Mulai Familiar

554 Words
Hari pertama Gabriel pergi ke luar kota terasa seperti udara yang tiba-tiba menjadi lebih ringan. Begitu Grace membuka pintu apartemen sepulang kuliah, Princess langsung berlari kecil menyambutnya, ekor putihnya yang indah bergoyang lembut. Grace tertawa kecil, menurunkan tasnya dan langsung berlutut. “Aku pulang,” gumamnya sambil mengelus kepala lembut itu. Ia segera menuju dapur, membaca kembali jadwal yang ditempel rapi di kulkas. Jam makan Princess tepat waktu. Grace menuangkan makanan kucing sesuai takaran yang sudah ditulis Gabriel, memastikan airnya bersih, lalu duduk bersila di lantai memperhatikan Princess makan dengan lahap. “Aku lebih disiplin dari mahasiswanya sendiri,” gumamnya geli. Hari-hari berikutnya berubah menjadi minggu yang terasa seperti liburan kecil dalam hidupnya yang selama ini penuh kekurangan. Grace mulai benar-benar menikmati apartemen itu. Ia membuka kulkas tanpa rasa sungkan, menatap deretan camilan, buah segar, yoghurt, dan jus dalam botol kaca. Lemari dapur penuh biskuit impor, cokelat, dan keripik dengan berbagai rasa. Awalnya ia mengambil secukupnya. Tapi hari kedua, ia sudah duduk nyaman di ruang tengah dengan selimut tipis, meja kecil dipenuhi camilan, dan televisi besar menyala menampilkan film favoritnya. Princess meringkuk di sampingnya. Grace tertawa keras pada adegan lucu, lalu terdiam haru di adegan romantis. Rasanya aneh menikmati layar besar dengan suara jernih, sofa empuk, dan ruangan luas yang biasanya hanya bisa ia lihat dari luar. Malam-malam itu tak lagi terasa sunyi. Sore hari, ia membawa semangkuk buah potong ke balkon apartemen. Dari lantai tinggi, pemandangan kota terlihat luas dan megah. Angin berembus lembut menyentuh wajahnya. Ia duduk di kursi santai, memakan stroberi dan anggur sambil memandangi langit yang perlahan berubah warna. Princess duduk di pangkuannya, menikmati angin yang sama. “Apa kau sadar betapa mewahnya hidupmu?” bisik Grace pada kucing itu. “Dan sekarang aku ikut menikmatinya.” Kadang ia turun ke taman apartemen dengan membawa Princess dalam tas khusus hewan peliharaan. Rumput hijau terawat dan bangku-bangku kayu membuat suasana terasa damai. Grace duduk sambil membiarkan Princess berjalan-jalan kecil dengan tali pengaman. Beberapa penghuni apartemen tersenyum melihat mereka. Grace merasa seperti bagian dari dunia yang selama ini terasa terlalu jauh untuknya. Malam hari menjadi momen favoritnya. Setelah memastikan semua tugas kuliahnya selesai, ia masuk ke kamar mandi luas dengan bathtub putih mengilap. Ia menuangkan sabun cair hingga busa melimpah, lalu berendam dengan tubuh setengah tenggelam. Ponselnya memutar alunan melodi lembut, menciptakan suasana yang hampir terasa seperti spa pribadi. Ia menutup mata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak memikirkan beasiswa, nilai tambahan, atau tekanan hidup. Hanya hangatnya air dan aroma sabun. Princess biasanya duduk di dekat pintu kamar mandi, seolah menjaga. Sesuai jadwal yang ditinggalkan Gabriel, Grace juga membawa Princess ke dokter hewan untuk pemeriksaan rutin. Ia mengenakan pakaian rapi dan memanggul tas carrier dengan hati-hati. Di ruang tunggu klinik, ia membaca ulang pesan-pesan Gabriel tentang vaksin dan vitamin yang harus diperhatikan. Dokter memuji kondisi Princess yang sehat dan terawat. Grace tersenyum bangga, seolah itu kucingnya sendiri. Dalam seminggu itu, apartemen yang awalnya terasa asing berubah menjadi tempat yang hangat. Setiap sudut mulai terasa familiar. Aroma sabun mandi, suara mesin kopi, bahkan cahaya sore yang masuk melalui jendela besar semuanya menjadi bagian dari rutinitasnya. Namun di sela-sela kenyamanan itu, kadang Grace berdiri di ruang tengah yang sunyi dan menyadari satu hal. Seminggu akan segera berakhir. Dan pemilik apartemen itu akan kembali. Entah kenapa, pikiran itu membuat dadanya sedikit terasa… kosong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD