Dahi Clara mengerut, namun ponsel wanita itu tiba-tiba berdering, mengalihkan perhatian wanita itu.
"Pergilah, nanti kembali ke sini secepatnya."
"Baik, terima kasih, Clara,"
Alya berbalik dan berjalan ke sisi lain, ada lorong yang mengarah ke bagian belakang rumah besar itu. Sampai akhirnya ia menemukan pintu kecil bertuliskan toilet pelayan.
Tanpa pikir panjang, ia langsung masuk dan mendorong pintu menutup kembali, lalu berlari ke wastafel.
Dan kali ini, ia tidak bisa menahan lagi. Alya membungkuk di atas wastafel dan muntah-muntah
Napasnya terputus-putus di sela-sela rasa mual yang datang bertubi-tubi.
Tangan gadis muda itu mencengkeram tepi wastafel dengan kuat, seolah itu satu-satunya yang menahannya agar tidak jatuh.
“Ugh—”
Air matanya ikut keluar. Bukan hanya karena muntah. Tapi karena bayangan yang terus memenuhi pikirannya, bayangan dua tubuh yang menyatu dan bergerak liar di atas meja itu. Pertama kali sepanjang hidupnya Alya melihat hal seperti itu. Lalu cairan yang tertinggal di atas meja dengan bau aneh itu...
"Ya, Allah..." Alya mengusap wajahnya yang berkeringat.
Langkah kaki terdengar mendekat dari luar, lalu pintu terbuka dengan cepat dalam sentakan kuat. Alya tidak sempat memutar kuncinya tadi.
“Al?”
Suara itu familiar, suara Jana.
Alya tidak langsung menjawab. Ia masih membungkuk, napasnya berantakan.
Jana langsung mendekat, menepuk punggungnya pelan.
“Kenapa, Al?” tanyanya, nada suaranya campuran antara heran dan khawatir.
Alya menelan ludah. Ia berdiri tegak dan berusaha bicara. Namun saat teringat kembali adegan yang dia lihat di ruang kerja Tuan Surya tadi, napasnya tercekat.
“Aku… aku…” suara Alya gemetar.
Ia menggeleng pelan, tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Ia ingat pesan Tuan Surya dan sekretarisnya tadi, bahwa dia tidak boleh menceritakan apa yang ia lihat pada orang lain.
“Apa, Al? Kamu kelihatan kayak ketakutan banget. Nona Clara marahin kamu?” Jana menatap sahabatnya penuh selidik.
Alya berkedip. Berusaha menguatkan diri.
Jana menepuk bahunya lembut. “Ngomong aja, Al, aku kan sahabatmu. Dan keberadaan kamu di sini adalah tanggung jawab aku juga, karena aku yang bawa kamu ke sini,”
Alya memutuskan untuk mengatakannya pada Jana. Betul, Jana sahabatnya, pasti tidak akan menyusahkannya.
“Aku lihat mereka, Jan…” kata Alya akhirnya. “Tuan Surya sama wanita itu..” suara Alya makin kecil. Ia menutup matanya, seolah ingin menghapus bayangan itu.
Ia meneruskan kata-katanya, “Mereka… mereka gituan di ruang kerja…”
Suasana sunyi. Alya menunggu reaksi Jana dengan da-da berdebar.
Namun, reaksi sahabatnya di luar dugaan. Jana hanya menghela napas pelan. Lalu menepuk bahunya lagi dengan lembut.
“Aku juga syok waktu pertama kali ke sini dan ngelihat dia ena-ena sama seorang pelayan di koridor lantai dua.” katanya santai.
Alya perlahan mengangkat wajahnya. Matanya masih berair.
“Serius…?”
“Iya,” Jana tersenyum tipis, meski ada lelah di matanya. “Tuan Surya emang… agak lain.”
Alya terdiam.
“Syahwatnya tinggi,” lanjut Jana blak-blakan. “Dan ya… agak ekshibisionis.”
Kata itu terasa asing di telinga Alya, namun ia bisa memahami maknanya.
“Sementara istrinya sakit,” tambah Jana, sedikit lebih pelan. “Udah tiga tahun Nyonya tidak bisa memenuhi tanggung jawab sebagai istri. Jadi Tuan melakukannya dengan Nona Clara.”
"Dan mereka nggak sembunyi-sembunyi melakukannya?" Alya seakan tidak percaya.
“Ya, seperti itu. Kayak yang aku bilang tadi, Tuan agak ekshibisionis, suka dilihatin orang. Tapi ya…” Jana mengangkat bahu, nada suaranya berubah lebih ringan, “selama mereka nggak ganggu kita, biarin aja.”
Alya masih menggenggam tepi wastafel.
“Biarin…?” ulangnya pelan.
“Iya.” Jana mengangguk. “Anggap aja nggak lihat apa-apa.”
