“Dia putra satu-satunya. Biasanya kalau pulang lebih banyak menghabiskan waktu di kamar.” jelas Jana lebih lanjut. ‘Putra satu-satunya.’ Alya mengulang informasi itu dalam hati. Alya diam, mencoba mengingat wajah itu. Tatapan dinginnya yang menatap ayahnya tanpa gentar, dan suara tegasnya. Lalu bagaimana pria itu menariknya tangannya dan menyuruhnya keluar. “Dia…” Alya ragu sejenak. “Dia yang nyuruh aku keluar…” Jana tersenyum tipis, jelas ia sudah memahami hal apa yang terjadi. “Memang begitu dia,” katanya pelan. “Sejak Nyonya Sonia sakit, dia sering ribut sama Tuan.” Alya mengerutkan kening sedikit, masih berusaha mencerna. “Kenapa…?” tanyanya lirih. Jana menghela napas panjang, lalu bersandar sedikit ke meja kecil di dekatnya. “Sejak Tuan Surya mulai… ya, kamu tahu sendiri,” ka

