Pura Pura Pacaran

1297 Words
Jonathan merasakan betul kerapuhan di balik suara Zee. Nada suaranya segera berubah menjadi penuh kekhawatiran. “Apa kau baik-baik saja? Aku akan mengantarmu pulang. Tinggalkan mobilmu di sini saja,” Ucap Jonathan, matanya mengunci Zee, penuh perhatian. “Tidak usah, aku baik-baik saja,” balas Zee, suaranya terdengar terlalu keras untuk meyakinkan. Tanpa menunggu balasan, ia cepat-cepat membuka pintu mobil dan berjalan keluar, terhuyung sedikit seolah baru saja menahan beban yang teramat berat. Zee belum terlalu jauh dari mobil, hanya beberapa langkah. Tiba-tiba, kekuatan yang menahannya lenyap. Tubuhnya mendadak lunglai, lemas tak berdaya, dan ia terjatuh dengan suara ‘bruk’ yang teredam di lantai beton basement parkiran. Tubuh Zee bergetar hebat, tak lagi bisa menahan. Isak tangisnya pecah. Jonathan segera melompat keluar mobil tanpa mematikan mesin. Ia langsung berlutut di samping Zee, dan tanpa ragu, Jonathan mendekap erat tubuh Zee. Zee pasrah menerima pelukan itu, semua benteng pertahanannya runtuh. Tangis Zee makin pecah, raungannya keras, seolah semua kepedihan, amarah, dan rasa malu yang berhasil ia tahan sejak tadi, kini tumpah tak bersisa. Sesaat kemudian, sorot lampu mobil lain menyala dan bergerak mendekat, hendak melewati jalur parkir mereka. “Kita menghalangi jalan, ayo kita masuk mobil,” ucap Jonathan dengan sigap dan suara mendesak. Jonathan memapah tubuh Zee kembali ke kursi penumpang mobilnya. Tanpa pikir panjang, Jonathan segera menutup pintu dan menancap gas, melajukan mobilnya keluar dari parkiran dengan kecepatan tinggi. Zee masih meraung keras, terhanyut dalam tangisan. Ia sudah tak peduli lagi dengan apa itu rasa canggung atau malu. Di dalam mobil Jonathan, di kegelapan malam, ia ingin menumpahkan kesedihanya untuk sebentar saja. Setelah beberapa saat, deru mesin mobil Jonathan menjadi satu-satunya suara yang mengisi kabin. Mobil itu hanya berputar-putar di jalanan kota tanpa tujuan yang jelas, memberikan Zee waktu untuk menenangkan diri. “Mau kemana?” Tanya Zee, suaranya kini kembali datar, menunjukkan bahwa ia mulai tenang dan kembali fokus. Jonathan melirik sebentar ke arah Zee. “Apa aku antar ke rumahmu sekarang? Tadi aku sengaja berputar-putar di jalanan kota agar kau punya waktu untuk sendirian.” “Kita bicarakan kesepakatan tadi,” potong Zee. “Terserah kau mau mendiskusikan itu di mana. Aku nurut.” “Oke.” Jonathan mengangguk singkat. Ia segera memutar balik mobilnya, dan kini melaju dengan kencang menuju arah yang sudah ia tentukan. Tak lama kemudian, mobil memasuki area parkir sebuah gedung apartemen modern. “Kok kesini?” tanya Zee, alisnya terangkat karena terkejut. Jonathan menarik handbrake. “Tadi kau bilang kan terserah,” ucapnya santai. Maksudku terserah itu, ke kafe mana kek, atau ke restoran mana kek, gumam Zee dalam hati. Pikirannya langsung dipenuhi spekulasi yang membuat darahnya sedikit berdesir. Jonathan mematikan mesin, kemudian menoleh serius. “Dari pagi aku belum mandi. Kau juga kan? Wajahmu agak kusut,” katanya jujur. “Jadi, biar kita bisa memikirkan kesepakatan yang akan kita buat, sebaiknya kita dinginkan otak, dengan mandi dulu.” Zee langsung mengerutkan alisnya dalam-dalam, ekspresi keraguan dan sedikit kecurigaan tak bisa ia sembunyikan. Jonathan terkekeh pelan, membaca pikiran Zee. “Tenang aja, aku gak akan macam-macam,” tambahnya, nada suaranya meyakinkan namun tetap menggoda. “Oke,” ucap Zee, menghela napas, tahu ia tidak punya pilihan yang lebih baik, dan rasa lelah mengalahkan rasa curiganya. **** Cindy berlari kecil dengan langkah manja begitu memasuki ruang makan. “Papa …” serunya, langsung menyambut ayahnya dengan pelukan erat di kursi meja makan. Rizman, sang ayah, tersenyum lebar menyambut putrinya. “Dari mana saja kau nak? Sebulan papa tidak melihatmu, papa pulang dinas kau malah tidak di rumah,” Ucap Rizman, nada suaranya penuh kerinduan dan sedikit kekecewaan. “Cindy … kamu mau langsung makan atau mandi dulu?” Tanya Rita, ibu tiri Cindy dan ibu kandung Zee, nadanya lembut. “Aku belum lapar, Ma … aku mau mandi dulu,” Ucap Cindy manja, kepalanya masih bersandar di bahu Rizman. Cindy tidak menyia-nyiakan kesempatan saat Rizman memberinya perhatian penuh. “Oya, Ma … aku tadi ketemu Kak Zee, seperti biasa … Kak Zee ketus sekali padaku.” Cindy mengeratkan pelukan di badan ayahnya, mencari perlindungan. “Ketus gimana?” Tanya Rizman, raut wajahnya berubah khawatir. “Aku kan sekarang berpacaran dengan Kak David. Padahal sebelum aku pacaran, mereka sudah putus. Tapi Kak Zee mengira aku merebut Kak David darinya,” Ucap Cindy dengan mata berkaca-kaca, ekspresinya dipenuhi kesedihan yang diperhalus. Cindy menarik napas seolah menahan tangis. “Padahal aku ingin sekali dekat dengan Kak Zee, tapi Kak Zee selalu menganggapku saingannya,” lanjut Cindy. Air mata akhirnya menetes, menambah efek dramatisasi pada cerita bohongnya. Rita yang duduk di seberang meja hanya bisa tertunduk lesu. Ia memilin jemarinya, merasa bersalah atas sikap anak kandungnya. Mendengar cerita yang didramatisasi itu, Rizman langsung berdiri, amarah terlihat jelas di matanya. “Ma … coba kau temui Zee, suruh dia bersikap baik sama adiknya! Apa dia lupa, yang menyekolahkan dia sampai bisa lulus kuliah itu kan aku! Tanpa aku dia gak akan bisa jadi PNS sepeti sekarang,” Ucap Rizman, suaranya meninggi, penuh emosi dan kekuasaan. “Iya, Mas … nanti aku akan temui dia,” jawab Rita dengan nada pelan dan patuh. **** Zee mengikuti langkah Jonathan memasuki unit apartemen. Begitu pintu tertutup, Zee langsung terpaku sejenak. Interiornya luas dan minimalis, didominasi warna netral yang elegan. Wah … luas sekali, batin Zee, tanpa sadar membandingkannya dengan tempat tinggalnya sendiri. “Kamu tinggal sendiri?” Tanya Zee, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu. “Iya, keluargaku semua ada di Surabaya,” Ucap Jonathan sambil mengangguk santai, lalu menuntun Zee menuju koridor di dalam apartemen. Jonathan membuka sebuah pintu—kamar tamu. “Masuklah. Mandi duluan,” katanya. “Di dalam ada kamar mandi.” Saat Zee hendak melangkah masuk, Jonathan tiba-tiba menambahkan sesuatu dengan nada sedikit ragu dan malu-malu. “Ada pakaian wanita juga di dalam lemari.” Zee langsung menghentikan langkahnya, alisnya terangkat tinggi penuh pertanyaan. “Pakaian wanita? Punya pacarmu?” Tanya Zee, nada suaranya tanpa sengaja terdengar menyelidik. “Mantan,” Ucap Jonathan mengoreksi dengan cepat, sedikit tersenyum tipis. “Kalau kau gak mau memakainya, gak apa-apa. Aku bisa carikan pakaianku, kalau kau mau pake,” Ucap Jonathan, membiarkan Zee yang mengambil keputusan. “Aku ke kamarku dulu untuk mandi,” tambah Jonathan. Ia segera berbalik meninggalkan Zee sendirian di depan pintu kamar tamu. Zee cepat-cepat memanggil sebelum Jonathan sempat berbelok di ujung koridor. “Eh … aku mau pakai pakaianmu saja,” Ucap Zee, suaranya sedikit pelan. Jonathan menghentikan langkahnya mendadak, lalu berbalik dengan ekspresi sedikit terkejut sebelum senyumnya mengembang. “Oh, oke. Tunggu di sini … Aku akan ambilkan,” Ucap Jonathan, langsung berlari kecil ke kamarnya, gembira karena Zee menolak menggunakan pakaian mantannya. Hanya beberapa saat kemudian, Jonathan sudah kembali. Di tangannya, ia membawa satu setelan pakaian bersih: sebuah kaos putih oversize polos dan celana training hitam yang terlihat sangat nyaman. “Ini ukuran terkecil yang aku punya,” Ucap Jonathan, menyodorkan pakaian yang jelas akan tenggelam di tubuh Zee. “Terima kasih,” Ucap Zee, mengambil pakaian itu dari tangan Jonathan. Ujung jari mereka sempat bersentuhan sebentar, menciptakan sedikit kecanggungan yang hangat dan tak terduga di koridor itu. **** Zee keluar dari kamar tidur tamu. Ia mengenakan pakaian yang dipinjamkan Jonathan: kaos putih oversize dan celana training hitam. Kaos itu menenggelamkan bahunya dan celana itu harus dilipat berkali-kali di pinggang. Sekalipun tubuh Zee tidaklah kurus, tetap saja ukuran baju Jonathan terlihat kedodoran saat ia kenakan. Tepat pada saat itu, bel pintu apartemen berbunyi nyaring. Ting Tong! Jonathan keluar dari kamarnya dengan langkah santai. Ia hanya mengenakan handuk kimono berwarna putih yang terbuka sedikit di bagian d**a, memperlihatkan d**a bidang dan otot perut six packnya yang masih basah. Jonathan berjalan ke arah monitor interkom dan melihat siapa yang datang. Sekejap, ekspresi wajah Jonathan berubah total. “Siapakah yang datang, kenapa mukanya berubah begitu?”. Tanya Zee dalam hati
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD