Author’s POV Bagas duduk di sebuah bangku sementara Derra sibuk memilah-milah sepatu. Dicobanya beberapa sepatu high heels itu dan sesekali ia meminta pendapat Bagas. Sebagai seorang cowok yang tak bisa menilai mana sepatu yang bagus dan mana yang nggak, tanggapan Bagas hanya seputar, “ya bagus... cocok buat kamu... iya yang itu juga boleh...” Lama-lama Derra kesal. Dia menatap Bagas datar. “Dari tadi tanggapan mas Bagas bagus semua. Yang mana donk yang paling bagus?” “Bagus semauanya. Mas bingung milihnya. Ya yang paling kamu suka yang mana?” Derra mengerucutkan bibirnya. Dia menenteng sepasang sepatu pilihannya dan memberikannya pada pramuniaga. Derra membayar sepatu itu di kasir. Bagas menggeleng saat tahu harganya mencapai puluhan juta. Derra cukup tahu diri dengan tidak pernah me

