“Pergilah. Aku tidak akan mengizinkanmu masuk,” balas Jonathan dengan nada dingin dan ketus.
“Kita butuh bicara, Jo. Aku merindukanmu,” kata gadis itu manja. Dengan cepat.
Tanpa basa-basi, Jonathan menarik lengannya dengan kasar, memaksa diri melepaskan diri dari gadis itu. Ia segera membalikkan badan dan melangkah pergi, batal memasuki rumahnya sendiri.
“Jo!” teriak gadis itu, suaranya dipenuhi frustrasi.
Jonathan kembali pergi dengan mobilnya. Ia menghela napas panjang, lalu meraih ponsel dan menghubungi Heri.
“Lo di mana?” tanya Jonathan tanpa basa-basi, fokus pada jalanan di depannya.
Terdengar suara bising dan dentuman musik yang samar dari seberang. "Gue di tempat karaoke! Lo ke sini aja. Gue share lock sekarang!" jawab Heri, suaranya sedikit meninggi, beradu dengan sayup-sayup orang bernyanyi.
Sementara itu, di ruangan karaoke
'Kutatap dua bola matamu … tersirat apa yang kan terjadi … kau ingin pergi dariku, meninggalkan semua kenangan …'
Zee menyanyikan lirik tersebut dengan penuh penjiwaan. Matanya terpejam, dan sepasang air mata perlahan meluncur, membasahi pipinya. Tiba-tiba, sebuah tangan memencet tombol STOP pada remote. Musik terhenti mendadak.
Zee terkejut, membuka mata.
“Lo tu ya!” Sifa langsung menyambar mic yang dipegang Zee. “Kita ke sini kan buat senang-senang, malah nyanyi lagu melo!”
Heri yang tadinya duduk santai di sofa, kini maju menghampiri mereka berdua. Ia menepuk pelan bahu Zee.
“Udah, Zee, lo duduk aja. Lihat kami, dijamin lo akan ketawa lagi.” Heri menyikut Sifa, mengajaknya berduet. "Siap, partner? Kita mulai dengan dangdut koplo!"
Sifa melotot. “Ih, dangdut? Gak mau ah! Gak level!”
“Eh …” Heri menahan tawa. “Ini lagu seru, sayang. Lagipula, siapa tahu dengan ini Zee bisa ceria lagi. Ayo, satu lagu aja, demi mood booster!”
Heri dan Sifa sepenuhnya larut dalam irama dangdut koplo. Keduanya asyik bernyanyi sambil sesekali berjoget konyol. Melihat tingkah mereka yang kocak, tawa Zee akhirnya pecah—tawa lepas yang sudah lama hilang. Sifa, dengan wajah penuh keringat, menghampiri Zee dan menarik tangannya.
“Ayo, Ze! Jangan cuma lihatin!” ajak Sifa.
Tak butuh waktu lama, mereka bertiga tenggelam dalam suasana riang, melompat-lompat mengikuti alunan musik yang menggelegar.
Tiba-tiba, Pintu Ruangan Terbuka dengan sedikit hentakan.
Musik seolah tersentak, dan gerak mereka bertiga terhenti seketika.
Di ambang pintu, berdiri Jonathan. Wajahnya terlihat ditekuk, cemberut khas orang sedang kesal atau banyak pikiran.
Heri, yang masih memegang mic, langsung menyeringai. “Wah … ada lagi nih yang perlu dihibur karena patah hati. Komplit sudah duo broken heart kita!”
Jonathan tidak menjawab. Ia berjalan cepat, langsung meluncurkan tubuhnya ke sofa terdekat, dan tanpa ragu menyambar gelas berisi minuman beralkohol yang tersaji di meja.
“Eh, Bro! Bro! Santai dulu!” seru Heri, bergegas menghampiri.
“Datang-datang langsung minum aja lo, kayak habis dikejar debt collector!” Heri dengan sigap merebut gelas dari tangan Jonathan. “Jangan cuma diam di situ. Sini, gabung sama kami!”
Heri menarik tangan Jonathan, memaksanya untuk berdiri dan ikut bergerak bersama mereka di tengah ruangan.
Jonathan, yang memang belum terlalu akrab dengan Sifa dan Zee, langsung menolak ajakan Heri. Ia menarik tangannya dari cengkeraman Heri dan kembali menjatuhkan diri ke sofa, memasang wajah keras kepala.
“Ah … Lo gak asik, Jo!” protes Heri, cemberut. Ia dan Sifa akhirnya kembali ke tengah ruangan, melanjutkan irama mereka dengan sedikit kesal.
Zee, yang merasa energinya sudah terkuras dan butuh istirahat, memilih untuk berhenti berjoget. Ia berjalan pelan dan mengambil tempat duduk di sofa, tepat di samping Jonathan.
Keheningan melingkupi area sofa itu, kontras dengan musik dangdut koplo yang masih riuh.
“Hai …” sapa Zee pelan, merasa sedikit canggung. Ia menyandarkan punggung, berusaha terlihat santai.
“Hai,” balas Jonathan singkat. Matanya menerawang, tampak enggan memulai percakapan atau bahkan menatap Zee.
Zee menghela napas, menatap gelas di depan Jonathan. Ia meraih botol dan mulai menuang minuman beralkohol ke dalam gelasnya sendiri.
Jonathan menoleh, sedikit terkejut. “Bukankah kau bilang besok sudah harus menjalani program diet ketat?” tanyanya.
“Untuk malam ini aja,” jawab Zee santai, mengangkat bahu. “Besok sudah enggak akan lagi.” Tanpa menunggu, ia langsung meneguk habis cairan di tangannya, seolah sedang minum air putih
Satu jam kemudian.
Heri dan Sifa yang tadinya asyik berjoget kini terdiam, dibuat bingung sekaligus panik. Jonathan dan Zee sudah mabuk berat, mulai meracau tak karuan.
“David … lo lihat nanti! Gue … pasti akan lebih cantik lagi!” Zee meracau, kepalanya terus merosot ke bawah sofa.
Sifa dengan susah payah berusaha menegakkan tubuh Zee yang berat. “Aduh … Zee, lo tu berat banget! Kenapa malah mabuk begini, sih? Siapa nanti yang bawa lo pulang?” Sifa mengeluh, nadanya mulai terdengar frustrasi.
Heri tak kalah panik. Ia menepuk-nepuk pipi Jonathan yang sudah terkulai lemas di sandaran sofa. “Jo, eh Jo … bangun! Bagaimana lo pulang kalau mabuk begini?!”
Sifa dan Heri saling pandang, akhirnya menyerah.
“Bagaimana ini, Mas?” tanya Sifa, suaranya pelan.
Heri mengusap wajahnya kasar. “Kita antar mereka berdua ke rumah masing-masing.” Ia berpikir cepat. “Kita ke apartemen Jonathan dulu, yang lebih dekat dari sini. Setelah itu, baru kita ke kosan Zee.”
“Oke,” jawab Sifa, segera bersiap membantu Heri membopong Zee.
****
Heri tiba dengan susah payah di depan pintu apartemen Jonathan. Heri terlihat terengah-engah saat membopong Jo yang limbung, sementara Sifa masih di dalam mobil menemani Zee.
“Jo! Cepat! Apa password-nya?” tanya Heri, kepalanya sudah dipenuhi keringat.
“Li … ma … du …” Jonathan meracau, suaranya tercekat. Belum juga ia menyelesaikan ucapannya, tubuhnya sudah terkulai lemas, hampir jatuh menimpa lantai koridor.
“Jo!” Heri berteriak, berusaha keras menahan Jo agar tidak benar-benar ambruk.
Kembali ke Parkiran.
Heri menyerah. Ia kembali mendorong tubuh Jo yang sudah tak sadarkan diri ke kursi penumpang mobil, tepat di sebelah Zee yang masih terus meracau tak karuan di alam mabuknya.
Heri pindah ke kursi kemudi. Sifa yang duduk di kursi sampingnya (kursi penumpang depan), merasa heran.
“Lho, Mas, kok dibawa ke mobil lagi?” tanya Sifa.
“Aku enggak tahu password-nya! Dia lagi teler dan nggak jelas bicaranya!” jawab Heri kesal sambil mulai menyetir menjauh dari gedung apartemen. Wajahnya dipenuhi keringat dan kekesalan.
“Jadi, sekarang bagaimana?”
“Aku akan bawa dia ke rumahku,” ucap Heri, mencoba tenang.
Sifa sontak terdiam sejenak. “Bu-bukannya kita mau makan malam bersama di rumah Mas?” tanya Sifa malu-malu, mengingat rencana awal mereka.
Heri menghela napas panjang, lalu tiba-tiba sebuah ide melintas di wajahnya. Ekspresi kesal Heri berubah, digantikan oleh senyum licik.
“Gini aja,” katanya, suaranya sedikit mengandung rencana. “Kita bawa Jonathan ke kosan Zee saja kalau begitu.”
“Setuju!” teriak Sifa dengan nada ceria, semangatnya kembali naik, menyadari ada kesempatan seru menanti.
****
Keesokan Harinya …
Udara pagi yang dingin menyentuh kulit Zee. Ia perlahan tersadar, mengerjapkan mata, dan menguceknya pelan. Kepalanya terasa berat dan berdenyut akibat sisa mabuk semalam.
Ia merasakan keanehan. Tanpa ia sadari, semalaman ia tidur dengan bantalan yang tak biasa dan terasa hangat— bantalan d**a bidang yang berotot.
Zee mendongak, matanya yang masih sayu langsung terbelalak. Wajah Jonathan terpampang di depannya, begitu dekat. Ia merasakan tubuhnya memeluk erat pria itu.
“Aaaaa …!”
Zee sontak menjerit, refleks mendorong tubuh Jonathan menjauh.
Jonathan terkejut bukan main. Matanya langsung terbuka lebar, tersentak dari tidur. Sama seperti Zee, ia terlihat panik dan kaget setengah mati saat menyadari posisinya.