Bab 2 🍒

1202 Words
Siapa yang menyangka kalau liburan healing Vero di Islandia bakal berubah haluan jadi asisten pribadi dadakan dari seorang Om-Om kaya raya? Siang ini, cuaca di luar Harpa Concert Hall, tempat pertemuan bisnis Gavin—bener-bener ekstrem dinginnya. Tapi, di dalam ruang rapat VIP yang privat dan super hangat ini, Vero malah merasa keringat dinginnya mulai bercucuran. Harusnya, yang duduk di sebelah Gavin sekarang adalah sekretaris pribadinya yang ketinggalan penerbangan dari Jakarta karena masalah visa. Tapi, berhubung semalam mereka udah saling kenal lahir batin, Gavin dengan santainya menyuruh Vero buat ikut. "Cuma duduk manis di samping saya, dengerin, dan sesekali catat poin penting kalau kamu mau. Anggap aja magang VIP," bisik Gavin tadi pagi pas mereka masih di dalam mobil mewah yang membelah jalanan Reykjavik. Sekarang, Vero benar-benar cuma bisa duduk manis dengan balutan blazer formal warna krem yang sengaja Gavin belikan di butik hotel sebelum mereka ke sini. Di sekeliling meja oval besar itu, ada tiga orang pria bule berpakaian jas super rapi, klien penting Gavin dari perusahaan investasi lokal. Mereka lagi sibuk membahas presentasi proyek pembangunan resort mewah di layar proyektor. Bahasanya penuh dengan istilah bisnis berbahasa Inggris yang untungnya masih bisa Vero pahami dikit-dikit. Gavin sendiri kelihatan sangat berwibawa. Cara dia menanggapi argumen lawan bicaranya bener-bener tenang, tegas, dan berkelas banget. Karisma pria matang berumur akhir tiga puluhan ini kalau lagi kerja bener-bener naik berkali-kali lipat. ‘Makin ganteng banget sih ni Om-Om kalau lagi serius,’ batin Vero sambil menopang dagunya, pura-pura fokus menatap layar proyektor padahal matanya sesekali melirik profil samping wajah Gavin. Tapi, kekaguman Vero gak bertahan lama. Di tengah-tengah penjelasan salah satu klien bernama Mr. Lukas tentang grafik saham, Vero merasakan sesuatu yang hangat menyentuh lututnya di bawah meja yang tertutup taplak tebal. Vero tersentak kecil, tapi dia masih berusaha bersikap tenang. Ia pikir itu cuma ketidaksengajaan kaki Gavin yang bergeser. Namun, dugaan Vero salah besar. Tangan besar Gavin yang awalnya berada di atas meja, sekarang sudah berpindah ke bawah. Dengan santai dan super tenang, bahkan wajahnya masih menatap lurus ke arah proyektor sambil sesekali mengangguk-angguk formal, telapak tangan pria itu mulai merayap naik. Dari lutut, naik ke paha mulus Vero yang hanya terbalut rok mini formal di atas lutut. Sentuhan kulit tangan Gavin yang hangat langsung bergesekan dengan kulit paha Vero, memicu sengatan listrik yang instan bikin bulu kuduk Vero meremang. ‘Astaga, ini Om-Om nekat banget!’ jerit Vero dalam hati. Jantungnya langsung marathon. Vero buru-buru melirik Gavin dari samping, memberi kode lewat matanya yang melotot seolah bilang, “Om, lepasin! Ini lagi rapat!” Bukannya takut atau melepaskan tangannya, Gavin malah mengulas senyum tipis yang super tipis, hampir gak kelihatan sama orang lain, lalu dengan sengaja meremas pelan paha bagian dalam Vero. Ibu jarinya mulai bergerak memutar, mengusap pelan di sana, tepat di area sensitif yang semalam habis dia jelajahi habis-habisan. "Ahh." Satu lenguhan kecil hampir aja lolos dari bibir Vero. Beruntung, ia dengan cepat menggigit bibir bawahnya sendiri sampai rasanya agak perih. Kedua tangannya yang ada di atas paha langsung meremas roknya dengan kencang, mencoba menyalurkan rasa geli dan sensasi panas yang mendadak menjalar ke seluruh tubuhnya. Gavin benar-benar gila. Wajahnya di atas meja masih kelihatan berwibawa banget, ia bahkan sempat memotong pembicaraan Mr. Lukas dengan bahasa Inggrisnya yang fasih. "I think the investment return timeline in section four needs a little revision, Lukas. It's a bit risky for the first three years," ucap Gavin santai, sementara tangannya di bawah meja makin gencar bergerak naik, menyusuri paha dalam Vero makin dekat ke arah pangkal. "Yes, Mr. Lorenso, you have a point there," balas Mr. Lukas serius. Sementara itu, dunia Vero rasanya udah mau runtuh. Sentuhan genit Gavin bener-bener bikin pertahanannya goyah. Jarinya Gavin mulai bermain di batas celana dalam Vero, mengusapnya perlahan yang sukses bikin area intim Vero mendadak berdenyut hebat. Sisa gairah semalam yang belum tuntas sepenuhnya kayak langsung tersulut lagi. Napas Vero mulai gak beraturan. Dia menghirup oksigen banyak-banyak lewat mulut, mencoba menahan desahan yang udah numpuk di tenggorokan. Matanya mulai sayu, sayu karena menahan nikmat sekaligus tegang setengah mati takut ketahuan sama tiga bule di depan mereka. Ekspresi wajah Vero udah bener-bener di luar batas, pipinya merah padam, bibirnya terus digigit, dan tubuhnya agak gemetar. Setiap kali Gavin menekan jarinya agak dalam, Vero refleks memajukan tubuhnya dan mencengkeram pinggiran meja kayu di depannya sampai buku-buku jarinya memutih. Sikap Vero yang gelisah dan ekspresinya yang udah menahan rangsangan itu akhirnya menarik perhatian salah satu klien lain yang duduk agak serong di depan Vero. Pria bule paruh baya bernama Mr. Hans itu mengernyitkan kening, menatap Vero dengan pandangan heran sekaligus khawatir. "Excuse me, Miss Veronika? Are you okay? You look ... a bit flushed and sweaty. Is the room too warm for you?" tanya Mr. Hans tiba-tiba, memotong jalannya rapat. Pertanyaan itu seketika membuat atensi semua orang di ruangan itu beralih total ke arah Vero. Termasuk Gavin, yang sekarang ikutan menoleh ke arah Vero dengan pasang tampang sok peduli dan penuh perhatian, padahal tangannya di bawah meja masih diam di tempat, mengunci paha Vero. Vero langsung panik setengah mati. Dia merasa semua darah di tubuhnya naik ke wajah. "O-oh ... I ... I'm okay, Mr. Hans," jawab Vero terbata-bata, suaranya terdengar agak serak dan bergetar, bikin suasananya makin mencurigakan. "Just ... yeah, I think the heater is a bit too high for me. I'm just a little bit dizzy." Gavin terkekeh pelan, sebuah tawa formal di depan kliennya. Tangannya di bawah meja akhirnya memberikan satu remasan kuat terakhir di paha dalam Vero sebelum ditarik kembali ke atas meja. "My apologies, Gentlemen. My assistant here is still adapting to the extreme weather outside, and maybe the indoor heating is making her uncomfortable," bohong Gavin dengan ekspresi wajah super lempeng tanpa dosa. Gavin lalu menoleh ke Vero, menatap mata wanita itu dengan tatapan intens yang penuh arti. "Kamu mau istirahat di toilet sebentar, Vero? Atau, mau saya pesankan air hangat?" Vero buru-buru menggeleng, berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Di bawah meja, kedua kaki Vero bahkan masih terasa lemas dan gemetar karena ulah iseng pria di sampingnya ini. "Enggak usah, Om ... eh, Mr. Lorenso. Saya ke toilet sebentar aja buat basuh muka," cicit Vero. "Alright. Take your time," ucap Gavin lembut, tapi sorot matanya jelas banget lagi menertawakan kepanikan Vero. Vero langsung berdiri dengan tumpuan kaki yang agak lemas. Ia buru-buru berjalan setengah berlari keluar dari ruang rapat menuju toilet VIP terdekat. Begitu pintu toilet tertutup, Vero langsung bersandar di balik pintu sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang banget. "Sialan ... Om Gavin bener-bener nakal banget! Bisa-bisanya dia sekalian mainin gue di depan klien!" umpat Vero pelan dengan napas memburu. Vero berjalan ke arah wastafel, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya bener-bener merah, matanya sayu, dan penampilannya berantakan banget kayak habis ngapa-ngapain. Sentuhan singkat tapi intens dari Gavin tadi sukses bikin tubuh Vero kembali menginginkan pria itu. Baru aja Vero mau menyalakan keran air buat membasuh wajahnya yang panas, terdengar suara pintu toilet yang dikunci dari dalam. Vero sentak menoleh, dan matanya langsung membelalak lebar saat melihat sesosok pria tinggi tegap berjas rapi sudah berdiri di sana, tersenyum penuh kemenangan. Gavin Lorenso. "Gimana rasanya rapat pertamamu, sayang? Menyenangkan?" bisik Gavin santai sambil berjalan mendekat, melonggarkan dasinya dengan satu tangan sementara matanya menatap Vero lapar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD