“Bertahan?”
Alya menatap sahabatnya Jana tak mengerti. Dia terlalu banyak mengalami shock therapy sejak datang ke sini, jadi otaknya jadi lemot.
Jana menepuk tangan Alya, maklum melihat reaksi Alya, “Kita di sini kerja, Al, bukan mau main-main membahayakan harga diri dan kehormatan kita sebagai perempuan. Kamu bisa sampai di sini karena butuh duit, dan aku juga sama. Aku bisa tetap kerja sampai detik ini karena aku berusaha bertahan dari semua hal aneh di rumah ini.”
“Bertahannya itu yang aku nggak ngerti, Jana,” keluh Alya.
“Yaa, yang pertama jangan ikut campur sesuatu yang bukan urusanmu, dan jangan sampai ikut terseret kayak seorang rekan pelayan yang belum lama ini diusir, karena berani gituan sama Tuan Surya dan kepergok sama Clara.”
“Tapi gimana kalau dia mabuk? Kemarin malam…”
Jana memotong kalimat Alya cepat, “Berusaha menghindar. Kamu kan ngurus Nyonya Sonia, sebut aja namanya, Tuan pasti nggak berani lebih jauh.”
“Oh, gitu ya?” Alya manggut-manggut.
‘Pantesan kemarin dia melepaskan cengkeraman tangannya saat aku menyebut nama Nyonya Sonia,’
“Pokoknya tinggal pinter-pinternya kita, Al. Apalagi kamu cantik, bukan cuman Tuan Surya aja, kebanyakan laki-laki juga bakal ngiler kalau kamu sengaja berpenampilan yang agak-agak menjurus.”
“Mana berani aku, Jan,” Alya bergidik takut.
“Pokoknya selama kamu bisa jaga diri, dan penurut, bukan penurut saat diajak n***e sama Tuan, ya? Tapi penurut saat disuruh dan nggak banyak bertanya.”
Alya menatap pantulan cahaya di permukaan air, begitu indah dan tenang. Bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan. Ia mengerti, walaupun membayangkan hari-harinya di rumah itu tetap membuat ia merasa tegang.
“Kalau kejadian lagi…?” bisiknya pelan.
Jana tidak langsung menjawab. Ia menatap Alya lama, lalu berkata, “Usahain jangan sampai. Selalu ada cara untuk menghindar. Aku udah melakukannya, Al. Jangan khawatir.”
Alya terdiam. Jawaban itu tidak benar-benar menjawab pertanyaannya. Namun cukup untuk membuatnya mengerti. Mereka hanya perlu menguatkan diri masing-masing untuk bertahan.
"Habisin sarapannya, Al. Kerja di sini butuh banyak energi," ujar Jana sambil mengenggol lengan Alya.
*
Beberapa menit kemudian.
Alya dan Jana masih duduk di tepi kolam, tapi sarapan mereka hampir habis.
Sesekali Jana masih berbicara ringan, mencoba mengalihkan suasana, meski Alya hanya menanggapi seperlunya. Dari luar semuanya terlihat biasa saja. Tenang, tidak ada yang mencurigakan.
Namun mereka tidak menyadari, di lantai atas, sepasang mata sedang mengawasi.
Di balkon ruang kerjanya, Tuan Surya berdiri diam. Tangannya bertumpu pada pagar besi. Tatapannya tertuju lurus ke bawah.
Ke arah halaman, tempat kedua perempuan itu duduk menikmati sarapan mereka. Namun lebih tepatnya ke arah satu orang.
Alya.
Matanya tidak berkedip. Seolah sedang menilai, mengamati dan mengingat.
Gadis itu terlihat berbeda di bawah cahaya pagi. Lebih hidup, dan lebih menarik dari yang sebelumnya ia lihat.
Wajahnya polos tanpa riasan berlebihan. Gerakannya sederhana. Namun justru itu yang menarik perhatian.
Seragam pelayan yang ia kenakan jatuh pas di atas lutut. Blusnya rapi, membingkai tubuhnya dengan sederhana, tanpa usaha berlebihan untuk menonjolkan apa pun.
Namun bagi seseorang seperti Surya, itu sudah cukup. Lebih dari cukup untuk membangkitkan sesuatu di dalam dirinya.
Jakunnya bergerak pelan.
Napasnya sedikit tertahan.
Bukan karena kelelahan melainkan karena sesuatu yang lain itu.
Tatapannya turun, mengamati lebih detail.
Cara Alya duduk, bagaimana ia menunduk saat makan, dan bagaimana ia menggenggam sendok yang bahkan terlihat sedikit gemetar.
Dan itu membuat sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum hangat. Lebih seperti… ketertarikan yang dingin.
Masih takut…
Pikiran itu muncul begitu saja. Dan justru itu yang membuatnya semakin tertarik.
Tuan Surya menyandarkan tubuhnya sedikit ke depan. Tatapannya tidak lepas dari kedua gadis pelayannya di bawah sana. Seolah mereka hanyalah bagian dari pemandangan, namun Alya tetap menjadi fokus utamanya.
Gadis itu pelayan baru, yang sudah melihat terlalu banyak, dan yang semalam hampir ia miliki.
Jari-jarinya mengetuk pelan pagar balkon. Seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu.
Ya. Dia sedang merencanakan sesuatu, dengan tenang, tidak terburu-buru. Karena ia tahu, itu tidak perlu. Rumah ini miliknya. Ia yang membuat aturannya. Dan gadis itu sudah ada di dalamnya. Tidak ke mana-mana.
Di bawah sana, Alya berdiri dari kursinya. Mengangkat piringnya.
Jana ikut berdiri. Mereka tampak bersiap kembali ke dalam.
Tatapan Surya mengikuti setiap gerakan itu.
Sampai akhirnya Alya berhenti sejenak. Seolah merasakan sesuatu, ia mendongak ke atas. Refleks. Dan untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu.
Alya langsung membeku. Jantungnya seperti jatuh.
Tuan Surya tidak bergerak. Tidak menyembunyikan diri. Tidak juga berpaling.
Ia tetap berdiri di sana, menatap mereka dengan tenang.
Seolah tidak ada yang salah.
Namun justru itu yang membuat bulu kuduk Alya meremang.
Ia cepat-cepat menunduk, mengalihkan pandangan.
Tangannya kembali gemetar.
“Ayo, Al,” panggil Jana, tidak menyadari apa-apa.
“I-iya…”
Alya langsung berjalan mengikuti Jana masuk ke dalam rumah.
Tanpa berani menoleh lagi.
Sementara di atas, Tuan Surya masih berdiri. Senyum tipis kembali muncul di wajahnya. Sorot matanya penuh perhitungan, seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang menarik.
Sesuatu yang tidak akan ia lepaskan begitu saja.
***
Beberapa hari berlalu dengan cukup tenang. Tidak ada kejadian mengejutkan seperti sebelumnya. Hanya beberapa kali dia mendengar suara-suara aneh dari ruangan kerja dan ruang tidur Tuan Surya.
Alya mengabaikannya, bersikap seolah mendengar suara apa-apa.
Ia mulai terbiasa dengan ritme rumah itu dan lebih fokus pada tuga-tugasnya.
Pagi itu, Alya mengetuk pelan sebelum membuka pintu kamar itu. Begitu pintu terbuka, aroma sabun yang lembut langsung menyambutnya—hangat, bersih, dan entah kenapa memberi rasa tenang walau samar.
Di atas ranjang besar dekat jendela, Nyonya Sonia sudah duduk setengah bersandar dengan bantuan bantal-bantal tebal. Tubuhnya kaku, nyaris tidak bergerak. Hanya matanya yang hidup—mengikuti setiap gerakan di sekitarnya dengan diam.
Mbok Ida berdiri di belakangnya, menyisir rambut panjang wanita itu dengan gerakan pelan dan sabar, seperti merawat sesuatu yang sangat rapuh.
Wanita berusia pertengahan 60-an ini pelayan yang udah lama bekerja di sini, sejak Nyonya dan Tuan masih muda. Beliau yang bertugas memandikan Nyonya Sonia sehari sekali, selain tugas utamanya mengurusdapur.
“Lho, Alya sudah selesai beres-beresnya?” tanya Mbok Ida sambil melirik lewat cermin, suaranya hangat seperti biasa.
Alya tadi setelah membantu Nyonya sarapan, pamit untuk membantu Jana merapikan rumah.
Ia tersenyum pada wanita baik yang membuat Alya lebih tenang. “Iya, Mbok… udah selesai. Jana sekarang lagi bantuin Mbak Marni di dapur. Nona Clara minta dibikinin rujak. Sekarang saya bantu beresin yang di sini, Mbok,” lanjut Alya ceria.
Ia langsung bergerak ke arah meja kecil di dekat kamar mandi, mengangkat baskom, melipat handuk, dan merapikan botol-botol sabun. Gerakannya cekatan, tapi tetap hati-hati, seolah takut membuat suara yang terlalu keras.
Dari arah ranjang, terdengar suara pelan.
“Ah… lya…”
Alya langsung menoleh.
Nyonya Sonia sedang menatapnya. Bibirnya bergerak pelan, sedikit gemetar, seperti berusaha keras membentuk kata.
“A… lya…”
Alya mendekat dengan langkah cepat, lalu berjongkok sedikit di samping ranjang agar sejajar dengan wajahnya.
“Iya, Nyonya… saya di sini.”
Wanita itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak sempurna, karena otot wajahnya tidak lagi sepenuhnya patuh, tapi cukup untuk membuat d**a Alya terasa hangat.
“T… ri… ma… k…” suara itu terputus-putus, nyaris seperti bisikan yang tertahan.
Alya mengangguk pelan, matanya melembut. “Iya, Nyonya… sama-sama.”
Ia tidak meminta wanita itu mengulang. Tidak mencoba memperbaiki. Entah kenapa, ia merasa… ia sudah mengerti.
Di belakangnya, Mbok Ida meletakkan sisir, lalu menatap Alya dengan pandangan yang dalam.
“Kamu ini masih muda sekali,” katanya pelan, berjalan mendekat. “Tapi Mbok lihat… kamu kuat.”
Alya yang sedang membawa baskom ke kamar mandi berhenti sebentar, lalu menoleh.
“Kuat itu bukan cuma soal tenaga,” lanjut Mbok Ida, suaranya lembut tapi berat, seolah membawa banyak pengalaman. “Tapi soal hati.”
Alya kembali merapikan barang-barang di dalam kamar mandi kecil itu. Air di baskom ia buang perlahan, suara gemericiknya mengisi keheningan yang tiba-tiba terasa lebih dalam.
“Kerja yang baik, ya,” suara Mbok Ida kembali terdengar dari luar. “Sabar… dan belajar ikhlasin hal-hal yang kadang… nyelekit.”
Tangan Alya yang sedang menggantung handuk berhenti sebentar.
Ia tidak menjawab langsung.
“Di rumah ini…” Mbok Ida melanjutkan, “nggak semua hal bisa kamu pahami. Kadang harus dijalani saja.”
Alya menarik napas pelan, lalu keluar lagi dari kamar mandi, membawa ember kosong.
“Iya, Mbok…” jawabnya akhirnya, suaranya ringan tapi sedikit lebih pelan dari biasanya. “Makasih ya… sudah diingetin.”
Mbok Ida tersenyum kecil, lalu menepuk bahunya lembut. Sentuhan itu sederhana, tapi hangatnya terasa lama. Dan tiba-tiba saja… Alya seperti ditarik mundur ke masa lalu. Ia teringat tangan keriput nenek yang dulu sering mengelus rambutnya. Suara tua yang menenangkan saat ia menangis diam-diam. Pelukan hangat yang selalu membuatnya merasa… punya tempat pulang.
Nenek.
Da-da Alya mengencang. Ia menunduk cepat, pura-pura sibuk merapikan sesuatu yang sebenarnya sudah rapi. Ia tidak ingin Mbok Ida melihat matanya yang mulai berair.
Dari ranjang, terdengar suara lagi.
“Sudah waktunya Nyonya istirahat.”
“Oh, iya, Mbok,”
Alya membantu wanita itu membaringkan kembali tubuh nyonya Sonia lalu menarik selimut hingga menutup kaki Nyonya Sonia dengan rapi.
Mbok Ida lalu meraih ember kosong di sudut kamar, menoleh sebentar ke arah Alya. “Mbok ke dapur dulu, ya. Kalau butuh apa-apa, panggil saja.”
“Iya, Mbok,” jawab Alya lembut.
Pintu tertutup perlahan setelah wanita tua itu keluar, meninggalkan suasana kamar yang mendadak lebih sunyi. Hanya suara halus dari pendingin ruangan dan napas pelan Nyonya Sonia yang terdengar.
Alya berdiri beberapa detik di tempatnya, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Kamar itu luas, rapi, dan terasa… dingin. Terlalu rapi, bahkan. Tidak ada barang pribadi yang mencolok. Tidak ada bingkai foto keluarga di meja, tidak ada kenangan yang dipajang di dinding.
Kosong.
Alya mengernyit, ‘Kenapa nggak ada foto satu pun?”