Kalimat itu lagi. Sama persis seperti yang dikatakan Tuan Surya. Juga seperti yang dikatakan Clara, seolah semua orang di rumah ini
sepakat untuk diam.
“Aku aja bisa tahan dua tahun, Al,” lanjut Jana. “ Ini sudah masuk tahun ketiga aku kerja di sini. Kamu juga pasti bisa.”
Sudah cukup lama memang.
Alya menatap sahabatnya itu ingin tahu, “Kenapa… kamu masih di sini…?”
Jana terkekeh kecil. “Karena gajinya gede.”
Jawaban itu ringan dan sederhana, begitu realistis.
“Di tempat lain nggak bakal dapet gaji segitu” tambahnya. “Ini tuh… ya, mungkin jadi semacam kompensasi.” Ia menyenggol bahu Alya sambil tertawa pelan. “Atas shock therapy yang kita alami.”
Alya tidak ikut tertawa. Ia hanya diam dan menatap kosong ke cermin di hadapannya.
Kata-kata Jana tak terbantahkan.
'Iya… kompensasi untuk lihat hal kayak gitu…'
Alya menarik napas pelan. Masih terasa berat, namun kata-kata Jana ada benarnya. Mereka bekerja di sini karena butuh uang.
Itulah alasan yang membawa dirinya ke sini.
Alya sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kedua orang tua dan neneknya yang mengurusnya sudah tidak ada. Ia sendirian sekarang, sebatang kara.
Ia sangat membutuhkan pekerjaan ini.
Alya menutup mata sebentar, menelan semua rasa tidak nyaman itu. Mau tidak mau dia harus menyesuaikan diri.
"Aku butuh kerjaan ini, Jan,” ucapnya pelan.
Jana mengangguk. “Iya, aku tahu. Karena itu kamu mau ikut ke sini, kan?”
Alya mengangguk. Ia membuka matanya lagi. Masih ada sisa air mata di sudutnya. Namun kali ini lebih terkendali.
“Aku bakal coba lakukan yang terbaik sesuai kontrak ini, Jan.”
Jana tersenyum kecil. “Nah, gitu.”
Ia menepuk bahu Alya sekali lagi.
“Pelan-pelan aja. Nanti juga terbiasa.”
Alya tidak langsung menjawab. Namun ia mengangguk pelan.
Sementara di dalam hatinya ia tahu satu hal. Ia tidak benar-benar “menerima”. Ia hanya tidak punya pilihan lain.
“Udah mendingan?”
Alya mengangguk pelan, berusaha menguatkan mental.
“Bagus. Soalnya kamu harus langsung mulai. Nona Clara sudah menunggumu”
Mereka berjalan keluar kamar mandi.
"Kamu juga harus dengar apa yang dikatakan Nona Clara. Dia orang kedua yang berkuasa di rumah ini setelah Tuan Surya."
Alya belum sempat menjawab ketika Clara sudah muncul di ambang lorong.
“Kamu sudah terlalu lama. Cepat ikut saya.”
Nada suaranya datar dan terdengar bosan karena lama menunggu.
Alya langsung menurut.
Ia mengikuti Clara melewati ruang tengah, lalu berbelok ke arah lorong yang tadi.
Clara berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih.
“Ini kamar Nyonya,” katanya singkat.
Alya hanya mengangguk.
Clara mengetuk tiga kali, lalu membuka pintu.
“Masuklah.”
Alya melangkah pelan. Dan begitu ia masuk, suasana di dalam ruangan itu langsung menyambutnya dengan keheningan yang berbeda.
Bukan dingin seperti ruang kerja Tuan Surya. Tidak ada ketegangan, tapi sunyi yang panjang, seolah waktu berjalan lebih lambat di sini.
Cahaya matahari masuk dari jendela besar, menyinari ruangan dengan lembut. Tirai tipis bergerak pelan tertiup angin. Aroma obat-obatan samar tercium di udara, bercampur dengan wangi bersih seprai yang baru diganti.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang besar. Di atasnya seorang wanita terbaring, diselimuti hingga da-da. Rambut panjang lebatnya yang menyebar di atas bantal disisir halus. Wajahnya pucat, namun tetap menyimpan sisa kecantikan anggun yang dulu dimilikinya.
Mata wanita itu terbuka, menatap lurus ke depan.
Alya berhenti melangkah. Dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas.
“Ini Nyonya Surya,” ujar Clara dari belakangnya. “Beliau stroke sejak tiga tahun lalu.” lanjutnya, mengulang informasi yang sudah Alya dengar sebelumnya.
Alya mengangguk, masih bingung bagaimana harus bersikap di depan wanita tak berdaya di atas ranjang itu.
