Alya menegang. Tangannya refleks menggenggam ujung bajunya. Dia mulai memahami arah pembicaraan ini. Apalagi mata Tuan Surya memandangi tubuhnya tanpa berkedip. “Kamu masih muda,” kata Surya lagi, menatapnya dari atas ke bawah tanpa berusaha menyembunyikan maksudnya. “Dan… menarik.” Dada Alya terasa sesak. Ia tidak perlu penjelasan lebih jauh. Ia sudah mengerti. Dan pemahaman itu membuat perutnya mual seketika. Tak menduga akan mendengar itu. Bayangan yang pernah ia lihat—di ruangan ini, di meja kerja itu—tiba-tiba muncul begitu saja di kepalanya, membuat napasnya terasa berat. “Saya bisa beri kamu uang lebih,” lanjut Surya, seolah menawarkan sesuatu yang masuk akal. “Jauh lebih banyak dari yang kamu dapat sekarang. Kamu tidak perlu kerja terlalu keras. Saya akan menjamin hidupmu.” He

