Bab 5

1647 Words
Matanya terlihat berbeda, lebih gelap dan liar, seolah pikirannya sedang dipengaruhi sesuatu. Alya ketakutan. “Tolong, lepaskan saya, Tuan,” bisiknya memohon. Dia takut bersuara keras, khawatir akan membangunkan semua orang, terutama Nyonya Sonia di dalam kamarnya yang berada begitu dekat. Mata Tuan Surya berkilat dalam keremangan cahaya. Telihat lebih menakutkan. “Diam,” bisiknya rendah. Bau alkohol yang kuat langsung menghantam inderanya, membuat perutnya bergejolak. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Alya dengan sangat kuat. Alya berusaha melepaskan diri. “Tuan… jangan...” Namun tubuhnya kalah. Tenaganya tidak sebanding dengan Tuan Surya. “Puaskan saya malam ini, pelayan kecil.” Kalimat itu diucapkan pelan, namun cukup untuk membuat darah Alyamembeku. “Ti-tidak… saya..” Alya gemetar, ketakutan meremas jantungnya, membuat napasnya tersengal. Tangannya mendorong da-da pria itu. Namun tubuh besar itu tidak bergerak sama sekali, seolah ia sedang mendorong tembok. Lelaki itu malah lebih mendekat, jarak terkikis sepenuhnya. Napasnya yang berbau alkohol menyapu wajah Alya. Ia menoleh cepat, menghindar saat pria itu mencoba mendekatkan wajahnya. “Jangan, Tuan… tolong…” Alya berusaha menahan, berusaha menjauh. Namun ruang di antara mereka terlalu sempit. Tubuh besar Tuan Surya terlalu menekan. Tangan pria itu bergerak tak terkendali. Alya langsung tersentak. “Jangan, Tuan! Sadarlah...” Suaranya tertahan. Ia menutup mulutnya sendiri dengan refleks. Rasa takut menyergapnya. Takut kalau suaranya terdengar oleh penghuni lain dan dia dikira sengaja menggoda Tuan Surya. Tapi ini harus dihentikan. Tubuh Alya menegang seiring gerakan dan deru napas bau alkohol Tuan Surya mengenai wajahnya. Napasnya sendiri sudah tidak beraturan. “Tolong…” bisiknya lirih, hampir tidak terdengar. Matanya mulai berkaca-kaca, pikirannya kosong. Namun jantungnya berdetak keras. Satu-satunya yang ia tahu, ia harus melepaskan diri. Dengan sisa tenaga, Alya kembali meronta. Lebih kuat. “Tuan, saya harus mengecek Nyonya…” ucapnya cepat, terbata. “Ja-jam dua belas...” Kalimat itu keluar begitu saja. Namun cukup untuk membuat gerakan pria itu terhenti. Hanya sesaat, namun Alya langsung menangkap celah itu. Ia mendorong dengan sekuat tenaga. Kali ini tubuh Tuan Surya terdorong mundur. Cukup memberi Alya kesempatan untuk melepaskan diri. Tanpa melihat ke belakang, ia berlari cepat. Langsung ke pintu kamar Nyonya Sonia. Tangannya gemetar saat membuka pintu, masuk dan menutupnya cepat. Dia memutar kunci. Klik. Alya bersandar di balik pintu. Napasnya terengah. Tubuhnya gemetar hebat. Tangannya naik menutup mulut, menahan suara tangis yang akan meledak. Ia berusaha menenangkan diri sambil menghela napas berkali-kali dengan mata terpejam. Nyonya Sonia sedang tidur, tidak sampai hati memperlihatkan kondisinya yang mengenaskan pada wanita tak berdaya itu. Napas Alya akhirnya berubah lebih tenang. Air mata jatuh tanpa suara. Beberapa menit berlalu, Alya masih bersandar di balik pintu, air mata masih mengalir di pipi. Dia merasa takut setengah mati mengingat apa yang barusan dia alami, namun ada tanggung jawab yang harus ia lakukan. Ia memejamkan mata sejenak, memaksa dirinya kembali tenang. Ia tidak boleh lama-lama seperti ini. Dengan gerakan pelan, Alya mendorong tubuhnya menjauh dari pintu. Ia melangkah ke arah ranjang. Nyonya Sonia terbaring di sana, namun rupanya matanya terbuka, dan sedang menatapnya. Alya langsung menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang pasti terlihat kacau. “Sa…ya di sini, Nyonya…” suaranya lirih. Ia mendekat, tangannya kembali bekerja. Saat ia menyentuh selimut, ia menyadari sesuatu, popoknya sudah penuh. Alya menarik napas pelan. “Izin… ya, Nyonya…” Nyonya Sonia berkedip pelan, seolah memberi izin. Alya mulai membersihkan tubuh sang Nyonya. Gerakannya kali ini lebih hati-hati. Lebih lambat. Seolah ia sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri lewat rutinitas itu. Ia mengambil air hangat di kamar mandi, dan melakukan seperti yang dia lakukan saat merawat nenek. Dia harus melupakan apa yang terjadi, walaupun tentu saja sulit melupakan tangan kekar yang tadi mencengkeramnya dan napas berbau alkohol yang menyentuh wajahnya. “Ma…maaf…” bisiknya tanpa sadar. Ia sendiri tidak tahu, itu untuk siapa. Untuk Nyonya Sonia atau untuk dirinya sendiri. Waktu terasa berjalan lambat. Namun perlahan semuanya selesai. Nyonya Sonia sudah bersih, dan terlihat lebih nyaman. Mata Nyonya Sonia kembali terpejam. Alya merapikan selimut, memastikan tubuh wanita itu dalam posisi yang baik. Ia hampir berbalik ketika suara pelan itu terdengar. “Ha…us…” Alya langsung menoleh. “Iya, Nyonya?” “…ha…us…” Alya melirik ke meja kecil di samping ranjang. Botol minumnya sudah kosong. Ia menggigit bibir bawahnya pelan. “Sebentar ya, Nyonya… saya ambilkan.” Nyonya Sonia berkedip. Alya berbalik cepat menuju pintu. Tangannya sempat berhenti di gagang. Ia khawatir Tuan Surya masih di luar. Namun hanya sesaat, dia membulatkan tekad melihat wanita yang terbaring tak berdaya di ranjang. Ia membuka pintu dan melangkah keluar. Lorong itu sunyi. Alya melangkah cepat menuju dapur. Hampir terburu-buru, agar bisa segera kembali dan mengamankan diri di kamarnya. Namun saat ia melewati ruang keluarga, langkahnya terhenti. Suara itu awalnya pelan, namun semakin jelas begitu langkahnya semakin mendekat. Itu suara yang sama yang ia dengar di ruang kerja. Alya ingin berbalik, namun dia harus melewati ruangan itu untuk bisa sampai di dapur. Dia pun terus melangkah, mengatur agar langkahnya tidak menimbulkan suara keras. Namun, tanpa sadar, tatapannya bergerak ke arah sofa. Dan di sana ia melihatnya. Dua tubuh yang saling terjerat. Gerakan yang mulai pagi ini terasa tidak asing lagi. Itu Tuan Surya. Di bawah cahaya redup ruang keluarga, wajahnya terlihat cukup jelas. Ia sedang bergelut panas dengan... Clara. Alya mengenalinya juga. Sekretaris itu, rupanya tinggal di rumah ini juga. Alya kembali terasa mual. Namun kali ini bukan hanya karena jijik, tapi karena takut mengingat apa yang hampir terjadi padanya beberapa menit lalu. Alya langsung berjalan cepat, hampir berlari, masuk ke dapur. Tangannya gemetar saat mengambil botol air dan sedotan. Ia bahkan hampir saja menjatuhkannya, saking takutnya. “Fokus… fokus…” gumamnya pelan. Ia menuang air ke dalam botol dengan tergesa. Sedikit tumpah, namun ia tidak peduli. Tidak ada waktu untuk itu. Begitu selesai ia langsung berbalik, kembali berjalan cepat. Tidak melihat ke arah ruang keluarga. Tidak mau tahu, dan tidak mau dengar apa pun lagi. Namun suara itu tetap mengikuti. Sampai ia hampir berlari melewati ruangan itu dan langsung menuju kamar Nyonya Sonia. Tangannya membuka pintu kamar Nyonya Sonia dengan cepat, masuk dan menutupnya. Sunyi kembali. Alya berdiri beberapa detik dengan napas terengah. Tubuhnya masih gemetar, namun ia memaksa diri mendekat ke ranjang. “I-ini, Nyonya… airnya…” Tangannya masih sedikit bergetar saat membantu Nyonya Sonia minum dengan sedotan. Gerakannya pelan dan hati-hati. Semua suara m***m di luar tidak boleh masuk ke dalam ruangan ini. Nyonya Sonia menatapnya, agak lama, mungkin melihat wajah pucat Alya. “Ka…mu…?” bisiknya pelan. Alya langsung menggeleng kecil. “Nggak apa-apa, Nyonya…” Dia hanya ingin menenangkan wanita itu. Alya duduk di sisi ranjang sambil mengusap dahi Nyonya Sonia lembut. Dulu dia suka melakukan hal itu pada nenek, dan akhirnya nenek terlelap, walaupun sebelumnya gelisah, mengeluh sakit. Alya terus melakukan itu sambil bersenandung kecil. Beberapa saat kemudian, Nyonya Sonia sudah terlelap. Wajahnya damai dan napasnya teratur. Alya buru-buru keluar dan kembali ke kamarnya, meringkuk di atas ranjangnya dengan sisa ketakutan. *** Pagi itu terasa lebih cerah dari yang Alya harapkan. Sinar matahari jatuh lembut di halaman belakang, memantul di permukaan kolam renang yang tenang. Udara masih segar, jauh dari pengapnya lorong semalam. Namun Alya belum sepenuhnya bisa menikmati suasana pagi itu, karena pikirannya masih berantakan akibat kejadian semalam yang mengancamnya langsung. Ia membawa piring sarapannya keluar, mengikuti Jana yang sudah lebih dulu duduk di kursi dekat kolam. “Di sini aja, adem,” kata Jana santai. Alya mengangguk. Ia duduk di seberang temannya. Beberapa detik, tidak ada yang bicara. Alya hanya menatap makanannya. Ia tidak benar-benar lapar, hanya menggenggam sendok di tangannya tanpa minat. Jana meliriknya dengan dahi mengerut. “Kamu pucat banget, Al.” Alya menarik napas pelan. Dia harus cerita. “Jan…” Suaranya pelan, sesaat ragu. “Semalam…” "Semalam kenapa?" Jana berhenti makan, menatapnya penuh perhatian. Alya menelan ludah. Tangannya sedikit gemetar saat menggenggam sendok. “Semalam… Tuan Surya…” Kalimat itu menggantung. Namun Jana sudah mengerti. Ekspresinya langsung berubah serius. “Kamu mengalami sesuatu yang serius semalam?” Alya menunduk. " Dia mabuk dan mencegat aku di lorong…” Jana diam, mendengarkan. Alya melanjutkan, suaranya makin kecil. “Dia… narik aku… maksa untuk lakuin…” Kata-katanya terhenti, namun cukup jelas. Jana menarik napas panjang, lalu menaruh sendoknya. “Wah…” Ia menatap Alya lebih dalam. “Kamu harus lebih hati-hati, Al.” Nada suaranya tidak lagi santai. Alya melanjutkan, “Dia.. mabuk berat dan beringas, Jan…” bisiknya. “Aku… takut banget…” Jana menghela napas lagi. Lalu berusaha mencairkan suasana, meski tidak sepenuhnya berhasil. “Ya gimana…” katanya setengah bercanda, meski matanya masih serius, “kamu cantik gini, bisa-bisa Tuan Surya ikut ngiler lihat kamu.” Alya tidak tertawa sedikit pun. Jana menyadari itu. Ia langsung mengangkat bahu kecil. “Iya, maaf… maksudku bukan nakut-nakutin.” Alya menggeleng pelan. “Nggak… aku cuma…” Ia menggenggam ujung bajunya. "Aku nggak nyangka bakal kayak gitu…” Jana bersandar sedikit di kursinya. Ia menatap kolam sebentar, lalu kembali ke Alya. “Denger ya,” katanya lebih pelan. “Yang penting kamu hati-hati aja.” Alya mengangguk kecil. “Kalau bisa, jangan sendirian di tempat sepi… apalagi malam.” Alya mengangguk lagi. “Tuan Surya sesekali suka mengunjungi bar dan pulang mabuk…” Jana menghela napas, “laki-laki normal aja kalau udah kena alkohol bisa berubah kayak hewan, Al.” Kalimat itu membuat Alya merinding. Ia langsung teringat napas dan tatapan pria itu. Tangannya tanpa sadar saling menggenggam lebih erat. “Kamu nggak pernah ngalamin?” tanya Alya. Jana menggeleng cepat. “Nggak pernah. Ya… dulu juga Tuan Surya belum segila sekarang sih. Lagipula…” Jana meliriknya sekilas, “aku kan nggak secantik kamu.” Alya mengerutkan kening sedikit. “Jan…” Namun Jana hanya tersenyum tipis. "Bercanda. Tapi aku memang belum pernah ngalamin kayak gitu. Tapi kalau jadi penonton dadakan, malah udah kenyang, Al." Alya terdiam. Dadanya masih terasa tidak nyaman. “Terus… aku harus gimana?” akhirnya ia bertanya pelan. Jana berpikir sebentar, lalu menjawab dengan nada realistis. “Bertahan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD