Tuan Muda dan Upik Abu 5 - Kenapa Mama Selalu Melindunginya?

1370 Words
“Hari ini aku masak bubur untuk kamu, Mas … semoga Mas suka, ya!” perempuan berparas cantik dengan make up minimalis dan rambut disanggul itu menyajikan semangkok bubur di hadapan sang suami. Dia adalah Margaretta Sanjaya. Ibu Tiri Alfiano. Margaretta sebelumnya adalah sekretaris Handoko Sanjaya - ayah Alfiano. Margaretta sudah pernah menikah sebelumnya dan juga memiliki seorang putra dari pernikahannya terdahulu. “Pagi Ma … Pagi Pa …!!!” Panjang umur. Sosok itu pun muncul. Suara sapaan ramah itu terdengar renyah dan ceria. Terlihat seorang lelaki dengan setelan jas berwarna navy tersenyum ceria. Sosok itu berpenampilan klimis dengan rambut rapi yang mengkilap di sisir ke belakang. Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi tetap ideal. Ia memiliki da-da yang bidang dan bahu yang lebar. Alis matanya tebal. Hidungnya mancung dan sedikit ada belahan di tengah ujung hidungnya. Sosok itu memiliki tatapan yang terlihat hangat. Bibirnya yang berwarna merah muda itu sepertinya juga mudah tersenyum. Sosok itu terlihat kontras dengan Alfian yang sangat nakal dan juga dingin. Namanya Dino Putra Sanjaya. Sebelumnya Dino tidak menyandang nama Sanjaya di belakang namanya, tapi semenjak ibunya menikah dengan papa Alfian, Dino pun menyandang nama belakang itu. “Bagaimana pertemuan dengan inverstor kemarin?” tanya sang papa saat Dino ikut duduk bergabung di meja makan itu. Dino tersenyum. “Agak sedikit sulit, tapi pada akhirnya aku berhasil melakukan negosiasi ulang dan akhirnya kita mendapatkannya. Sang papa tersenyum puas. “Bagus. Papa percaya kamu bisa mengatasinya.” “Semua berkat bimbingan dan saran dari Papa,” tukas Dino. Handoko tampak menatap Dino penuh rasa bangga. Saat ini Dino menjabat sebagai CEO di Sanjaya Group. Baru dua bulan terakhir ini dia menjabat, tapi sejauh ini geliatnya semakin membara. Dino membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang baginya untuk memimpin perusahaan itu. Awalnya banyak yang merasa skeptis. Terlebih dia hanya berstatus sebagai anak tiri. Tapi Dino membuktikan bahwa dia memang benar-benar mampu dan berkompeten untuk menduduki jabatan itu. “Hari ini kamu harus ikut dengan Papa untuk bertemu beberapa kolega kita dari Australia,” ucap Handoko. Dino melotot. Dia lalu menatap antusias mendengar kesempatan yang terdengar sangat menarik itu. “A-aku ikut bersama Papa?” Handoko mengangguk. “Iya. Sudah saatnya kamu mengenal mereka lebih jauh.” “Baik, Pa … aku akan bersikap sebaik mungkin.” Handoko terkekeh pelan dan mengangguk-angguk-an kepala menatap Dino. Margaretta kemudian ikut duduk bergabung. “Sekarang kita sarapan dulu, ya!” Dino mengangguk. Matanya kini tertuju pada menu makanan di atas meja. Ia mencari-cari makanan kesukaannya, yaitu ikan pepes tongkol. Semalam dia sudah mengatakan pada sang mama bahwa ia ingin makanan itu. tapi kemudian senyum di wajahnya perlahan menghilang. Tidak ada menu itu di atas meja. Matanya malah tertuju pada gulai telur bulat dengan tambahan kentang dan buncis. Dino menatap sang mama perlahan, lalu tersenyum getir. Makanan itu adalah menu kesukaannya Alfian. Sepertinya sang mama masih belum menyerah untuk mengambil hati anak sambungnya itu. Margaretta kemudian celingak-celinguk mencari keberadaan Alfian “Kenapa Alfian belum turun juga?” Handoko sang suami hanya diam tak peduli. Dino yang duduk di seberang sang mama pun akhirnya bersuara. “Sudah satu tahun kita di sini … selama itu juga Alfian tidak pernah mau bergabung untuk makan bersama kita. Tapi sepertinya Mama masih setia menunggu dan memasak makanan kesukaannya setiap hari.” Deg. Sang mama terlihat salah tingkah. “Sudahlah … biarkan saja dia!” Handoko angkat bicara. “Dia tidak akan muncul. Apalagi hari ini Papa menghukumnya. Dia tidak boleh ke mana-mana, termasuk pergi ke sekolah!” Margaretta tampak terkejut. “A-APA …? Mas … kenapa kamu selalu menghukum dia seperti itu? Semua yang kamu lakukan hanya akan membuat dia semakin bebal. Apa kamu mau lama-lama dia membenci kamu?” Handoko hanya berdehem. Dia sepertinya memang tidak peduli sama sekali. Padahal Alfiano adalah darah dagingnya. Anak kandungnya sendiri. “Aku akan memanggilnya seben--” Ucapan Margaretta terhenti saat ia melihat Alfian datang. “SELAMAT PAGI SEMUANYA …!” sapa Alfian sumringah. Aneh sekali. Deg. Margaretta, Handoko dan Dino sontak terkejut melihat kemunculan Alfian. Bocah tengil itu kemudian ikut duduk di meja makan, lalu menatap menu di atas meja seraya mangut-mangut sendiri. “Kenapa kalian semua terlihat kaget? Apa aku seharusnya tidak berada di sini?” tanya Alfian saat menyadari tatapan heran itu masih tertuju padanya. Margaretta langsung menggeleng cepat. “T-tentu saja tidak seperti itu. K-kamu memang seharusnya berada di sini. H-hari ini Tante sudah membuatkan masakan kesukaan kamu. Gulai telur dengan kentang dan juga buncis.” Alfiano mendongak melihat menu yang disebut oleh sang mama tiri. “Dari bentuknya sih, sudah kelihatan kalau tidak enak,” ucapnya. Deg. Margaretta tampak terkejut, tapi kemudian dia kembali tersenyum. “Mungkin tampilannya memang tidak terlalu menarik, tapi kamu harus mencoba rasanya dulu.” Dino yang melihat sang mama berusaha memenangkan hati Alfian seperti itu mulai terlihat jengkel. Tatapan mata tajam itu sudah menjelaskan semuanya. Kemarahan Dino pada Alfian bukan tanpa alasan. Selama ini Alfian memang memperlakukan ibunya semena-mena. Alfian selalu membuat masalah dan selalu menempatkan sang mama dalam bahaya. Alfian kerap berkata kasar pada mamanya. Alfian selalu membentak dan menatap penuh kebencian pada sang mama. Alfian tidak pernah menghormati sang mama. Tapi yang paling membuat Dino merasa kesal adalah … Sang mama masih saja berusaha menarik simpati Alfian. Sang mama masih saja membela bocah tengil itu saat tidak ada seorang pun yang memihak padanya lagi. Bahkan sang ayah kandung tak lagi memedulikannya, tetapi sang mama malah masih saja keras kepala. Dan hal itu membuat Dino merasa kesal. Mungkin juga dia merasa cemburu melihat sang mama yang lebih memerhatikan Alfian dibanding dengan dirinya sendiri. “Sudah jangan banyak bicara lagi!” sergah Handoko kemudian. Keadaan berubah hening. Dino mulai menyantap sarapannya dengan sorot mata curiga memandang Alfian yang kini mengulum senyum. Dino yakin ada sesuatu yang membuat Alfian tiba-tiba duduk bergabung bersama mereka di meja makan. Firasatnya mengatakan bahwa adik tirinya itu tengah merencanakan sesuatu. Tatapan mata Alfian itu mengisyaratkan bahwa dia sedang menunggu sesuatu. Tetapi Apa? “UHUK … UHUK …!” Tiba-tiba Handoko terbatuk saat menyuap bubur buatan sang istri. Deg. Margaretta menatap bingung. “K-kenapa, Mas?” Handoko mengernyit dan menyeka mulutnya. “Kenapa buburnya sangat asin sekali?” Eh. Margaretta menatap tak percaya. “Bagaimana bisa?” Dino melirik Alfian yang kini tersenyum. Sekarang dia sudah menemukan alasannya. Sudah bisa ditebak bahwa Alfian pelaku keusilan itu. Margaretta menarik mangkok berisi bubur itu, lalu mencicipinya. Deg. Memang terasa sangat asin sekali. Raut wajahnya terlihat bingung. Karena sebelumnya dia sudah mencicipi rasanya dan semua baik-baik saja. Dino meletakkan sendok di tangannya, lalu tersenyum. “Sepertinya hari ini Alfian ingin bermain-main lagi. Kamu yang melakukannya, kan?” Deg. Suasana di meja makan itu langsung berubah tegang. “Itulah kenapa pagi ini kamu tiba-tiba bergabung di sini. Iya, kan?” Dino terlihat menahan emosi. Wajahnya tampak memerah sekarang. Dino tidak pernah mempermasalahkan saat Alfian berulah padanya. Tapi Dino memang tidak pernah bisa menerima saat mamanya diperlakukan seperti itu. Baginya tak masalah jika Alfian menginjak-injaknya sekalipun, tapi tidak dengan sang mama. Dino tidak bisa membiarkannya. “Hahaha. Apa setiap ada kesalahan di rumah ini selalu aku yang jadi pelakunya?” tanya Alfian dengan raut wajah menyebalkan. Handoko yang sedari tadi diam mengempaskan tangannya ke atas meja. “Apa benar kamu lagi yang berulah?” tanya Handoko geram. Alfian beralih menatap sang papa. Sengit. Dia juga menatap tajam seperti tidak ada takut-takutnya sama sekali. Anak itu benar-benar defenisi Malin Kundang era mileneal. Dia adalah pembangkang ulung yang tidak pernah bosan-bosan bertengkar dengan orang tuanya sendiri. “I-ini semua salah aku, Mas!” sergah Maretta tiba-tiba. Dino langsung menatap tak percaya. “A-APA?” Margaretta tidak memedulikan Dino yang kini menatap marah padanya. Dino tersenyum kecut, lagi-lagi sang mama malah melindungi bocah itu. “Sepertinya tadi aku memang menuangkan garamnya terlalu banyak, Mas … maafkan aku,” ucap Margaretta lagi. Dino yang tidak tahan lagi melihat kebodohohan sang mama itu langsung bangun dari meja makan dan memaksakan senyum di bibirnya. “Aku berangkat ke kantor dulu,” ucapnya. Dino melangkah kesal keluar dari ruang makan yang mewah itu. Sesaat sebelum keluar dari pintu utama, langkah kakinya terhenti. Helaan napasnya terdengar sesak. Jemarinya bahkan tampak bergetar menahan amarah. “Kenapa …? sebenarnya kenapa mama selalu bersikap bodoh seperti itu?” . . . Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD