7. Percuma

1963 Words
"Alamat kamu?" "Jalan Kemangi no.5" Kayla menjawab tanpa menoleh. Matanya mengarah pada ramainya pesepeda motor yang sedang memarkirkan kendaraannya di atas trotoar. "Ck!" decaknya kemudian. "Kenapa?" "Ha?" "Kamu! Berdecak, kenapa?" "Gakpapa." "Kaylaa ...." "Ish, itu lho! Sepeda motor, pada parkir di trotoar, kan, ganggu yang jalan kaki. Satpol PP kemana? Dishub, polisi? Kalau dibiarin, lama-lama sepanjang jalan ini, trotoarnya bakal jadi parkiran motor." "Ooh, mungkin karena ini hari minggu. Setiap hari minggu kan gereja di situ selalu ramai dari pagi sampai malam." Agastya menoleh ke arah trotoar yang dimaksud Kayla. Kayla menerima saja pendapat Agastya, ia enggan mendebatnya. Pikirannya masih berkutat seputar pejodohan dan pembicaraan mereka tadi. Sebulan itu waktu yang singkat, apalagi yang bekerja seperti dirinya, sibuk seharian, setiap hari. Bagaimana sempat memikirkan jalan keluar untuk menghindari perjodohan ini. "Masukin nomor ponsel kamu di sini," perintah Agastya mengejutkannya. Kayla meraih dan mengetikkan nama dan nomornya di phone book ponsel Agastya. Kemudian menyerahkannya kembali. "Itu nomor saya. Kamu bisa hubungi saya kalau ada yang penting," ucap Agastya saat Kayla merasa ponselnya bergetar di dalam sling bag nya. Kayla mengangguk, lantas mengeluarkan ponselnya untuk menyimpan nomor Agastya. "Nanti sore, saya balik ke London." "Hmm." Agastya menoleh kearah Kayla yang hanya merespon kalimatnya dengan gumaman saja, kemudian mendengus pelan. 'What ever.' Kayla tahu, Agastya menoleh padanya sesaat tadi, mungkin karena respons yang diberikannya. 'So what?' memangnya Kayla harus bereaksi seperti apa? "Yang mana rumahnya?" tanya Agastya setelah mobilnya mulai menyusuri jalan Kemangi. Kayla segera memberikan petunjuk arah, dan sesaat kemudian mereka sampai di depan pagar rumah sederhana bercat abu-abu. Agastya menatap rumah berdesain vintage yang cukup rapi dan terawat itu. Membiarkan Kayla turun dari mobil dan mengeluarkan travel bag mini nya dari kursi penumpang belakang. Kayla mengetuk jendela kursi penumpang bagian depan. Agastya membukanya. "Makasi udah nganterin ya, Mas. Hati-hati nyetirnya, save flight juga nanti." Agastya menyunggingkan sedikit senyum sebelum menjawab, "Thanks, Kayla." Kemudian Kayla melanjutkan langkahnya, membuka pagar dan langsung masuk ke dalam rumah yang pintunya tampak terbuka. Agastya menunggu Kayla sampai menghilang masuk ke dalam rumah, baru setelahnya dia melanjutkan perjalanannya. --- "Kamu, hari ini ada acara sepulang kantor, Kay?" Amartya menghubungi Kayla melalui telpon PABX di mejanya. "Tidak ada, Pak." "Sudah selesai belom, kerjaan kamu?" "Sudah, Pak. Tinggal nunggu perintah Bapak selanjutnya aja." "Kalau begitu, kamu pulang duluan, langsung ke rumah mami. Temui Elna, dari tadi pagi mood nya jelek banget. Kalau saya yang bujuk, yang ada, ujungnya bertengkar lagi. Tolong cari tau apa masalahnya. Kamu bisa?" "Bisa, Pak. Kalau begitu saya jalan sekarang." "Ya. Thanks Kayla." Sudah sembilan hari sejak acara anniversary di rumah keluarga Pramadana, Kayla belum pernah singgah lagi. Sore ini ia mendapat amanat untuk menenangkan Elna yang tengah gusar. Seperti biasa, rumah megah bagaikan istana itu tampak sunyi, tak ada suara apapun kecuali detik jam hias kayu jati besar yang terletak di pojok ruang tamu. Kayla sengaja menemui Mbok Icih terlebih dahulu sekedar mengabarkan keberadaannya, karena Mbo Icih itu ibarat kepala pelayan di rumah itu, sesuai dengan usia dan lama dia bekerja dengan keluarga Pramadana, apa-apa yang berlangsung di rumah itu, ia wajib tahu. Setelah menemui Mbok Icih, Kayla segera menaiki tangga, menuju kamar Elnara. Ia mengetuk pelan kamar berpintu abu-abu itu. Sudah hampir satu menit, tidak ada jawaban. Kayla mengetuk kembali dengan sedikit kuat, mungkin saja Elna sedang tidur atau tidak dengar karena sedang berada di kamar mandi. Benar saja, tak sampai satu menit, pintu di hadapannya terbuka. Tampak Elna dengan mata sembab dan hidung memerah habis menangis. "Kenapa?" Kayla langsung saja bertanya tanpa basa basi. "Kamu tau, Sally kan, anaknya Tante Grace, yang dulu ngebet banget sama Aga?" Kayla mengangguk. "Nah, kita kan satu grup arisan tuh, jadi, kita lagi ngobrol seru di grup chat Wa, ada salah satu member yang baru sebar berita gembira kalau dia hamil, anak pertama setelah menunggu setahun, jelas kita pada senang dan ucapin dia selamat. "Tiba-tiba aja, si Sally ini ngomong dan nanya ke aku, kapan giliran aku hamil, jangan keburu suami cari ladang baru, gitu bunyi chat dia di grup, kan, aku malu, Kay." Air matanya mulai kembali mengalir. "Jahat banget sih, mulutnya. Aku gak tau dia becanda atau apa, entah kalau dia lagi mabok, aku juga gak tau, yang pasti temen-temen di grup itu juga udah negur dia, tapi dia santai aja." Elna menghapus airmatanya yang menganak sungai. Kayla mendekatkan kotak tissue kepada Elna. Ia mengerti kesedihan Elna. Memang tak sepantasnya seseorang mengolok kelemahan orang lain, apa lagi dari orang yang katanya high class, berpendidikan tinggi namun kenyataannya bermulut sampah. "Mba Elna yang sabar ya. Gak usah dipikirin omongannya. Dia sendiri nikah aja belom, udah sok mau komentarin hidup orang. Semoga aja dia gak kena karmanya." Kayla mencoba membesarkan hati Elna. "Kay, kamu sahabat aku, kan?" Kayla mengangguk pasti. "Kamu mau bantu aku?" Kayla mengangguk lagi sambil tersenyum. Elnara si anak tunggal yang manja tapi baik hati. Rasanya Kayla tak sampai hati untuk menolak apapun permintaannya. Elnara meraih tangan Kayla dan membawanya kepangkuannya. "Kay, kamu mau ya, jadi istri ke dua Mas Amar." 'Ha?' Kayla mengernyitkan alisnya tak paham. "Mba bilang apa barusan?" Dia yakin telinganya tak salah dengar. Tapi untuk meyakinkan kesadaran Elna saat mengucapkannya, rasanya perlu dipertanyakan ulang. "Kay, aku tau Mas Amar pingin punya anak. Aku juga, sangat ingin, bahkan. Tapi aku masih saja gemetar bila ingat kejadian kegugurannku yang lalu. Rasanya aku ..., aku bisa mati bila kejadian itu sampai terulang lagi. Please Kay, aku pasti bisa bertahan bila perempuan itu kamu. Kamu udah seperti adik aku, aku yakin, kamu gak akan nyakitin aku seperti istri-istri kedua di film-film itu," ucapnya lagi sambil terus menggenggam jemari Kayla. Kayla menatap lurus manik mata Elnara. Ini adalah ide tergila Elna yang pernah ia dengar sejak mereka berteman. Komentar Sally pasti sudah meracun otaknya. Ada apa dengan keluarga ini, Nyonya besar ingin menjodohkan dia dengan putra bungsunya, sementara sang menantu ingin menjodohkan dirinya dengan sang suami, si putra sulung. 'Arrghh ... Apa mereka pikir, perempuan single cuma gue di muka bumi ini? Apa mereka pikir, gue gak punya angan-angan sendiri tentang masa depan gue?' "Mba, Mas Amar itu sayang banget sama Mba. Dia gak akan mau menduakan Mba dengan perempuan manapun. Masalah anak, coba Mba lanjutin lagi terapi trauma healing kemarin yang cuma setengah Mba jalani, in sha Allah gak ada usaha yang sia-sia, Mba. Hilangkan dulu traumanya, minum pil kontrasepsinya juga di stop. Usaha Mba belum maksimal menurut aku. Percaya deh, dengan keluarga Pramadana dan aku sebagai support system nya Mba, kali ini kita bakal lebih siap, lebih prepare, in sha Allah, semua akan berjalan lancar. Okay?" Kayla sekuat tenaga menahan nada kesal dalam suaranya. Elnara kembali terisak. "Percayalah Mba, apapun sugesti yang Mba yakini, bakalan bisa kuat saat melihat Mas Amar bersama perempuan lain, is a bull s**t! Ups, pardon me ...." Kayla meringis, buru-buru minta maaf. Elnara sedikit tersenyum di sela isaknya saat Kayla memukul pelan bibirnya sendiri. "Makanya, mungkin kalau perempuan itu kamu, aku gak akan sesakit itu." Kukuhnya lagi. "Gak akan, Mba. Aku sayang kalian berdua. Gak mungkin hal seperti itu akan aku lakukan, itu akan nyakitin kita berdua. Mba pasti bisa kali ini. Yakin dan percaya sama Allah, minta sama Allah, ya." Tuntas Kayla sambil memeluk Elna, memberinya kekuatan. Tepat jam delapan malam, Kayla menghempaskan tubuh lelahnya di atas kasur. Kasur di kamarnya sendiri, di rumah sederhana milik orang tuanya yang entah bagaimana selalu terasa sejuk dan menenangkan. Ia masih kepikiran dengan ide tak masuk akal Elnara tadi sore. Untung saja Elnara mengakui kekhilafannya dan meminta agar Kayla tak menceritakannya pada Danti apalagi Amartya. Ia juga berjanji tak akan memaksa Kayla untuk menikah dengan Amartya lagi. Tapi... Elnara adalah perempuan terlabil yang pernah Kayla temui, jadi bisa saja sewaktu-waktu ia kembali melancarkan ide absurd nya itu. Hampir tiga puluh menit Kayla menatap langit-langit kamarnya, pikirannya terus berputar mencari celah untuk menolak permintaan Elna, seandainya perempuan itu benar-benar melancarkan aksinya, namun tetap saja buntu. Dia harus memiliki seseorang untuk dijadikan sekutu dalam penolakannya. Tak mungkin Danti ataupun Amar. Seketika pikirannya tertuju pada Agastya. Pria ini tak termasuk dalam janjinya dengan Elna, mungkin dia mau menolong Kayla, bukan kah mereka sudah dijodohkan Danti? Biar saja seandainya Aga menyampaikannya pada Danti atau Amar, yang penting bukan Kayla. Tuuut... Tuuut Bunyi nada panggil di ponsel Kayla terus berbunyi sampai akhirnya berhenti sendiri karena tak kunjung di angkat. 'Ish, kemana sih, ditelpon gak ngangkat.' Kayla meremas rambutnya gemas. Pengin menghubungi kembali, tapi takut kalau malah menggangu. Akhirnya Kayla hanya bisa pasrah menunggu Agastya yang menelponnya kembali karena saat ini sudah sekitar pukul dua siang di London sana, mungkin saja dia masih makan siang bersama dengan koleganya atau sedang hectic di kerjaan. Sudah sepuluh menit menunggu, Kayla memutuskan untuk membersihkan diri dan beraganti pakaian tidur. Matanya sudah mulai terasa berat. --- Agastya merasakan getar ponsel di saku dalam jas kerjanya. Meliriknya sebentar, ada nama Kayla tertera disana. Namun ia dalam kondisi menyetir dan bluetooth handsfree nya sedang tak terbawa, akhirnya ia membiarkan panggilan itu berakhir sendiri dan akan membalas menelponnya kembali nanti. Sesampainya di kantor, Agastya segera menghubungi ponsel Kayla. Ia merasa sedikit khawatir saat ini, karena tak mungkin seorang Kayla iseng-iseng saja menghubunginya, pasti sesuatu hal yang dirasa penting. Ini sudah panggilan ke dua, dan Kayla belum juga mengangkat ponselnya. Diliriknya jam tangannya, pukul 21.20 di Jakarta. 'apa mungkin ni anak udah tidur ya?' Monolognya dalam hati. Dicobanya sekali lagi memanggil dan untuk yang terakhir, demi memastikan. --- Tepat saat Kayla keluar dari kamar mandi, suara dering ponselnya terdengar nyaring memanggil. Kayla segera melompat ke atas tempat tidur, menjangkau ponselnya yang berada sedikit jauh mendekati headboard. "Halo...." ["Akhirnya! kemana aja ditelepon sampai tiga kali baru dijawab"] "Sorry, aku baru selesai dari kamar mandi." Kayla bangkit dari kasur, meletakkan ponselnya di meja rias dan mengaktifkan speaker nya. Ia akan berpakaian sambil berbicara dengan Agastya. "Mas sibuk gak? Ada yang mau aku omongin dikit." ["Gak terlalu sibuk, ngomong aja."] "Maaf ya, Mas, kalau ini ternyata gak Mas anggap penting, tapi ini penting buat aku." Kayla menjeda kalimatnya, menunggu tanggapan dari Agastya, yang ternyata dibalas dengan gumaman saja. Kayla menelan sepat salivanya. "Mba Elnara hari ini mengungkapkan idenya kepada saya, Mas. Dia ingin saya menjadi istri ke dua Mas Amar, demi keturunan." Kayla menjeda lagi kalimatnya, kali ini dia tidak mau menerima hanya sebuah gumaman. "Mas ...." ["Kamu serius, Elna bilang begitu?"] "Ya iya lah, masa aku bercandain hal begini. Cari ribut itu namanya." Kayla sedikit meninggikan suaranya. ["Hmm..., bagus dong, berarti aku terbebas dari perjodohan kita, kan?"] Terdengar kekehan Agastya di seberang sana. "Lebih baik aku jadi perawan tua dari pada jadi istri ke dua ya, Mas!" Kayla mendengus kesal Terdengar tawa Agastya kali ini. ["Jadi, kamu mau aku bagaimana?"] ucapnya lagi di sela tawanya. Sekuat tenaga Kayla menahan emosinya agar bicaranya tetap santun. "Aku juga gak tau, Mas. Aku tentu saja menolak ide nya itu, dengan berbagai alasan dan bukti nyata bahwa idenya itu cuma akan nyakitin diri dia. Sejauh ini dia sudah membatalkan niatnya, tapi aku kenal Mba Elna, dia bisa saja berubah pikiran sewaktu-waktu. Aku seratus kali lebih milih jadi istri yang gak dianggap dari pada ganggu rumah tangga orang. So, bantu mikir, Mas. Biar Mba Elna gak sampai melancarkan aksinya." pungkas Kayla. Di ujung sana, Agastya terdengar menghela napas. Sungguh dia tak masalah jika Kayla akan menikah dengan Amar, justru menurutnya itu ide yang cukup pintar dari Elna. Daripada menjadikan perempuan gak jelas sebagai istri ke dua Amar, Kayla adalah pilihan terbaik. ["Kalau dengan Amar, kamu gak akan menjadi istri yang gak dianggap."] "Kayaknya percuma ya, aku ngomongin ini sama Mas. Aku lebih baik resign dan pindah sejauh mungkin dari pada jalanin hidup seperti itu." Kayla memutus percakapannya tanpa menunggu jawaban dari Agastya dan memencet tombol flight mode di ponselnya. Di ujung telpon, Agastya menatap ponselnya yang sambungannya tiba-tiba diputus sepihak oleh Kayla.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD