Bobok Bareng

923 Words
Zee, yang baru menyadari bahwa ia dalam keadaan telanjang bulat, segera menarik dan melilitkan selimut tebal itu ke seluruh tubuhnya, sementara detak jantungnya berpacu liar. “Kenapa … kenapa kamu bisa ada di sini?!” tanya Zee panik, suaranya bergetar hebat. Jonathan memijit keningnya yang berdenyut, mencoba mengumpulkan kepingan ingatan. “Entahlah. Aku juga tidak tahu.” Ia menatap Zee dengan ekspresi campur aduk antara kaget dan bersalah. “Maaf. Sepertinya … mungkin kita telah melakukan hal yang tidak seharusnya.” “Ah, cukup!” Zee sontak menutup kedua telinganya dengan tangan, menggeleng kuat. “Aku gak mau dengar!” Setetes air mata lolos, membasahi pipi. Jonathan terdiam, menutup mata sejenak, bingung harus berbuat apa. Situasinya benar-benar di luar kendali. “Maaf, aku benar-benar tidak sadar,” ucap Jonathan, mencoba menenangkan. Nada suaranya terdengar serak. “Apa kau tahu?” Zee menatapnya, matanya merah. “Aku ini masih perawan! Dan sekarang …?” Zee semakin menangis histeris, air matanya tak terbendung. Wajah Jonathan berubah pias, dipenuhi rasa bersalah yang mendalam. “Maaf. Sekali lagi, maaf,” ucap Jonathan dengan suara tertahan. “Aku tidak begitu banyak mengingat kejadian semalam. Maaf kalau aku—kalau aku sampai melakukan hal itu.” Ia berkata dengan gugup, menghindari tatapan Zee. Jonathan, yang masih bingung dan diliputi rasa bersalah, akhirnya memutuskan untuk beranjak dari ranjang. Tubuhnya yang telanjang tanpa sehelai benang pun sontak membuat Zee yang sedang menangis langsung memalingkan wajah, terkesiap. Jonathan bergegas memunguti pakaiannya yang berserakan, bercampur aduk dan bertumpuk dengan pakaian Zee di lantai. Saat tangannya meraih celana, sekelebat ingatan liar tiba-tiba melintas. Ingatan samar tentang tangan Zee yang membantunya melepas celana jeans miliknya, diikuti dengan gambaran dirinya sendiri yang kikuk membantu Zee melepas kaitan bra. "Tidak ...". Gumamnya dalam hati. Seketika ingatan itu menghantamnya. Jonathan menggeleng kuat, memejamkan mata erat-erat. Rasa malu dan penyesalan yang mendalam membanjiri dirinya. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Jonathan memakai pakaiannya satu persatu, setelah ia selesai memakai pakaian. “Kalau sampai ada sesuatu setelah kejadian ini, jangan khawatir—aku akan tanggung jawab”. Ucap Jonathan dingin dan langsung pergi meninggalkan Zee sendirian yang masih meratapi dosanya. **** Zee baru saja memasuki aula utama Gym ketika suara nyaring memanggilnya. “Zee!” teriak Sifa sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi. Teriakan itu sontak menarik perhatian orang di sekitarnya, termasuk Jonathan yang berada tepat di samping Sifa bersama Heri. Jonathan seketika salah tingkah, ia langsung mengalihkan pandangan, berpura-pura sangat fokus pada barbel yang ia mainkan di tangan. Zee mendekati mereka, langkahnya terasa kaku. Ia berusaha keras terlihat biasa saja, namun ada kekikukan yang jelas terlihat saat ia mencoba menyapa Jonathan. “Hai …” sapa Zee pelan. Jonathan menjawab tanpa menoleh, suaranya terdengar datar dan dingin. “Hai.” Sifa dan Heri saling pandang sejenak. Ada aroma janggal antara dua orang ini. Mereka tahu ada yang tidak beres. “Zee, lo udah siap kan?” tanya Sifa, nadanya ceria. Zee hanya tersenyum tipis dan mengangguk, senyum yang terasa dipaksakan. “Oke, good! Silakan berlatih. Kami tinggal ya,” ucap Heri cepat. Ia buru-buru menarik tangan Sifa menjauh, meninggalkan Zee dan Jonathan dengan ketegangan yang menggantung di udara. Jonathan, yang masih memegang barbel, menoleh sedikit ke arah Zee. Ekspresinya datar, nyaris tanpa emosi, seolah tidak ada hal luar biasa yang terjadi semalam. “Apa kau sudah siap latihan?” tanyanya dengan suara dingin, tanpa basa-basi. “I-iya,” jawab Zee gugup. Ia bahkan tidak berani menatap mata Jonathan, fokusnya tertuju pada sepatu training-nya. "Bisa-bisanya dia setenang ini, setelah apa yang terjadi semalam?! Dasar cowok kulkas!" gerutu Zee dalam hati, kesal dan bingung. Jonathan berbalik, meletakkan barbelnya, lalu berjalan menuju deretan treadmill. “Kita akan pemanasan terlebih dahulu,” ucap Jonathan tanpa menoleh ke belakang. Ia mulai menyetel level pada salah satu mesin. “Jalan dulu di treadmill selama sepuluh menit.” “Baik,” sahut Zee, suaranya pelan dan teredam, berusaha keras mengikuti sikap profesional Jonathan. Zee sudah berjalan santai di atas treadmill, berusaha menyesuaikan ritme kakinya, sementara pikirannya masih berkecamuk. Jonathan berdiri tepat di sisinya, menjaga jarak profesional. “Kau belum makan apa-apa, kan?” tanya Jonathan, nadanya kini beralih menjadi instruktif. “Iya,” jawab Zee singkat, berusaha menstabilkan napas. “Cuma minum air putih.” Jonathan mengangguk puas. “Bagus. Jam makanmu pukul satu siang ini.” Ia menatap Zee, sedikit melunak namun tetap fokus. “Setelah latihan, aku akan pilihkan menu yang cocok untukmu.” Zee hanya bisa mengangguk pelan, terpaku oleh detail perhatian Jonathan di tengah sikapnya yang dingin dan datar. Ia merasa semakin bingung dengan sifat pria itu. Waktu pemanasan sepuluh menit yang terasa canggung telah berlalu, dan lima menit tambahan dalam keheningan pun ikut terlewati. “Cukup,” ucap Jonathan datar sambil menekan tombol STOP pada treadmill. Saat belt mesin melambat, Zee berusaha turun. Namun, karena pikiran yang masih dipenuhi kegugupan dan kaki yang sedikit lemas, ia kehilangan keseimbangan dan terpeleset. Brukk! Dengan refleks kilat, Jonathan mencengkeram erat lengan Zee, menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Mereka terhenti dalam posisi canggung: tubuh Zee bersandar miring padanya, dan kepala mereka menunduk. Wajah Zee dan Jonathan kini berjarak hanya beberapa senti, begitu sangat dekat. Napas hangat mereka berdua saling beradu, seketika memaksa otak mereka memutar kembali kejadian liar di malam yang memabukan itu. Ingatan tentang ciuman panas yang bermula dari hembusan napas hangat yang menyapu wajah kini melintas cepat. Ingatan itu hadir di kedua belah pihak, hingga desir gairahnya kembali terbawa saat mereka beradu mata kembali. Bibir mereka kini benar-benar dekat, seolah ciuman panas semalam menuntut untuk di ulang ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD