"Sarapan di sini Kay, bareng kita, yuk!"
"Trimakasih, Bu. Saya sarapan di belakang aja. Tadi saya ada titip minta dibelikan nasi uduk sama Mang Edi, udah disiapin Mbok Icih, katanya." tolak Kayla kesekian kali saat Danti mengajaknya sarapan di ruang makan bersama anggota keluarga yang lain.
Tiga tahun terakhir, Kayla memang sering datang dan menginap di rumah keluarga Pramadana, terutama setiap kali keluarga itu mengadakan acara, baik itu acara keluarga, jamuan kolega ataupun kegiatan sosial.
Kayla selalu mendapat kepercayaan untuk mengawasi jalannya acara sekaligus menemani Elnara, agar terhindar dari pertanyaan ataupun komentar unfaedah tentang kehamilan dan rumah tangganya.
Namun, seberapa seringpun Kayla menginap disana, ia selalu menolak untuk diajak makan bersama di ruang makan keluarga. Biar bagaimanapun Kayla tahu diri, dia bukanlah siapa-siapa, posisinya sama dengan para asisten rumah tangga di rumah megah itu, sama-sama pekerja, sama-sama makan gaji.
Menu sarapan pagi di rumah ini juga jauh dari seleranya yang terbiasa diisi nasi. Walau tersedia beberapa pilihan, seperti roti tawar dengan berbagai rasa selai, sandwich dengan keju dan daging asap, croissants dan tak lupa omelet. Namun tetap saja tak sesuai dengan perutnya. Bagi Kayla, makanan seperti itu, akan membuatnya lapar sebelum waktunya makan siang.
---
Kayla tengah menikmati sarapan nasi uduknya yang tersisa dua suapan lagi saat pesawat interkom di dapur berbunyi. Lili, anak Mbok Icih segera mengangkat dan menyambut permintaan dari rumah utama.
"Mba Kayla, kalau sudah selesai sarapan, dipanggil nyonya ke ruang perpustakaan." Ucapnya sopan pada Kayla setelah meletakkan kembali gagang telpon interkom ketempatnya semula.
"Ada apa?" tanya Kayla pada Lili. Yang dijawab Lili dengan cengiran dan gelengan kepala.
Kayla pun segera menyudahi sarapannya dengan segera. Ditenggaknya isi cangkirnya hingga kosong. "Li, tolong dicuciin ya. Mba buru-buru mau ke dalam." Ujarnya cepat sambil menumpuk piring dan cangkir bekasnya sarapan di pinggir bak cuci piring. Lili tertawa melihat Kayla yang terburu hingga meneteskan sedikit teh manis di kemejanya, kemudian heboh mencari tissue untuk mengeringkannya.
Panggilan untuk datang ke ruang perpustakaan biasanya untuk membicarakan hal yang serius dan melibatkan tak hanya Danti seorang, biasanya akan ada Big Boss yang akan ikut bicara, Tuan Arkasatya Pramadana.
Kayla mengetuk pelan pintu perpustakaan yang sedikit renggang. Setelah mendengar sahutan pelan dari dalam, ia membuka pintu itu sedikit lebar agar ia bisa masuk.
"Masuk, Kay. Tutup pintunya." Ujar Danti menyunggingkan senyum. Kayla membalas senyum sambil mengangguk.
Danti duduk dengan anggun di ujung sofa panjang yang terdapat lampu baca di sampingnya. Sedangkan Arkasatya bersandar santai di single sofa di samping Danti.
"Duduk sini dekat ibu."
Kayla mengangguk lagi. Ia tengah gugup saat ini, firasatnya tidak enak.
"Begini Kayla..., ibu sama Bapak mau ngobrol sama kamu, boleh, kan?"
"Boleh, Bu!" Jawabnya sopan sambil menyunggingkan senyum.
"Baik. Kalau begitu, saya mau tanya sama kamu, kamu ... sudah punya pacar, atau calon suami?" tanya Danti langsung ke intinya.
Kayla berjengit, sedikit terkejut. Tak pernah terbayangkan olehnya akan mendapat pertanyaan mengenai hal ini dari seorang Danti.
"Saya_, saya belum kepikiran mau cari pacar, Bu." Jawabnya sambil menatap mata Danti sesaat sebelum mengalihkan pandangannya ke lantai.
Danti menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang mendengar jawaban Kayla.
"Kamu tau, Kay, selama ini saya menganggap kamu lebih dari sekedar sekertaris Bapak ataupun Amar di kantor. Kamu sudah seperti keluarga, seperti keponakan bagi saya. Kamu tau?" Danti menangkup punggung tangan Kayla yang berada dipangkuan gadis itu.
"Saya tau, Bu. Dan saya sangat berterima kasih atas penerimaan Bapak dan Ibu sekeluarga terhadap saya dan adik saya." Kayla menjawab sambil menunduk khidmat sesaat kepada Arkasatya yang sedaritadi hanya mendengarkan saja.
Danti tersenyum lagi sembari meremas lembut tangan Kayla dan kini membawanya kepangkuan Danti. Tiba-tiba Kayla merasa lebih was-was sekarang, menanti kalimat selanjutnya yang akan Danti ucapkan.
"Sekarang, kalau saya mau minta sama kamu, kamu akan beri?"
"Ibu mau minta apa dari saya?"
"Kamu akan beri?" tanya Danti sekali lagi.
"Iya, saya akan beri," jawab Kayla cepat dan yakin. Ia merasa kehidupannya telah sangat terbantu oleh keluarga ini, maka bila ini saatnya ia bisa sedikit saja membalas kebaikan mereka, kenapa tidak?
Sekali lagi Danti tersenyum lega. Ditatapnya serius wajah Kayla yang saat ini juga tengah memandang lurus ke dalam manik matanya.
"Saya mau ... meminta kamu, menjadi menantu saya. Menantu kami, tepatnya. Menjadi pasangan hidup Agastya Pramadana. Apa kamu bersedia?"
Kayla terkesiap, pikirannya tiba-tiba blank, kosong. Matanya menatap tak percaya pada Danti dan Arkasatya bergantian.
"Ibu bercanda, kan?" tanyanya pelan demi meyakinkan dirinya.
"Saya serius, Kayla. Ini bukan hal yang bisa dibercandain."
"Tapi ..., apa Ibu dan Bapak, tidak salah pilih? Kayla gak pantas untuk Mas Aga, Bu. Kayla bukan siapa-siapa. Kayla gak sebanding dalam hal apapun dengan Mas Aga. Kami bagaikan bumi dan langit." ucap Kayla gelisah, ia sampai melupakan bahasa formalnya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Saya sudah nyaman dengan kamu Kayla. Bukan hanya saya, tapi juga keluarga ini."
"Maafin Kayla, Bu. Bukan Kayla membantah Ibu, tapi yang akan menjalani rumah tangga nanti Mas Aga, Bu. Walau Ibu dan keluarga bisa menerima dan bisa nyaman dengan Kayla, tapi Mas Aga belum tentu." Air matanya lolos dari pelupuk kedua matanya. Ia takut jika Danti benar-benar memaksanya menerima lamaran ini. Karena sudah bisa dipastikan, Kayla tak akan mampu menolak dan mengecewakan Danti.
Danti menghapus air mata yang mengalir di pipi Kayla sambil terkekeh geli. "Kenapa kamu sampai menangis begini? Saya gak akan memaksa kamu, kalau kamu gak mau, Kay." Danti menghela nafas pelan. "Entah kenapa, saya memang sudah lama berniat menjodohkan kamu dengan Aga. Walaupun kalian jarang berinteraksi berdua, namun firasat saya, kalian itu bisa sangat serasi bila disandingkan.
"Saya tidak pernah memandang seseorang dari status sosialnya atau jenjang pendidikannya. Kalau saya suka, ya suka. Meski dia mantan bajing*n sekalipun. Kamu tau kan, saya terbiasa membaca karakter orang. Dan saya yakin 95% karakter kamu dan Aga cocok.
Saya sudah menyampaikan pada Aga tentang keinginan saya ini. Dan dia meminta waktu untuk berpikir. Jadi, supaya adil, saya juga akan memberi waktu untuk kamu berpikir."
"Mas Aga, udah tau niat Ibu?" tanya Kayla mencicit. Danti mengangguk, senyuman masih terpampang di wajahnya
Kayla memejam sesaat. Menahan semua gejolak di dalam dirinya.
Malu. Itu rasa pertama yang langsung terlintas di kepalanya. Mau di letak di mana wajahnya nanti saat bertemu dengan Aga. Walaupun bukan Kayla yang menginginkan perjodohan ini, namun tetap saja tak terbayangkan bagaimana perasaan Aga padanya.
Bagaimana kalau Aga menganggap Kayla memanfaatkan perjodohan ini demi kepentingan pribadi? Memperkaya diri, misalnya. Menaikkan status sosial atau segala pikiran negatif lainnya? Kayla bergidik memikirkannya. Kayla tidak serendah itu.
Kayla tak mungkin menolak keinginan Danti dan takkan bisa, itu sudah pasti. Walaupun Danti mengatakan tidak memaksa, dan memberi waktu untuk berpikir, tapi Kayla yakin, Danti bahkan sudah membayangkan hotel mana yang akan menjadi tempat resepsi pernikahan mereka nanti.
Remasan di tangan Kayla membawanya kembali dari lamunan. Menatap lemah pada wajah Danti dan kemudian beralih kepada Arkasatya dan kembali lagi pada Danti. "Baik Bu, akan saya pikirkan."
"Alhamdulillah," ucapan Danti terdengar lega. "Satu hal lagi, Kayla, apapun keputusan kamu, tidak akan mempengaruhi karir kamu. Kamu akan tetap bekerja sebagaimana biasa. Sampai kamu sendiri yang akan memutuskan."
Kayla tersenyum lemah dan mengangguk. "Apa_, sekarang saya sudah boleh keluar, Bu? Atau masih ada yang ingin Ibu sampaikan?"
"Pi ...." Pintu ruang perpustakaan tiba-tiba dibuka dari luar. Ketiga orang yang berada di dalam perpustakaan sontak menoleh ke arah suara. Tampak Agastya berdiri di ambang pintu menatap ketiganya bergantian dengan wajah sedikit terkejut. Pandangan Agastya berakhir pada Kayla yang sesaat tadi bersitatap dengannya namun perempuan itu segera menunduk.
.
.
** Yang senang dengan ceritanya, jangan lupa vote Love dan komen ya. Terima kasih.