Senyum tipis terbit di wajahnya.
Grace membeku.
“Dia… bisa tersenyum?”
Untuk sesaat Grace benar-benar terpaku. Dosen killer yang selalu memasang ekspresi dingin di kampus kini terlihat berbeda, lebih manusiawi. Lebih… tampan.
Gabriel berdiri kembali, ekspresinya kembali netral. “Jika kau tidak sanggup merawatnya, katakan saja sekarang.”
Grace langsung tersadar dari lamunannya. “Aku sanggup kok!”
Gabriel menatapnya seolah menguji kesungguhan itu.
“Jangan telat memberi makan. Porsi pagi setengah cup dry food. Air minum harus diganti dua kali sehari. Pastikan pasirnya bersih, Princess nggak suka kotak pasir kotor.”
“Iya, iya…” Grace mengangguk.
“Dan jangan biarkan dia stres. Ajak bermain minimal tiga puluh menit sehari.”
Grace mulai merasa dahinya berdenyut. “Baik.”
Gabriel mengabaikan sindiran itu. “Dokter hewan sudah tercatat alamatnya di kertas. Kalau ada apa-apa, hubungi aku.”
“Baik.”
“Jangan beri makanan manusia.”
“Iya.”
“Jangan—”
“Bapak,” potong Grace, mulai kesal. “Aku bukan anak kecil.”
Gabriel terdiam.
“Dan Princess bukan bayi yang baru lahir,” tambah Grace lagi, sedikit berani sekarang. “Aku bisa merawatnya.”
Gabriel menatapnya beberapa detik. Tatapan itu membuat Grace kembali gugup, tapi kali ini ia bertahan.
Akhirnya Gabriel mendesah. “Baiklah.”
Ia melangkah menuju pintu.
Namun sebelum sempat membuka, Grace yang sudah jengah dengan ceramah pagi itu spontan mendorong bahunya pelan.
“Cepat berangkatlah nanti kesiangan!” katanya.
Gabriel terhuyung setengah langkah, terkejut. “Grace.”
“Seminarnya penting, kan? Kalau terlambat nanti malu,” balasnya santai, mencoba menyembunyikan rasa deg-degan.
Gabriel memandangnya lama, seolah mempertimbangkan apakah ia harus marah atau tidak.
Akhirnya ia hanya menggeleng kecil.
“Jangan lupa jadwalnya.”
“Iyaaa, Bapak cerewet,” gumam Grace pelan.
Gabriel sudah membuka pintu ketika ia berhenti sebentar. Tanpa menoleh, ia berkata, “Dan Grace…”
Grace menahan napas.
“Jangan buat masalah.”
Pintu tertutup.
Hening.
Grace berdiri di tengah ruang tamu, masih menggendong Princess yang kembali mendekat ke kakinya.
Ia menatap pintu itu beberapa detik, lalu mendengus pelan.
“Dosen killer tetap dosen killer,” gumamnya.
Namun entah kenapa, bayangan senyum lembut Gabriel pada Princess tadi terus terlintas di pikirannya.
Dan itu membuat jantungnya berdebar sedikit lebih cepat dari seharusnya.
***
Grace tiba di kampus dengan langkah cepat, tapi kali ini bukan dengan rambut berantakan dan wajah setengah tidur seperti pagi tadi. Rambutnya sudah tersisir rapi, diikat setengah dengan pita kecil. Ia mengenakan blouse krem sederhana dan rok hitam selutut yang membuatnya terlihat lebih dewasa. Sedikit lip tint memberi warna segar di wajahnya.
Namun di balik penampilan tenang itu, pikirannya kacau.
Apa tadi aku sudah mengunci pintu dengan benar?
Ia mencoba mengingat. Setelah Gabriel pergi, ia sempat memberi makan Princess, membersihkan kotak pasir, lalu bergegas mandi. Saat keluar, ia yakin sudah memutar kunci dua kali.
Atau satu kali?
Bagaimana dengan pintu balkon? Tadi sempat ia buka sebentar untuk sirkulasi udara…
Grace berhenti sejenak di depan gedung fakultas, jantungnya mendadak berdegup lebih cepat.
“Kalau sampai ada yang masuk… atau Princess kabur…” gumamnya panik.
“Grace!”
Suara ceria itu membuatnya menoleh. Luna berjalan mendekat dengan senyum lebar, tas selempangnya bergoyang mengikuti langkah ringan.
“Kau kelihatan beda hari ini,” komentar Luna begitu sampai di depannya. “Lebih… hidup.”
Grace tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kecemasan. “Ah, masa sih?”
“Iya. Rambutmu rapi, dan kau tidak terlihat seperti mau pingsan karena kurang tidur.”
Grace tertawa kecil. “Aku memang tidur lebih cepat semalam.”
Mereka mulai berjalan berdampingan menuju kelas. Koridor kampus mulai ramai oleh mahasiswa yang bersiap untuk kuliah pagi.
Luna meliriknya penuh rasa ingin tahu. “Jadi… bagaimana dengan pemilik apartemen itu? Baik?”
Langkah Grace melambat sepersekian detik.
Bayangan Gabriel dengan wajah dingin, aturan ketat, dan senyum lembutnya pada Princess langsung terlintas di kepalanya. Ia juga teringat jelas kalimat terakhir di kertas aturan: Tidak boleh ada yang tahu kita tinggal seatap.
Grace menelan ludah.
Ia tidak boleh memberi tahu siapa pun.
Bahkan Luna.
Grace memaksakan senyum dan mengangguk pelan. “Dia… cukup baik.”
“Cukup?” Luna mengangkat alis.
“Ya… maksudku, dia memang sedikit dingin,” lanjut Grace hati-hati. “Tapi dia menyiapkan banyak makanan di dapur. Jadi aku tidak perlu beli apa-apa dulu.”
Itu tidak sepenuhnya bohong.
Luna tersenyum lega. “Syukurlah. Aku sempat khawatir kau akan dapat pemilik aneh atau menyeramkan.”
Grace tertawa hambar. Kalau saja kau tahu siapa dia…
“Dia tidak banyak bicara?” tanya Luna lagi.
“Tidak terlalu,” jawab Grace cepat. “Dia tipe orang yang suka aturan. Tapi ya… masih bisa ditoleransi.”
Luna mengangguk puas. “Kau beruntung kalau begitu. Apartemen murah dekat kampus, pemiliknya tidak rese, dan dapurnya penuh makanan. Itu jackpot.”
Grace memaksakan tawa kecil.
Beruntung?
Kalau Luna tahu bahwa pemiliknya adalah dosen killer yang mengancam masa depannya di kampus, mungkin ia akan menyebut itu mimpi buruk, bukan keberuntungan.