BAB 6

1294 Words
Mandy mendorong rak beroda yang nyaris terisi penuh pakaian di sepanjang koridor. Masih dengan perasaan sebal, ia berjalan menuju lift. Di tengah jalan Mandy berpapasan dengan penjaga butik yang sudah kenal baik dengannya dan diberitahu Kang Ha-Neul sudah menunggu di lantai dua. Sesampainya di depan pintu ruang peragaan lantai dua yang memancarkan kesan elite itu, ia berhenti beberapa saat. Ia ragu. Kenapa ia harus bertemu Kang Ha-Neul lagi? Apa yang harus ia katakana kepadanya? Apa yang harus ia Iakukan? Apakah laki-laki itu sudah tahu tentang foto-foto yang dimuat di berita itu? Mandy mendesah dan menggigit bibir. Mungkin saja Kang Ha-Neul malah tidak ingat padanya lagi. Mandy mengangguk. Benar, Kang Ha-Neul pasti sudah lupa padanya. Artis-artis pasti sulit mengingat wajah karena setiap hari mereka harus bertemu begitu banyak orang baru. Pasti begitu. Mana mungkin mereka ingat setiap orang yang mereka temui dalam waktu singkat, kan? Dengan keyakinan itu, Mandy mendorong pintu kaca besar di hadapannya dan melangkah masuk. Ia menarik napas dalam-dalam dan memaksa kakinya terus berjalan. Mandy berdiri di depan pintu putih salah satu kamar peragaan dan kembali menarik napas. ‘Baiklah, ini saatnya. Lakukan dan selesaikan secepatnya! Tidak usah cemas. Orang itu tidak akan ingat padamu. Kerjakan saja tugasmu.’ Ia meraih pegangan pintu dan membukanya. “Salah seorang anak buahnya akan mengantarkan pakaian-pakaian itu ke sini,” kata Lee Do-Yun sambil menutup flap ponsel. Ha-Neul mengembuskan napas keras-keras dan mengempaskan diri ke sofa empuk yang diletakkan di tengah-tengah kamar peragaan. “Sudah kubilang, seharusnya kita tidak usah datang secepat ini.” Ia melirik jam tangannya. “Ah, aku salah, ternyata bukan kita yang datang terlalu cepat. Mereka yang terlambat. Hhh ... harus menunggu berapa lama?” Lee Do-Yun baru akan menjawab ketika ponselnya berdering untuk kesekian kalinya dalam dua jam terakhir. Ha-Neul menatap manajernya yang sedang berbicara dengan bahasa formal di ponsel. Sepertinya telepon dari produser atau semacamnya. Lee Do-Yun memberi isyarat akan keluar sebentar. Ha-Neul mengangguk tak acuh dan Lee Do-Yun keluar dari ruangan itu. Ha-Neul merebahkan kepala ke sandaran sofa, mencoba mendapatkan kenyamanan. Baru saja ia merasa damai dan hamper terlelap ketika ia mendengar bunyi pintu dibuka dan suara seorang wanita. “Selamat siang. Maaf membuat Anda menunggu lama.” Ha-Neul membuka mata. Gadis berambut sebahu dan bertopi merah memasuki ruangan sambil mendorong rak pakaian beroda. Gadis itu membungkuk hormat. Ha-Neul berdiri dan membungkuk sedikit untuk membalas sapaannya. “Mister Kim meminta saya membawakan pakaian-pakaian ini untuk Anda. Silakan dicoba.” Gadis itu mendorong rak hingga ke ujung ruangan, ke dekat bilik ganti. Ia mengeluarkan salah satu pakaian dari gantungan dan mengulurkannya kepada Ha-Neul. “Silakan dicoba di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah bilik yang tertutup tirai tebal. Ada perasaan janggal yang mengusik Ha-Neul, tapi ia tidak tahu apa yang membuatnya merasa seperti itu. Ia menerima pakaian yang disodorkan dan beranjak ke bilik ganti. Selesai mengenakan pakaian, Ha-Neul menyibakkan tirai. Tepat pada saat itu ia melihat gadis yang membawakan pakaian tadi sedang duduk di kursi bulat di samping sofa. Topi merahnya dilepas dan gadis itu sedang menyisir rambutnya yang agak ikal dengan jari-jari tangan. Ha-Neul tertegun dan menatap gadis itu. Itulah kali pertama ia melihat jelas wajah si gadis sejak ia masuk bersama rak pakaian. Tiba-tiba gadis itu menoleh dengan wajah terkejut, sepertinya ia menyadari sedang diperhatikan. Ia cepat-cepat mengenakan Kembali topinya dan berdiri. “Bagaimana? Apakah pakaiannya cocok? Anda suka?” Bukankah ia gadis yang kemarin ditemuinya? Tidak salah lagi. Ha-Neul masih ingat wajah gadis itu. Wajah yang lelah dan pucat. Gadis yang berdiri di hadapannya ini memang gadis yang kemarin. Wajahnya masih terlihat lelah dan pucat. Tapi kenapa gadis ini tidak mengatakan apa-apa? Apakah ia tidak mengenalinya? “Kita pernah bertemu,” kata Ha-Neul. Ia tidak sedang bertanya. Ia benar-benar yakin, karena itu ia ingin melihat reaksi si gadis. Gadis itu tertegun, lalu perlahan-lahan mengangkat kepala dan memandang Ha-Neul dengan ragu-ragu. Tatapan yang ragu-ragu itu tidak salah lagi sama dengan tatapan gadis yang kemarin datang ke rumahnya. Ha-Neul menunggu si gadis mengatakan sesuatu. Setelah hening beberapa detik, gadis itu hanya bergumam, “Oh?” Ha-Neul kecewa karena gadis itu tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya menatapnya dengan matanya yang besar. Gadis itu bodoh atau benar-benar tidak ingat lagi kejadian kemarin malam? Bukannya sombong, tapi Ha-Neul tidak habis pikir bagaimana seseorang bisa melupakan artis yang baru ia temui kemarin malam? Ha-Neul kesal karena justru dirinyalah yang ingat pada si gadis, sementara si gadis tampaknya sama sekali tidak ingat padanya. Bagaimana bisa? Atau sebenarnya ia tidak sepopuler yang ia kira? Apakah dunia sudah berubah tanpa sepengetahuannya? “Kau datang ke rumahku kemarin malam karena ponselku tertukar dengan ponselmu,” kata Ha-Neul datar dan cepat, berusaha membantu ingatan gadis itu. Demi Tuhan, memangnya gadis ini menderita amnesia? *** Mandy memerhatikan Kang Ha-Neul masuk ke bilik ganti dan menarik tirai. Ia mengembuskan napas lega dan duduk di kursi bulat yang empuk. Laki-Iaki itu teryata memang tidak mengenalinya. Mandy melepaskan topi dan memegang pipinya dengan sebelah tangan. Lelah sekali. Semoga saja sampai pekerjaannya selesai Kang Ha-Neul tidak akan mengenalinya. Ia menyisir rambut dengan jari-jari tangan sambil melamun. Tiba-tiba ia melihat Jung Tae-W00 sudah berdiri di sana sambil memerhatikannya. Mandy tersentak dan segera memakai topinya kembali. “Bagaimana? Apakah pakaiannya cocok? Anda suka?” tanyanya dengan nada yang dibuat riang dan sopan. “Kita pernah bertemu.” Mandy bergeming. Ia menggigit bibir. Ternyata Kang Ha-Neul mengenalinya. Bagaimana sekarang? Mengaku saja? Tapi kalau baru mengaku sekarang akan terasa aneh. Akhirnya ia hanya bisa bergumam tidak jelas. “Kau datang ke rumahku kemarin malam karena ponselku tertukar dengan ponselmu,” kata Kang Ha-Neul lagi. Nada suaranya datar. Baiklah, ia tidak bisa mengelak lagi. Mandy memaksakan seulas senyum. “Oh, ya, benar. Apa kabar?” Hanya itu yang bisa dipikirkannya. Mandy memarahi dirinya sendiri dalam hati. Kang Ha-Neul memandangnya dengan tatapan aneh, lalu memalingkan wajah dan mendengus pelan, “Ternyata ingat juga,” gumamnya. Mandy mengangkat alis. “Ya?” Kang Ha-Neul kembali menatapnya dan berkata, “Jadi kau bekerja di sini?” “Ya ... bisa dibilang begitu,” jawab Mandy. Ia lega sekarang. Setidaknya ia tidak perlu menundukkan kepala lagi. Tidak perlu menyembunyikan wajah lagi. “Foto di berita itu ... Kau sudah melihatnya?” tanya Kang Ha-Neul. Mandy menelan ludah. Ini dia. Apakah Kang Ha-Neul menyangka ia berada di balik semua ini? “Sudah ...,” sahutnya ragu, lalu cepat-cepat menambahkan sambil menggoyang-goyangkan tangan, “Tapi bukan aku ... Maksudku, aku tidak ada hubungannya dengan itu. Sungguh.” Kang Ha-Neul tertawa kecil. “Kami juga berpikir begitu. Lagi pula sebenarnya foto-foto itu malah membantuku.” Mandy tidak mengerti. “Kau sering membaca berita?” tanya Ha-Neul. Mandy menggeleng. Ia tidak punya waktu untuk itu. Lagi pula ia sama sekali tidak perlu membaca berita untuk tahu gosip seputar artis. Temannya, Han Eun-Ji, adalah berita berjalan. Han Eun-Ji tahu semua yang terjadi dalam dunia artis. Apa pun yang ia ketahui pasti akan diceritakannya kepada Mandy, tidak peduli Mandy sebenarnya mau tahu atau tidak. Kang Ha-Neul mengangguk-angguk. “Hm, berarti kau tidak tahu-menahu soal gosip tentang diriku.” “Gosip gay itu?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Mandy tanpa diproses di otaknya terlebih dahulu. Kang Ha-Neul menatapnya. “Bukannya kau tadi bilang kau tidak membaca berita?” Mandy memiringkan kepala dengan salah tingkah. “Temanku yang menceritakannya padaku.” “Ternyata banyak orang yang sudah tahu.” Kang Ha-Neul mendesah. “Bagaimanapun, foto-foto itu sudah membantuku mengatasi gosip.” Mandy hanya mengangguk-angguk tidak acuh, namun ia terkejut ketika laki-laki di hadapannya itu mendadak berpaling ke arahnya dengan wajah berseri-seri. “Shin Min-Ah ssi—namamu Shin Min-Ah, bukan?” tanyanya cepat. Tanpa menunggu jawaban Mandy, ia meneruskan, “Karena kau sudah membantuku satu kali, bagaimana kalau kau membantuku lagi?” Mandy mundur selangkah. “Bantu ... apa?” “Jadi pacarku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD