Bab 9

1728 Words
Langkah surya tertahan sesaat. Dia melihat ketakutan melintas di mata gadis itu, satu hal dia tidak inginkan. Mata bulat jernih itu bahkan langsung berpaling ke arah lain. Nyonya Sonia juga mengalihkan pandangan, matanya seketika berbinar melihat suaminya melangkah masuk. Alya menghela napas diam-diam melihat perubahan itu, sesuatu yang sudah dia lihat sejak pertama bertemu wanita itu. Dia pasti sering menantikan suaminya masuk melewati pintu itu dan menyapanya seperti waktu itu. Surya melangkah mendekat, tidak menatap Alya sama sekali, langsung duduk di ranjang istrinya. “Apa kabar?” dia bertanya sambil menggenggam tangan istrinya. “Apakah pelayan baru ini bersikap baik padamu?” Berdiri nyaris di pojok ruangan, tubuh Alya menegang. Dia sengaja menjauh, bukan hanya tidak ingin mengganggu, tapi berdekatan dengan Tuan Surya selalu membuat perasaannya tidak enak. Alya melihat Nyonya Sonia mengangguk, dan Tuan Surya tertawa kecil setelahnya. “Bagus. Aku ingin dia hanya fokus mengurus dirimu. Agar kamu lebih nyaman dan tidak merasa kesepian lagi.” Suara itu sangat lembut, dan Alya juga melihat tangan sang Tuan mengusap kepala istrinya lembut. Dengan semua yang sudah ia lihat dan dengar, Alya tidak yakin, perhatian itu asli atau palsu. Tapi dia tidak ada di sana untuk menghakimi. Dia hanya pelayan yang bekerja untuk mendapatkan upah. Dan untuk itu dia harus melakukan tugasnya dengan baik. Harus menurut dan tidak boleh banyak tanya. Alya tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Sosok sang Tuan terasa sangat mengintimidasi baginya. Tapi bagi Nyonya Sonia, itu adalah kebahagiaannya. Tuan Surya masih mengusap kepala istrinya. “Bagaimana keadaan istri saya? Ruam di beberapa bagian tubuhnya sudah membaik?” Lelaki itu bertanya tiba-tiba. Alya terdiam sejenak sebelum sadar maksud pertanyaannya. “Beberapa hari ini saya taburi bedak seara teratur, dan sepertinya agak membaik, Tuan,” jawabnya, berusaha memberanikan diri. “Bagus. Tetap lakukan itu kalau bisa membantu. Tolong popoknya selalu dikontrol. Kulit istri saya agak sensitif, jadi gampang meradang.” “Baik, Tuan,” Surya menarik napas pelan, lega karena Alya mulai berbicara tanpa terlihat terlalu ketakutan, dia melirik biskuit halus yang masih tersisa di piring. “Dilanjutkan makannya.” Alya mengangguk cepat, “Iya, Pak,” Surya pamit pada istrinya, namun tidak langsung pergi. Ia tetap berdiri di sana beberapa saat, seolah masih menimbang sesuatu dalam diam, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Setelah pintu kembali tertutup dan langkah kaki Surya menjauh perlahan di lorong, Alya masih diam beberapa detik di tempatnya, seolah tubuhnya belum sepenuhnya menyadari bahwa tekanan barusan sudah berlalu, sementara tangannya yang tadi sempat terhenti kini kembali bergerak dengan hati-hati, meski ada sisa gemetar halus yang berusaha ia sembunyikan. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri, lalu kembali mengangkat sendok kecil itu. “Kita lanjut ya, Nyonya…” ucapnya lembut, kali ini dengan suara yang sedikit lebih pelan, seolah tidak hanya menenangkan wanita di hadapannya, tapi juga dirinya sendiri. Nyonya Sonia menatap Alya. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang terasa seperti memahami, meskipun tubuhnya tidak lagi mampu merespons dengan utuh. Alya menyuapinya lagi dengan sabar, menunggu hingga benar-benar tertelan sebelum mengambil sendok berikutnya, gerakannya kembali stabil, perlahan menemukan ritme yang tadi sempat hilang. “Maaf ya… tadi jadi berhenti,” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada sahabat, bukan majikan. Ia tidak tahu apakah kata-katanya dipahami. Tapi ia tetap bicara, karena diam justru terasa lebih berat. Tuan Surya dengan semua keberadaannya tetap menakutkan bagiAlya. Beberapa menit kemudian, Nyonya Sonia selesai makan. Alya meletakkan mangkuk di meja kecil, lalu mengambil kain bersih untuk membersihkan sudut bibir wanita itu dengan gerakan yang sangat lembut. “Sudah… sekarang Nyonya istirahat, ya.” Ia membetulkan posisi bantal, menggeser tubuh wanita itu sedikit agar lebih nyaman, lalu menarik selimut hingga menutup dengan rapi. Setiap gerakannya dilakukan dengan perhatian penuh, seolah ia benar-benar takut menyakiti. Namun saat ia hendak menarik tangannya kembali, sesuatu menghentikannya. Jari Nyonya Sonia bergerak. Sangat pelan, hampir tidak terasa, tapi cukup untuk menyentuh punggung tangan Alya. Alya terdiam.Matanya langsung turun, menatap tangan itu dengan napas yang tertahan. “Nyonya…?” suaranya lirih. Alya sangat tersentuh oleh gerakan kecil, yang merupakan respons luar biasa dari wanita itu. Alya membalik telapak tangannya perlahan, membiarkan jari-jari lemah itu berada di atasnya, lalu menggenggamnya dengan lembut. “Iya… saya di sini,” bisiknya pelan. Matanya mulai menghangat. Beberapa detik berlalu dalam diam, dan perlahan, genggaman itu melemah kembali. Mata Nyonya Sonia mulai terpejam, napasnya kembali teratur. Alya tersenyum kecil, meski ada rasa haru yang tertahan di dadanya. Ia tetap duduk di sana beberapa saat, tidak terburu-buru pergi, hanya memastikan semuanya benar-benar tenang.Lalu, dengan gerakan pelan, ia menarik tangannya, berdiri, dan merapikan kembali selimut yang sedikit bergeser. Sebelum berbalik, ia menatap wajah wanita itu sekali lagi. Dan untuk pertama kalinya sejak ia datang ke rumah itu, Alya merasa—ia tidak sepenuhnya sendirian. Meski tanpa kata, meski tanpa suara yang jelas, ada seseorang yang melihatnya, dan mungkin memahami ketakutannya. Sehabis makan malam, suasana rumah tidak terlalu sepi seperti biasanya. Lampu-lampu taman sudah menyala, udara malam terasa lebih santai, dan beberapa orang masih beraktivitas di sekitar dapur dan halaman belakang. Alya yang tadi membantu Mbok Ida membereskan dapur, akhirnya keluar sebentar untuk mengambil udara segar. Kakinya membawanya ke arah garasi samping, tempat Pak Rudi—sopir pribadi keluarga itu—sedang duduk santai di kursi plastik sambil minum teh. “Eh, Mbak baru,” sapa Pak Rudi begitu melihat Alya lewat. “Capek, ya? Baru beberapa hari tapi kerjanya langsung ngegas,” Alya tersenyum kecil, agak canggung tapi tidak lagi setegang sebelumnya. “Lumayan, Pak… tapi masih bisa.” Pak Rudi tertawa pelan. “Masih bisa itu nanti berubah jadi ‘mau pingsan’ kalau sudah beberapa minggu.” Alya ikut terkekeh pelan, refleks menunduk sedikit. “Jangan ditakut-takutin gitu, Pak…” “Lah, ini bukan nakut-nakutin, ini pengalaman,” sahutnya santai. “Tapi kamu cepat juga adaptasinya, tadi Mbok Ida sampai bilang kamu ringan tangan.” “Ah… Mbok Ida nambah-nambahin saja. Saya masih belajar, jadi nggak mau diam,” jawab Alya, suaranya lebih ringan sekarang, tidak seperti biasanya yang selalu hati-hati. Percakapan itu sederhana, dan ringan. Untuk beberapa menit, Alya benar-benar terlihat seperti gadis seusianya—bukan pelayan yang selalu menunduk dan menjaga sikap. Ia tersenyum, bahkan sempat tertawa kecil. Tanpa sadar, pemandangan itu dilihat oleh seseorang dari kejauhan. Di dekat pintu yang mengarah ke dalam rumah, Surya berdiri tanpa suara, tangannya masuk ke saku celana, matanya tertuju lurus ke arah Alya. Rahang Surya mengeras sedikit, terusik melihatkeakraban Alya dengan sopirnya. Ia mengalihkan pandangan sejenak, lalu menarik napas pelan sebelum akhirnya berbalik masuk ke dalam rumah, langkahnya tetap tenang seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa. Namun pikirannya jelas tidak setenang itu. Di dapur, Mbok Ida masih sibuk mengatur beberapa peralatan. Begitu melihat Surya datang, ia langsung berhenti sejenak. “Bapak mau sesuatu?” tanyanya. “Buatkan kopi,” jawab Surya singkat. “Iya, Pak.” Mbok Ida langsung bergerak, tapi belum sempat ia benar-benar selesai, Surya kembali bicara, nadanya tetap datar, tapi kini lebih jelas tujuannya. “Suruh pelayan baru itu yang antar ke ruang kerja saya.” Mbok Ida sempat melirik sekilas, tapi tidak bertanya apa-apa. “Iya, Pak.” Surya tidak menunggu lebih lama. Ia langsung berbalik dan berjalan menaiki tangga menuju ruang kerjanya. Langkahnya tenang, teratur, seperti biasa—seolah semua ini hanya rutinitas biasa. Begitu sampai di dalam, ia menutup pintu, lalu duduk di kursinya dengan santai, satu tangan bertumpu di meja, sementara matanya mengarah ke pintu. Ia menunggu dengan pikiran itu mulai tersusun sendiri. Alya datang ke rumah ini untuk bekerja, untuk uang. Sama seperti yang lain. Ia mengembuskan napas pelan, sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, lebih seperti keyakinan yang sedang dibangun. ’Masih baru…’ gumamnya pelan dalam hati. Masih belum paham aturan di rumah ini. Masih belum tahu bagaimana semuanya berjalan. Dan justru itu yang membuatnya lebih mudah diarahkan. Surya menyandarkan tubuhnya, tetap menatap pintu di depannya. Tenang. ** Malam itu terasa terlalu sunyi, bahkan untuk ukuran rumah sebesar itu. Koridor lantai dua yang biasanya hanya terasa dingin, kini seperti benar-benar menelan suara, membuat langkah kaki Alya yang membawa nampan kopi terdengar terlalu jelas di telinganya sendiri, bergaung pelan dan memantul di dinding marmer yang mengilap, seolah setiap detiknya mengingatkan bahwa ia sendirian di tengah ruang yang tidak pernah benar-benar ramah. Sejak sore, perasaannya sudah tidak enak. Tidak ada alasan yang jelas, hanya firasat yang mengganggu, seperti sesuatu sedang menunggu di ujung malam, sesuatu yang tidak bisa ia lihat tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak. Ia berhenti di depan pintu ruang kerja Tuan Surya. Tangannya sedikit mengencang pada nampan. Merasa semakin gugup, ia menarik napas dan menghembuskannya pelan. Lalu mengetuk. “Masuk.” Suara itu terdengar dari dalam—rendah, tenang, seperti biasa, tapi tanpa alasan yang jelas, membuat jantung Alya berdetak sedikit lebih cepat. Ia membuka pintu perlahan, masuk dengan hati-hati. Alya mendekat ke meja kerja, meletakkan cangkir kopi dengan gerakan yang sudah mulai terbiasa ia lakukan, rapi dan tanpa suara, sementara pandangannya tetap tertunduk, tidak berani terlalu lama menatap pria yang duduk di balik meja itu. Namun ia bisa merasakan tatapan pria itu, yang membuat tangannya sedikit gemetar. “Ini kopinya, Tuan…” ucapnya sopan, nyaris seperti bisikan. “Taruh saja, terima kasih,” jawab Surya, suaranya tenang, tidak setegang hari pertama saat membahas kontrak. Alya mengangguk kecil, lalu hendak mundur. Namun sebelum ia benar-benar menjauh, suara Tuan Surya menahannya. “Kamu… sudah mulai nyaman di sini?” Pertanyaan itu terdengar ringan, hampir seperti basa-basi. Alya berhenti sejenak, menoleh sedikit tanpa benar-benar mengangkat wajah. “Masih menyesuaikan diri, Tuan.” Surya tersenyum tipis, lalu berdiri dari kursinya dengan gerakan santai, berjalan mengitari meja tanpa tergesa, hingga jarak di antara mereka perlahan memendek. “Kamu cepat belajar,” katanya pelan. “Istri saya juga kelihatan cocok sama kamu.” Alya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, mencoba menjaga sikap, meski perasaannya mulai tidak nyaman. Ada sesuatu dalam cara pria itu bicara yang membuatnya ingin segera pergi. Namun Surya belum selesai. “Gaji kamu cukup?” tanyanya lagi, kali ini lebih langsung. Alya sedikit tertegun, lalu menjawab hati-hati, “Cukup, Tuan, Alhamdulillah.” “Bagaimana kalau ada tawaran untuk mendapatkan lebih banyak dalam waktu singkat?” ”Maksudnya, Tuan?” Alya tidak mengerti. Surya kini berdiri tidak jauh darinya, menatapnya dengan ekspresi yang tidak lagi sekadar menilai—lebih dalam, lebih terang-terangan. “Saya tidak suka berputar-putar,” lanjutnya, suaranya tetap tenang, hampir santai, seolah sedang membicarakan sesuatu yang wajar. “Saya butuh seseorang yang bisa… memenuhi kebutuhan saya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD