Bab 5 🍒

737 Words
Kamar penthouse itu mendadak hening, hanya menyisakan suara deru napas keduanya yang perlahan mulai stabil dan suara gemeretak halus dari perapian modern di dinding. Suasana panas yang baru saja membakar ranjang king size itu perlahan menguap, meninggalkan kehangatan yang nyaman di balik selimut bulu tebal yang melilit tubuh polos mereka. Vero berbaring miring, menyandarkan kepalanya di atas d**a bidang Gavin yang masih naik-turun teratur. Kulit mereka yang masih agak lengket oleh keringat tipis saling menempel, memberikan sensasi intim yang belum pernah Vero rasakan dengan siapa pun sebelumnya. Tangan kanan Gavin melingkar posesif di pinggangnya, sementara jemari pria itu bergerak lambat, mengusap kulit lengan atas Vero dengan gerakan naik-turun yang menenangkan. "Om," cicit Vero pelan, suaranya terdengar serak banget akibat terlalu banyak mendesah pasrah selama beberapa jam terakhir. Gavin terkekeh rendah. Getaran di dadanya terasa langsung di pipi Vero, bikin wanita itu makin menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Gavin yang wangi maskulin. Pria itu mengecup puncak kepala Vero dengan lembut. "Kenapa, Sayang? Masih kurang?" Vero langsung mencubit pelan perut berotot Gavin, membuat pria itu mengaduh kecil sambil tertawa. "Bukan itu! Om bener-bener gak ada ampun, ya. Kaki aku rasanya kayak jeli sekarang, lemas banget tahu gak." "Kan tadi kamu sendiri yang minta lebih cepat, hm? Saya cuma menuruti kemauan asisten saya yang manja ini," goda Gavin, sengaja menekankan kata 'asisten' yang bikin Vero langsung teringat lagi kelakuan nekat mereka di toilet Harpa Concert Hall siang tadi. Vero mendongak, menatap dagu tegas Gavin dari bawah. "Om Gavin bener-bener ya. Kalau diingat-ingat, aku masih gak percaya bisa seberani ini. Maksudnya ... kita baru kenal kemarin malam di tengah badai salju. Tapi, sekarang, aku malah berakhir di kasur Om, di ujung dunia kayak gini." Gavin menghentikan gerakan tangannya di lengan Vero. Gavin ikut menunduk, menatap dalam ke arah sepasang mata sayu milik Vero yang kelihatan sangat cantik di bawah temaramnya lampu kamar. Sorot mata elang Gavin yang biasanya dingin dan penuh perhitungan saat rapat bisnis, kini berubah jadi begitu hangat dan lembut. "Ada beberapa hal di dunia ini yang gak butuh waktu lama buat diputuskan, Vero," ucap Gavin dengan suara beratnya yang menenangkan. Gavin merapikan beberapa helai rambut Vero yang menempel di pipi wanita itu. "Sejak pertama kali saya lihat kamu kedinginan di pinggir jalan dekat ladang lava itu, saya tahu kalau saya gak akan melepaskan kamu begitu aja." "Gombal banget sih ni Om-Om," cibir Vero sambil tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang mendadak marathon lagi cuma karena ucapan sederhana Gavin. "Tapi, serius, Om gak takut apa kalau aku ini aslinya berniat jahat? Siapa tahu aku ini intel atau mata-mata saingan bisnis Om?" Gavin tersenyum penuh kemenangan, sebuah seringai tipis yang kelihatan tampan sekaligus angkuh. "Saya gak sebodoh itu, Veronika. Sebelum saya bawa kamu ke kabin saya semalam, orang-orang saya udah memeriksa latar belakang kamu dalam waktu sepuluh menit. Gadis kota yang nekat liburan sendirian ke Islandia cuma buat kabur dari kejenuhan kerjaan di Jakarta. Benar, kan?" Vero langsung melotot, dia menegakkan tubuhnya sedikit, membuat selimut bulunya agak melorot dan memperlihatkan bahu indahnya yang dipenuhi tanda kemerahan karya Gavin. "Ih! Om Gavin curang banget! Kok main selidiki latar belakang orang sih?" "Itu namanya antisipasi bisnis, Sayang," balas Gavin santai tanpa rasa bersalah sedikit pun. Gavin malah memanfaatkan posisi Vero yang agak terduduk untuk menarik pinggul wanita itu makin mendekat, mengunci tubuh mereka kembali tanpa jarak. "Tapi, investigasi itu gak tertulis kalau kamu bisa secandu ini di atas ranjang." "Om Gavin, ih! Mesumnya gak hilang-hilang!" Vero memukul d**a Gavin agak kencang, tapi pria itu malah menangkap pergelangan tangan Vero dengan mudah, lalu mengecup telapak tangan wanita itu dengan lembut. "Malam masih panjang, Vero. Di luar badai salju tampaknya mulai turun lagi," bisik Gavin, matanya melirik sekilas ke arah jendela besar yang memperlihatkan titik-titik putih salju yang mulai berterbangan menabrak kaca. "Dan, berhubung besok jadwal kita bebas sebelum balik ke Jakarta, saya rasa kita punya banyak waktu buat ... mengeksplorasi satu sama lain lagi." Sentuhan tangan Gavin yang kembali merayap turun ke arah pinggul Vero langsung menghidupkan kembali gairah yang sempat padam beberapa menit lalu. Kulit ketemu kulit, hawa panas mendadak kembali mendominasi ruangan penthouse mewah itu, mengalahkan dinginnya musim dingin Islandia yang mengamuk di luar sana. Vero menggigit bibir bawahnya saat merasakan bibir hangat Gavin mulai kembali menjelajahi lehernya, memberikan sensasi geli sekaligus nikmat yang bikin dia lagi-lagi pasrah di bawah kendali sang Om matang. Rasa lemas di kakinya seolah hilang, digantikan oleh gelombang gairah baru yang menuntut untuk segera dituntaskan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD