Bab 3 🍒

1075 Words
Jantung Vero rasanya mau copot dari tempatnya begitu mendengar bunyi klek yang tegas dari pintu toilet yang dikunci. Vero refleks mundur satu langkah sampai pinggulnya membentur pinggiran wastafel marmer yang dingin. Matanya melebar sempurna menatap Gavin yang sekarang berjalan mendekat dengan santai banget, seolah-olah masuk ke toilet wanita di tengah-tengah rapat penting sama klien asing itu adalah hal yang paling normal sedunia. "O-Om ... ngapain di sini?! Gimana kalau ada orang luar atau klien Om yang mau masuk?" bisik Vero panik setengah mati. Suaranya sebisa mungkin ditekan biar gak gema keluar. Gavin gak langsung menjawab. Pria itu malah melepas jas hitam formalnya, menyampirkannya begitu aja di atas gantungan dekat pintu, lalu mulai melonggarkan dasi sutranya dengan gerakan yang super seksi. Dua kancing teratas kemeja putihnya dibuka, memperlihatkan sedikit d**a bidangnya yang kecoklatan. Tatapan matanya gak lepas dari Vero, tajam, lapar, dan penuh d******i. "Di luar ada papan Under Maintenance, sayang. Gak akan ada yang berani masuk," jawab Gavin santai dengan suara beratnya yang serak. Gavin melangkah makin dekat sampai jarak di antara mereka berdua bener-bener habis. Vero bisa mencium aroma parfum maskulin Gavin yang bercampur dengan wangi maskulin khas pria itu. Wangi yang semalam bikin Vero mabuk kepayang. Gavin mengurung tubuh mungil Vero dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pinggiran wastafel di kanan-kiri pinggang Vero, membuat wanita itu sama sekali gak punya jalan buat kabur. "Om bener-bener gila, ya! Tadi di dalam ruang rapat hampir aja aku ketahuan tahu gak!" protes Vero sambil memukul d**a Gavin pelan, mencoba pasang tampang kesal padahal dadanya sendiri naik-turun menahan napas yang mendadak putus-putus lagi. Gavin terkekeh rendah, suara tawa yang bikin getaran aneh di d**a Vero. Pria itu menunduk, mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka hampir bersentuhan. "Tapi kamu suka, kan? Buktinya tadi di bawah meja kamu basah, Vero," bisik Gavin tepat di depan bibir Vero, bikin wajah wanita itu makin memerah kayak kepiting rebus. "Ih, Om Gavin! Ngeselin banget sih!" Sebelum Vero sempat mengomel lebih panjang, Gavin langsung membungkam bibir ranum itu dengan ciuman yang intens. Gak ada lagi kelembutan seperti tadi pagi, kali ini Gavin langsung menuntut, melumat, dan menyesap bibir Vero dengan penuh gairah yang sempat tertahan di ruang rapat tadi. Vero melenguh pelan di dalam ciuman itu. Tangannya yang awalnya berniat mendorong d**a Gavin, perlahan malah merayap naik, mencengkeram bahu kokoh pria itu lalu berpindah meremas rambut hitam Gavin yang rapi. Vero gak bisa bohong, sentuhan Gavin itu kayak candu. Baru beberapa menit lalu paha dalam digoda habis-habisan, sekarang begitu diserang langsung, seluruh pertahanan Vero runtuh seketika. Gavin memperdalam ciumannya, lidahnya menyelinap masuk, mengajak lidah Vero menari dalam irama yang memabukkan. Sementara tangannya gak tinggal diam. Satu tangan Gavin bergerak turun, meremas pinggang Vero dengan posesif, lalu dengan cepat menyelinap ke dalam rok mini formal yang dipakai Vero. Begitu telapak tangan Gavin yang hangat menyentuh paha mulusnya lagi, Vero refleks mendesah di sela-sela ciuman mereka. "Nghh ... Om." "Kamu bener-bener cantik banget pakai baju begini, Vero. Tapi, saya lebih suka kalau kamu gak pakai apa-apa kayak semalam," bisik Gavin begitu melepas tautan bibir mereka, berpindah memberikan kecupan-kecupan basah di sepanjang rahang Vero lalu turun ke leher jenjangnya. Gavin menggigit kecil ceruk leher Vero, membuat wanita itu mendongak pasrah sambil mencengkram ujung wastafel marmer di belakangnya. Napas Vero makin memburu, matanya sayu menatap langit-langit toilet yang remang-remang. Sensasi dinginnya marmer di punggungnya berbanding terbalik dengan sentuhan tangan Gavin yang super panas di bawah sana. Jari-jari panjang Gavin bergerak dengan lihai, menyusuri batas celana dalam Vero yang ternyata sudah benar-benar lembap seperti dugaan pria itu. Begitu jari Gavin menyentuh titik paling sensitif Vero, tubuh wanita itu langsung menegang seketika. "Om ... ah ... jangan di sini, please ... nanti ada yang denger," cicit Vero dengan sisa kesadaran yang dia punya. Suaranya bener-bener manja dan bergetar menahan nikmat yang luar biasa. "Gak akan ada yang denger, Sayang. Kamarnya kedap suara," dusta Gavin yang sebenarnya cuma pengen bikin Vero makin pasrah dan melepas semua ketakutannya. Gavin mulai menggerakkan jarinya dengan ritme yang lambat namun dalam, membuat Vero langsung menggigit bibir bawahnya sendiri kuat-kuat biar gak kelepasan berteriak. Air mata sudut matanya hampir menetes karena sensasi nikmat yang bergejolak di perut bagian bawahnya. Sentuhan Gavin bener-bener matang, dia tahu persis di mana harus menekan dan bagaimana cara membuat Vero melayang dalam sekejap. "Enak, Om ... nghh ... pelan-pelan," desah Vero tanpa sadar. Panggilan ‘Om’ yang awalnya terasa canggung, sekarang malah terdengar sangat erotis di telinga Gavin. Mendengar desahan pasrah dari bibir wanita di depannya, gairah Gavin makin tersulut. Gavin mempercepat gerakan jarinya, membuat Vero makin gelisah, kakinya gemetar sampai harus bertumpu sepenuhnya pada tubuh besar Gavin. Kedua tangan Vero sekarang mencengkeram kemeja putih Gavin sampai kusut masai. "Om ... ah! Ahh! Aku udah ... udah gak kuat." Vero menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tubuhnya meliuk mengikuti permainan jari Gavin yang makin intens. Gavin tersenyum puas melihat bagaimana wanita muda di depannya ini bener-bener bertekuk lutut di bawah kendalinya. Tepat saat Vero mencapai puncaknya dengan tubuh yang bergetar hebat dan napas yang putus-putus, Gavin menahan tubuh Vero erat-erat, membiarkan wanita itu menuntaskan pelepasan pertamanya di dalam dekapannya. Vero menyandarkan kepalanya di d**a bidang Gavin, menghirup napas banyak-banyak dengan d**a yang naik-turun dramatis. Jantungnya berdegup kencang banget kayak habis lari maraton. Gavin mengecup puncak kepala Vero dengan sayang, lalu menarik tangannya keluar dari balik rok Vero. Gavin menatap wajah Vero yang kelihatan sangat berantakan tapi super seksi dengan mata sayu dan bibir yang basah. "Ini baru pemanasan, Vero. Kita masih punya sisa rapat lima belas menit lagi di luar," bisik Gavin dengan seringai nakal di wajah tampannya. Vero mendongak, menatap Gavin dengan tatapan lemas tapi penuh protes. "Om bener-bener monster ya, terus sekarang gimana caranya aku keluar dengan muka kayak gini?" Gavin terkekeh, merapikan beberapa helai rambut Vero yang menempel di dahi karena keringat tipis. "Kamu tunggu di sini lima menit setelah saya keluar. Beresin dandanan kamu. Nanti malam ... saya gak akan kasih kamu ampun di kabin." Setelah memberikan satu kecupan cepat di bibir Vero, Gavin memakai kembali jasnya, merapikan kemeja dan dasinya di depan cermin besar toilet dengan sangat cepat, lalu berbalik membuka kunci pintu toilet. Sebelum benar-benar keluar, dia sempat menoleh ke arah Vero yang masih lemas bersandar di wastafel. "Jangan lama-lama, Sayang. Klien kita bisa curiga kalau asisten saya hilang terlalu lama," ucap Gavin mengedipkan sebelah matanya sebelum menghilang di balik pintu. Vero cuma bisa mengumpat pelan dalam hati sambil tersenyum geli. Liburannya ke Islandia kali ini bener-bener berubah jadi bencana paling nikmat dalam hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD