Bab 7

1633 Words
“Nyonya pasti… cantik banget dulu, ya…” gumamnya pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri. Namun begitu ia menoleh, ia mendapati Nyonya Sonia sedang menatapnya. Dan… tersenyum. Senyum itu tidak sempurna, tapi ada sesuatu yang hidup di dalamnya—seolah kalimat Alya barusan sampai dan dipahami oleh sang Nyonya. Hati kecil alya tersentuh. Kalimat sederhana itu sepertinya membangkitkan memori wanita tak berdaya itu. Walaupun sedikit canggung, lalu tersenyum balik. “Hehe… pasti banyak yang kagum ya dulu, Nyonya?” Nyonya Sonia mengedip pelan. Bibirnya bergerak sedikit, seperti ingin bicara, tapi tidak ada suara jelas yang keluar. Hanya hembusan napas yang tertahan. Alya tidak memaksa. Ia mendekat, lalu duduk di kursi kecil di samping ranjang. “Nyonya… mau kakinya saya pijat?” tanyanya lembut. Wanita itu tidak langsung merespons. Tapi beberapa detik kemudian, jari tangannya yang kaku bergerak sangat pelan… hampir tak terlihat. Namun cukup. Alya mengangguk kecil. “Mau, ya…” Ia membuka selimut dengan hati-hati, lalu meletakkan kedua tangannya di kaki Nyonya Sonia. Kulitnya dingin, sedikit kaku, tapi Alya menyentuhnya dengan sangat pelan—seolah takut menyakiti. Gerakan pijatannya lembut, perlahan, mengikuti instingnya. “Dulu… saya juga sering mijatin nenek saya,” ucap Alya pelan, matanya fokus pada tangannya. “Kalau capek, dia suka bilang kaki sama pundaknya pegal.” Ia tersenyum kecil, samar. “Sekarang… saya jadi kangen.” Tangannya tetap bergerak, ritmis, hangat. Nyonya Sonia menatapnya tanpa berkedip pelan, matanya tak lepas dari wajah Alya. Seperti memahami… atau mungkin merasakan hal yang sama. Alya menarik napas pelan, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih ringan. “Nyonya kalau dulu… suka jalan-jalan ya? Atau mungkin… suka dandan?” ia melirik sekilas ke wajah wanita itu, tersenyum. Nyonya Sonia membalas dengan kedipan pelan, lalu senyum kecil yang tertahan. Dan entah kenapa, Alya merasa… di balik tubuh yang tak bisa bergerak itu, ada begitu banyak cerita yang belum sempat diceritakan. Tangannya terus memijat, perlahan dan penuh perhatian. Dan di momen sederhana itu—tanpa banyak kata— terjalin sesuatu yang hangat. Bukan sekadar hubungan pelayan dan majikan, tapi dua perempuan yang sama-sama pernah kehilangan sesuatu, dan mencoba bertahan dengan caranya masing-masing. * Setelah memastikan Nyonya Sonia benar-benar tertidur, Alya keluar dari kamar itu dengan langkah pelan, menutup pintu tanpa suara. Ada rasa hangat yang tertinggal di dadanya. Samar, tapi cukup untuk membuatnya sedikit bernapas lebih lega. Ia berjalan menuju dapur, mungkin bisa membantu Mbok Ida memasak. Alya disambut dengan suara alat masak, aroma bumbu, dan Mbok Ida yang sibuk di depan kompor. “Mbok…” sapa Alya pelan, mendekat. “Saya bantu, ya?” Mbok Ida sempat menoleh, senyum tipis sudah terbit di wajahnya. “Iya, sini—” “Tidak perlu. Biasanya ada pelayan lain yang membantu memasak.” Suara itu memotong, halus tapi tegas. Alya langsung menoleh. Clara berdiri di sana. Penampilannya rapi seperti biasa—terlalu rapi untuk ukuran rumah pribadi. Blus yang pas di tubuhnya, rambut tertata, dan aroma parfum yang cukup mencolok. Alya menunduk sedikit. “Nona Clara…” Dalam sepersekian detik, bayangan yang pernah ia lihat tanpa sengaja terlintas lagi di kepalanya—pintu ruang kerja yang tidak tertutup rapat, suara yang tertahan, dan sosok Clara yang keluar dari sana dengan wajah yang… berbeda. Alya cepat-cepat membuang pikiran itu. Clara melangkah mendekat, mengeluarkan secarik kertas kecil dari tasnya, lalu menyodorkannya tanpa basa-basi. “Kamu ke apotek. Beli ini.” Alya menerimanya. Matanya turun membaca tulisan di kertas itu. Pil kontrasepsi. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ingatan tentang apa yang dilakukan wanita itu dengan Tuan Surya membuat Alya langsung paham, tentu Clara membutuhkan itu. Walaupun tangannya sempat menegang sebentar, tapi ia cepat menguasai diri. Alya mengangkat wajahnya, mencoba tetap netral. “Sekarang, Nona?” tanyanya pelan. Clara menatapnya sebentar, lalu mengangguk tipis. “Ya, sekarang. Ini uangnya.” Wanita itumemberikan uang yang digulung ke tangan Alya. “Baik, Nona…” jawab Alya akhirnya. Ia menggenggam kertas itu sedikit lebih erat, lalu berbalik melangkah keluar ke pintu samping. Di belakangnya, Mbok Ida hanya diam. Tatapannya sempat mengikuti Alya, lalu beralih pada Clara, seolah memahami sesuatu… tapi memilih tidak ikut campur. Sementara Clara berdiri santai, menyilangkan tangan, wajahnya tenang seperti tidak ada yang aneh. Alya keluar dari gerbang samping rumah itu dengan langkah pelan. Udara siang menyambutnya—hangat, sedikit menyilaukan, tapi justru terasa lebih hidup dibandingkan suasana di dalam rumah besar itu. Tangannya masih menggenggam erat kertas kecil dari Clara. Ia tidak langsung membukanya lagi. Seolah dengan tidak melihatnya, isi tulisan itu bisa ikut menghilang dari pikirannya. Jalan menuju apotek tidak terlalu jauh. Kemarin ia juga melewati rute yang sama saat membeli obat maag. Waktu itu langkahnya ringan, pikirannya sederhana—hanya soal perut yang perih dan harapan bisa segera membaik. Sekarang… rasanya berbeda. Setiap langkah terasa lebih berat, seperti ada sesuatu yang ikut berjalan bersamanya—pertanyaan yang tidak ingin ia jawab. Ia menunduk sedikit, memperhatikan ujung sandalnya yang sesekali menyentuh kerikil kecil di jalan. Pil kontrasepsi. Seumur hidup ini pertama kali Alya membelinya, dan ia terasa tidak nyaman membayangkan pandangan penjaga apotek nanti. Pil itu kan hanya untuk orang yang sudah menikah dan sedang mengatur kelahiran. Sementara dia kelihatan masih muda sekali, bisa-bisa dikira dia perembuan tidak benar lagi. ‘Aah, sudahlah. Nggak usah mikirin pendapat orang. Yang penting urusannya selesai. Soal dosanya urusan Nona Clara aja,’ batin Alya. Ia mempercepat langkahnya sedikit, seolah ingin segera menyelesaikan urusan ini tanpa harus memikirkannya terlalu lama. Beberapa menit kemudian, papan nama apotek itu terlihat. Bangunannya kecil, sederhana, dengan pintu kaca yang memantulkan bayangannya sendiri saat ia mendekat. Alya sempat berhenti sejenak di depan pintu. Refleksi dirinya tampak jelas—wajah muda, polos, dan… entah kenapa terasa asing. Ia menggenggam kertas itu lebih erat, lalu mendorong pintu. Di dalam, suasananya sejuk dan tenang. Rak-rak obat tertata rapi, dan seorang penjaga apotek berdiri di balik meja kasir. “Selamat siang,” sapa pria itu ramah. Alya mengangguk kecil. “Siang, Mas…” Ia melangkah mendekat, lalu menyerahkan kertas itu. Penjaga itu membaca sekilas, lalu mengangguk paham. Tanpa banyak tanya, ia berbalik mengambil barang yang dimaksud. Alya berdiri diam, tangannya saling menggenggam di depan. Rasanya aneh, ia tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi tetap saja ada perasaan seperti sedang melakukan sesuatu yang salah dan memalukan. “Ini, Mbak,” ujar penjaga itu, meletakkan kotak kecil di atas meja. Alya meliriknya sekilas, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan. “Iya… makasih.” Ia mengeluarkan uang, membayar tanpa banyak bicara, lalu menerima kantong plastik kecil itu. ”Sebentar kembaliannya, Mbak,” Alya mengangguk, kembali menunggu. Penjaga apotek memberikan kembalian sambil tersenyum lebar. “Ini kembaliannya. Terima kasih, Mbak. Jangan lupa pilnya diminum teratur, ya. Biar aman,” ‘Apa?’ Alya membelalak, entah si masnya bergurau atau serius, tapi seketika wajah Alya memerah malu. “Maaf, Mas. Saya hanya di suruh. Terima kasih.” Alya berbalik, dan buru-buru keluar apotik dengan wajah merah seperti udang rebus. Dia malu sekali. Penjaga apotek di belakangnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Langkah Alya terasa semakin cepat begitu gerbang rumah besar itu kembali terlihat di depan matanya. Kantong plastik kecil di tangannya tampak ringan, tapi justru terasa seperti beban yang tidak ingin ia pegang terlalu lama. Ia masuk lewat pintu samping seperti biasa, berusaha tidak menarik perhatian. Namun begitu melewati lorong menuju ruang keluarga, langkahnya terhenti. Clara sudah ada di sana. Wanita itu duduk dengan santai di sofa, kaki disilangkan rapi, satu tangannya memegang ponsel, sementara yang lain bertumpu di sandaran. Ia terlihat seperti sedang menunggu—dan ketika matanya bertemu dengan Alya, tatapan itu langsung tajam, seolah memang sudah tahu Alya akan muncul dari arah itu. “ini, Non, kembaliannya sekalian saya masukin di dalam tasnya,” Alya menyerahkan kantong itu. Clara mengambilnya tanpa banyak bicara. Ia membuka sedikit isi kantong, memastikan barangnya benar, lalu mengangguk tipis. “Ya sudah.” Alya mengangguk. Ia ingin segera pergi dari sana. Namun, belum sempat melangkah mundur, suara lain terdengar dari arah pintu depan. Suara langkah berat sepatu pantofel. Alya refleks menoleh. Tuan Surya masuk ke dalam rumah. Penampilannya masih rapi—kemeja lengan panjang yang tersetrika sempurna, jas yang masih tergantung di lengannya, dan dasi yang belum dilepas. Ia jelas baru pulang dari kantor. Tapi yang paling mencolok bukan penampilannya melainkan wajahnya. Tampak kaku dan tegang, jelas sedang marah. Rahangnya mengeras, langkahnya panjang dan cepat, seolah tidak ingin membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Tatapannya sekilas menyapu ruangan, dingin dan tajam, sebelum akhirnya berhenti—tepat ke arah mereka. Alya merasakan tubuhnya menegang. Entah kenapa, setiap kali pria itu ada di dekatnya, udara terasa berubah. Lebih berat. Lebih menekan. Seolah ia sedang berdiri di tempat yang tidak aman, meskipun tidak ada yang benar-benar terjadi. Clara berdiri perlahan, ekspresinya berubah seketika—lebih halus, lebih terkontrol. “Pak,” sapanya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. Surya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Clara beberapa detik, lalu melirik sekilas ke arah Alya. Tatapan itu singkat, tapi cukup membuat jantung Alya berdegup lebih cepat. Alya langsung menunduk, refleks. Ia tidak ingin berada di situ lebih lama. “I… izin ke kamar Nyonya dulu, Tuan,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan. Tidak ada jawaban. Alya tidak menunggu. Ia berbalik cepat, melangkah menjauh sebelum keberaniannya hilang. Langkahnya tetap diusahakan tenang, tapi jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Efek kejadian waktu itu belum benar-benar hilang ternyata. Terlebih dia baru saja membeli pil kontrasepsi yang ia tahu gunanya untuk apa. ’Hadeeh.. Tenang, Alya. Kamu itu sudah 20 tahun, nggak usah gitu-gitu banget kali,’ gumam Alya dalam hati, mengingatkan dirinya. Untung saja Tuan Surya tidak berkomentar apa-apa tadi. Bisa ribet urusannya kalau dia melampiaskan kemarahan padanya. Alya menyelinap masuk dan menutup pintu kamar Nyonya Sonia dengan sangat hati-hati, jemarinya masih bertahan di gagang pintu beberapa detik, memastikan tidak ada suara yang bisa mengganggu tidur wanita itu. Ia sempat melirik sekali lagi ke atas ranjang, Nyonya Sonia masih terlelap, wajahnya tenang, napasnya pelan dan teratur. Alya merasa aman di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD