Bab 8

1493 Words
Alya menatap wajah tenang Nyonya Sonia yang masih tertidur lelap. Dalam hati ikut merasa damai. Dia meraba bagian bawah tubuh wanita itu. Kering. Alya menghela napas lega. Dia senang Nyonya Sonia bisa tidur lelap tanpa gangguan seperti itu. Sejak awal mendapat tugas itu, Alya sering-sering memeriksa, memastikan keadaan wanita itu. Selain itu dia bisa menari ketenangan sejenak di sana. Namun, tentu dia tidak bisa lama-lama di sana. Dia tetap harus membantu tugas-tugas lain, agar bisa lebih cepat dan agar tidak memancing perhatian teman-teman pelayan lain. Alya menguatkan dirinya. Dia tidak bisa terus-terusan takut pada Tuan Surya seperti tadi. Itu hanya akan membuatnya repot sendiri. Karena itu dia harus memberanikan diri, walaupun tatapan Tuan Surya saja sudah membuat dia takut. ‘Ah, aku terlalu mengingat hal-hal yang nggak seharusnya,’ Dengan pemikiran itu, Alya memutuskan untuk menoba melakukan hal lain. Dia kembali memeriksa keadaan Nyonya Sonia. Aman. Alya kembali ke dapur, dan membantu Mbok Ida dan dua orang pelayan. Belum begitu lama, Jana melongok di pintu dapur, “Al, kamu disuruh bersihin ruang kerja Tuan Surya.” Alya yang baru saja hendak mengambil lap langsung berhenti. “Sekarang?” tanyanya pelan. Jana mengangguk. “Iya. Tadi disuruh langsung.” Alya menarik napas sebentar, lalu mengangguk. “Baik… aku ke sana.” Ia tidak banyak bertanya. Hanya mengambil kain lap bersih, merapikan sedikit rambutnya yang sempat berantakan, lalu berjalan keluar dapur, langsung menaiki tangga menuju lantai dua. Dadanya kembali berdebar, namun alya berusaha menenangkan dirinya. Lorong menuju ruang kerja terasa lebih sepi. Suaranya sendiri seperti terdengar lebih jelas di telinganya, meski langkahnya sudah ia usahakan seringan mungkin. Saat melewati kamar Tuan Surya, pintu itu terbuka. Alya refleks menoleh. Clara keluar dari dalam kamar. Gerakannya cepat, tangannya sedang mengancingkan kemeja bagian depan. Rambutnya yang biasanya tersusun rapi kini sedikit berantakan, jatuh tidak beraturan di bahunya. Alya langsung menunduk sedikit, berusaha menjaga sikap. “Nona…” sapanya pelan, singkat. Clara berhenti sebentar, menatapnya sekilas. Tatapannya tidak lama, tapi cukup terasa dingin dan lelah, seolah ia sedang tidak ingin diganggu. Wanita itu hanya mengangguk, lalu melangkah menurunitangga tanpa bicara. Alya juga tidak menambahkan apa-apa. Ia hanya mengangguk kecil, lalu melangkah lagi menuju ruang kerja yang sedang menunggu untuk dibersihkan. Beberapa langkah kemudian, ia berhenti di depan pintu ruang kerja Tuan Surya. Ia menarik napas pelan, lalu mengetuk, untuk memastikan apakah Tuan Surya berada di dalam. “Maaf, Tuan,” ucapnya, suaranya cukup jelas tapi tetap sopan. “Saya mau membersihkan ruang kerja.” Tidak ada jawaban. Alya menunggu beberapa detik, lalu mencoba lagi sedikit lebih pelan. “Tuan… saya masuk, ya…” Masih tidak ada suara dari dalam. Alya masuk dan membuarkan pintu tetap terbuka. Ruangan itu sunyi. Dingin, rapi, dan terasa kaku, seolah setiap benda di dalamnya sudah berada di tempat yang tidak boleh digeser sembarangan. Alya berdiri sejenak, mengedarkan pandangan, lalu menghela napas pelan sebelum mulai bekerja. Tuan Surya yang memberi perintah langsung, jadi dia harus merapikan ruangan itu. Tangannya segera bergerak perlahan—mengelap permukaan meja, merapikan sudut-sudut yang sedikit miring, memastikan semuanya kembali terlihat sempurna. Alya hanya fokus pada satu hal, menyelesaikan tugasnya, secepat dan sebersih mungkin. Alya sedang merapikan sisi meja kerja itu, tiba-tiba pintu yang setengah terbuka terdorong lebih terbuka. Ia langsung menoleh. Tuan Surya masuk tanpa dengan langkah tenang, seperti seseorang yang tahu persis ruang itu adalah wilayahnya—dan siapa pun di dalamnya… berada di bawah kendalinya. Jantung Alya lagi-lagi berdegup kenang. “Maaf, Tuan, katanya saya disuruh bersihin, tapiu tadi Tuan tidak ada,” ucapnya cepat, suaranya berusaha stabil meski tenggorokannya terasa kering. Surya tidak menjawab. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan masuk lebih dalam. Tatapannya langsung jatuh pada Alya—bukan sekadar melihat, tapi seperti… mengamati. Tatapannya keras. Alya menunduk, berusaha kembali fokus pada pekerjaannya. Tangannya bergerak lagi, meski kini terasa sedikit kaku. “Kamu…” suara Surya akhirnya terdengar, rendah, pelan, tapi jelas, “Pelayan baru itu, kan?” Alya mengangguk cepat. “Iya, Tuan.” “Tentu saja saya ingat,” lanjutnya, kali ini dengan nada yang hampir seperti gumaman. “Kamu yang tanda tangan kontrak itu… di sini, kan?” Kalimat itu sederhana. Tapi cukup membuat punggung Alya merinding. Tanpa sadar, matanya sempat melirik ke permukaan meja itu—hanya sepersekian detik—sebelum cepat-cepat ia alihkan lagi. Surya memperhatikan. “Kerja kamu… sejauh ini,” katanya lagi, melangkah mendekat beberapa langkah, “tidak mengecewakan.” Alya menggenggam kain lapnya sedikit lebih erat. “Terima kasih, Tuan…” Ia tidak berani mengangkat wajah. Jarak mereka terasa… semakin dekat. Tidak ada suara lain di ruangan itu selain napas yang tertahan dan gesekan halus kain di permukaan meja. “Kamu cepat belajar,” lanjut Surya, kini berdiri tidak terlalu jauh dari tempat Alya. “Dan patuh.” Kata terakhir itu diucapkan lebih pelan, seolah punya makna lain. Alya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Yang ia tahu hanya satu—ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan keluar dari ruangan ini. “Sudah selesai?” tanya Surya tiba-tiba. Alya mengangguk kecil. “Sebentar lagi, Pak…” “Hm.” Tuan Surya tidak mengatakan apa-apa lgi, namun diatetap berdiri di sana, mengawasi Alya. Alya menunduk lebih dalam, mempercepat gerakan tangannya tanpa terlihat terburu-buru. Setiap detik terasa lebih panjang dari biasanya. Hingga akhirnya selesai. Ruangan itu sudah rapi. Alya pamit keluar setelah memastikan tidak ada lagi yang terlewat. Dia merasa lega melihat lelaki itu tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk. * Pintu itu sudah tertutup sejak beberapa saat lalu, namun Surya masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tidak berpindah—tetap mengarah ke arah pintu yang tertutup, seolah bayangan Alya masih tertinggal di baliknya. Ruangan kembali sunyi, tapi pikirannya tidak. Ia menarik napas pelan, lalu berjalan dan duduk di kursi kerjanya. Bibirnya sedikit terangkat. “Alya…” Nama itu keluar pelan, nyaris seperti gumaman. Ia pelayan baru, bahkan baru beberapa hari, namun sudah menarik perhatiannya sejak awal. Ia lalu bersandar di kursi, menatap kosong ke arah jendela, tapi sebenarnya tidak benar-benar melihat apa pun di luar sana. Yang ada di pikirannya justru sebaliknya, sosok pelayan baru bertubuh mempesona itu. Cara Alya menunduk, cara tangannya bergerak cepat tapi hati-hati, dan terutama—tatapan takut yang selalu berusaha ia sembunyikan. Surya bukan tidak menyadarinya. Justru itu yang membuatnya tertarik. Ia sudah lama terbiasa dengan Clara—wanita yang tahu bagaimana bersikap, tahu kapan harus mendekat dan kapan harus diam, tanpa perlu diarahkan terlalu jauh. Segalanya sudah… terlatih, bisa ditebak. Tapi Alya berbeda, masih mentah, masih jujur dalam ketakutannya. Dan itu… sulit diabaikan. Surya menghela napas pelan, lalu menggeleng kecil, seolah menertawakan pikirannya sendiri. “Terlalu cepat,” gumamnya lirih. Ia bukan pria yang gegabah. Selama ini, ia selalu tahu kapan harus menahan, kapan harus bergerak. Dan kali ini, ia tahu satu hal dengan jelas— kalau ia terlalu menekan, gadis itu akan semakin menjauh. Dan Surya tidak menginginkan itu. Ia lebih memilih… mendekat perlahan. Membiarkan Alya tetap berada di dalam jangkauannya, tanpa merasa sedang terperangkap. Surya sadar sebagai lelaki yang sudah mengalami banyak hal dalam hidupnya sebagai lelaki dewasa, juga dorongan kuat setiap kali melihat pelayan muda itu. Dia menginginkan pelayan itu. Sangat menginginkannya. Beberapa menit ia lewatkan di sana, sebelum memutuskan turun ke bawah untuk melihat istrinya. Satu hal yang mulai jarang ia lakukan akhir-akhir ini. * Pintu kamar itu tidak benar-benar tertutup rapat, hanya menyisakan celah kecil yang tanpa sengaja memperlihatkan sebagian isi ruangan—dan dari celah itulah Surya berdiri, tanpa suara, tanpa niat untuk langsung masuk, membiarkan dirinya menjadi pengamat yang tidak terlihat, sementara pandangannya tertahan pada satu pemandangan yang entah kenapa membuat dadanya terasa tidak nyaman. Di dalam, Alya duduk di samping ranjang dengan posisi sedikit membungkuk, tangannya bergerak pelan dan hati-hati saat menyuapi Sonia dengan biskuit yang dihaluskan, sesekali menunggu dengan sabar hingga wanita itu bisa menelan dengan baik, sementara suara lembutnya mengalun pelan, nyaris seperti bisikan yang sengaja ditahan agar tidak mengganggu ketenangan yang mulai tumbuh di ruangan itu. “Pelan ya, Nyonya… tidak perlu buru-buru,” ucap Alya dengan nada yang begitu alami, tanpa dibuat-buat, tanpa beban yang biasanya melekat pada pekerjaan semacam itu. Dan yang lebih mengganggu bagi Surya bukanlah apa yang dilakukan gadis itu, melainkan bagaimana ia melakukannya. Gadis itu terlihat benar-benar tulus, seolah-olah keberadaannya di sana bukan sekadar sebagai pelayan, melainkan sesuatu yang lebih, sesuatu yang bahkan tidak pernah berhasil ia ciptakan sendiri selama ini. Sonia terlihat lebih tenang, dan lebih hidup. Mata yang biasanya kosong kini mengikuti setiap gerakan Alya, dan sesekali ada reaksi kecil—kedipan yang lebih lambat, napas yang lebih teratur, bahkan bayangan senyum yang hampir tidak terlihat, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia merasakan sesuatu. Surya mengeraskan rahangnya tanpa sadar. Tanpa berpikir panjang, ia mendorong pintu itu perlahan dan masuk ke dalam ruangan, membuat suara kecil yang langsung memecah keheningan, mengusik Alya. Alya sontak menoleh, tubuhnya langsung menegang seketika, seolah refleks yang sudah tertanam sejak kejadian beberapa waktu lalu, sementara sendok di tangannya sempat berhenti di udara sebelum akhirnya ia turunkan perlahan. “Tuan…” ucapnya pelan, suaranya tertahan, dan tanpa perlu diarahkan lagi, ia langsung menunduk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD