Surya menyadari, Arga benar-benar marah kali ini. Dia melihatnya langsung, dan Surya memilih bersikap sedikit lunak. Bukan mengalah, tetapi mencegah ledakan kemarahan terjadi di antara mereka. Surya sangat memahami situasi ini, dan hanya akan membuat malu kalau dia menantang putranya yang sedang menatapnya geram. Ia menarik napas pelan, seolah mencoba mengembalikan kendali yang tadi sempat lepas. “Kamu ini…” katanya akhirnya, nadanya ditahan, tapi jelas menyimpan kesal. “Masih saja emosian.” Arga tidak menjawab. Ia hanya menatap ayahnya, cukup cerdas untuk memahami sikap ayahnya. Tentu saja dia tidak akan membiarkan ayahnya terus memanipulasi semua orang. Surya mengangkat alis sedikit, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dingin, lebih rasional, seolah sedang memberi penjelasan yan

