BAB 4

1169 Words
“Lagu Anda bagus?” Mandy yang duduk bersila di tempat tidur dengan selimut membungkus tubuh menatap bingung Han Eun-Ji yang duduk di sampingnya. Temannya yang bermata sipit dan berambut lurus Panjang tergerai melewati bahu itu balas menatap Mandy dengan kedua tangan terlipat di d**a. “Aku tidak percaya kau hanya bisa berkata begitu. Kenapa tidak minta tanda tangannya?” Eun-Ji melanjutkan dengan nada menuduh. Mandy mengerang. “Mungkin karena kemarin aku sedang kesal dan Lelah ... dan lumpuh otak.” Ia memegang pipinya yang agak pucat dan menggeleng-geleng. “Betul, sepertinya otakku benar-benar sudah lumpuh semalam. Bagaimana bisa aku masuk ke mobil bersama dua laki-laki yang tidak kukenal? Dan saat itu sudah hampir tengah malam. Astaga, apa yang sudah kulakukan? Aku bukan orang seperti itu. Tidak, tidak. Aku sudah gila. Syukurlah aku masih beruntung. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa kemarin?” Han Eun-Ji mendecakkan lidah. “Hei, kau bukannya bersama orang asing. Kau bersama Kang Ha-Neul. Kenapa kau tidak minta tanda tangannya?” tanyanya sekali lagi, nada penyesalan kental terdengar. “Kang Ha-Neul orang asing bagiku,” cetus Mandy tegas. “Lagi pula kau tahu sendiri aku bukan penggemarnya, kenapa aku harus minta tanda tangannya?” “Walaupun bukan penggemarnya, kau kan tahu temanmu yang satu ini penggemar beratnya,” tegur Eun-Ji lagi sambil menekankan telapak tangan di d**a. “Aku sudah begitu setia menunggu kemunculannya lagi selama empat tahun ini. Setidaknya kau bisa minta tanda tangannya untukku ... Tidak semua orang bisa bertemu langsung dengan Kang Ha-Neul, kau tahu? Dan kemarin, entah dengan keajaiban apa, kau bertemu dengannya, kau bicara dengannya, dan dia bahkan mengantarmu dengan mobilnya.” “Mobil temannya,” sela Mandy. “Temannya juga ada di sana.” Eun-Ji tidak mengacuhkan Mandy. “Kau naik mobil bersamanya. Haah, kalau aku jadi kau, aku akan—” “Hei, Han Eun-Ji!” Sikap Eun-Ji melunak. “Aku tahu, aku tahu. Tapi kalau lain kali kau bertemu dengannya, jangan lupa minta tanda tangan untukku.” Mandy membaringkan diri ke tempat tidur. “Kalau aku bertemu dengannya lagi,” gumamnya lirih. Pandangannya menerawang. “Kalau aku bertemu dengannya lagi.” Eun-Ji bermain-main dengan salah satu ujung selimut Mandy lalu tiba-tiba menyeletuk,” Oh ya, kudengar Kang Ha-Neul itu sebenarnya gay. Aku tidak tahu gosip itu benar atau tidak, meski aku bisa mati karena kecewa kalau dia benar-benar gay. Kemarin kau bertemu langsung dengannya. Menurutmu bagaimana? Sikapnya seperti apa? Apakah dia kelihatan normal-normal saja? Terlihat berbeda? Apakah penampilannya berubah setelah bertahun-tahun menghilang?” Mandy mengerutkan kening dan berpikir. “Entahlah, aku tidak merasa ada yang aneh pada dirinya. Biasa saja. Aduh, aku kan sudah bilang bahwa kemarin aku lumpuh otak. Aku bahkan tidak ingat lagi baju apa yang dipakainya.” Eun-Ji menatap prihatin temannya. “Kau benar-benar tidak berguna. Hanya kau yang bisa demam di musim panas seperti ini. Kepalamu masih sakit? Sudah baikan, belum?” Mandy tidak menjawab pertanyaan itu. Ia sedang memikirkan hal lain. Kemudian ia menggigit bibir dan bertanya, “Eun-Ji, sebenarnya apa yang kau suka dari Kang Ha-Neul? Kenapa kau begitu tergila-gila padanya?” Senyum Han Eun-Ji mengembang. “Karena dia tampan, lucu, pandai menyanyi—aduh, suaranya bagus sekali—dan karena dia menulis lagu-lagu yang begitu romantis dan menyentuh. Oh ya, album barunya akan diluncurkan sebentar Iagi. Ah, aku sudah tidak sabar.” “Begitu?” Tiba-tiba Eun-Ji memekik dan membuat Mandy terperanjat. “Kenapa? Ada apa?” tanya Mandy begitu melihat Eun-Ji meraih tasnya yang tergeletak di lantai dengan kasar dan mulai mencari-cari sesuatu di dalamnya. “Bodohnya aku, bodohnya aku,” gumam Eun-Ji berulang-ulang. “Seharusnya aku langsung tahu begitu kau menceritakannya padaku.” “Apa?” tanya Mandy heran. Eun-Ji mengeluarkan berita dan membuka-buka halamannya. “Nah, coba kau lihat ini.” Mandy melihat artikel berjudul “Pertemuan Tengah Malam” yang ditunjukkan Eun-Ji dan mendadak ia merinding. Artikel itu dilengkapi dua foto Kang Ha-Neul bersama seorang wanita. Wajah wanita itu tidak terlihat jelas, tapi Mandy sudah tentu bisa mengenali dirinya sendiri. Wanita yang bersama Kang Ha-Neul di dalam foto itu adalah dirinya. ‘Astaga! Apa-apaan ini?’ Foto pertama memperlihatkan Mandy dan Kang Ha-Neul yang sedang keluar dari rumah artis itu. Kepala Mandy tertunduk ketika difoto sehingga wajahnya tidak terlihat. Mandy ingat saat itu teman Kang Ha-Neul masih berada di dalam rumah sehingga orang itu tidak ikut terfoto. Foto yang kedua diambil ketika Kang Ha-Neul sedang membuka pintu mobil untuknya. Sosoknya tidak jelas karena terhalang tubuh Kang Ha-Neul. Mandy merasa bersyukur karena wajahnya tidak terlihat. “Aku sempat melupakan berita ini ketika aku mendengar kau sakit,” kata Eun-Ji menjelaskan. “Seharusnya aku sudah bisa menduga ketika kau menceritakan apa yang kau alami semalam tadi, tapi anehnya hari ini kerja otakku lambat sekali. Wanita yang di foto itu kau, bukan?” “Astaga,” gumam Mandy tidak percaya. “Siapa yang mengambil foto-foto ini?” “Kang Ha-Neul itu artis terkenal,” kata Eun-Ji dengan nada aku-tahu-semua-jadi-percaya-saja-padaku. “Tentu saja banyak wartawan yang sibuk mencari berita tentang dirinya. Dan yang satu ini benar-benar berita hebat. Di sini malah ditulis kau kekasih Kang Ha-Neul.” Mandy menggeleng-geleng dan mengembalikan berita itu kepada Eun-Ji. Ia masih merinding, “Aku tidak berdua saja dengan Kang Ha-Neul. Paman berkacamata itu, teman Kang Ha-Neul, juga ada bersama kami, seharusnya siapa pun yang mengambil foto ini juga tahu, tapi kenapa jadi begini?” Han Eun-Ji menarik napas panjang. “Sudah kubilang, Kang Ha-Neul itu artis terkenal. Berita-berita harus mencari berita yang bisa menarik perhatian orang. Kalau kalian bertiga yang ada dalam foto itu, tidak akan ada berita.” Mandy merasa tubuhnya menggigil. “Untunglah wajahku tidak terlihat. Eun-Ji, kuharap kau tidak akan memberitahu siapa pun tentang pertemuanku dengan Kang Ha-Neul.” Alis Eun-Ji terangkat. “Kenapa?” Mandy mengerutkan kening dan menggaruk kepala. “Enak saja mereka membuat gosip sembarangan. Kekasihnya? Aku? Aku tidak mau terlibat dengan urusan seperti gosip artis ...” “Kepalamu masih sakit?” tanya Eun-Ji ketika melihat Mandy terdiam sambil memegang dahi. Mandy menggeleng dan tersenyum. “Tidak, aku sudah baikan. Sepertinya gara-gara kecapekan ditambah stres, akhirnya demam. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa Eun-Ji, kau pulang saja dan bantu ibumu. Sekarang kan jam makan siang. Rumah makan ibumu pasti sedang ramai.” “Ibuku juga mencemaskanmu, jadi aku diizinkan tinggal lebih lama. Oh ya, ibuku sudah memasak bubur untukmu. Tadi aku taruh di dapur. Kau harus makan, mengerti?” kata Eun-Ji sambil mengambil tasnya yang ada di lantai. Ia meletakkan tangannya di kening Mandy dan bergumam, “Sudah tidak panas, tapi tetap harus minum obat. Nanti sore aku akan menjengukmu lagi. Kalau ada apa-apa, telepon aku.” “Kau baik sekali, Eun-Ji,” kata Mandy sambil tersenyum. “Sampaikan terima kasihku pada ibumu karena sudah memasak bubur untukku. Ah, tidak usah. Sebaiknya aku sendiri yang meneleponnya dan berterima kasih. Oh ya, kau harus ingat, soal pertemuanku dengan Kang Ha-Neul kemarin malam, jangan kaukatakan pada siapa pun.” “Ya, ya, aku tahu. Kau tenang saja. Istirahat yang banyak ya. Sampai jumpa,” kata Eun-Ji sebelum keluar dari kamar Mandy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD