Bab 4

1650 Words
Wanita di atas ranjang itu kembali menarik bibirnya. Alya tahu, ia sedang tersenyum, walaupun akibat serangan stroke membuat wajahnya jadi terlihat aneh. Namun dia memang tersenyum, karena senyum itu sampai di matanya, dan terlihat tulus. Alya belum sempat berkata apa-apa lagi ketika tiba-tiba terdengar ketukan di pintu, disusul handel pintu diputar. Klik. Pintu terbuka. Alya menoleh ke pintu, refleks ia menegang begitu melihat siapa yang masuk. Tuan Surya. Namun kali ini langkahnya berbeda, lebih pelan dan ringan. Wajahnya juga cerah, ada senyum lebar. Tatapannya langsung tertuju ke istrinya yang terbaring di atas ranjang. “Sonia.” Ia memanggil, nada suaranya lembut dan hangat. Seolah pria yang berdiri di sana bukan orang yang sama yang Alya lihat sebelumnya. Alya bergegas mundur, dan menyaksikan semuanya dengan jantungnya berdetak lebih cepat, bagaimana Nyonya Sonia langsung bereaksi atas kehadiran suaminya. Matanya berbinar, bibirnya bergerak cepat, meski kata-katanya tetap terpotong. “Sur…ya…” Ada sesuatu dalam suara itu. Perasaan rindu dan cinta yang begitu jelas. Tuan Surya mendekat. Tanpa ragu, ia duduk di sisi ranjang. Tangannya terulur, mengusap rambut istrinya dengan lembut. Gerakannya pelan, begitu hati-hati dan penuh perhatian. “Kamu sudah makan?” tanya Tuan Surya lembut. Nyonya Sonia berkedip pelan. “Su…dah…” “Bagus,” jawab suaminya, masih dengan nada yang sama. “Harus kuat, ya.” Tangannya masih mengusap rambut itu, seolah tidak ingin melepas. Nyonya Sonia menatap suaminya lama. Wanita itu tersenyum, kali ini lebih lebar dan terlihat seperti seringai mengerikan. Namun sepasang mata itu berbinar penuh cinta, menunjukkan dia bahagia dengan kehadiran suaminya di sana. Alya menunduk lebih dalam. Dadanya terasa semakin sesakt. Ada sesuatu yang tidak cocok. Tidak sinkron. Namun ia tidak bisa mengatakannya. Tidak boleh, kalau ia ingin terus bekerja di rumah itu. “Ini pelayan baru kita, yang aku rekrut khusus untukmu.” kata Tuan Surya, menoleh sebentar ke arah Alya, lalu kembali menatap istrinya. “Saya sudah menjelaskan semua tugasnya, Tuan.” lapor Clara. Tuan Surya mengangguk. Lalu kembali menoleh ke Alya. Tatapan mereka bertemu. Dan untuk sepersekian detik Alya merasa kembali dilempar ke ruang kerja itu. Namun detik berikutnya, ekspresi pria itu kembali tenang. “Jaga Nyonya baik-baik,” katanya. Nada suaranya tidak lagi menekan. Justru… terdengar wajar. “Iya, Tuan…” jawab Alya pelan. Tuan Surya kembali menoleh ke istrinya. Tangannya menggenggam jemari kurus itu lembut. “Aku ke atas sebentar,” ucapnya lembut. “Nanti aku ke sini lagi.” Nyonya Sonia mengangguk kecil. Matanya tidak lepas dari wajah suaminya. Seolah tidak ingin kehilangan satu detik pun. “Ja…ngan… la…ma…” ucapnya pelan. Tuan Surya tersenyum. “Iya.” Ia bangkit dari duduknya, merapikan sedikit selimut istrinya sebelum akhirnya berbalik. Saat melewati Alya, langkahnya berhenti sejenak. Sangat singkat, namun cukup untuk membuat Alya kembali menegang. Tanpa menoleh, pria berusia sekitar awal 60-an tahun itu melanjutkan langkahnya keluar kamar. Pintu tertutup di belakangnya dan ruangan kembali sunyi. Namun kali ini, sunyi itu terasa berbeda. Alya perlahan mengangkat wajahnya. Menatap kembali ke arah Nyonya Sonia. Wanita itu masih tersenyum. Matanya berbinar meski lemah. “Su…rya…” bisiknya pelan, matanya tertuju ke pintu yang sudah tertutup. Alya menggenggam tangannya sendiri erat. Rasa sesak di dadanya berubah menjadi sesuatu yang lain. Bukan hanya tidak nyaman. Tapi ada rasa perih, karena sekarang ia tahu, wanita ini mencintai suaminya sepenuh hati. Nyonya Sonia sepertinya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di rumahnya, apa yang dilakukan suaminya di rumah ini. Dan Alya, ia seolah terjebak di tengah itu semua. *** Setelah makan malam, Clara menyerahkan tugas berikutnya pada Alya. “Kalau Nyonya sudah selesai makan, kamu bantu bersihkan badannya,” katanya seraya menatap Alya tajam, mungkin memastikan Alya memahami penjelasannya. Wanita itu melanjutkan, “Untuk mandi, sudah ada pelayan lama yang khusus mengurusnya. Tapi selebihnya, kamu yang tangani.” Alya mengangguk. “Siap, Nona Clara…” Ia mendekati ranjang Nyonya Sonia dengan langkah hati-hati setelah membereskan peralatan makan. Nyonya Sonia sudah selesai makan. Wajahnya tampak lelah, namun tetap tenang seperti sebelumnya. Alya menarik napas pelan, lalu mulai bekerja. Pelan-pelan, ia membantu membersihkan sisa makanan di sudut bibir Sonia dengan kain lembut. Tangannya masih sedikit kaku di awal—takut salah, takut menyakiti. “Ma…af…” bisiknya pelan saat tangannya sempat menyentuh terlalu keras. Sonia berkedip pelan. “Ti…dak… a..pa,” Jawaban sederhana itu membuat Alya sedikit lebih berani. Ia melanjutkan. Mengganti lap kecil, merapikan selimut, memastikan posisi tubuh Nyonya Sonia tidak terlalu miring. Gerakan-gerakannya kecil, namun butuh ketelatenan dan kesabaran. Dan perlahan Alya mulai menemukan ritmenya. Ia tidak lagi terlalu kaku. Tidak lagi terlalu panik. Fokusnya beralih dari dirinya sendiri, ke wanita yang ia rawat. Sesekali Nyonya Sonia menatapnya diam. Namun ada sesuatu di matanya yang terasa hangat, menandakan ia menerima kehadiran Alya sebagai pelayan barunya. Itu cukup membuat Alya merasa dirinya bisa bertahan dan lebih bersemangat melakukan tugasnya. Malam semakin larut, dan lampu kamar sudah diredupkan. Suasana menjadi lebih sunyi. Alya berdiri di samping ranjang sebelum pergi ke kamarnya malam itu. “Is…tir…rahat…” ucap Nyonya Sonia pelan. Alya mengangguk kecil. “Iya, Nyonya…” Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi, memastikan tubuh wanita itu nyaman. "Selamat tidur, Nyonya. Nanti saya kembali sebentar." Ujarnya lembut, lalu mundur perlahan, keluar dari kamar dan menutup pintu perlahan. Di samping kamar itu, ada sebuah kamar yang lebih kecil sudah disiapkan untuk Alya, agar bisa mengontrol dan melangkah masuk. Ruangan di dalamnya sederhana. Ada tempat tidur yang cukup lebar, lemari yang cukup besar dan meja belajar kecil di sudut. Cukup untuknya melepas lelah dan memiliki ruang pribadi sendiri. Alya melangkah mendekati ranjang. Melihat kasur dan bantal empuk itu, ia jadi ingin segera tenggelam ke dalam kenyamanan itu, melepas lelah dan meredakan ketegangan yang membuat hari itu terasa berat. Ia duduk di tepi ranjang. Map kontrak itu masih tergeletak di atas meja samping ranjang. Ia mengambilnya lalu memasukkannya di dalam laci. Ia menatap map itu sebentar sebelum menutup laci kembali. Lalu mengalihkan pandangan ke tas kecil berisi beberapa potong pakaian yang ia bawa dari kampung. Dia ingin merapikannya ke dalam lemari, namun tubuhnya terasa sangat lelah. Ia bisa merapikannya besok. Alya segera berbaring, merasakan kenyamanan kasur yang empuk di bawah punggungnya. Alya mengira akan langsung tertidur saking lelahnya, namun pikirannya justru masih penuh dengan apa yang dia alami di hari pertama ini. Bayangan-bayangan itu mengisi kepala Alya, mulai dari adegan layaknya suami istri Tuan Surya dan sekretarisnya, dan wajah gembira Nyonya Sonia saat lelaki itu menjenguknya. Jelas Nyonya Sonia masih sangat mencintai suaminya dalam ketidakberdayaannya, namun ironisnya, suaminya mengkhianatinya di rumahnya sendiri. Semua campur aduk memberati pikirannya. Namun satu hal mulai terasa jelas, rumah ini punya aturan, punya ritme. Dan ia harus menyesuaikan diri, apa pun yang ia rasakan. Tok tok. Ketukan pelan di pintu membuat Alya tersentak. Ia berdiri cepat, lalu membuka pintu. Jana berdiri di sana. “Udah beres?” tanyanya santai. Alya mengangguk. “Iya…” Jana melirik ke dalam kamar. “Lumayan, kan? Dapet kamar sendiri.” “Iya…” “Deket sama Nyonya lagi. Enak. Tapi ya…” Jana mengangkat bahu, “tanggung jawabnya juga lebih.” Alya mengangguk pelan. “Iya… aku bakal ingat semua kata-kata kamu, Jan. Lakukan bagian tugasku saja, dan tutup mata serta telinga dari semua hal yang bukan urusanku.” "Bagus! Aku tahu, Alya memang sepintar itu." Jana tersenyum lebar, lalu menatapnya sedikit lebih serius. “Nanti malam jangan lupa.” Alya mengerutkan kening. “Apanya?” “Cek Nyonya.” “Malam ini?” dia tadi tidak sempat mendengar penjelasan Clara lebih detail karena terganggu oleh kehadiran Tuan Surya. “Iya.” Jana mengangguk. “Jam dua belas malam sama jam empat subuh.” Alya sedikit terdiam. Berarti dia harus bangun dua Kali. “I-itu… tiap hari, Jan?” “Iya.” Jana terkekeh kecil. “Itu sudah dilakukan sejak pelayan sebelumnya. Nanti juga kamu bakal terbiasa.” Alya menelan ludah. “Iya… semoga bisa menyesuaikan waktu.” Jana menjelaskan beberapa hal lagi, dan mengakhiri sambil menguap kecil. “Ya udah. Istirahat dulu, jangan sampai ketiduran nanti. Dan jangan lupa kunci pintunya.” Jana menepuk bahunya ringan, lalu pergi setelah mengucapkan selamat tidur. Pintu tertutup dan kamar itu kembali sunyi. Sendirian, Alya berdiri di tengah kamar. Dia meraih ponsel dan menyetel alarm dengan volume paling keras. Ia lalu menarik napas pelan dan berbaring di ranjangnya. Sesaat matanya nanar menatap langit-langit. Lampu sudah ia redupkan, dan kesunyian melingkupinya. Namun pikirannya tidak ikut diam. Otaknya bekerja, mengingat pesan Alya yang untung saja memberitahu hal penting yang dia lewatkan. Jam dua belas, dan jam empat. Ia harus bangun tepat waktu, semoga alarm mampu membangunkannya. Ia memejamkan mata, berusaha tidur. Namun setiap kali hampir terlelap bayangan itu muncul lagi. Sekilas, namun mengganggu, membuat napasnya sedikit tidak teratur. Alya berbalik, memeluk bantal tipis itu. 'Fokus, Alya. Kamu bergantung pada pekerjaan ini.' Tanpa disadari, akhirnya ia tertidur lelap. * Bunyi alarm itu memecah sunyi. Tit… tit… tit… Alya langsung terbangun. Matanya terbuka perlahan, masih berat, namun tubuhnya refleks bergerak. Ia meraih ponsel di meja samping dan mematikan alarm. Sudah jam 12 malam, waktunya mengecek Nyonya Sonia. Ia menarik napas pelan, berusaha mengusir sisa kantuk. Tubuhnya masih lelah—kurang tidur beberapa hari terakhir mulai terasa. Namun ia tidak boleh lalai. Dengan gerakan pelan, Alya turun dari ranjang. Ia merapikan sedikit bajunya, lalu berjalan menuju pintu. Tangannya menyentuh gagang, memutar kunci dan bukanya perlahan. Lorong di luar gelap. Hanya lampu redup di sudut yang menyala. Sunyi dan terasa agak seram, karena rumah itu sangat besar dan langit-langitnya tinggi. Alya melangkah keluar, berusaha membiasakan diri dengan pencahayaan buram di lorong. Dan saat itulah, tiba-tiba sebuah tangan besar menariknya dengan kasar. “Aaah!” Alya berteriak kencang. Belum sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya tersentak, dan punggungnya langsung terdorong keras ke dinding yang dingin. “Aduh!” Alya meringis, merasakan sakit di tulang belakangnya. Belum sempat ia bereaksi lebih jauh, tubuh tinggi besar itu sudah menekannya, membuatnya terkurung di bawah bayangannya. Alya membeku. Namun hanya sepersekian detik. Ia langsung meronta. “Tuan...!” Napasnya tercekat saat mengenali wajah itu. Tuan Surya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD