Sewa Kamar

733 Words
Kafe kecil di sudut jalan Manhattan itu dipenuhi aroma kopi yang pahit dan suara musik pelan yang mengalun dari pengeras suara. Lampu-lampu kuning redup membuat suasana terasa hangat, kontras dengan perasaan Grace yang sejak tadi terasa seperti diselimuti badai. Ia duduk di depan Luna dengan wajah kusut, rambutnya masih berantakan tertiup angin sore. Begitu pelayan meletakkan secangkir kopi di hadapannya, Grace langsung mengangkatnya dan meneguk setengah gelas tanpa jeda. “Grace! Pelan-pelan,” seru Luna kaget. “Kau mau tersedak?” Grace meletakkan cangkir dengan sedikit bunyi keras. “Aku benar-benar kesal. Dosen killer itu… dia sama sekali tidak punya hati. Seolah aku ini bukan manusia.” Luna menghela napas, lalu menyandarkan punggung ke kursinya. “Masih ada waktu tiga bulan sebelum ujian akhir semester. Kau bisa pelan-pelan memperbaiki nilaimu. Minta tugas tambahan, atau proyek khusus.” Grace memandang sahabatnya dengan mata lelah. “Dan kau sendiri? Tidak mau menambah nilai juga?” Luna mengangkat bahu. “Setidaknya Pak Gabriel tidak menambahkan minus di nilaiku yang hanya C itu. Itu sudah cukup menyedihkan.” Grace mendesah panjang. “Enak sekali. Kau tidak hidup bergantung pada nilai seperti aku.” Melihat suasana mulai berat, Luna mengalihkan pembicaraan. “Ngomong-ngomong, bagaimana dengan tempat tinggalmu?” Grace tertegun. Matanya membulat. “Astaga… aku hampir lupa. Aku harus mengambil barang-barangku jam enam sore ini.” Luna melirik jam di dinding kafe. “Sekarang jam empat.” Grace tercekat. “Berarti aku cuma punya dua jam untuk mencari tempat baru?” Luna mengangguk pelan. “Kita harus bergerak sekarang.” Mereka meninggalkan kafe dengan langkah terburu-buru. Grace dan Luna berkeliling dari satu gedung ke gedung lain, memeriksa papan pengumuman sewa kamar, menghubungi nomor-nomor yang tertera, dan mengunjungi beberapa tempat. Namun setiap pilihan terasa mustahil. Yang murah terlalu jauh dan gelap, dengan lorong sempit berbau lembap. Yang dekat kampus harganya di luar jangkauan Grace. Beberapa tempat bahkan tampak lebih menyeramkan daripada layak huni. Langit mulai berubah jingga ketika mereka berhenti di trotoar, tepat di depan sebuah gedung tua yang sewa kamarnya bahkan melebihi tabungan Grace. Jam di ponsel Luna menunjukkan pukul 17.47. Grace menatap layar itu dengan putus asa. Napasnya terasa berat. “Apa yang harus kulakukan, Luna?” tanyanya lirih. “Sebentar lagi jam enam. Aku belum menemukan apa pun.” Luna meraih tangan Grace. “Kau bisa tinggal denganku saja. Kita berbagi ranjang. Orang tuaku tidak keberatan.” Grace menggeleng cepat. “Tidak. Aku tidak ingin merepotkanmu. Aku juga tidak nyaman tinggal di rumah orang tuamu. Mereka terlalu… sempurna. Aku akan merasa seperti tamu selamanya.” Luna hendak membantah, namun ponselnya bergetar. Ia menunduk, matanya membesar saat melihat layar. “Situs sewa ini baru saja memperbarui iklan,” katanya. “Ada sebuah apartemen dekat kampus, harga jauh di bawah pasaran. Tapi dengan satu syarat ... kamu harus merawat kucing pemiliknya.” Grace menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Aku tidak punya pilihan lain. Aku akan mengambilnya.” *** Grace berdiri di depan pintu apartemen itu dengan napas tertahan, satu koper di samping kakinya dan dua tas besar menggantung di bahunya. Lorong gedung terasa sunyi, hanya suara langkahnya sendiri yang bergema pelan. Ia mengetikkan kata sandi yang diberikan pemilik apartemen lewat pesan singkat. Pintu terbuka dengan bunyi klik halus. Begitu melangkah masuk, Grace membeku. Apartemen itu terlalu besar untuk harga sewa yang ia bayar. Langit-langit tinggi, jendela lebar dengan cahaya senja yang masuk lembut, dan ruang tamu luas yang terasa lebih seperti tempat tinggal seorang profesional mapan daripada kamar sewaan murah. Jantung Grace berdebar tak percaya. Saat menurunkan tasnya, ia melihat sesuatu bergerak di dekat sofa. Seekor kucing putih dengan ekor panjang dan mengembang menatapnya dengan mata biru jernih. Bulu halusnya berkilau terkena cahaya. “Hai…” bisik Grace, berjongkok. “Kau pasti yang harus kujaga.” Ajaibnya, kucing itu mendekat tanpa ragu, menggosokkan kepalanya ke kaki Grace. Ia mendengkur pelan, seolah sudah mengenalnya sejak lama. Grace tertawa kecil, lalu menggendongnya dengan hati-hati. “Kita akan baik-baik saja, ya,” gumamnya. Beberapa detik kemudian, suara kunci terdengar dari luar. Pintu terbuka. Langkah kaki berat memasuki ruangan. Grace menoleh sambil masih menggendong kucing itu. “Permisi, saya Grace. Penyewa kamar—” Kalimatnya terhenti. Di ambang pintu berdiri sosok yang tak ingin ia lihat lagi hari itu. Gabriel Cruise. Wajah dingin itu menatapnya kaku. Untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar. Grace terpaku, jantungnya kembali berdebar liar menyadari bahwa takdir baru saja menutup pintu, dan membukanya di tempat yang sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD