Flashback
Malam itu, Heri dengan susah payah memapah tubuh Jonathan yang terkulai untuk tidur di sofa ruang tengah kosan Zee. Sementara Sifa, yang tidak kalah kerepotan, berhasil meletakkan Zee di ranjangnya sendiri.
Namun, tidak lama kemudian, Jonathan, yang setengah sadar dan mabuk, bangkit dari sofa. Ia berjalan terhuyung-huyung dan entah mengapa, menemukan jalannya menuju ranjang Zee, lalu menjatuhkan diri tepat di samping gadis itu.
Zee, yang juga tidak sepenuhnya sadar, menggeliat dan berbalik. Wajah mereka langsung saling bertemu, berjarak hanya beberapa milimeter.
Napas yang berat dan panas dari sisa alkohol saling menyapu wajah satu sama lain. Tatapan mereka bertemu—sepasang mata Zee yang sayu dan Jonathan yang kabur. Dalam keheningan gelap, ketegangan fisik yang tidak disengaja itu meledak.
Maka terjadilah ciuman panas itu. Ciuman yang bermula dari dorongan hasrat karena alkohol, bukan kesadaran murni.
****
Zee segera menjauhkan diri, kembali menegakkan tubuh. Ada rona merah tipis di pipinya. “Terima kasih,” ucapnya cepat, berusaha mengabaikan momen singkat tadi.
“Sekarang kita akan mulai latihan dengan barbel,” kata Jonathan datar, mematahkan keheningan. Ia membungkuk, mengambil sepasang barbel kecil. “Untuk berat, gunakan yang dua kilo dulu.”
Ia menghampiri Zee. “Begini cara pegangnya.” Jonathan memberikan barbel itu, jari-jarinya langsung menyentuh punggung tangan Zee, mengajarinya cara menggenggam yang benar.
Setiap sentuhan fisik Jonathan, sekecil apa pun, entah mengapa membuat tubuh Zee berdesir aneh.
Jonathan kemudian merentangkan kedua tangan Zee lurus ke samping, dengan ujung tangan menggenggam barbel.
Selanjutnya, Jonathan memposisikan dirinya di belakang Zee. Telapak tangannya mendarat di pinggang Zee untuk mengoreksi postur.
“Tegakkan tubuhmu—ya, begitu,” ucapnya, suaranya rendah dan dekat di telinga Zee. Tangannya masih menekan lembut pinggang Zee untuk menahan agar tubuhnya tetap lurus.
“Gerakkan lenganmu perlahan dengan gerakan memutar. Putarannya ke arah depan.”
Zee mengikuti seluruh perintah Jonathan dengan seksama, berusaha mati-matian fokus pada gerakan, bukan pada sentuhan di pinggangnya.
“Ya, begitu. Tubuh harus tetap tegak.” Jonathan mengulang instruksi, tangannya tetap di tempat.
"Dia mau pegang pinggangku sampai kapan, sih?! Aduh ... Gue bisa ‘banjir’ nih kalau begini terus!" rengek Zee dalam hati, sambil menahan napas.
“Berhenti,” ucap Jonathan tiba-tiba, suaranya tegas.
Seketika, Zee menghentikan gerakannya. Ia menunggu, berusaha menenangkan detak jantungnya yang sudah berpacu liar.
Jonathan bergerak sangat dekat dari belakang, menundukkan kepalanya tepat berada di tengkuk leher Zee, Jonathan menggunakan tangannya untuk meluruskan rentangan tangan Zee hingga mencapai posisi sempurna.
Napas Jonathan yang kembang kempis karena mengecek gerakan kini terasa hangat, mengembus tepat di telinga Zee.
Desiran gairah di tubuh Zee makin meronta. Napasnya tersengal-sengal, bukan karena kelelahan setelah olahraga, tetapi karena menahan gelombang gairah panas yang tiba-tiba membara.
“Luruskan tanganmu. Tetap memutar, namun jangan mengubah posisi lengan. Putar hanya pada pergelangan tangan yang memegang barbel,” instruksi Jonathan berbisik, seolah sengaja menambah intensitas ketegangan pada tubuh Zee.
“I-iya,” sahut Zee gugup, suaranya nyaris tercekat.
“Lebarkan sedikit kakimu,” instruksi Jonathan selanjutnya, masih dengan nada datar.
Zee segera melebarkan kakinya, tetapi gerakannya canggung.
“Jangan terlalu lebar—dan jangan terlalu sempit juga,” koreksi Jonathan, terdengar sedikit tidak sabar karena Zee terus salah melakukan instruksi dasar. Tanpa peringatan, ia mencondongkan badan dan menempelkan tangannya ke paha Zee untuk mengukur posisi kaki yang tepat.
Sentuhan mendadak di area sensitif itu seketika membuat Zee meremang hebat. Bulu kuduknya langsung berdiri, dan gelombang gairah yang ia tahan tadi kini makin tak terkendali.
“Buka selebar bahu. Tidak lebih dan tidak kurang.” Jonathan berkata, namun tangannya seolah enggan beranjak dari paha Zee, menahan posisi kaki itu selama beberapa detik.
“Su-sudah, kan? Benar begini?” Zee memaksakan suaranya terdengar normal, berharap Jonathan segera melepas sentuhannya dari paha.
“Yup, tepat,” jawab Jonathan, akhirnya menarik tangannya kembali.
"Astaga, apa dia tidak merasakan apa-apa dari sentuhan ini?! Apa aku ini yang terlalu gila?!" gumam Zee dalam hati, menahan diri agar tidak menunjukkan betapa terpengaruhnya dia.
"Atau, apa aku ini yang memang terlalu mudah terangsang?!" Batinnya bergema, dipenuhi rasa malu dan frustrasi.
Enam puluh menit telah berlalu sejak latihan dimulai. Tepat ketika napas Zee mulai teratur, Jonathan menghentikannya.
“Waktu latihan untuk hari ini sudah selesai.” Suara Jonathan memecah keheningan di sudut gym.
Zee refleks mendongak. “Sudah?” Nada suaranya sarat keheranan.
Jonathan tidak menatapnya. Ia berjongkok di dekat bangku, sibuk mengikat tali sepatunya yang longgar. “Ya. Untuk level pemula seperti dirimu, satu jam itu sudah lebih dari cukup.” Ucapnya datar, tanpa emosi.
“Gue bayar mahal-mahal cuma latihan secepat ini? Kekecewaan memukul d**a Zee.
Jonathan berdiri. Ekspresinya berubah serius. “Dengar baik-baik. Menu makanmu sudah aku atur, Ambil di kantin lantai satu.” Telunjuknya menunjuk ke arah pintu. “Ada dua porsi: satu porsi makan untuk buka jam satu, dan porsi makan terakhir jam enam sore.”
“Di luar dua porsi itu, jangan pernah sentuh makanan lain. Apapun itu. Jelas?” Jonathan menekankan setiap kata.
“O-oke!” Zee menjawab buru-buru. Tatapan Jonathan yang tajam membuatnya bergidik.
“Kalau ada keluhan setelah latihan, apapun itu, hubungi aku.” Jonathan melangkah mundur, memindai ekspresi Zee sejenak. “Heri sudah kasih nomor WA-ku, bukan?”
“Iya,” jawab Zee, bingung harus bereaksi seperti apa.
Tanpa menunggu balasan, Jonathan berbalik dan pergi, menghilang di antara keramaian alat gym. Ia meninggalkan Zee sendirian, yang masih terdiam di tengah aula gym.
Apa kejadian semalam sama sekali tidak membebani pikirannya? Pikir Zee, menatap punggung Jonathan yang menjauh. Kenapa dia bisa setenang itu, seolah tidak terjadi apa-apa?
Rasa kesal merayap naik. Ia melipat tangan di d**a, mendengus pelan.
“Ih ... sebel! Sebel!” Zee bergumam, suaranya sedikit tertahan, tidak ingin orang lain mendengarnya. Kenapa aku sendiri yang kepikiran terus-terusan? Ia lantas menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, melampiaskan kejengkelannya yang bercampur rasa malu.
****
Zee mengambil menu dietnya di kantin lantai satu. Saat membuka kotak bekal tersebut, matanya langsung terbelalak.
“Apa?! Menunya cuma ... begini?!” Zee terkejut. Hanya ada d**a ayam tanpa kulit, brokoli kukus, dan sedikit nasi merah.
Ia mendengus keras, menutup kotak itu kembali. “Aku pasti bisa, Zee. Demi body goals,” ucapnya menyemangati diri sendiri, meski suaranya terdengar ragu.
Zee berjalan menuju area parkir. Ia melihat Jonathan berjalan beberapa langkah di depannya. Tiba-tiba, Jonathan menekan tombol kunci di tangan, dan lampu sebuah mobil sport hitam mewah menyala berkedip.
“Mobilnya mewah sekali,” gumam Zee.
Namun, sebelum Jonathan mencapai mobilnya, seorang wanita tiba-tiba menghadang langkahnya. Wanita itu mengenakan masker, topi yang ditarik rendah, dan kacamata hitam besar—seolah ia berusaha keras agar identitasnya tidak diketahui.
“Semalam kau kemana, Jo? Aku menunggu di depan apartemenmu sampai pagi,” ucap gadis itu, suaranya teredam masker namun terdengar frustrasi.
Melihat situasi itu, Zee refleks menarik diri, bersembunyi di samping sebuah SUV terdekat.
Jonthan tidak menjawab, namun kalimat yang diucapkanya membuat Zee menganga—
“Zee, kemarilah. Tidak usah bersembunyi di situ,” panggil Jonathan tanpa menoleh ke arahnya.
Zee terkejut, jantungnya mencelos. Ia tidak berniat menguping; mobilnya memang berada di seberang sana!
“Zee …” Jonathan mengulang panggilannya, kali ini dengan nada yang mendesak.
Zee seketika melangkah dengan ragu, muncul dari balik mobil dengan wajah tertunduk malu.
Aduh, kenapa aku harus berada di situasi seperti ini? batin Zee kalut.
Zee juga bertanya-tanya, Siapa gadis yang berbicara dengannya? Apa dia selebriti? Segitunya tidak mau menampakkan diri.
Jonathan melangkah menghampiri Zee. Tanpa aba-aba, ia menarik pergelangan tangan Zee dan membawanya ke depan gadis bermasker itu.
Zee sontak membelalak kaget, namun rasa malu dan terkejut membuatnya kelu, tidak bisa berkata apa-apa.
“Dia pacar baruku.” Jonathan melepaskan genggaman tangannya dan beralih melingkarkan lengannya ke pinggang Zee, menarik tubuh Zee rapat ke sisinya.
Zee semakin dibuat terkejut. Ia menoleh ke arah Jonathan dengan mata membulat sempurna, mencari jawaban atas tindakan tiba-tiba pelatihnya itu.
“Kau bertanya semalam aku kemana, bukan?” Jonathan menatap tajam ke arah gadis bermasker itu. “Semalam aku di rumahnya. Kami sedang bercinta.”