"Dav, tangan kamu dingin banget." Jill meremas tangan Dav yang menggenggamnya sangat erat sejak mereka turun dari mobil. "Hmm?" Dav menyahut setengah melamun. Pikirannya penuh sejak tadi. Lebih tepatnya sejak berhari-hari belakangan. Ia begitu tegang membayangkan pertemuannya dengan sang ayah. "Kamu takut?" Jill mengusap lengan Dav. Dav menoleh, menunduk sedikit ke arah Jill. "Sedikit." Jill tersenyum menenangkan, mengusap lembut lengan Dav. Ia bisa memahami ketakutan Dav saat ini. Dav mengedarkan pandangnya ke sekeliling halaman rumah yang sudah bertahun-tahun tidak pernah didatanginya. Sejujurnya Dav tidak pernah terlalu merindukan rumah ini, karena rumah ini memang tidak pernah menjadi tempatnya untuk pulang. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah asrama ketimbang di

