"Saya antar." ucap Agastya sambil bangkit dari sofa saat Kayla meminta izin untuk pulang kepada Danti dan Arkasatya, yang kebetulan ada Agastya juga disana.
Awalnya Kayla gigih menolak, namun titah Arkasatya yang meminta Kayla untuk menerima tawaran Agastya tak mungkin dibantahnya.
Sudut bibir Danti melengkung sempurna sambil meliri ke arah Arkasatya. Ia dan suaminya kemudian menyusul Kayla ke ambang pintu.
"Gak makan siang disini dulu, Kay?" lengannya lembut menyentuh lengan Kayla yang berbalut kaos oversize lengan panjang.
Kayla mengangguk sopan namun menolak dengan halus. Ia beralasan, Enda, adiknya, mengajaknya untuk makan siang berdua.
"Ya sudah, salam untuk Enda. Kapan-kapan ajak dia datang kalau kita lagi bikin acara, Kay. Biar menambah luas wawasan pergaulannya. Bertemu dengan banyak orang sukses, mungkin bisa meningkatkan motivasi hidupnya lebih tinggi. Dia pintar, saya senang diskusi strategi ekonomi dengan dia. Sayang, kalau cuma berakhir jadi dosen." Ujar Arkasatya dengan wajah yang serius. Kayla mengangguk paham dan tersenyum sambil mencium punggung tangan Arka dan Danti bergantian untuk berpamitan.
Arkasatya, walaupun kelihatannya biasa saja menanggapi perjodohan si bungsunya dengan Kayla, sesungguhnya juga sangat mengharapkan hal tersebut terwujud. Sejak lama ia sudah mengagumi semangat juang Kayla dalam membesarkan adiknya, menyekolahkannya hingga sekarang ke jenjang S2.
"She's one of a kind, Mi. Papi gak akan ragu ngasi dia pegang salah satu cabang walaupun dia cuma punya pengalaman sekertaris. She's very loyal and competent. She's a quick learner too.
"Papi butuh setidaknya empat orang kaki tangan untuk mengawasi jalannya perusahaan kalau nanti papi pensiun total. Kayla adalah salah seorang harapan papi, Enda yang ke empat jika kita beruntung." Kekeh Arkasatya sambil berjalan ke arah kamar tidurnya, merangkul sayang bahu Danti yang ikut mengamini harapan suaminya.
"Dan yang pasti, Kayla itu idaman para ibu mertua, Pi. Pintar masak, pintar ngurus rumah, sayang sama keluarga," Danti membuka pintu kamar tidurnya dan melangkah masuk lebih dulu. "Kita sudah punya menantu tipe princess, lemah lembut seperti Elna, sekarang mami pengin yang tipe wonder women, cantik tapi tangguh dan serba bisa seperti Kayla." Giliran Danti yang kini terkekeh pelan.
Arkasatya meraih tangan Danti, membuatnya berhenti melangkah. Kemudian mendekatinya dan menangkup wajahnya.
"Cantik dan tangguh seperti kamu," ucapnya kemudian sembari mengecup kening Danti dengan lembut. "Kita doakan yang terbaik untuk Aga dan Kayla. Semoga mereka memang berjodoh." imbuhnya lagi.
---
"Rumah saya, belok ke kanan tadi, Mas." Ucap Kayla pelan setelah lebih dari sepuluh menit perjalanan tanpa ada suara sedikitpun.
"Kita ngopi dulu. Banyak yang harus kita bicarakan."
"Tapi..., saya sudah janji dengan Enda untuk makan siang bareng__"
"Jam duabelas saya pastikan kamu sudah ada di rumah." potongnya cepat tak bisa dibantah.
Kayla hanya bisa mengangguk pasrah. Telapak tangannya sudah berkeringat saking gugupnya. Dia sadar betul apa yang akan dibicarakan Agastya kepadanya nanti. Dia bahkan bersiap-siap jika nanti Agastya menudingnya mencari kesempatan dalam rencana perjodohan ini.
Setelah sekian menit berkendara, akhirnya Agastya menghentikan mobilnya diparkiran salah satu kafe yang cukup ternama di kota itu. Memerintahkan Kayla untuk turun mengikutinya.
Mengambil tempat duduk sedikit di pojok agar perbincangan mereka tak terganggu, Agastya kemudian memanggil pelayan dan menyebutkan pesanannya, lantas meminta Kayla melakukan hal yang sama.
"So, Kayla. We both know about my mom's idea. Saya ingin tau pendapatmu."
Ucapan Agastya setelah sekian menit saling berdiam diri, dan yang tanpa basa basi membuat Kayla sedikit berjengit. Dipandangnya lurus mata Agastya yang juga tengah menatapnya fokus. Tidak ada ekspresi yang terbaca, wajah itu terlihat santai, cenderung datar. Kayla melepaskan nafasnya yang sesaat tadi ternyata dia tahan. Menelan ludahnya susah payah sebelum menjawab.
"Bu Danti memberi saya waktu untuk berfikir."
"Baiklah, sebagai bahan pertimbangan kamu, saya akan menjelaskan pandangan saya terhadap pernikahan dan perjodohan ini." Agastya menjeda kalimatnya saat pelayan datang membawa pesanan mereka.
"Saya bukan laki-laki yang anti komitmen, hanya saja, saya memang dengan sengaja menghindari komitmen.
"Saat ini saya sangat menikmati hidup saya, kebebasan saya. Saya bahagia. Jadi, saya merasa untuk apa saya merepotkan diri dengan harus memiliki pasangan, istri, pendamping atau apalah itu istilahnya.
"Saya punya sahabat, Amar dan Papi untuk sharing problems tentang pekerjaan. Dan saya punya orang tua dan keluarga untuk berbagi masalah yang sifatnya pribadi. Mereka akan menerima saya apa adanya. They will understand me and never reject me, andai pun saya suatu waktu menyakiti mereka, mereka tak akan pernah kehabisan maaf untuk saya.
"Berbeda dengan pasangan, istri atau apalah istilahnya. Mereka akan selalu menuntut saya melakukan ini itu. Harus menuruti keinginan mereka, walaupun saya tidak suka. Berakhir dengan marah-marah bila sesuatu tak berjalan sesuai dengan keinginan mereka. Tidak perduli saya lelah atau pusing karena pekerjaan, mereka tetap ingin kita fokus pada mereka. Dan menjadikan kata putus ataupun cerai sebagai ancaman mereka.
"Rasanya hidup saya terlalu berharga untuk dirusak dengan hal-hal menyebalkan seperti itu." Agastya mengungkapkan semua pendapatnya tetap dengan wajah datar, sesekali matanya mengarah pada Kayla yang serius mendengarkan sambil sesekali menyesap kopi panasnya.
Sedikit banyak Kayla membenarkan pandangan Agastya tentang kehidupan pernikahan. Karena dalam kehidupan nyata banyak temannya yang mengalami hal yang sama, walau tak sedikit juga yang berhasil dan hidup bahagia.
Namun bagi Kayla, suatu saat dia tetap ingin merasakan jatuh cinta, dicintai, menikah dan memiliki keluarga seperti ayah dan ibunya dulu. Dimana dirinya dan Enda merasa sangat bahagia, karena mendapatkan limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ia juga ingin memilikinya sendiri.
Alasan Kayla belum menikah sampai saat ini jelas berbeda dengan Agastya. Awal dulu, Kayla menunda karena ingin fokus mencari uang untuk menyekolahkan Enda setinggi-tingginya, tidak ada waktu untuk kencan apa lagi berpacaran.
Sekarang, akibat terlalu menikmati karirnya, ia pun melupakan kehidupan pribadinya. Bahkan menurut Wulan, salah satu sahabatnya di kantor, karir Kayla yang cemerlang ditambah sifat tegas dan cenderung jutek nya membuat banyak pria sudah minder duluan sebelum mendekatinya.
'Minimal manager deh, yang berani deketin lo!' Demikian ucap Wulan kala itu.
Agastya berdehem, membuyarkan lamunan Kayla. Matanya yang sedari tadi memandangi cangkir kopinya terangkat menuju manik mata Agastya yang memandangnya serius.
"Saya mencintai Mami saya, tujuan hidup saya adalah melihatnya selalu bahagia. Seumur hidup saya, saya belum pernah menolak apapun permintaannya. Dan tak akan memulainya dikarenakan masalah ini.
"Walau saya meminta waktu kepadanya untuk berpikir dan berkata akan mencari calon istri yang sesuai keinginan saya sendiri dalam waktu satu bulan, tapi saya sudah tau jawaban saya untuk beliau nanti. Saya akan menerima perjodohan ini, demi Mami saya."
Kayla membulatkan matanya saat mendengar Agastya akan menerima perjodohan ini, meskipun itu demi Maminya.
"Jadi, seandainya kamu, keberatan dan berencana ingin menolak, jangan sungkan, saya bahkan akan sangat bersyukur dan berterimakasih jika kamu bisa menghentikan perjodohan ini."
Kayla memejamkan matanya demi menahan gejolak kesal dihatinya. Agastya menempatkannya pada posisi yang sulit. Menerima perjodohan berarti menjerumuskan dirinya sendiri kedalam sandiwara tak berkesudahan. Menolak, berarti mengecewakan Danti dan Arkasatya, yang mana itu adalah hal yang paling ia hindari.
"Maaf ya, Mas. Saya juga tidak bisa menolak keinginan Bu Danti dan Pak Arka. Saya banyak berhutang budi pada mereka. Jadi, walaupun dengan berat hati, saya juga akan menerima perjodohan ini."
Sekarang giliran Agastya yang menatap tajam pada Kayla. Tak menyembunyikan kekesalannya. Bagaimana perempuan didepannya ini, bisa cepat saja mengambil keputusan, padahal dia telah panjang lebar mengungkapkan keengganannya untuk menikah.
Bagaimana perempuan didepannya ini, bisa begitu saja menerima pernikahan tanpa cinta demi membalas budi. Bukankah setiap perempuan di belahan dunia manapun, menginginkan pernikahan yang sempurna, yang terdapat cinta dan kasih sayang di dalamnya?
"Sebaiknya, waktu satu bulan yang diberikan Ibu kepada Mas itu, Mas gunakan untuk mencari calon menantu lain untuk Ibu, yang lebih sesuai dengan kriteria yang Mas inginkan. Mungkin saja Ibu cocok." Kayla memberikan pendapatnya tanpa berani menoleh ke arah Agastya.
"Kamu gak paham yang saya katakan panjang lebar dari tadi? Ini tidak ada hubungan dengan sesuai tidaknya kepribadian kamu atau kriteria kamu dengan saya." Agastya mengetatkan rahangnya sambil berbicara.
"Saya paham. Maksud saya, setidaknya Mas menikah dengan orang yang Mas sukai, ada kecocokannya, begitu. Mungkin seiring waktu bisa saling mencintai. Mas bahagia, Ibu senang, saya pun tenang." ucap Kayla tak mau mundur, ia mengangkat wajahnya menatap Agastya.
"Jadi, menurut kamu, seandainya kita berdua yang menikah, kamu yakin, kita tidak akan bisa saling mencintai seiring waktu, begitu?"
"Ha? Eh_, ya_, gak tau_, juga_, sih!" terbata-bata Kayla menjawab pertanyaan Agastya yang mengejutkannya. Ia menunduk, tak berani menatap mata Agastya lagi.
Agastya mendapati semburat rona merah di pipi Kayla sesaat sebelum perempuan itu kembali menundukkan wajahnya. Agastya menarik nafas dalam, menenangkan emosinya yang sedikit tersulut tadi.
Kayla, selain sifat keras kepala nya, menurut Agastya, sebenarnya cukup menarik. Apalagi suaranya, Agastya entah mengapa, menyukai suara Kayla yang sebenarnya sedikit cempreng dan manja itu, seperti suara anak usia belasan tahun. Apalagi yang saat Agastya dengar di dapur, saat Kayla terkena air panas. Tapi sayangnya, saat mode keras kepala begini, suara cempreng Kayla hanya akan membuat kepala Agastya bertambah migraine.
Agastya memandangi Kayla didepannya yang masih tertunduk, memainkan cangkir kopi nya yang sudah tersisa setengahnya. Agastya sudah pasrah, jika ia memang harus menikahi Kayla, ingatkan dia untuk membuat perjanjian pra-nikah.
Agastya menghembuskan nafas kasar sebelum berucap,
"Alright then, sejauh ini kita sepakat untuk menerima perjodohan ini, kan?" Kayla menatap Agastya sambil mengangguk tipis. "Namun biarkan satu bulan ini berjalan sebagaimana mestinya. Anything can happen in one month. Mami akan menerima jawaban pada saatnya nanti.
"Tapi, saya minta sama kamu untuk tetap mencari jalan lain agar pejodohan ini batal."
Kayla menatap Agastya dengan mata memicing.
"Kenapa gak Mas aja?"
"Okay, sama-sama!" Ketus Agastya kesal yang dibalas Kayla dengan memanyunkan bibirnya.
'Memangnya cuma dia yang bisa nyebelin!'
"Udah selesai, kan? Saya mau pulang." Kayla bangkit dari kursinya sambil menyelempangkan sling bag nya.
Agastya berdecak kesal, namun segera mengikuti langkah Kayla menuju pintu keluar setelah meletakkan selembar uang pecahan seratus ribu di atas meja.