Tamu Tak Diharapkan

1085 Words
Mata Jonathan mendadak menajam, dingin, dan aura kemarahan muncul mengelilinginya. “Zee, kemarilah … sekarang giliranmu bermain peran,” Ucap Jonathan, suaranya rendah dan mengancam. Ia tidak menoleh sedikit pun, pandangannya masih fokus dan tajam menatap layar monitor di depannya. Zee mengerti sinyal itu. Ia segera melangkah mendekati Jonathan menuju pintu. Ia paham betul apa yang harus ia lakukan, topeng aktingnya kembali terpasang. Pintu pun terbuka. Seorang gadis muncul. Wajahnya tertutup rapat dengan masker, topi, serta kacamata hitam, menyembunyikan identitasnya secara total. Tanpa basa-basi, Jonathan langsung mencengkeram pinggang Zee dengan kuat, menarik tubuh Zee merapat ke sisinya dengan gestur yang posesif. Zee segera merespons. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Jonathan mendongakkan kepala dengan ekspresi penuh cinta palsu, dan mulai menjalankan perannya sebagai pacar. Saat pintu terbuka, gadis yang bersembunyi di balik masker dan topi itu langsung tertegun. Di balik lensa kacamata hitamnya, mata membulat, membelalak karena terkejut melihat pemandangan Zee dan Jonathan yang begitu mesra. Gadis misterius itu berdiri kaku seperti patung, terdiam membisu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “Ada apa?” Tanya Jonathan, suaranya dingin dan menusuk, penuh percaya diri dan d******i, seolah-olah menantang gadis itu. “Ma-maaf, aku salah apartemen,” Ucap gadis itu, suaranya terdengar tercekat. Ia langsung berbalik dan melangkah terburu-buru, nyaris berlari menjauhi pintu apartemen Jonathan. Zee menghela napas lega yang panjang begitu pintu lift tertutup di kejauhan. Ia segera melepaskan lengannya dari pinggang Jonathan, seolah sentuhan itu membakar. “Apa dia mantanmu?” Tanya Zee, jiwa keponya meronta. “Em,” Jawab Jonathan singkat, langsung mengunci pintu tanpa ekspresi. “Apa dia artis?” Tanya Zee lagi, melihat cara gadis itu menyamarkan diri begitu rupa. Namun, Jonathan tidak langsung menjawab. Ia langsung berbalik dan berjalan menjauhi pintu, meninggalkan Zee yang masih berdiri kebingungan di ambang pintu. “Kau tidak perlu tahu,” Ucap Jonathan, nadanya tegas dan tertutup, mengakhiri percakapan itu sebelum Zee sempat bertanya lebih jauh. Zee menghela napas pasrah, kemudian melangkah pelan mengikuti Jonathan. Jonathan berjalan menuju ruang tengah, mengambil laptop ramping dari sebuah rak, dan segera menuju meja kerja minimalis di sudut ruangan. Ia duduk, layar laptop menyala, siap untuk bekerja. “Duduk sini,” ucap Jonathan tanpa menoleh, hanya menunjuk kursi ergonomis di sampingnya. “Ah … oke,” balas Zee, suaranya sedikit ragu namun ia segera memosisikan diri. Ia duduk di samping Jonathan, bahu mereka hanya berjarak sejengkal. Keintiman fisik ini terasa asing mengingat mereka baru bertemu beberapa jam lalu. “Kita bikin dokumen kesepakatan,” Ucap Jonathan, jari-jarinya mulai menari cepat di atas keyboard. Zee memiringkan kepala, mengamati kecepatan Jonathan mengetik. “Perlu seformal ini ya?” Tanya Zee, sebenarnya sedikit terkesan dengan keseriusan Jonathan. “Perlu,” jawab Jonathan, pandangannya tetap fokus pada layar. “Biar dari awal kita bersepakat, agar tidak ada yang dirugikan di kemudian hari.” Ucap Jonathan, nada suaranya praktis dan logis, seolah sedang merancang perjanjian transaksi bisnis. Jonathan fokus sepenuhnya pada layar. Jari-jarinya terus menari cepat di atas keyboard, merangkai poin-poin kesepakatan dengan kecepatan seorang pengacara. Zee mencondongkan tubuh sedikit ke depan untuk membaca draf itu. “Selama masa perjanjian, kedua belah pihak harus berperan layaknya pacar sungguhan.” Zee membaca salah satu poin, lalu menggeleng pelan. “Apa ini tidak berlebihan?” tanya Zee. “Aku rasa perlu ditambah kalimat ‘ketika di ruang publik, atau … di depan orang lain’.” Zee menekankan batas yang ia inginkan. “Oke,” ucap Jonathan tanpa membantah, segera mengetik tambahan klausul itu. Ia menggerakkan kursor ke bagian akhir draf. “Poin terakhir, jangka waktu.” Zee mendongak, tatapannya seolah mencari jawaban di langit-langit apartemen. “Kita mulai satu bulan aja dulu,” putus Zee, nadanya kini lebih tegas. “Kalau masih diperlukan, kita perbaharui perjanjian baru. Bagaimana?” “Oke,” ucap Jonathan, suaranya singkat dan setuju. Zee menghela napas, merasa lega telah menetapkan batasan. “Aku rasa cukup. Kita bisa menandatanganinya.” Jonathan menghentikan ketikannya. Ia menarik napas dalam, lalu mengambil gulungan kabel dari laci meja. “Tunggu, saya print dulu,” Ucap Jonathan. Ia mulai menyambungkan kabel penghubung printer yang tersembunyi di rak. Terdengar bunyi ‘klik’ halus saat kabel terpasang, diikuti oleh deru ringan printer laser yang siap memuntahkan dokumen penting itu. Saat Jonathan sedang menyiapkan printer, Zee tiba-tiba teringat satu detail penting. “Oya, apa kita perlu berakting juga di depan Heri dan Sifa?” Tanya Zee, memastikan sejauh mana batasan drama ini akan dilakukan. “Tentu saja,” Ucap Jonathan, memastikan kerahasiaan. “Cukup kita saja yang tahu perjanjian ini. Itu jauh lebih aman dan meyakinkan.” “Apa mereka gak curiga? Kita kan baru beberapa kali ketemu,” balas Zee, sedikit khawatir. Jonathan tersenyum misterius, mengambil lembar perjanjian yang baru saja keluar dari mesin printer dengan bunyi gesekan kertas yang renyah. “Tenang saja, kita gunakan dalih jatuh cinta pada pandangan pertama.” Mereka kini beralih tempat duduk dari meja kerja yang kaku, menuju sofa empuk di ruang tengah. Masing-masing memegang salinan kontrak, membaca dengan seksama setiap poin yang mereka susun, menginternalisasi setiap batasan dan kewajiban. “Aku oke,” Jawab Jonathan, melatakkan dokumennya di atas meja, siap untuk menandatangani. Zee masih menimbang-nimbang setiap poin terakhir. Ia menghela napas panjang—napas final dari semua keraguan yang tersisa. “Aku juga oke,” Ucap Zee, mengangguk mantap. Secara serempak, mereka mengambil pena yang tersedia. Zee meletakkan selembar kertas perjanjian itu di meja kaca di antara mereka dan keduanya mulai membubuhkan tanda tangan pada salinan masing-masing. Setelah tanda tangan pertama, mereka saling bertukar surat perjanjian dan menandatangani kembali pada bagian yang telah disediakan. Dokumen selesai. Jonathan melirik Zee, lalu mengulurkan tangannya di atas meja, meminta Zee untuk berjabat sebagai simbolisasi resmi dari kesepakatan mereka. Zee menatap mata Jonathan sejenak, menerima isyarat itu, dan menyambut tangan Jonathan dengan tegas. “DEAL!” Kata itu keluar dari mulut mereka secara bersamaan, mengunci takdir mereka sebagai sepasang kekasih palsu. **** Malam telah larut. Mobil Jonathan berhenti perlahan, cahayanya menembus gang kecil yang sempit sebelum akhirnya memasuki lorong kos tempat Zee tinggal. “Besok aku jemput,” Ucap Jonathan, suaranya rendah dan santai, begitu mobilnya tiba dan berhenti sempurna di halaman rumah kos Zee yang remang-remang. “Iya, terimakasih untuk hari ini”. Ucap Zee sembari mengangguk singkat. Ketika Zee hendak membuka pintu. Tiba-tiba, dari sorot lampu mobil Jonathan yang terang benderang, terlihat bayangan sosok seorang wanita paruh baya yang berdiri tepat di ambang pintu gerbang kos. Wanita itu tampak menunggu, wajahnya terlihat tegang. Jantung Zee langsung mencelos. “Mama?” Zee nampak terkejut bukan main, suaranya tercekat dan nyaris tak terdengar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD