“Kau bertanya semalam aku kemana, bukan?” Jonathan menatap tajam ke arah gadis bermasker itu. “Semalam aku di rumahnya. Kami sedang bercinta.”
Setelah mengucapkan kalimat panjang yang terasa seperti ledakan itu, Jonathan segera menarik Zee kemudian mendorong Zee masuk ke kursi penumpang di mobil mewahnya.
Zee hanya bisa menurut, pikirannya masih bingung mencerna situasi yang tiba-tiba.
Mobil sport hitam itu melaju pergi, meninggalkan gadis misterius tersebut yang masih terpaku diam di parkiran.
“Apa maksud semua ini?”. Tanya Zee bingung menatap Jonathan dengan tatapan picing sedikit kesal.
Jonathan menghela nafas panjang, masih fokus pada posisi mengemudi. “Kita cari kafe dulu untuk bebicara baik-baik”.
“Aku bawa mobil sendiri di parkiran, turunkan aku di sini”. Ucap Zee.
“Kita ke kafe dulu untuk bicara, nanti aku antar kembali ke gym untuk mengambil mobil”. Balas Jonathan memaksa.
Zee mendengus kasar, menyilangkan kedua lenganya ke d**a, ia membuang muka ke sisi jendela dengan kesal.
****
Mereka kini duduk saling berhadapan di sebuah kafe bergaya minimalis. Aura dingin dan tegang menggantung di antara meja kayu itu.
"Kamu tidak pesan sesuatu?" tanya Jonathan, suaranya terdengar terlalu tenang dibandingkan keheningan yang mencekik.
"Apa lo lupa," balas Zee, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Lo yang berpesan agar gue tidak makan apa pun selain makanan yang sudah disediakan kantin gym?" Nadanya ketus dan tajam.
Jonathan terdiam sejenak, senyum tipis terukir di bibirnya. "Lo-Gue?" Ia menggeleng pelan, ekspresinya justru terlihat terhibur, bukan tersinggung. Panggilan formal 'Aku-Kamu' mereka telah hilang, digantikan sapaan gaul yang menyiratkan kemarahan Zee.
"Aku pesankan kopi hitam tanpa gula, ya," ucap Jonathan, senyumnya tetap ramah dan tak tertebak.
"Terserah," jawab Zee pendek dan tajam.
Kenapa dia berubah seramah ini? batin Zee heran. Senyum-senyum begini lagi?
"Cepat katakan," desak Zee, mencondongkan tubuh sedikit di atas meja. "Apa maksud perkataanmu di parkiran tadi?"
"Sabar. Kopimu akan datang sebentar lagi. Kita minum dulu, baru kita bicara dengan pikiran yang tenang."
"Ck!" Suara decakan kesal terdengar tajam dari mulut Zee. Ia mendorong tubuhnya ke punggung kursi dengan kasar. Matanya menyapu seisi kafe, menghindari tatapan Jonathan.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan meletakkan pesanan mereka. Dua cangkir keramik berisi kopi hitam pekat, tanpa sentuhan gula, mengepul di atas meja.
Jonathan meraih cangkirnya dan menyeruputnya dengan gerakan yang disengaja, sangat perlahan. Ekspresi wajahnya sama tenangnya seperti uap kopi yang naik.
"Minumlah. Setelah itu ... kita bicara."
Zee tidak menunggu lagi. Ia meraih cangkirnya dan langsung menyeruput isinya dengan tergesa-gesa.
"Aw!" Ia tersentak, mata terpejam sebentar. Rasa panas membakar lidahnya.
Jonathan hanya tersenyum tipis melihat reaksi itu. "Pelan-pelan saja. Itu masih panas. Kau mau lidahmu melepuh sebelum kita mulai berbicara?"
Kenapa dia jadi banyak bicara begini? batin Zee dongkol. Ia berdecak pelan sambil meniup-niup kopi dengan frustrasi.
Zee menaruh cangkir kopi dengan hentakan yang cukup keras hingga airnya sedikit beriak. Ia menyilangkan tangan di d**a, menunjukkan bahwa kesabarannya sudah habis.
“Ayo cepat mulai, jelaskan apa maksudmu?” ucap Zee, nada suaranya jelas mengandung kekesalan dan kejengkelan.
Jonathan menggaruk-garuk tengkuknya, ekspresi khas orang yang mempertimbangkan apa yang akan ia ucapkan. Jonathan menarik napas panjang.
“Aku ingin kita berpura-pura pacaran,” ucap Jonathan.
Hening sesaat. “Kau bercanda?” Zee nyaris tertawa saking terkejutnya. Wajahnya langsung masam.
“Demi apa? Gadis yang mengejarmu tadi?” sambar Zee, alisnya terangkat tinggi, sorot matanya menunjukkan penghinaan.
“Bisa dibilang begitu,” Jonathan bergumam pelan.
“Tidak! Aku tidak mau!” tegas Zee, suaranya meninggi penuh penolakan.
Jonathan mengangkat tangan, memberi isyarat agar Zee menahan diri. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, senyum seorang negosiator yang yakin tersungging di bibirnya. Ia memainkan kartu trufnya.
“Tunggu dulu, jangan langsung menolak, aku akan menjadi personal trainer mu secara gratis, tentu juga kalau kau membutuhkanku untuk membuat mantan pacarmu cemburu, aku siap”. Ucap Jonathan penuh nada tawar menawar.
Zee mendengus, menyikapkan tangan di d**a, ekspresi ketidakpercayaan terpampang jelas di wajahnya. “Tidak, aku tidak membutuhkannya”. Ucap Zee kesal.
Jonathan tidak menyerah. Ia memajukan sedikit tubuhnya, matanya mengunci sorot mata Zee, memaksa gadis itu untuk mendengarkan.
“Tenang dulu, coba pikirkan baik-baik … tidak ada yang di rugikan bukan?”. Ucap Jonathan kembali memaksa Zee menerima tawarannya.
Benar juga sih … aku bisa hemat pengeluaran … Pikiran itu melintas cepat di benak Zee, diikuti oleh pergolakan batin yang keras. ah tidak tidak, jangan gila Zee.
Zee menarik napas panjang, memutuskan untuk mengabaikan godaan logis tersebut. Ia mencengkeram tepi meja sebentar, lalu bangkit dengan gerakan tegas.
“Aku tidak mau, kau tidak perlu mengantarku ke gym, aku akan ke sana sendiri”. Ucap Zee.
Zee berdiri dan berbalik cepat, berusaha keras menunjukkan agar gerakanya terlihat mantap dan tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.
Zee berjalan dengan langkah tergesa, pikirannya masih dipenuhi kekesalan akibat ulah Jonathan tadi. Tiba-tiba, langkahnya tersendat, melambat menjadi gerak jalan yang ragu. Pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok yang familiar di salah satu meja kafe atau restoran di kejauhan.
Jantung Zee seolah mencelos. Itu adalah David, mantan pacarnya, yang sedang duduk bersisian dengan seorang gadis. Mereka terlihat tertawa, bahu mereka berdekatan, sungguh pemandangan yang sangat mesra.
Zee segera memicingkan matanya, mencoba memastikan penglihatan buramnya. Ia mengucek mata dengan telapak tangan, gerakan yang cepat dan panik, lalu dengan terburu-buru, tangannya merogoh isi tas untuk mencari kacamata minusnya.
Kacamata itu terpasang. Pandangannya kini menjadi tajam—seperti kamera yang baru fokus—mengungkapkan detail yang menyakitkan.
“Tidak mungkin,” gumamnya lirih, suara kecil itu tercekat di tenggorokan.
Kakinya memaku di tempat. “Ini … tidak mungkin,” ia berulang kali meyakinkan dirinya sendiri, mencoba menepis keras-keras bahwa pemandangan menyakitkan yang dilihatnya adalah ilusi.
Zee melangkah cepat dengan nafas memburu setelah memastikan dia tidak salah lihat, ia menghampiri David yang terlihat mesra dengan seorang gadis di sudut kafe.
Zee melangkah pelan, menjaga agar langkahnya tidak terdengar, hingga ia benar-benar berdiri di samping meja David. Ia memaksakan senyum yang terasa dingin di wajahnya, kemudian menyapa dengan nada yang terlalu ceria untuk situasi sepahit ini.
“Hai … “ sapa Zee kepada David.
David tersentak hebat, matanya melebar karena terkejut. Ia bergegas menarik tangannya dari pinggang gadis di sampingnya, berusaha melepaskan pelukan yang jelas-jelas baru sedetik lalu begitu mesra.
Gadis itu mendongak, wajahnya pucat pasi melihat Zee. “Kak Zee?” Ucap gadis itu, kaget.
Zee menghela napas perlahan, mencoba menahan gejolak amarah yang mendidih di perutnya. Ia membiarkan senyumnya melebar, terlihat seperti sebuah topeng.
“Jadi … selama ini kau selingkuh dengan adikku sendiri?” Ucap Zee dengan senyum yang ia paksakan.