kamu patuh, kamu aman.” kata Tuan Surya lagi.
Alya mengangguk. “Baik, Tuan…”
Ia ingin segera meninggalkan tempat ini, dari hadapan sosok yang begitu mendominasi namun sudah menyajikan gambaran aneh di pikiran Alya.
Tuan Surya menggeser pena ke arahnya.
“Kalau tidak ada pertanyaan lagi, tanda tangan saja.”
Pena itu berhenti tepat di depan Alya.
Alya menatap pena itu, lalu ke dokumen kontrak, melihat bagian yang harus ditandatangani, di mana namanya tertulis jelas.
Perutnya masih tidak nyaman, dan kepalanya sekarang malah sedikit pening.
Namun satu hal yang lebih kuat dari semua itu, kebutuhan. Ia butuh pekerjaan ini untuk menyambung hidup. Ia tidak punya pilihan lain.
Perlahan ia mengambil pena itu.
Tangannya gemetar saat menyentuh kertas, lalu membubuhkan tanda tangan di atas namanya. Setiap goresan terasa berat.
Begitu selesai, ia langsung menarik tangannya, dan menahan napas lagi.
“Sudah, Tuan…”
“Bagus.”
Tuan Surya mengambil kontrak asli itu dan mendorong satu map lain.
“Ini salinan kontrak, simpan dan pelajari.”
"Baik, Tuan," Alya mengangguk patuh, menerima map itu.
“Mulai hari ini, kamu bagian dari rumah ini. Lakukan tugasmu dan bersikaplah baik, serta patuhi semua aturannya.”
Suara Tuan Surya melunak.
"Nanti di bawah ada sekretaris saya yang akan menjelaskan pekerjaanmu lebih detail."
"Baik, Tuan,"
Alya mengangguk, namun sama sekali tidak ada rasa lega. Hanya perasaan tidak enak, seperti ada sesuatu yang salah namun tidak bisa ia jelaskan.
“Keluar!” Titah Tuan Surya kemudian, nada suaranya kembali dingin.
“Iya, Tuan… Terima kasih,”
Alya berdiri cepat, sedikit terlalu cepat, hingga hampir kehilangan keseimbangan. Ia bertumpu sejenak di kursi, lalu berjalan menuju pintu. Langkahnya terburu-buru.
Begitu sampai di luar, sembari menutup pintu di belakangnya, Alya langsung menarik napas panjang berkali-kali. Seolah baru bisa bernapas lagi dengan leluasa.
Tangannya masih gemetar, dan perutnya masih terasa mual, karena bayangan adegan tadi tidak juga hilang.
Ia menatap kontrak di tangannya dan menegaskan pada diri sendiri kalau dia ada di sana hanya untuk bekerja. Soal adegan yang sempat ia saksikan tadi hanya karena ia sedang sial saja.
'Anggap saja ini ujian, Alya,' gumamnya dalam hati, walaupun kalimat itu tidak terlalu meyakinkan.
Alya menuruni tangga dengan langkah cepat. Map salinan kontrak itu ia dekap erat di dadanya, seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia pegang saat ini. Tangannya masih sedikit gemetar karena perasaan tidak enak itu, namun napasnya sudah lebih teratur, setidaknya tidak sekacau tadi.
Begitu sampai di lantai bawah, Alya berhenti sejenak. Matanya mencari-cari keberadaan sekretaris yang Tuan Surya katakan tadi.
Dan napasnya sedikit tercekat begitu menemukannya.
Wanita itu, berdiri di dekat meja besar di ruang tengah, seolah memang sudah menunggu.
Dia wanita yang sama, yang tadi beradegan m***m dengan Tuan Surya di meja kerjanya tadi. Pakaiannya juga masih sama, namun sudah lebih rapi. Kemeja putih bersih, rok span hitam, dan rambut tertata sempurna.
Hanya kemeja dan rok yang sedikit kusut yang menjadi jejak dari kejadian di atas.
Wanita itu terlihat sangat tenang, sekolah kejadian tadi tidak pernah terjadi. Malah senyum tipis muncul di bibirnya yang dipoles lipstick merah menyala.
“Sudah selesai?” tanyanya ringan.
Nada suaranya santai.
“I-iya…” jawab Alya pelan. “Saya sudah tanda tangan kontrak…”
“Hm.” Wanita itu mengangguk kecil. “Cepat juga.”
Alya tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya berdiri diam, masih memeluk map itu.
Wanita itu melangkah mendekat.
Sepatu haknya berbunyi pelan di lantai. Setiap langkah terlihat sangat percaya diri.
Berbanding terbalik dengan Alya yang justru semakin kaku.
“Namamu Alya, ya?” tanyanya.
“Iya…”
“Saya Clara,”
Ia tidak menyebut jabatan, namun Alya sudah tahu, wanita ini adalah Sekretaris Tuan Surya, karena sudah disebut oleh Tuan Surya tadi.
Alya mengangguk kecil.
“Iya, Bu…”
Clara terkekeh pelan. “Tidak perlu panggil ‘Bu’. Saya belum setua itu.”
Alya langsung panik. “Maaf… saya—”
“Clara saja.”
“I-iya, Clara…”
Wanita itu menatap Alya beberapa detik lebih lama. Seolah mengamati, dan menilai dirinya.
Tatapan itu membuat Alya semakin tidak nyaman.
“Jadi,” ucap Clara akhirnya, berbalik dan melangkah santai ke lorong di mana kamar-kamar berada, “kamu ditugaskan langsung oleh Tuan.”
Alya mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
“I-iya…”
“Berarti kamu akan lebih sering di dalam rumah.”
Kalimat itu terdengar biasa, namun Alya tidak yakin kenapa, ia merasa ada makna lain di baliknya.
Clara berhenti tiba-tiba, lalu berbalik menghadap Alya, membuat gadis itu hampir saja menabraknya.
Alya sedikit sempoyongan, sebelum kembali berdiri tegak.
"Maaf..." Bisiknya, takut.
Clara mengibaskan tangannya, “Dengarkan baik-baik, ya,” katanya, kini nadanya sedikit lebih serius. “Tugas utamamu adalah mengurus Nyonya Surya.”
Alya langsung fokus.
“Nyonya…?”
“Istri Tuan Surya.” Clara menyilangkan tangan di depan da-da. “Beliau sakit, kena stroke. Sudah cukup lama.”
Alya terdiam, fokus mendengar penjelasan.
“Beliau tidak bisa banyak bergerak. Sebagian besar waktunya di tempat tidur. Jadi kamu yang akan bantu mengurus Nyonya makan, minum, kebersihan, semuanya.”
Alya menelan ludah.
“Iya…”
“Selain itu,” lanjut Clara, “kamu bantu pekerjaan rumah. Bersih-bersih, kalau dibutuhkan.”
Alya mengangguk.
“Iya, Clara…”
“Dan satu lagi.”
Nada suara Clara berubah sedikit lebih pelan, seolah akan menyampaikan hal yang penting dan rahasia.
Alya langsung menegang.
“Di rumah ini…” Clara menatapnya lurus, “kamu tidak perlu tahu terlalu banyak, sekalipun kamu mungkin akan melihat banyak hal di rumah ini.”
Jantung Alya langsung berdegup lebih cepat. Kalimat itu mirip, sangat mirip dengan yang dikatakan Tuan Surya.
“Iya…” Ia menanti kelanjutkan kalimat wanita itu.
“Lakukan apa yang diperintahkan. Jangan ikut campur, dan jangan menanyakan hal yang tidak perlu. Apalagi sampai bergosip sesama pelayan, itu dilarang keras.”
Clara tersenyum tipis.
“Kalau kamu bisa melakukan semua itu… kamu akan baik-baik saja di sini.”
Alya menggenggam map di tangannya lebih erat.
“Iya… baik, Clara,”
“Dan Alya...”
Alya mengangkat sedikit wajahnya.
Tatapan Clara kembali menajam. “Biasakan dirimu dengan semua hal di rumah ini.”
Alya langsung menunduk lagi. “Iya… saya akan belajar membiasakan diri.”
Clara mengangguk puas. “Bagus.”
Ia kembali berbalik, lalu mulai berjalan lagi. “Ayo. Saya tunjukkan kamar Nyonya.”
Alya mengikuti di belakang. Langkahnya pelan, pikirannya masih penuh. Kalimat-kalimat Tuan Surya dan sekretarisnya berputar di kepalanya.
Tangannya tanpa sadar meremas map kontrak itu lebih erat. Seolah itu bisa memberinya pegangan. Namun justru setiap langkah yang ia ambil terasa semakin dalam.
Seperti masuk ke sesuatu yang perlahan menutup di belakangnya.
Namun Alya terus mengikuti langkah wanita itu. Map kontrak itu masih ia dekap di da-da.
Ia berusaha tidak melihat tubuh wanita itu, namun bok0ng bulat besar yang bergerak-gerak di depannya mengingatkannya kembali pada pemandangan di ruang kerja Tuan Surya.
Perut Alya mendadak kembali bergejolak. Lebih kuat dari sebelumnya. Dan napasnya mulai tidak teratur.
“Alya? Kamu kenapa?”
"Eh... Sa-saya butuh ke toilet."