“Nyonya,” panggil Clara, sedikit lebih keras. “Ini pelayan baru yang akan membantu mengurus Anda. Namanya Alya.”
Ada jeda.
Lalu perlahan mata wanita itu bergerak, dan berhenti tepat ke arah Alya.
Alya langsung menahan napas.
Tatapan itu tajam dan ada semangat hidup. Sepertinya wanita ini tidak selemah yang ia kira.
“Se-selamat siang, Nyonya…” ucap Alya pelan.
Bibir wanita itu bergerak. Walaupun pelan dan agak kaku, wanita itu menjawab salamnya.
“…si…ang…” Bibirnya sedikit tertarik di satu sisi.
Alya tertegun. Beliau ternyata bisa bicara, dan responnya membuat Alya merasa iba sekaligus respek.
Ia langsung melangkah lebih dekat sambil matanya tidak lepas dari wajah Nyonya Surya.
Ada sesuatu di sana, kesadaran yang terjebak, dan kesedihan yang tidak bisa disembunyikan.
Dan saat Alya semakin dekat, ia melihatnya dengan lebih jelas.
Salah satu sisi wajah itu sedikit turun. Mulutnya tidak simetris. Namun mata itu tetap tajam. Tetap hidup.
“Ka…mu…?” suara itu terdengar lagi, pelan dan terputus.
Alya langsung menunduk sedikit.
“Saya Alya, Nyonya… Pelayan baru Anda,”
Wanita itu berkedip pelan. Seolah memproses.
“…A…lya…”
Nama itu diucapkan pelan. Cukup jelas walau terpotong. Dan entah kenapa, da-da Alya langsung terasa hangat, sekaligus perih.
Alya memberanikan diri. Perlahan ia mengulurkan tangan, menyentuh tangan Nyonya Surya di atas selimut. Tangan itu kurus, dingin, namun lembut. Dan beberapa detik kemudian ada sedikit tekanan balik. Walau sangat lemah, namun Alya merasakannya.
Alya langsung menahan napas. Matanya sedikit melebar.
'Nyonya merasakan tanganku…'
“Beliau masih bisa merespons,” suara Clara menjelaskan di belakangnya, seolah melihat keterkejutannya. “Walaupun terbatas.”
Alya mengangguk pelan. Namun pikirannya tidak di sana. Tatapan wanita itu membuat sesuatu di dalam dirinya terasa tidak nyaman.
'Apakah Nyonya tahu apa yang dilakukan Tuan Surya dan sekretarisnya?'
Tanpa bisa dicegah, bayangan adegan tadi kembali muncul di benak Alya, membuatnya merinding.
Mungkin bukan hanya dirinya dan Jana yang melihat Tuan Surya dan sekretarisnya berhubungan intim. Mungkin pelayan lain melihatnya.
‘Apakah Nyonya pernah mendengar tentang itu?’
Pertanyaan itu muncul begitu saja. Kasihan sekali Nyonya kalau sampai mendengarnya. Dalam keadaan seperti sekarang ini, hal itu pasti akan menjadi pukulan berat dan sangat menyakitkan.
Perlahan perasaan Alya melembut. Ia menggenggam tangan kurus itu sedikit lebih erat, ingin menyatakan rasa empati.
“Nyonya… Izinkan saya membantu mengurus Anda. Saya belum berpengalaman, tapi akan berusaha belajar.” bisiknya lirih.
Wanita itu menatapnya, dan di sudut matanya ada kilau tipis, seperti air yang tertahan.
Di belakang mereka Clara kembali bersuara, memotong momen itu, “Tugasmu jelas, rawat Nyonya dengan baik, pastikan semua kebutuhannya terpenuhi.”
Nada suaranya kembali datar, profesional, seolah ini hanya pekerjaan biasa.
Alya mengangguk pelan. “Baik, saya akan berusaha lakukan yang terbaik.”
Tatapannya lalu kembali ke wajah Nyonya Surya. Mungkin karena besar tanpa kasih sayang seorang ibu, Alya merasa hatinya tersentuh melihat sang Nyonya yang terbaring tak berdaya.
Alya melepas genggaman, namun jemarinya tetap bersentuhan pelan dengan tangan Nyonya Surya.
Clara masih menjelaskan pekerjaan rutin hariannya, namun perhatian Alya lebih banyak tertuju pada wanita di hadapannya. Dia hanya mengangguk, seolah sudah mendengar jelas apa yang dikatakan Clara.
“Nyonya Surya…” bisik Alya pelan.
Wanita itu menatapnya, lembut.
“Nama kecil Nyonya, Sonia,” suara Clara lagi-lagi terdengar dari belakang, kali ini sedikit lebih lunak. “Kamu juga bisa memanggilnya Nyonya Sonia.”
Alya mengangguk pelan. “Nyonya Sonia…” ulang Alya lirih.