9. Sekantor

1122 Words
"Bos baru gue ganteng bangeeet ..., sumpah!" Lani memekik girang saat memasuki pantry. Kayla dan Wulan terkekeh sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Lani. Jam makan siang begini, seperti biasa, ke lima sekertaris akan bertemu di pantry lantai delapan bila tak ada meeting di luar ataupun kesibukan lain. Hanya saja hari ini, dua rekan sejawat mereka yang lain sedang dalam perjalanan meeting ke luar kantor. "Penyegaran dong, selama ini lu ketemu yang ubanan melulu." Kikik Wulan sambil membuka menu makan siangnya hari ini. Lani tampak terkekeh dan mengangguk. "Lu kenal kan, ya, sama Pak Agastya?" Lani menoleh kepada Kayla yang sedang menyiapkan piring dan sendok untuk menyantap nasi bungkusnya. Kayla mengangguk pelan sambil mendudukkan bokongnya di antara kedua temannya. "Kenal gitu doang, beliau kan tinggal di London, jadi selama ini jarang ketemu juga." Menikmati makan siang di pantry adalah pilihan terbaik jika si bos sedang standby di kantor. Karena dari pengalaman mereka, turun ke kantin perusahaan di lantai dasar ataupun ke kafe, ke restauran di luar gedung, itu bisa menjadi sangat riskan. Sewaktu-waktu bos mereka bisa dengan santainya meminta diambilkan berkas ini dan itu tanpa mengindahkan jam makan siang. Memang si bos tak marah jika tau mereka sedang makan, tapi perasaan tak tenang karena ditunggu majikan itu bisa membuat mood makan jadi hilang. "Cakep ya, Kay. Dewasa gitu bawaannya. Suaranya apalagi, emhh ..., dengarnya aja gue bisa basah." Lani yang celotehannya memang paling bar-bar, sontak membuat kedua temannya terpingkal. "Geli gue dengarnya. Lu harus sediain celana dalam cadangan tiap hari berarti, Lan," lanjut Wulan di sela tawanya. Sementara Kayla mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa. "Umurnya berapa sih, Kay, kayaknya belom married, belom ada cincinnya? Udah mateng banget 'kan itu. Gue mau, kalau dia mau," lanjut Lani lagi. "Secakep apa sih? Sampe Lu ngebet banget." Wulan menyocol tempe gorengnya ke dalam sambal terasi saat menanti jawaban. "Beuhh ... !" Lani menunjukkan dua jempolnya pada Wulan. "Pak Amar, ganteng 'kan?" Wulan mengangguk pasti, "Nah, ini versi tanpa cambang, sedikit lebih tinggi dan sedikit lebih kekar. Ya 'kan, Kay?" Kayla mengangguk saja sambil melanjutkan makannya, ia malas membayangkan tubuh Agastya. Sejujurnya, ia sendiri masih merasa terkejut saat kemarin sore, Amartya mengabarkan padanya bahwa posisi Pak Aryan sebagai CFO akan digantikan oleh Agastya. Tadi malam Agastya tiba di Indonesia dan tanpa ada tanda-tanda jet lag, ia langsung memulai aktivitasnya sebagai CFO pagi tadi. "Gimana cara kerjanya sejauh ini? Ribet gak, orangnya?" Kayla tiba-tiba ingin tahu. "Mm ..., gak juga sih. Data yang dia minta kebetulan semua lengkap. Pak Aryan dulu kan orangnya juga teliti banget. Semua data, file harus di input secara detail dan jelas. Jadi tinggal klik pencarian udah muncul yang kita minta." "Syukur deh. Lu juga kan sekertaris handal. Sudah c*m laude dalam hal penyusunan data setelah jadi anak buah Pak Aryan." Ujar Kayla yang disambut tawa oleh Wulan dan cengiran oleh Lani. Pantry di lantai delapan khusus menyediakan keperluan CEO, CFO dan CTO yang berkantor di lantai ini. Biasanya seorang office boy akan selalu berjaga-jaga di situ. Namun karena ini jam makan siang dan para sekertaris tengah menginvasi pantry selama satu jam kedepan, sang OB pun melipir ke kantin menikmati jam istirahatnya. Tiba-tiba telpon intercom dapur berbunyi. Kayla yang kebetulan sedang berada di dekat telpon untuk mencuci tangan segera mengangkat panggilan tersebut. "Ruangan Bos lu!" Cicit Kayla pada Lani pelan sebelum mendekatkan gagang telpon ke telinganya. "Pantry, ada yang bisa dibantu?" Lani yang telah selesai makan, segera berkemas mencuci peralatan makannya sambil menunggu perintah dari Bos nya melalui Kayla. ["Ya. Bisa buatkan saya kopi?"] "Bisa, Pak" Kayla menjawab sambil menoleh pada Lani. ["Oke, antar ke ruangan saya, ya. Kamu tau ruangan saya?"] "Tau, Pak. Di sini muncul kodenya" ["Bagus, terima kasih, ... "] "Sari, Pak. Nama saya Sari," ucap Kayla sambil menutup mulutnya, menahan ringisan. ["Oke, Sari. Terima kasih."] Kayla meletakkan gagang telpon kembali ketempatnya, kala sambungan telah terputus. "Boss lu, minta kopi." "Ish, gue gak pinter bikin kopi racikan yang enak. Kebiasaan pake yang instan. Pak Aryan dulu, minumnya kopi ginseng herbal tapi bentuknya juga sachet." "Belajar, makanya!" Cibir Wulan yang sedang mencuci peralatan makannya. "Ya udah, sini gue bikinin, lu sambil belajar, perhatikan!" Putus Kayla, agar Agastya tak terlalu lama menunggu kopinya. Lani bertepuk senang sambil memeletkan lidahnya pada Wulan. Ia pun memperhatikan secara seksama langkah-langkah Kayla dalam meracik kopi bubuk. --- Lani mengetuk pelan pintu kaca ruangan CFO di depannya sebelum masuk. Tampak Agastya sedang fokus pada laptopnya. Perlahan, Lani meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja Agastya, sedikit ke kanan, agar tak tersenggol lengan bos-nya itu. "Silahkan kopinya, Pak," ucap Lani santun. "Terima kasih. Kamu bisa kembali ke meja kamu." Agastya meraih cangkir kopinya dan menyesapnya. "Lani!" "I-iya, Pak?" Langkah Lani yang telah sampai di dekat pintu, berhenti seketika. "Besok-besok, kalau saya minta kopi, pastikan rasanya sama. Racikannya pas dengan lidah saya. Tadi OG yang terima perintah saya namanya Sari, mungkin dia juga yang bikin kopi ini. Tolong kamu pastikan, ya!" Agastya menatap Lani serius, memastikan Lani paham permintaannya. "Baik, Pak. Nanti saya konfirmasi ke Sari. Ada yang lain, Pak?" Agastya menggeleng dan kembali menyesap kopinya. --- "Dih, si bos, kepincut kopi bikinan elu, Kay." Lani terkekeh di telpon. Saat ini ia sedang menghubungi Kayla melalui telpon PABX kantor. Walaupun usia Kayla sebagai senior secretary terpaut tiga tahun diatas Lani, mereka memilih untuk tetap memanggil nama saja tanpa embel-embel 'mba atau kakak' agar tak ada kesenjangan di antara mereka. Kayla menanggapi laporan Lani dengan tertawa pelan. "Kan, lu udah belajar tadi. Next time udah bisa dong bikin sendiri." "Masalahnya, gue harus bohong nih. Mana ada OG kita yang namanya Sari. Yang ada juga, si Amir, yang nungguin pantry lantai delapan." Kekehan Lani sekarang berubah menjadi dumelan. Kembali Kayla tertawa mendengar penuturan Lani. "Ya, pinter-pinter elu, dong! Si bos gak perlu tau siapa yang bikinin tu kopi, yang penting sesuai ama keinginannya." "Di situ masalahnya! Gue gak mau tau, selagi gue belum mahir, elu yang harus bikinin kopi untuk Pak Agastya." "Siaap! Apa siiih, yang enggak buat adinda Lani terseksih sejagad lantai delapan? Eh, Beha!" Kayla buru-buru menutup telponnya kala melihat Amartya sedang berjalan menuju pintu keluar ruangannya bersama tamu yang sejak tiga puluh menit yang lalu berbincang di dalam ruangannya. Ia tak ingin kelihatan bergosip di saat jam kerja. Sedikit banyak enaknya memiliki ruangan bos yang berdinding dan berpintu kaca adalah, bisa melihat jelas gerak-gerik dan kegiatan si bos di dalam ruangan, tanpa kita takut tiba-tiba terciduk majikan saat sedang terkantuk-kantuk di meja atau menggosip di telepon. Dan untuk diketahui, "Beha" adalah kode mereka sesama sekertaris yang dikarang Lani, jika berada pada situasi, di mana mereka tiba-tiba harus memutus percakapan secara sepihak. Diambil dari kalimat 'Boss is Here', BH, BeHa. Ah, Lani memang paling pinter kasi ide yang aneh-aneh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD