Zee tidak memberi David kesempatan untuk menjawab. Ia mengambil ponselnya dari tas dengan gerakan mantap, langsung menghubungi nomor Jonathan.
“Kebetulan, aku juga sedang bersama pacar baruku”.
Telepon tersambung. Zee menempelkan ponsel di telinga, bicaranya lantang dan dibuat-buat manja. “Sayang … coba berbalik dan lihat ke belakang”. Zee melambaikan tangannya ke Jonathan yang duduk di meja seberang, memastikan David dan gadis itu melihat interaksi palsu tersebut.
“Sayang, kita ganti meja, aku ketemu teman lama, sini kita bergabung”. Ucap Zee dalam telepon kepada Jonathan yang duduk di meja seberang.
Jonathan terlihat bingung sejenak, alisnya terangkat mempertanyakan apa yang terjadi. Namun, kecerdasan dan naluri cepatnya segera mengambil alih, dan ia memahami apa yang sedang di lakukan Zee—sebuah tindakan balas dendam dramatis.
Dari kejauhan terlihat Jonathan tersenyum tipis, menerima peran barunya. Ia beranjak dari kursinya dengan santai dan melangkah pasti menuju ke arah mereka.
Begitu Jonathan tiba di sampingnya, Zee tidak membuang waktu sedetik pun. Ia menyambut kedatangan Jonathan dengan cepat melingkarkan lengannya di pinggang Jonathan, sebuah gestur yang terlihat posesif dan intim, memastikan David dan Cindy melihat betapa dekatnya mereka.
“Sayang, ini adikku, Cindy namanya, dan ini David, ‘teman’ lamaku,” Ucap Zee memperkenalkan, senyumnya kini tidak lagi dipaksakan, melainkan dingin dan penuh kemenangan. Ia menekan sedikit kata 'teman'.
Jonathan seketika memainkan perannya dengan sempurna. Ia memberikan senyum ramah yang tampak tulus—kontras dengan situasi tegang yang diciptakan Zee.
“Hai, aku Jonathan pacar Zee.” Jonathan mengulurkan tangan dan menyalami mereka satu persatu, kontak matanya tajam namun sopan.
Cindy terbelalak, matanya tidak bisa lepas dari sosok Jonathan. Pesona Jonathan memang tak terbantahkan: tubuhnya yang tinggi dibalut kaos sleeveless olahraga quick-dry berwarna gelap—pakaian yang secara sempurna menonjolkan kontur otot bisep dan bahu yang terlihat maskulin dan kuat.
Bahkan David terlihat ciut di hadapan postur Jonathan.
“Apa kami boleh bergabung.” Tanya Jonathan, nadanya terdengar santai dan bersahabat, seolah tidak ada drama apa pun.
Cindy langsung melompat dari kursinya, antusiasme tiba-tiba memancar dari wajahnya. “Tentu saja, boleh-boleh … silahkan.” Ucap Cindy penuh antusias.
Di seberang meja, David tampak seperti patung beku, wajahnya memerah karena malu, kepalanya tertunduk menghindari kontak mata. Namun, kontras mencolok terlihat pada Cindy, yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Ia malah tertawa genit dan memiringkan kepala saat menatap Jonathan.
“Kak Jonathan ketemu Kak Zee dimana?” Tanya Cindy, suaranya dibuat-buat manja.
Jonathan memberikan senyum profesional, seolah-olah ia sedang menjawab pertanyaan ringan dari klien. “Di gym,” Ucap Jonathan.
Zee menahan napas, berusaha keras agar amarahnya tidak meledak melihat tingkah Cindy yang terlalu genit dan lancang. Sesekali, pandangan tajam Zee beralih ke David yang masih tertunduk malu. Amarah Zee seolah mendidih, melihat betapa santainya Cindy dan betapa pengecutnya David.
Cindy memajukan tubuhnya sedikit, ekspresi curiga terlihat jelas di matanya. “Bukanya Kak Zee baru putus ya, kok cepat sekali sudah punya pacar baru.” Ucap Cindy, menekankan kata ‘baru putus’.
Zee tersenyum sinis, senyum itu tidak mencapai matanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, meniru gaya intimidasi Cindy, dan membalas serangan itu dengan tenang namun mematikan.
“Pacarmu juga baru putuskan, bukan begitu David.” Tanya Zee membalikkan pertanyaan itu, tatapannya kini menusuk lurus ke arah David, memaksa David mengangkat kepala.
Pertanyaan tajam Zee membuat David benar-benar mati kutu. Ia terlihat salah tingkah dan tidak nyaman, segera menyibukkan tangannya dengan mengaduk kopi di depannya berkali-kali, padahal kopinya sudah larut. David menghindari tatapan semua orang.
Cindy tersenyum miring, melihat David tertekan. Ia mengalihkan topik dengan cepat, langsung menyerang titik lemah Zee yang lain—hubungan keluarga.
“Kak Zee, lama gak pulang ke rumah, apa gak kangen mama?” Tanya Cindy, nadanya manis namun menusuk, jelas sekali dipenuhi rivalitas.
Zee mengatupkan rahang sejenak. Aura kemenangan palsunya langsung runtuh, digantikan oleh ketidaknyamanan yang mendalam. Ia menegakkan punggungnya, mencoba menunjukkan ketahanan diri.
“Maaf, aku sangat sibuk, sampaikan kepada mama, anak ‘kandungnya’ baik-baik saja, bahkan dia lebih bahagia bisa hidup sendiri,” Ucap Zee. Intonasinya penuh penekanan, terutama pada kata 'kandungnya'. Suara itu terdengar dingin dan datar, syarat akan luka lama yang belum sembuh saat menjawab pertanyaan Cindy.
Jonathan yang sedari tadi hanya mengamati dan mendengarkan, kini mengencangkan genggaman tangannya di pinggang Zee—sebuah sentuhan dukungan yang tak kentara. Ia mulai menyadari bahwa hubungan adik-kakak antara Zee dan Cindy penuh dengan luka dan persaingan yang tersembunyi.
Wajah David sudah tidak bisa menahan rasa malu dan canggung lebih lama lagi. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, berbisik dengan nada mendesak kepada Cindy.
“Cindy, aku ada janji temu dengan klien, sepertinya kita harus segera pergi,” Ucap David, berusaha segera menyingkir dari pertemuan yang tidak mengenakkan dan memalukan itu.
Cindy mengerucutkan bibir, ekspresi kesalnya lebih ditujukan karena harus meninggalkan Jonathan yang membuatnya terkesima. “Tapi kan kita baru sebentar kak,” Ucap Cindy dengan nada manja dan protes yang dibuat-buat.
David tidak peduli dengan protes Cindy. Ia segera bangkit dari tempat duduknya dengan gerakan cepat, sembari menarik pergelangan tangan Cindy agar gadis itu ikut berdiri.
“Kami permisi dulu, sampai ketemu lagi,” Ucap David buru-buru, nadanya terdengar seperti sebuah permintaan maaf yang terpaksa, sambil terus menarik Cindy agar menjauh.
“Kak David tunggu, minumanku belum aku minum …” ucap Cindy manja, terpaksa mengikuti langkah cepat David, tubuhnya tertarik menjauh. Cindy masih sempat menoleh ke arah meja dengan tatapan penuh penyesalan, merasa sangat sayang meninggalkan milkshake yang belum sempat ia sentuh sedikit pun, apalagi meninggalkan Jonathan.
Begitu David dan Cindy menghilang dari pandangan, Zee merasa seolah seluruh bebannya terangkat. Hembusan napas panjang yang berat, menandakan kelegaan.
Seketika itu juga, raut wajah Zee berubah total. Sosok Zee yang penuh percaya diri dan agresif yang baru saja ia perlihatkan di depan mantannya telah sirna tak berbekas. Kini matanya menjadi redup, dan terlihat sangat murung tak bersemangat.
Zee mencengkeram erat tasnya, menghindari kontak mata dengan Jonathan.
“Kau bisa mengantarku ke tempat Gym lagi,” ucap Zee dengan nada sumbang yang parau, Zee sedang berusaha keras menahan tangisnya pecah.
Jonathan tidak berkomentar tentang perubahan drastis itu. Ia menatap Zee sejenak, raut wajahnya menjadi serius dan penuh pengertian.
“Tentu saja,” jawab Jonathan singkat, nada suaranya tenang dan tegas, tidak ada lagi unsur bercanda atau negosiasi.
****
Pertemuan yang penuh intrik dan drama itu telah usai. Jonathan dan Zee kini berada di dalam mobil, kembali menuju gym tempat Zee meninggalkan mobilnya. Keheningan tebal menggantung di antara mereka, kontras dengan keriuhan adegan yang baru saja terjadi.
Sepanjang perjalanan, Zee mematung, memalingkan wajahnya sepenuhnya ke arah jendela samping. Dadanya terlihat naik turun tidak teratur, indikasi jelas bahwa ia sedang berjuang menahan isaknya. Meskipun Zee berusaha meredam suara tangisannya sekuat tenaga, suara isak tangis lirih yang pecah dan menyakitkan itu tetap mampu mencapai telinga Jonathan.
Sesekali, punggung tangan Zee terangkat cepat untuk mengusap air mata yang terus membanjiri pipinya. Ia mengulanginya berkali-kali, seolah mencoba menghapus seluruh kepedihan dari wajahnya.
Perjalanan yang terasa sangat panjang dan sunyi itu akhirnya berakhir di area parkiran gym.
Tersadar telah sampai, Zee segera menghentikan tangisnya. Ia mengusap kasar sisa-sisa air mata di pipinya. Begitu air mata hilang, ekspresinya berubah drastis. Ia kini menatap lurus ke depan, pandangannya menajam, penuh tekad dingin.
“Apa tawaranmu tadi siang masih berlaku?” Tanya Zee, suaranya sedikit serak, namun ia tidak menoleh sedikit pun ke arah Jonathan.
Jonathan menarik napas, matanya mengamati perubahan cepat itu. “Tentu saja,” jawab Jonathan mantap.