Suhu di luar kabin kayu yang terletak di pinggiran Reykjavik ini pasti sudah anjlok di bawah nol derajat Celsius.
Tapi anehnya, gadis yang bernama Veronika sama sekali gak merasa kedinginan.
Sebaliknya, tubuhnya malah terasa gerah, dilapisi keringat tipis yang terasa lengket namun nyaman.
Kulitnya bersentuhan langsung dengan selimut bulu tebal dan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang hangat, keras, dan bernapas dengan nada yang teratur di belakang punggungnya.
Saat kesadarannya perlahan terkumpul, Vero mengerutkan kening.
Rasa pening langsung menyerang kepalanya, efek samping dari segelas dua gelas wine merah berkualitas tinggi yang dia teguk semalam.
Vero mencoba menggerakkan kakinya, tapi langsung meringis pelan.
Ada rasa pegal yang asing dan linu di bagian intimnya.
Saat itulah, memori semalam berputar layaknya film bioskop di otaknya.
Mata Vero langsung membelalak lebar. Ia menahan napas, menatap langit-langit kabin yang terbuat dari kayu pinus tua dengan jantung yang tiba-tiba berdegup dua kali lebih cepat.
โGila. Gue ngapain semalam?!โ batin Vero menjerit histeris.
Vero menoleh sedikit ke belakang, dan astaga, penglihatan di pagi hari ini benar-benar menguji imannya.
Di sana, berbaring miring sambil memeluk pinggangnya dengan posesif, adalah Gavin Lorenso.
Pria matang berumur kepala tiga akhir yang baru dia kenal beberapa jam lalu sebelum badai salju sialan atau mungkin beruntung, mengurung mereka di sini.
Wajah Gavin saat tidur terlihat jauh lebih bersahabat dibanding semalam.
Guratan tegas di rahangnya, hidung mancung yang kokoh, dan beberapa helai rambut hitamnya yang berantakan jatuh ke dahi.
Tapi, pandangan Vero gak berhenti di situ.
Selimut yang agak melorot memperlihatkan bahu Gavin yang lebar, d**a bidang yang dipenuhi otot kekar, dan beberapa bekas cakaran kemerahan di sana.
Vero membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
โItu ... bekas cakaran gue?โ Vero masih membatin.
Ingatan erotis semalam langsung membanjiri kepalanya tanpa permisi.
Vero ingat betul bagaimana dia yang awalnya cuma kedinginan setengah mati karena tersesat di dekat ladang lava tertutup salju, ditolong oleh Gavin dan dibawa ke kabin mewah ini.
Vero juga ingat bagaimana Gavin menuangkan wine untuk menghangatkan tubuhnya.
Dan, ia ingat bagaimana obrolan santai mereka di depan perapian berubah menjadi tatapan intens, sentuhan berani, sampai akhirnya mereka berakhir di atas ranjang king size ini.
Vero ingat bagaimana suara berat Gavin berbisik di telinganya, menanyakan apakah dia yakin dengan apa yang mereka lakukan.
Dan, dengan bodohnya atau mungkin karena terlalu terpesona, Vero malah menarik leher pria itu, menantangnya dengan ciuman panas yang langsung menyulut gairah di antara mereka.
"Oh my god, Vero ... lo bener-bener udah gila," bisik Vero merutuki dirinya sendiri.
Ini pertama kalinya ia melakukan one night stand dan parahnya, ia melakukannya di ujung dunia dengan pria asing yang usianya jelas jauh di atasnya.
Seorang Om-Om matang yang punya karisma luar biasa mematikan.
Vero mencoba melepaskan lengan kekar Gavin yang melingkar erat di pinggangnya secara perlahan.
Vero gak mau membangunkan singa tidur ini. Dia cuma mau kabur, pakai baju, dan pura-pura gak terjadi apa-apa.
Tapi, baru aja Vero menggeser lengan itu beberapa sentimeter, sebuah suara serak khas orang baru bangun tidur terdengar tepat di tengkuknya.
Suara berat, dalam, dan bergetar yang langsung bikin bulu kuduk Vero meremang.
"Mau kabur ke mana, hm?"
Vero membeku. Tubuhnya mendadak kaku kayak es di luar sana.
Sebelum Vero sempat menjawab, lengan Gavin justru makin mempererat pelukannya, menarik tubuh Vero tanpa ampun sampai punggung polos wanita itu menempel sempurna pada d**a telanjang Gavin.
Kulit ketemu kulit, hangat, intim, dan langsung memicu sengatan listrik yang bikin perut Vero mules.
"O-Om Gavin ... udah bangun?" tanya Vero, suaranya agak bergetar. Ia merutuki dirinya sendiri karena terdengar sangat gugup.
Mana panggilan Om itu malah terdengar sangat manja di situasi seperti ini.
Gavin terkekeh pelan, sebuah tawa rendah yang seksi banget.
Gavin menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Vero, menghirup aroma tubuh wanita itu yang bercampur dengan wangi sabun hotel dan sisa gairah semalam.
Kecupan-kecupan kecil mulai Gavin daratkan di sana, bikin Vero merinding kegelian sekaligus menikmati sentuhan itu.
"Kamu pikir saya bisa tidur nyenyak kalau kamu gerak-gerak terus dari tadi?" bisik Gavin, bibirnya bergesekan dengan kulit leher Vero saat berbicara.
"Maaf ... aku cuma ... anuโ" Vero bingung mau ngomong apa. โGueโ terasa terlalu kasar sekarang, tapi pakai โaku-kamuโ malah bikin suasananya makin intim kayak pacaran.
Gavin membalikkan tubuh Vero dengan mudah, membuat wanita itu kini menghadap ke arahnya.
Mata elang Gavin yang berwarna gelap menatap langsung ke dalam manik mata Vero.
Tatapan yang sama dengan semalam, tatapan yang sanggup menelanjangi Vero hanya dalam sekali lihat.
"Anu apa, Vero? Kamu menyesal soal semalam?" tanya Gavin lembut, tapi ada nada menuntut di dalamnya.
Jarinya yang panjang bergerak mengusap pipi Vero yang merona merah, lalu turun ke bibir bawah Vero yang agak bengkak akibat ciuman intens mereka.
Vero menelan ludahnya susah payah. Menyesal? Sejujurnya, sebagian dari otaknya bilang ini salah dan di luar batas.
Tapi, sebagian besar dirinya, terutama tubuhnya, sama sekali gak menolak.
Sentuhan Gavin semalam bener-bener berada di level yang berbeda.
Pria ini tahu persis setiap titik sensitif di tubuh Vero, memperlakukannya seperti ratu sebelum menghentaknya dengan d******i yang bikin Vero pasrah sepasrah-pasrahnya.
"Bukan menyesal, Om," cicit Vero, pandangannya agak dialihkan ke d**a Gavin karena gak kuat menatap mata pria itu. "Cuma ... ini pertama kalinya buat aku yang kayak gini. Maksudnya, ketemu orang asing lalu langsung ... ya gitu."
Gavin tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang kelihatan ganteng banget. Ia menarik dagu Vero agar kembali menatapnya.
"Saya bukan orang asing lagi sekarang, Veronika. Saya Gavin. Dan, tubuh kita udah saling kenal lebih dari sekadar kenal, kan?" Gavin menurunkan tangannya, meraba pinggul Vero di balik selimut, meremasnya pelan yang sukses bikin Vero memekik kecil.
"Om Gavin, ih! Jangan mulai lagi deh," protes Vero sambil memukul pelan d**a Gavin. Wajahnya udah kayak kepiting rebus sekarang.
"Kenapa? Kamu gak suka?" tantang Gavin, sebelah alisnya terangkat.
Tangannya malah makin nakal, bergerak turun menyusuri paha mulus Vero, membuat pertahanan wanita itu perlahan runtuh lagi.
"Bukan gak suka, Om."
"Semalam, kamu yang selalu menyuruh saya jangan berhenti." Gavin melanjutkan.
Vero menutup mulut Gavin dengan telapak tangannya.
Suasana pagi yang dingin di Islandia mendadak menguap, digantikan oleh hawa panas yang kembali membakar kabin kayu itu.
Vero menggigit bibir bawahnya, menahan lenguhan yang hampir lolos saat jari-jari Gavin mulai bermain di area sensitifnya.
Sialan. Om-Om di depannya ini bener-bener tahu cara membolak-balikkan dunianya dalam sekejap.
Rasanya, niat Vero buat kabur tadi langsung lenyap digantikan oleh keinginan lain yang jauh lebih menuntut.