Kang Ha-Neul berdiri tegak di dekat jendela besar ruangan kantor manajernya yang berada di lantai 20 gedung pencakar langit. Ia memandang ke luar jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia tidak sedang menikmati pemandangan kota Seoul seperti yang sering dilakukannya pada hari-hari biasa.
Pagi ini sebuah berita lagi-lagi memuat artikel yang mengomentari gosip gay-nya. Gosip itu merambat dengan kecepatan tinggi. Tidak lama lagi ia pasti akan dimintai penjelasan. Wartawan-wartawan akan mengejarnya ... menanyainya ... menuntut tanggapannya. Itulah risiko menjadi artis.
Kenangan buruk masa lalu itu muncul lagi. Ketika para wartawan mengajukan ribuan pertanyaan tanpa henti, ketika ia merasa begitu frustrasi dan harus bersembunyi untuk menenangkan diri. Kini, dengan adanya gosip baru itu, hari-hari penuh perjuangan akan kembali dimulai ... atau apakah sebenarnya sudah dimulai?
“Oh, Ha-Neul, sudah datang rupanya.” Ha-Neul begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai-sampai ia tidak menyadari manajernya sudah masuk ke kantor itu. Lee Do-Yun berjalan ke meja kerjanya dan meletakkan map biru di meja. “Sudah lama?”
Ha-Neul menggeleng dan menghampiri kursi di depan meja. “Baru saja sampai. Ada apa menyuruhku kemari pagi-pagi?”
Lee Do-Yun menyampirkan jasnya di sandaran kursi lalu membuka map yang tadi diletakkannya di meja. Ia mengeluarkan berita dari dalamnya dan menyodorkannya kepada Ha-Neul.
Ha-Neul menerima berita yang disodorkan dengan bingung, namun begitu melihat artikel yang ada di sana, raut wajahnya berubah. “Apa-apaan ini? Bagaimana mereka bisa ... Ini—”
Ha-Neul memandang manajernya dan yang ditatap mengangguk. “Benar. Ini foto yang diambil kemarin malam ketika kita mengantar gadis itu.”
Dengan kesal Ha-Neul melemparkan berita itu ke meja. “Bagus, satu gosip masih tidak cukup rupanya.” Ia duduk dan bersandar di kursi. “Bagaimana mereka bisa mendapatkan foto-foto ini? Apakah menurut Hyong, gadis yang kemarin itu ada hubungannya dengan masalah ini?”
Manajernya menggeleng pelan. “Tidak, kurasa tidak. Meski kemungkinan seperti itu tetap ada, sekecil apa pun, tapi menurutku tidak begitu.”
Ha-Neul mengusap-usap dagu sambil merenung. Ia harus mengakui gadis yang kemarin itu tidak mungkin ada hubungannya dengan gosip ini, tapi ...
“Gadis yang kemarin itu, Shin Min-Ah ... aku sudah menyelidikinya,” kata Lee Do-Yun sambil mengulurkan sehelai kertas kepada Ha-Neul. Ia lalu melanjutkan, “Sedang kuliah tahun ketiga dan bekerja sambilan di butik seorang perancang busana. Ibunya orang Indonesia dan ayahnya orang Korea. Ayahnya kepala cabang perusahaan mobil dan ibunya ibu rumah tangga. Dia anak tunggal, lahir di Jakarta dan tinggal di sana sampai usianya sepuluh tahun, lalu karena kontrak kerja ayahnya sudah selesai, mereka sekeluarga pindah ke Seoul. Lima tahun yang lalu orangtuanya pindah kembali ke Jakarta karena ayahnya ditugaskan lagi di sana, sedangkan dia tetap tinggal di Seoul. Latar belakangnya bersih dan sederhana.”
Ha-Neul membaca tulisan pada kertas yang dipegangnya dan tertawa kecil. “Dari mana Hyong mendapatkan semua informasi ini? Sampai tinggi dan berat badannya ada.”
Lee Do-Yun hanya tersenyum dan mengeluarkan sehelai kertas lain dari dalam mapnya lalu mulai membaca, “Menurut orang-orang yang kenal baik dengannya, Shin Min-Ah wanita baik-baik dan bisa dipercaya. Tidak merokok, tidak pernah mabuk-mabukan, tidak memakai obat-obat terlarang, dan tidak punya catatan kriminal apa pun. Jadi aku berani menyimpulkan dia tidak ada sangkut pautnya dengan foto-foto di berita itu.” Lalu ia menyodorkan kertas itu.
Ha-Neul menerima kertas yang disodorkan manajernya. Lee Do-Yun menghela napas. “Meski harus diakui ... secara tidak langsung, gosip yang satu ini sudah membantu kita,” katanya.
Ha-Neul mengangkat wajah dari kertas di tangannya dan memandang Lee Do-Yun, menunggu si manajer menjelaskan maksud kata-katanya.
“Bukankah gosip ini dengan sendirinya mematahkan gosip gay—mu? Foto-foto itu memperlihatkan kau bersama seorang wanita di depan rumah pribadimu pada waktu yang sangat mencurigakan,” kata Lee Do-Yun sambil tersenyum lebar.
***
“Aku tahu kau sudah meminta izin untuk tidak datang bekerja hari ini karena tidak enak badan, tapi aku sangat membutuhkanmu sekarang, Miss Han. Saat ini juga. Kami di sini sibuk sekali, apalagi aku, sampai hampir tidak punya waktu untuk menarik napas. Aku terpaksa memintamu datang, Miss Han. Tolong datanglah sekarang. Please ... Kau pasti tidak sedang sakit berat. Kalau tidak, saat ini kau pasti sudah diopname di rumah sakit dan bukannya istirahat di rumah. Okay, Miss Han?”
Mandy berbaring di ranjang dengan ponsel menempel di telinga. Ia mendengarkan kata-kata bosnya yang mengalir seperti air bah di ujung sana dengan mata terpejam. Seharusnya ia tidak mengaktifkan ponselnya hari ini. Seharusnya bosnya tidak menghubunginya. Seharusnya bosnya tidak bersikap begini. Orang sakit masa disuruh kerja? Lagi pula ini kan hari Sabtu. Diktator!
“Miss Han? Miss Han? Halooo? Kau mendengarkanku, Miss Han? Aku tidak bisa berbicara lama-lama, Miss Han. Very very busy. Kau akan datang, kan?”
“Ya, ya, Mister Kim. Saya mengerti. Saya akan sampai di sana dalam satu jam,” sahut Mandy malas.
“Kau punya waktu setengah jam untuk sampai di studioku, Miss Han,” kata bosnya sebelum menutup telepon.
Mandy menatap ponselnya dengan hati dongkol. “Lihat saja, kau akan menerima surat pengunduran diriku hari Senin nanti. Drakula! Pengisap darah! Hhh, bisa gila aku!”
Sambil mengumpat, Mandy memaksa dirinya bangkit dan berjalan terseok-seok ke lemari pakaian. Empat puluh tiga menit kemudian, Mandy sudah berdiri di studio Mister Kim, salah satu perancang busana paling populer di Korea.
Yang disebut studio oleh bosnya adalah ruang kerja berantakan yang penuh kain berbagai corak, baik kain perca tak berguna maupun kain yang masih baru. Studio itu terletak di lantai teratas gedung berlantai tiga.
Butik Mister Kim sendiri terdiri atas dua lantai: lantai pertama diperuntukkan tamu umum sedangkan Iantai duanya untuk tamu VIP. Mandy masuk dan melihat pria setengah baya berpenampilan perlente, berambut dicat merah, dan berkacamata itu sedang memandangi model kurus dengan tatapan tidak puas. Lalu dengan sekali sentakan tangan, ia menyuruh model itu pergi dan menyuruh anak buahnya memanggil model lain.
Tepat pada saat model Iain masuk ke ruangan, Mister Kim menyadari keberadaan Mandy dan langsung memekik, “Miss Han! Kau terlambat. Kenapa—sebentar ...” Ia berpaling ke arah si model yang baru masuk dan berkata ketus, “No, no! Bukan kau. Apa yang harus kulakukan supaya mereka mengerti model seperti apa yang kubutuhkan? Astaga! Panggilkan Mister Cha ke sini.”
Mandy merasa kasihan melihat ekspresi kaget si model wanita. Harus diakui Mister Kim ini bukan orang yang mudah. Kadang-kadang orang jenius memang sulit dibuat senang. Mister Kim kembali memusatkan perhatian kepada Mandy.
“Kau lihat sendiri, Miss Han, kami sedang sibuk sekali untuk fashion show. Tolong kau antarkan pakaian-pakaian untuk dicoba.”
Apa? Untuk dicoba siapa? Pakaian mana? Mister Kim selalu mengharapkan orang lain langsung bisa memahami kata-katanya yang tidak selalu jelas.
“Diantarkan kepada siapa dan dicoba untuk apa, Mister Kim?” tanya Mandy.
Mister Kim menatapnya dengan mata dibelalakkan selebar-lebarnya, setidaknya selebar yang mungkin di lakukan mata yang pada dasarnya sipit.
“Astaga, Miss Han. Kau tentu ingat aku pernah bercerita tentang Kang Ha-Neul, bukan? Dia sudah setuju akan memakai pakaian rancanganku dalam setiap penampilannya. Makanya kau cepat-cepatlah pergi ke sana dan pastikan pakaian-pakaian itu sudah cocok dengan ukuran dan seleranya.” Lalu, sebelum Mandy bertanya lagi dia sudah menunjuk rak pakaian beroda yang ada di dekat pintu, “Itu! Pakaian yang di rak itu!”
‘Tidak, Anda belum pernah menyebut-nyebut tentang masalah ini kepadaku,’ gerutu Mandy dalam hati, tapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Siapa yang Anda sebut tadi?”
“Kang Ha-Neul. Penyanyi itu. Kau tidak kenal? Sudahlah, kenal atau tidak bukan masalah penting. Sana cepat pergi! Dia sudah menunggu di butik. Ayo sana. Go! Cepat!” katanya sambil mendorong punggung Mandy ke arah pintu keluar studionya.