Jill, maaf ... Aku nggak bisa pulang sama kamu. Ada hal yang perlu aku urus. Ini tiket pulang kamu. Dan kamu jangan takut harus pulang sendiri. Nanti ada orang yang akan temenin kamu pulang ke Indonesia. Sekali lagi maaf, Sayang. Jill membaca sekali lagi tulisan singkat yang ditemukannya beberapa menit yang lalu. Ketika pertama kali ia membuka matanya pagi ini, bukan wajah Dav yang dilihatnya seperti kemarin-kemarin melainkan sisi tempat tidur yang kosong dengan secarik kertas berisi pesan singkat di atas bantal. Jill berusaha menghubungi Dav berkali-kali, namun panggilannya tidak kunjung dijawab. Jill juga sudah menghubungi asisten Dav di Jakarta, namun sang asisten sama sekali tidak tahu mengenai keberadaan Dav. Hal ini membuat Jill berpikir keras, apa yang t

