Bab 4 πŸ’

1407 Words
Vero benar-benar harus menata ulang napas dan dandanannya di depan cermin toilet selama hampir sepuluh menit. Pipinya masih terasa panas, dan setiap kali dia melihat pantulan dirinya sendiri, memori kejadian beberapa menit lalu di atas wastafel marmer itu langsung bikin bulu kuduknya meremang lagi. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia memoles ulang lipstik merah mudanya, merapikan rok mininya yang sempat kusut, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar dengan tampang sok profesional. Untungnya, sisa rapat setelah itu gak berjalan lama. Gavin benar-benar pintar mengalihkan suasana. Pria itu kembali menjadi sosok CEO yang dingin, tegas, dan berwibawa seolah-olah tangan yang sama gak baru saja membuat Vero melayang di dalam toilet wanita. Klien-klien bule mereka sama sekali gak menaruh curiga, bahkan sempat memuji efisiensi kerja Gavin sebelum mereka akhirnya bersalaman dan berpisah di lobi Harpa Concert Hall. Begitu pintu mobil sedan mewah yang menjemput mereka tertutup rapat dan memisahkan mereka dari udara dingin Reykjavik, Vero langsung menyandarkan punggungnya ke jok kulit dengan helaan napas lega yang super panjang. "Capek, hm?" suara berat Gavin memecah keheningan di dalam mobil. Vero menoleh, mendengus pelan sambil melirik Gavin yang lagi santai menyandarkan satu sikunya di tepi jendela mobil. "Om nanya lagi? Ini semua gara-gara siapa coba? Otak aku rasanya mau meledak tahu gak, nyari alasan ke bule-bule itu tadi." Gavin terkekeh rendah, suara tawa khasnya yang selalu berhasil bikin perut Vero mules. Pria itu menggeser duduknya mendekat, lalu dengan santai meraih tangan kanan Vero, menyatukan jari-jari mereka dan meletakkannya di atas paha tegapnya. "Tapi akting kamu bagus kok tadi. Sangat meyakinkan sebagai asisten pribadi yang profesional." "Profesional apanya! Asisten mana yang diserang di toilet saat jam kerja?" cibir Vero, tapi dia sama sekali gak menarik tangannya dari genggaman Gavin. Malah, kehangatan tangan pria itu terasa sangat nyaman, kontras dengan hawa dingin yang sempat mengintip dari balik kaca mobil. "Asisten khusus saya, tentu saja," balas Gavin dengan senyum tipis yang penuh arti. Sorot matanya beralih menatap jalanan yang mulai gelap. Jam baru menunjukkan pukul empat sore, tapi di Islandia saat musim dingin begini, matahari memang tenggelam jauh lebih cepat. "Siap-siap, Vero. Sebentar lagi kita sampai di hotel. Dan, seperti janji saya tadi ... permainan yang sebenarnya baru bakal dimulai malam ini." Mendengar kata 'permainan', jantung Vero langsung berdegup kencang lagi. Ada rasa takut, tegang, tapi di saat yang sama, ada riak gairah yang menggelitik di perut bagian bawahnya. Om-Om di sebelahnya ini bener-bener punya daya pikat yang gak bisa dia tolak. Mereka menginap di salah satu penthouse suite terbaik di hotel bintang lima yang menghadap langsung ke arah laut. Begitu pintu kamar mewah itu tertutup, Gavin langsung melempar kunci mobil dan jasnya ke atas sofa beludru panjang. Pria itu berbalik, menatap Vero yang masih berdiri di dekat pintu sambil melepas mantel tebalnya. "Kamu mau mandi duluan, atau mau mandi bareng saya?" tanya Gavin langsung, tanpa basa-basi sambil mulai membuka jam tangan mewahnya. Vero melotot, wajahnya otomatis merona lagi. "Mandi sendiri-sendiri aja! Aku gerah banget, mau berendam air hangat." "Sayang sekali," geleng Gavin mengedikkan bahunya dengan raut wajah sok kecewa yang malah kelihatan seksi banget. "Padahal berendam berdua bisa menghemat air hangat di negara dingin begini." "Alasan aja!" Vero mencibir sambil menjulurkan lidahnya sekilas, lalu buru-buru menyambar handuk dan baju ganti kasualnya dari koper sebelum berlari masuk ke dalam kamar mandi mewah yang ukurannya hampir seluas kamar kosnya di Jakarta. Vero menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit di dalam kamar mandi. Vero sengaja berendam di dalam bathtub yang dipenuhi busa aromaterapi, mencoba merilekskan otot-otot tubuhnya yang pegal akibat aktivitas ekstrem mereka sejak semalam. Di bawah guyuran air hangat, ingatan Vero kembali melayang pada bagaimana Gavin memperlakukannya. Dominan, tapi sangat tahu cara memanjakan. Kasar di saat yang tepat, tapi juga bisa sangat lembut sampai bikin Vero merasa jadi wanita paling diinginkan di dunia. Setelah merasa cukup bersih dan wangi, Vero keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos oversized warna putih polos dan celana pendek satin yang nyaman. Rambut panjangnya yang masih agak basah dia biarkan terurai. Begitu melangkah ke area tempat tidur, Vero mendapati ruangan itu sudah berubah atmosfernya. Lampu utama dimatikan, menyisakan lampu tidur temaram di sudut ruangan dan nyala api dari perapian modern yang ada di dinding. Gorden besar sengaja dibuka, memperlihatkan pemandangan malam Reykjavik yang indah dengan kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan. Gavin sendiri sudah selesai mandi. Pria itu hanya mengenakan celana tidur panjang warna hitam tanpa atasan sama sekali. Gavin lagi berdiri di dekat jendela besar sambil memegang segelas whiskey dengan es batu yang berdenting pelan. Rambutnya yang setengah basah dibiarkan berantakan, dan otot-otot punggung serta dadanya yang kekar kelihatan sangat jelas di bawah temaramnya cahaya ruangan. Vero sempat terpaku di ambang pintu. Pemandangan di depannya ini bener-bener kayak adegan di film-film romantis dewasa. Gavin menyadari kehadiran Vero. Pria itu berbalik, meletakkan gelas whiskey-nya di atas meja kecil, lalu menatap Vero dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapan elangnya langsung menggelap begitu melihat kaki jenjang Vero yang terekspos bebas karena celana pendeknya. "Sini," panggil Gavin sambil mengulurkan satu tangannya, suaranya terdengar lebih berat dan dalam dari biasanya. Vero menelan ludah, melangkah pelan mendekati Gavin. Begitu jarak mereka dekat, Gavin langsung menarik pinggang Vero, membawa tubuh mungil wanita itu ke dalam pelukannya. Wangi sabun maskulin yang segar langsung menusuk indra penciuman Vero. "Rambut kamu masih basah," bisik Gavin, jemarinya bergerak menyisir rambut Vero dengan lembut. "Sengaja, biar adem. Di sini hawanya mendadak panas terus kalau dekat Om," sahut Vero mencoba bercanda buat menutupi rasa gugupnya yang kembali memuncak. Gavin tersenyum tipis, lalu menunduk untuk mengecup kening Vero lama, berpindah ke kedua matanya, pipinya, lalu berhenti tepat di depan bibir Vero yang sedikit terbuka. "Siap buat nepatin janji yang tadi di toilet, sayang?" Vero gak menjawab lewat kata-kata. Sebagai gantinya, dia langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Gavin, berjinjit sedikit, dan menyatukan bibir mereka lebih dulu. Tindakan berani Vero langsung disambut gembira oleh Gavin. Pria itu langsung membalas ciuman Vero dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih panas. Gavin menuntun tubuh Vero mundur perlahan sampai bagian belakang lutut Vero membentur pinggiran ranjang king size yang empuk. Dengan satu gerakan halus namun bertenaga, Gavin merebahkan tubuh Vero ke atas kasur, ikut merangkak naik dan mengurung tubuh wanita itu di bawah dominasinya. Ciuman mereka makin menuntut, saling membelit dan bertukar saliva tanpa membiarkan ada celah udara di antara mereka. Tangan Gavin mulai bekerja, merayap masuk ke balik kaos oversized yang dipakai Vero, menyentuh kulit perutnya yang rata lalu naik ke atas, meremas kehangatan p******a Vero yang sensual. "Nghhh ... Om Gavin,” desah Vero tertahan begitu tautan bibir mereka terlepas. Napasnya memburu cepat saat Gavin mulai mengalihkan ciumannya ke leher dan tulang selangka Vero, memberikan tanda kemerahan baru di sana yang pastinya gak bakal hilang dalam satu atau dua hari. "Kamu bener-bener bikin saya gila, Vero. Semalam aja gak cukup, dan tadi di toilet cuma bikin saya makin lapar," bisik Gavin serak di dekat telinga Vero, sembari tangannya dengan cepat menanggalkan kaos dan celana pendek yang dipakai wanita itu sampai Vero bener-bener polos di bawah tatapan laparnya. Vero refleks menyilangkan tangannya di depan d**a, merasa sedikit malu di bawah tatapan intens Gavin meskipun ini bukan pertama kalinya bagi mereka. Tapi, Gavin dengan lembut menarik kedua tangan Vero, menguncinya di sisi kepala wanita itu. "Jangan ditutup, Sayang. Kamu bener-bener indah banget," puji Gavin tulus dengan sorot mata yang penuh kekaguman. Pujian itu sukses bikin pertahanan Vero meleleh total. Vero membuka matanya yang mulai sayu karena gairah, menatap wajah tampan Gavin yang kini perlahan menunduk kembali untuk memanjakan seluruh tubuh Vero dari atas sampai bawah dengan sentuhan, kecupan, dan jilatan yang bikin Vero meliuk pasrah di atas kasur. Ruangan yang dingin di luar sana seolah sama sekali gak berpengaruh di dalam kamar itu. Suasana bener-bener berubah panas, hanya dipenuhi oleh suara napas yang memburu, decapan ciuman yang intim, dan lenguhan-lenguhan erotis yang lolos dari bibir Vero setiap kali Gavin menyentuh titik-titik sensitifnya dengan sangat matang. Saat Gavin akhirnya menyatukan tubuh mereka kembali, Vero memejamkan matanya erat, mencengkeram bahu kekor Gavin dengan kencang saat rasa penuh dan nikmat yang luar biasa itu kembali menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. "Enak, Om ... nghhh ... lebih cepat," desah Vero pelan dengan suara yang terputus-putus, menuntut d******i yang lebih dari pria di atasnya. Gavin tersenyum puas, bergerak dengan ritme yang makin cepat dan dalam, membawa mereka berdua tenggelam lebih jauh ke dalam badai gairah yang membakar di tengah dinginnya malam Islandia. Malam itu bener-bener jadi malam panjang yang penuh peluh, desahan, dan kepasrahan total Vero di bawah kendali seorang Gavin Lorenso.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD