"Pagi Kayla, thanks ya. Elna tadi malam bilang sama saya kalau dia mau mulai terapi lagi Senin depan. Saya yakin, itu pasti karena bujukan kamu." Amartya menghampiri meja kerja Kayla sesaat sebelum ia memasuki ruang kerjanya.
"Oh, anytime, Pak. Bu Elna hanya butuh teman bicara. Semoga niat beliau kali ini bisa terlaksana sampai sukses." Kayla menjawab santun.
"Aamiin. Oh iya, berkas untuk bahan meeting nanti kalau sudah ready, antar ke ruangan saya ya, biar saya baca dulu."
"Siap, Pak. Nanti saya antar."
---
"Sibuk gak, Lo?" Agastya menghubungi Amar tepat setelah Amar menyelesaikan makan siangnya.
"Gak juga, baru kelar lunch gue. Ada apa?"
"Begini, tadi malam Kayla nelpon gue_"
"Kalian, diam-diam udah pendekatan?" Potong Amar dengan nada bersemangat.
"Apa sih, Lo? Denger dulu gue ngomong." Agastya berdecak kesal.
Amar terkekeh pelan.
"Oke, oke, lanjutkan!"
"Tadi malam Kayla nelpon gue. Katanya, istri lo meminta dia agar mau menjadi istri ke dua lo, biar bisa ngasi lo anak, Mas."
"What? Sumpah, bercanda lo gak lucu, Ga!" Ganti Amar sekarang yang berdecak kesal.
"Ngapain gue bercanda hal beginian. Tanya Kayla kalau gak percaya deh. Dia juga gak mungkin berani ngomong asal," ketus Agastya tak terima dituduh bercanda.
"Tapi ..., tadi malam Elna baru bilang ke gue, kalau Senin nanti dia bakal mulai ikut terapi lagi."
"Ya, itu setelah Kayla ngebujuk dia untuk gak berpikiran yang aneh-aneh."
"Astagaa ..., benar-benar luar biasa jalan pikiran istri gue. Oke deh, Ga. Thanks info nya, gue mau bicara dengan Kayla dulu."
"Oke, bicara pelan-pelan juga dengan istri lo nanti. Jangan sampai dia malah ngebatalin rencana terapinya." Ujar Agastya mengingatkan.
"Pasti, Ga. By the way, Lo jangan tersinggung dengan ide istri gue. Kayla, walaupun sekertaris gue, gue gak pernah punya pikiran aneh-aneh ke dia. Udah gue anggap kayak adik , apalagi sejak mami berniat menjodohkan kalian."
"Lo ngomong apa sih, Mas. Gue belom ada rasa sama Kayla. Kalaupun kalian beneran menikah, gak masalah buat gue."
"Loh, bukannya lo udah iya-in keinginan Mami?"
"Gue gak bilang iya, gue minta waktu buat mikir, Kayla juga demikian. Kita gak tau kan, sebulan kedepan kayak apa, siapa tau Kayla menemukan jodohnya, trus dia nolak keinginan Mami. Selamat deh gue." Kekehan Agastya terdengar di telinga Amar.
"Lo masih yakin, gak bakal menikah?"
"Gak akan berubah!"
"Mau jadi apa, masa tua lo nanti?" Amar berdecak.
"Masukin aja gue ke panti jompo, beres, kan?"
"Suram banget pandangan lo tentang masa depan," Amar tak habis pikir dengan cara pandang adiknya itu. "Maafin gue."
"Bye."
---
"Mi ...."
"Amar? Baru nyampe? Elna pulang ke Thamrin, kan?" Danti menyambut putra sulungnya yang baru saja memasuki ruang perpustakaan, tempat Danti menghabiskan waktu selesai sholat Maghrib.
"Hmm ..., Ayah mana, Mi?"
"Barusan aja masuk ke toilet, mules katanya," Ringis Danti sambil menepuk pelan bagian kosong sofa yang didudukinya, meminta Amar duduk di dekatnya.
"Kusut banget mukanya, Mas? Ada masalah di kantor?"
"Gak, Mi, cuma capek aja," Amar melepas sepatunya kemudian merebahkan tubuhnya pada sofa panjang yang diduduki Danti, meletakkan kepalanya pada paha sang mami.
Danti membelai lembut rambut Amar dan sedikit memberi kepalanya pijitan ringan. "Jangan terlalu memforsir tubuh kamu. Istirahat kalau terasa sudah lelah. Kerjaan gak ada habisnya kalau gak kamu yang bikin batasan."
"Hmm ...," Amar bergumam sambil menikmati pijitan Danti.
"Calon mantu Mami, apakabar?"
"Kayla?"
"Ya iya, emang ada yang lain?" Danti mencubit hidung bangir Amar.
Amar terkekeh pelan, "Ini juga yang mau sekalian aku omongin ama Mami."
"Kenapa emangnya?"
"Mami tahu Kaivan, temennya Aga, yang sekarang pegang Utama Jaya?"
"Oh, anak sulung keluarga Hutama?" Amar mengangguk pelan.
"Kenapa dengan dia?" Sambung Danti.
"Dia sudah berkali-kali ajak Kayla lunch kalau kebetulan kita ketemu di meeting. Selama ini Kayla selalu nolak. Tapi tadi, Kayla menerima ajakannya. Apa kita harus waspada?" Amar kembali terkekeh mendengar kalimatnya sendiri.
"Mami tau Kaivan. Beberapa kali ketemu, dulu, waktu dia masih anak kuliahan, dia sering antar mamanya arisan. Anaknya baik, sopan, ganteng juga. Wajar kalau Kayla tertarik. Tapi jangan sampai mereka jadian dong, mami gak punya kandidat lain buat calon istri adikmu.
"Apa Mami yakin, Kayla bisa merubah pendirian Aga yang katanya ingin melajang seumur hidup itu?"
"Kalau merubah pendiriannya, sampai dia ikhlas mau menikah atas kemauan sendiri, Mami juga gak yakin, sih. Sepertinya, mau tidak mau, mami harus menikahkan mereka terlebih dahulu.
Kalau sudah menikah, mami punya firasat, setidaknya ada 80% kemungkinan, Kayla bisa pelan-pelan melelehkan hati beku adikmu itu."
"Semoga firasat Mami, gak meleset. Kasihan Kayla, Mi. Kita gak pantas menjadikan dia kelinci percobaan untuk merubah pendirian Aga."
"Amar!" Danti menepuk bahu Amar, tak terima. "Mami gak berniat menjadikannya kelinci percobaan, Mami yakin Kayla mampu. Mami sayang Kayla, tidak hanya di mulut tapi juga disini!" Danti dengan sedikit emosi menunjuk dadanya. Namun seketika wajahnya berubah sendu. "Tapi mami mengakui, mami memanfaatkan rasa berhutang budinya pada keluarga kita untuk memuluskan rencana mami.
Siapa yang mami bisa andalkan selain Kayla, coba? Gak akan ada yang mau menerima menantu seperti Aga, Mas. Menikahi putri mereka karena terpaksa, tanpa cinta.
Setidaknya, jika menikah dengan Kayla, Aga gak punya mertua yang bakal ngamuk sama dia kalau ternyata pernikahannya bermasalah." Danti tertawa lirih. Terdengar helaan nafas berat sesudahnya.
"Maafin Amar, Mi." Amar menatap manik mata Danti sambil mengelus perlahan punggung tangan Danti yang tengah bertengger di atas dadanya.
Danti membalas dengan menggeleng, bibirnya mengulas sebuah senyuman. Kali ini tangan halus Danti berpindah, membelai garis rahang Amar yang tampak kehijauan karena bulu-bulu cambangnya yang mulai tumbuh.
"Sabar, Mi. Aga pasti bisa di handle Kayla. Mungkin bakal pahit diawal-awal, tapi Kayla punya kita dibelakangnya." Suara Arkasatya yang telah keluar dari kamar mandi mengejutkan keduanya. Ia berusaha menenangkan istrinya dengan memberinya keyakinan.
"Gak ada yang gak mungkin di dunia ini jika Tuhan telah berkehendak, Mi!" tambahnya lagi sambil berjalan menuju meja kerjanya.
---
"Ayolah, Ga! Siapa yang bisa papi harap untuk gantiin Om Aryan secepat ini selain kamu. Sudah sepuluh hari Om kamu itu dirawat pasca serangan jantung, anak-anaknya gak kasi izin dia kerja lagi." Arkasatya membujuk Agastya melalui sambungan conference call, bertiga bersama Amartya.
"Ini saatnya Lo bantuin gue urusin perusahaan, gak ada alasan lagi, Ga! Gak ada waktu yang lebih tepat lagi dari sekarang ini." Amar tak kalah semangat ikut membujuk. Dia tak mau direpotkan untuk mencari pengganti Chief Financial Officer nya yang tiba-tiba mengajukan pensiun karena sakit.
Terlihat Agastya menyugar rambutnya tak nyaman. Ini merupakan pilihan sulit baginya. Menolak, berarti mengecewakan Arkasatya dan Amar. Menerima, berarti harus bersiap kembali menetap di Indonesia dan berhadapan dengan masa lalu yang selama ini ia hindari.