Grace dan Gabriel sama-sama terdiam, seolah waktu membeku di antara mereka.
Beberapa detik sebelumnya, Grace masih mengira dirinya telah menemukan tempat aman terakhir. Kini, ia justru berdiri di hadapan orang yang paling ingin ia hindari hari ini.
“Apa yang kau lakukan di sini?” suara Gabriel terdengar dingin, penuh kecurigaan. “Jangan bilang kau menguntitku sampai ke apartemenku.”
Grace langsung menggeleng keras. “Tidak! Aku tidak tahu jika pemilik apartemen ini adalah Bapak. Kalau saya tahu, aku mungkin akan membatalkan niat untuk menyewa di sini sejak awal.”
Gabriel menatapnya lama, lalu mengernyit seolah baru menyadari sesuatu. “Jadi kau orang yang mengirim pesan itu?”
Grace mengangguk. “Ya.”
Hening sejenak.
Gabriel menghela napas pendek. “Syukurlah. Kalau begitu, kau bisa pergi sekarang.”
Grace tertegun. “Kenapa Bapak langsung mengusirku?”
Gabriel menatapnya tajam. “Bukankah barusan kau sendiri yang berkata tidak akan datang jika tahu ini apartemenku?”
Grace membeku, lalu menunduk. “Itu tadi. Tapi sekarang… aku tidak bisa pergi.”
“Kenapa?” Gabriel menyilangkan tangan. “Aku masih bisa membatalkan sewa ini kapan saja.”
Grace menatap kucing putih di pelukannya, lalu mengangkat wajahnya. “Apa Bapak benar-benar tidak masalah jika tidak ada yang mengurus kucing ini? Aku tahu Bapak akan pergi ke luar kota untuk seminar selama seminggu.”
Gabriel terdiam. Matanya melirik kucing itu, lalu kembali pada Grace. Napasnya terasa berat. “Baiklah. Kau boleh tinggal selama seminggu.”
Grace menggeleng pelan. “Itu tidak adil. Aku ingin menyewa setidaknya tiga bulan.”
Gabriel menatapnya lama. “Itu tergantung sikapmu.”
Grace menelan ludah, mencoba mencerna keputusan barusan. Meski dadanya masih berdebar, ia memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak.
“Kalau begitu… di mana kamarku?” tanyanya pelan.
Gabriel tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menunjuk ke arah lorong dengan dagunya, ekspresinya tetap dingin. “Ah.. Selama tinggal di sini, sebaiknya kita tidak saling bicara.”
Grace terkejut. “Kenapa Bapak begitu naif? Kita tinggal di tempat yang sama. Itu tidak mungkin.”
Namun lirikan tajam Gabriel membuat kata-katanya terhenti. Ia menarik napas dalam, lalu mengangkat koper dan dua tas besarnya, berjalan menuju kamar yang ditunjukkan.
Di belakangnya, Gabriel berlutut sebentar dan memanggil, “Princess.”
Namun kucing putih itu tidak bergerak ke arahnya. Sebaliknya, Princess justru melangkah mengikuti Grace, ekornya bergoyang anggun.
Grace membuka pintu kamar itu perlahan. Ruangannya tidak besar, tetapi bersih, hangat, dan cukup nyaman. Di belakangnya, langkah kaki ringan terdengar pelan.
Princess ikut masuk.
Grace tersenyum kecil, lalu mengangkat kucing putih itu dengan hati-hati. “Jadi kamu Princess?” bisiknya sambil mengelus bulu halus di kepalanya. “Kenapa dosen itu menamaimu seperti itu? Sama sekali tidak cocok dengan kepribadiannya.”
Princess mendengkur, seolah menyetujui.
Grace tertawa pelan. Untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Ia mulai membuka koper dan menata barang-barangnya dengan semangat baru. Setiap lipatan pakaian, setiap buku yang diletakkan di meja kecil, terasa seperti awal yang baru.
***
Malam berlalu dalam keheningan yang membuat perut Grace semakin terasa perih. Di kamarnya yang sunyi, ia menggeliat di balik selimut tipis, mencoba mengabaikan rasa lapar yang terus menggerogoti. Namun akhirnya, ia menyerah.
Dengan langkah pelan, Grace duduk dan membuka tasnya. Wajahnya berubah pucat saat menyadari kenyataan pahit. Bahwa tidak ada satu pun makanan, bahkan botol air pun tak tersisa. Perutnya kembali berbunyi lirih, seolah mengejek keadaannya.
Dengan mengenakan piyama sederhana, ia membuka pintu kamar perlahan. Lorong tampak gelap, hanya cahaya lampu temaram yang memantul di lantai. Ia mengendap-endap menuju dapur, jantungnya berdegup cepat seakan takut ketahuan.
Begitu sampai, matanya membelalak. Dapur itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Lemari-lemari tinggi berjajar rapi, rak penyimpanan penuh dengan berbagai makanan. Grace bergumam pelan, setengah tak percaya, “Apa dosen itu hobi ngemil sebanyak ini?”
Ia mengambil sebuah gelas dari rak, lalu menuangkan air putih dari dispenser. Tangannya sedikit gemetar saat mengangkatnya ke bibir. Tegukan pertama terasa begitu menyegarkan hingga membuatnya menghela napas lega.
Namun detik berikutnya, suara langkah dari arah koridor terdengar.
Grace membeku.
Pintu toilet terbuka, dan seseorang keluar hanya mengenakan celana panjang. Tubuh bagian atasnya telanjang, memperlihatkan otot perut yang tegas. Rambutnya masih basah, tetesan air jatuh ke bahunya.
Gabriel.
Karena terkejut, Grace menyemburkan air yang baru saja diminumnya tepat mengenai wajahnya.
“ASTAGA!” serunya panik.
Gabriel terperangah, menutup mata sesaat saat air menetes dari rambut dan pipinya.
“Apa ... yang sedang kau lakukan?!” katanya kaget, mencoba memahami situasi.
Wajah Grace memerah hebat, jantungnya hampir meloncat keluar dari d**a. Mereka saling menatap dalam keheningan canggung, sementara detik terasa melambat.