BAB 7

1236 Words
“A—apa?!” Ha-Neul agak kaget mendengar pekikan gadis itu, tapi ia bisa memakluminya. “Begini, biar kuganti kalimat permintaanku,” katanya sambil berkacak pinggang dan berpikir-pikir. Kemudian ia mengangkat wajah dan menatap Mandy. “Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai pacarku.” Mandy mengerjap-ngerjapkan mata dengan bingung. Ha-Neul cepat-cepat menjelaskan. Ia sangat menyadari alis gadis itu terangkat ketika mendengarkan ceritanya. “Hanya berfoto. Bagaimana?” tanya Ha-Neul di akhir penjelasannya. Ia menatap Mandy yang masih tercengang. Kenapa tiba-tiba ia merasa seolah sedang disidang di pengadilan? Ia sangat penasaran apa yang akan dikatakan gadis itu, apa jawabannya. Kalimat pertama yang keluar dari mulut Mandy adalah, “Kenapa aku?” Pertanyaan yang bagus. “Tidak ada alasan khusus,” sahut Ha-Neul santai. “Kupikir kau mungkin mau membantuku. Bagaimanapun kita sudah pernah difoto bersama walaupun tanpa sengaja.” Mandy masih terlihat bingung, tapi Ha-Neul melihat kening gadis itu berkerut, tanda sedang mempertimbangkan usul yang ia ajukan. Setidaknya Mandy tidak langsung menolak mentah-mentah. Ha-Neul cepat-cepat mengambil kesempatan itu untuk menambahkan, “Kalau kau mau, anggap saja aku menawarkan pekerjaan kepadamu. Tidak akan mengganggu pekerjaanmu yang sekarang. Kau masih kuliah? Kuliahmu juga tidak akan terganggu.” “Memangnya aku terlihat seperti sedang butuh pekerjaan?” tanya Mandy datar. “Atau butuh uang?” Ha-Neul terdiam. Ia memandang Mandy dari kepala sampai ke ujung kaki. Tidak, gadis ini memang sudah punya pekerjaan dan dilihat dari cara berpakaiannya, ia tidak tampak seperti gadis yang kekurangan uang. “Memang tidak,” Ha-Neul mengakui. “Begini saja, aku akan memberimu apa pun yang kauinginkan kalau kau bersedia membantuku.” “Hanya untuk berfoto bersama?” tanya Mandy memastikan. “Begitulah rencananya,” jawab Ha-Neul pasti. Ia mulai merasa tidak percaya diri melihat tanggapan gadis itu. Apa yang sedang dipertimbangkannya? Yah, mungkin memang karena pada dasarnya Shin Min-Ah bukanlah salah satu penggemarnya. Jadi, tidak aneh kalau gadis itu tidka antusias dengan gagasan ini. Tiba-tiba terdengar dering ponsel. Otomatis Ha-Neul merogoh saku bagian dalam jasnya. Pada saat yang sama Mandy juga merogoh tas tangannya yang terletak di meja. Ternyata yang berdering ponsel milik gadis itu. Ha-Neul baru ingat ponsel Mandy sama dengan ponsel miliknya. Bahkan nada deringnya juga persis sama. Mungkin salah satu dari mereka harus segera mengganti nada dering. Mandy menatap ponselnya, membuka flap-nya, tapi langsung menutupnya lagi tanpa dijawab terlebih dulu. Rasa ingin tahu Ha-Neul bertambah ketika ia melihat gadis itu mematikan ponselnya kemudian kembali menyimpan tas beserta ponselnya itu ke tas. Siapa yang meneleponnya tadi? Tidak tampak ekspresi apa pun di wajahnya. Tapi sepertinya Mandy tidak berniat memberikan penjelasan atas tidakannya barusan. “Mau membantu, kan?” Ha-Neul akhirnya membuka suara setelah mereka berdua terdiam beberapa saat. Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Ha-Neul. “Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat.” Udara di sekeliling Ha-Neul jadi terasa lebih ringan. Ia mengembuskan napas pelan dan tersenyum lega. Meminta bantuan Mandy ternyata tidak sesulit dugaannya. Tidak ada syarat yang aneh-aneh. Kalau sekadar merahasiakan identitas, ia bisa memaklumi itu. Gadis ini tentu saja tidak ingin berurusan dengan wartawan. “Terima kasih. Kuharap kau tidak akan memberitahu orang lain tentang kesepakan kita ini, bahkan orangtuamu sekalipun. Aku tidak ingin menciptakan skandal yang lebih parah. Aku bisa memercayaimu, kan?” “Mm, aku mengerti,” kata Mandy menyanggupi. Tapi begitu melihat matanya yang agak menerawang, Ha-Neul jadi kurang yakin apakah gadis itu benar-benar memahami kata-katanya. Pada saat itu pintu terbuka dan mereka berdua menoleh. Ternyata yang masuk Lee Do-Yun. Sang manajer memandang mereka berdua dengan tatapan bertanya-tanya, lalu setelah beberapa saat wajahnya menjadi cerah. “Oh, kau yang kemarin itu?” tanya Lee Do-Yun sambil menghampiri Mandy. Ha-Neul tersenyum lebar. “Hyong, dia bersedia menjadi pacarku.” Senyum manajernya langsung lenyap. “Maksudmu? “Yang Hyong katakan kemarin ... soal foto ... aku sudah memikirkannya,” kata Ha-Neul, masih tetap tersenyum. “Kita lakukan saja. Dia juga sudah bersedia membantu. Memang tidak persis seperti rencana yang Hyong usulkan kemarin.” Lee Do-Yun terlihat bingung. “Soal yang kemarin ...?” Ia terdiam sebentar, lalu, “Astaga, kau serius?” “Akan kujelaskan lebih lanjut pada Hyong nanti,” kata Ha-Neul sambil menepuk-nepuk pundak manajernya. “Kita lanjutkan pekerjaan kita dulu. Bukankah kita ke sini karena aku harus mencoba semua pakaian ini?” Mandy keluar dari tempatnya bekerja dengan langkah gamang seolah setengah sadar. Tugasnya mencocokkan pakaian Kang Ha-Neul sudah selesai, tapi otaknya seakan masih tertinggal sebagian di butik itu. Ia berjalan dengan langkah lambat, membelok di ujung jalan, lalu Langkah kakinya terhenti. “Apa yang sudah kulakukan?” ia bertanya pada dirinya sendiri sambil memegang pipi dengan sebelah tangan. Mandy harus berusaha keras menenangkan diri karena jantungnya berdebar kencang sekali. Sejak tadi ia berjuang supaya rasa gugupnya tidak terlihat oleh kedua pria itu. Perasaan canggung saat Kang Ha-Neul menjelaskan rencananya kepada si manajer sementara pria itu mencoba pakaian tadi bahkan masih bisa ia rasakan hingga kini. Si manajer agak bimbang. Ia banyak bertanya pada Mandy, selain itu juga berulang kali menekankan bahwa masalah ini tidak boleh sampai diketahui orang lain. Tentu saja Mandy mengerti. Diam-diam, sambil mendengarkan pesan Lee Do-Yun, Mandy mengamatinya. Pria yang satu itu benar-benar memiliki daya tarik. Cara bicaranya menyenangkan, senyumnya menawan, dan matanya ramah. Mandy tahu Do-Yun bertanya-tanya kenapa ia mau begitu saja membantu Kang Ha-Neul, tapi ia pura-pura bodoh. Pada awalnya Mandy memang agak ragu dengan tawaran Ha-Neul, tapi akhirnya rasa penasarannyalah yang menang. Ia meyakinkan dirinya ini jalan yang tepat. Ini mungkin kesempatan yang telah lama dinantinya untuk mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah lama menghantui ... Lagi pula menurutnya pekerjaan yang ditawarkan kepadanya tidak susah. Ia hanya perlu difoto bersama Kang Ha-Neul. Bukan masalah. Ia pasti bisamelakukannya. Ia sadar kesepakatan ini akan membuatnya sering bertemu Kang Ha-Neul, tapi ini bukan masalah, toh ia tidak merasakan apa-apa terhadap artis itu. Nilai tambah lain, kalau ia sering bersama Kang Ha-Neul, ia akan tahu dan mengerti kenapa teman dekatnya juga banyak wanita lain bisa tergila-gila pada pria itu. “Baiklah,” katanya pada dirinya sendiri. “Aku pasti bisa melakukannya. Ah, astaga! Aku lupa minta tanda tangan Kang Ha-Neul untuk Eun-Ji.” Mandy merogoh tasnya untuk mencari ponsel, tapi kemudian berhenti. Apakah sebaiknya aku tidak memberitahu Eun-Ji aku bertemu Ha-Neul tadi? Dia pasti kesal karena aku lupa meminta tanda tangan lagi. Tapi ia pasti bakal jadi lebih kesal kalau tahu aku menyembunyikan soal pertemuan ini ... Mandy melanjutkan mencari ponselnya di tas tangannya dan menemukan baterai ponsel yang tadi ia lepas. Mendadak ia jadi teringat Han Joo-Won tadi meneleponnya. Mudah-mudahan Joo-Won bisa mengerti kenapa ia tidak bisa menerima telepon tadi. Eh ... tunggu dulu, kalau dipikir-pikir lagi, kenapa ia harus merasa bersalah? Mana ada orang yang bisa menjawab telepon kalau sedang berada dalam situasi seperti tadi? Lagi pula sepanjang pengalamannya, kalau Han Joo-Won yang menelepon, pasti bukan karena ada hal penting. Kenapa Han Joo-Won masih terus menghubunginya? Bukankah pria itu sendiri yang meminta putus hubungan? Orang aneh! Mandy menyalakan kembali ponselnya kembali dan baru akan menghubungi Eun-Ji ketika ia teringat janjinya. Aah ... benar juga, aku sudah berjanji pada Lee Do-Yun ssi tidak akan menceritakan masalah ini pada orang lain. Ah, bagaimana ini? Yah ... apa boleh buat ... Ia kembali memasukkan ponsel itu ke tas tangannya, lalu ia mendongak menatap langit yang biru dan bergumam, “Baiklah, Mandy. Semoga keputusanmu ini ada gunanya. Aja aja, fighting*!” Sekarang ia harus pulang dan tidur dulu untuk mengumpulkan tenaga. Ia sudah berjanji akan menemui kedua pria itu nanti malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD